Showing posts with label Abang Becak. Show all posts
Showing posts with label Abang Becak. Show all posts

7/14/2011

Pijat Asmara

Seperti biasa, Yogyakarta dengan jalan Maliboro-nya, petang itu kembali menyisakan kenangan yang tidak akan pernah terlupa. Hiruk pikuk orang yang lalu-lalang di sepanjang jalan di muka pertokoan; jeritan klakson kendaraan maupun raungan reklame melalui pengeras suara menjadikan aku terhanyut dalam suasana keramaian.

Degup dada menjadi tak beraturan ketika kulihat tonjolan besar membayang dari dalam celana pendek yang dikenakannya. Aku gelisah ingin melihat lebih dekat dan lebih jelas lagi sesuatu yang tersembunyi dibalik celana itu. Tapi aku juga sadar untuk tidak berlaku ceroboh yang akhirnya hanya akan membawa aku ke dalam suatu kesulitan. Aku memang sedang ingin jalan-jalan sekedar cari angin. Namun, bayangan itu semakin menggoda, sehingga kuputuskan untuk menghampiri saja abang becak itu.

Baru beberapa langkah aku menghampiri ternyata abang becak itu sudah terlebih dahulu bangkit dari duduknya dan menyapaku
"Mari mas, saya antarkan untuk cari oleh-oleh atau.." dan saya tidak lagi mendengar apa yang dikatakannya kemudian kecuali saya merasa sudah terduduk di kursi becaknya. Sepanjang perjalanan, kami ngobrol tentang segala hal, sehingga kemudian rencana semula yang sekedar hanya putar-putar kota Yogya berubah menjadi singgah di rumah abang becak tersebut.

Walaupun hanya berprofesi sebagai tukang becak ternyata Jono juga menjaga kebersihan tubuhnya. Setiba di rumahnya setelah mempersilahkanku duduk ia segera minta ijin untuk mandi dan berganti pakaian. Aku memilih untuk berangin-angin di beranda di samping rumahnya. Kulihat sekeliling rumah kontrakannya cukup sepi; tenang dan damai. Tak sengaja aku melihat Jono keluar hanya berbalutkan handuk menuju ke tempat mandi yang letaknya memang terpisah dari rumahnya. Tersenyum ia melihat ke arahku dan aku melambaikan tangan membalas senyumnya.

Aku melangkah masuk ke ruang tamu dan duduk di dalam sementara menunggu Jono menyelesaikan mandi.
"Monggo Mas di minum dulu.." ucapnya sambil tersenyum.
"Oh.ya..ya..ya..terima kasih" kataku agak gugup.
Entahlah, aku juga heran kenapa aku jadi merasa nervous. Untuk menutupi kegalauan jiwaku aku ambil gelas kopi itu dan kuhirup sedikit. Rupanya hal ini berhasil menurunkan keteganganku. Aku mulai merasa agak tenang dan dapat mengendalikan sikapku.

"Saya dengar tadi Jono bisa memijat juga ya?" aku membuka pembicaraan.
"Yeah begitulah mas, pijat-pijat refreshing gitu loh. Apakah Mas Resnu mau di pijat sekarang?" Jono ganti bertanya kepadaku yang langsung kujawab dengan anggukan kepala.
"Kalau begitu, monggo berbaring di amben" kata Jono sambil menunjuk ke suatu kamar.

Di dalam kamar selain yang disebut amben dengan sprei batik warna hijau lumut itu juga terdapat lemari, meja kecil dan kaca hias yang tergantung di tembok. Sederhana namun bersih. Aku segera melepas baju dan celana, namun aku masih ragu apakah aku harus juga melepas CD G strings yang biasa kukenakan ini.
Aku berbaring tengkurap menanti Jono datang.
"Mas, kok CD nya ndak dibuka? Apakah nanti ndak takut kotor?" Jono bertanya setelah masuk ke kamar dan melihatku sudah tengkurap.
Aku mulai nakal mencoba menggoda Jono "Nanti Jono aja deh yang bukain, ga keberatan kan?" aku menatap Jono dan ia tersenyum ke arahku.

Saat pijatan dilakukan di bagian paha dan pantat aku sungguh tak kuasa menahan keinginan untuk tidak ereksi. Tanganku hanya mencengkram ujung bantal menahan sensasi kegelian yang nikmat. Dari balik CD G strings aku merasa bahwa kemaluanku sudah meregang dari posisi semula demikian pula dengan bulu-bulu pubic yang kurasa juga mulai terasa meremang. Karena itu aku agak sedikit mengangkat pantatku agar si kecil dapat lebih leluasa bergerak.

"Mas Resnu..bagaimana kalau saya buka celananya?" ucapan Jono agak mengaggetkanku namun juga membuatku merasa senang.
"Boleh..boleh.." sahutku sambil melebarkan ke dua paha serta mengangkat pantatku lebih tinggi lagi.
Dengan cekatan Jono langsung menarik lepas CD yang kupakai. "Celana Mas antique juga ya.." Jono mengomentari CD G stringsku yang dulu kubeli di sex shop ketika aku sedang vakansi ke Amsterdam.

Saat melepas celana dalamku pastinya Jono sudah melihat kalau kemaluanku sudah menegang dan dia hanya pura-pura tidak melihatnya saja. Dia meneruskan pijatannya masih di bagian yang sama sekitar tulang pantatku yang membuat tubuhku jadi oleng bergerak miring ke kiri dan ke kanan.

"Berbalik mas.." Jono memerintahkanku untuk berbalik.
Wah, berabe nih..pennyku kan sudah bangun. Aku tetap tidak berbalik sampai ketika Jono mengulangi lagi permintaannya maka sambil memejamkan mata aku membalikan badan. Namun sesungguhnya mataku tetap terpicing menyaksikan bagaiman reaksi Jono melihat keadaan tubuhku saat itu. Naked dengan penny menyeruak tegang dari rerimbunan pubicku yang berwarna jelaga.

Ternyata Jono tetap tidak peduli(?) dengan keadaanku saat itu. Ia tetap memijat dan mengurut. Dengan arah, tentu saja, yang sama dengan tahapan awal tadi. Saat tangannya mengusap bagian paha dalamku aku hanya bisa mendesah apalagi ketika pijatan tekanan pada titik diantara rectum dan scrotum dilakukannya semakin membuat ereksiku menjadi jadi. Namun tampaknya Jono sengaja menerapkan strategi up and down. Sehingga ia tidak memforsirku untuk tetap ereksi. Tentu saja, hal seperti ini malah menjadikan diriku blingsatan dan puyeng.

Sekarang tangan Jono sedang berputar-putar di bawah pusarku dengan sesekali meremas-remas pubicku, sementara tangan yang satunya mengusap-usap scrotum dan sesekali singgah di ass-hole ku.
"Alamak.." jeritku dalam hati;

Tangan Jono mengusap dan meremas dadaku dan jemarinya bermain cukup lama di nipple ku. Perlakuannya itu membuatku jadi hilang kesabaran dan dengan tiba-tiba kusentuh sesuatu yang tersembunyi di balik kain sarung Jono. Kami berdua sama-sama kaget. Ternyata Jono tidak memakai celana dalam dan saat itu kurasakan ia sudah ereksi juga. Tentu saja, akhirnya, dengan mudah aku dapat menggemgam keseluruhan batang kemaluan Jono yang mengeras. Jono tidak menepis tanganku; ia tersenyum ketika aku membuka mataku yang terpicing sejak tadi.

Kutarik dengan kuat pundak Jono sehingga wajahnya menjadi lebih dekat denganku. Dengan sigap segera kulahap bibir Jono yang kemudian dengan tidak kusangka-sangka ia malah membalas lebih liar daripadaku. Lidahnya menjulur-julur menyapu seluruh langit-langit mulutku serta memilin lidahku sehingga aku menjadi sulit bernafas.

Tanganku membetot kain sarung yang dikenakan hinga lepas. Dihadapaku tersaji pemandangan yang luar biasa indahnya. Betapa penny Jono dengan size 20 cm mengangguk-angguk di hadapanku. Aku berusaha meraihnya namun Jono tidak memberiku kesempatan, setelah melepas hem gombrong yang dikenakan ia kembali menggumuli diriku.

Dengus nafas Jono membuatku menjadi lupa segalanya. Kumisnya yang kasar memberikan sensasi tersendiri ketika diusap-usapkan di dada, ketiak, maupun leherku. Aku bagaikan kapal oleng yang diombang ambingkan oleh badai cinta. Aku hampir menjerit ketika dengan liarnya lidah Jono bermain (rimming) di area lubang pelepasanku yangs sejak tadi sebenarnya memang sudah sangat mengharapkan. Nikmatnya itu, membuatku lupa berpikir bahwa tindakannku menjerit akan mengundang orang-orang berdatangan melihat.

Aku meregangkan kedua pahaku serta mengganjal pantatku dengan bantal sehingga Jono menjadi lebih leluasa bergerak menelusuri lubang kenikmatan. Terasa jemari Jono sedang bermain di dalam lubangku, dari bermula satu jari, kemudian dua dan hingga tiga jari bergantian dengan sapuan lidahnya. Otot rectumku sudah dapat memberikan reaksi yang makin membuat Jono penasaran. Kulihat sesekali ia menjilat jemari yang sudah dimasukan ke dalam ass-hole.

Rupanya Jono memahami keinginanku yang terpendam, ia segera menyodorkan pennynya yang sudah ereksi itu ke arahku. Aku menyambutnya dengan suka cita. Aku membelai, mencium, dan melumatnya sampai aku tersedak. Sungguh seksi sekali penny Jono, meskipun panjang tapi diameternya tidak terlalu besar, sehingga aku yakin tidak akan membuatku kesakitan jika nanti dibenamkan ke dalam anusku.

Aku ingin juga membalas perlakuan Jono melakukan rimming kepadaku tadi maka kuminta Jono nungging. Aku takjub menyaksikan keindahan lubang anus Jono, betapa disekililingnya ditumbuhi pula oleh pubic yang menyebar sampai ke belakang pantatnya. Ku akui, memang, pubic Jono lebat, demikian pula dengan bulu ketiaknya yang tanpa artificial fragrance menebarkan aroma kejantanan pria. Dengan sedikit perjuangan menyeruak rerimbunan bulu pubic maka aku berhasil menemukan ass-hole Jono di tengah himpitan ke dua bongkah pantatnya yang gempal.

Ku hirup aroma anus yang khas dan segera kujilat-jilatkan lidahku di sekililing ass-hole nya. Jono melenguh dan mendesah. Kubuka lebih lebar lagi lubang anusnya sehingga lidahku berhasil mencapai dinding dalam rectumnya. Terasa badan Jono bergetar. Setelah melumuri jari tengah serta permukaan anal Jono dengan air liurku maka aku masukan jari tersebut untuk mencapai G spot Jono.

Dengan satu tanganku memasturbasi penny Jono maka satu tanganku lagi bermain di liang duburnya. Nafas Jono semakin memburu dengan bergetar Jono kemudian berkata
"Mas Resnu..sudah pakai penny penjenangan saja..aku sudah ndak tahan nih" Jono menyuruhku menghentikan tanganku bermain dilubang analnya. Ia memintaku melakukan penetrasi dengan pennyku. Tentu saja aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.

Ke dua siku Jono bertumpu di meja kecil dengan pantannya yang diasongkan ke arahku. Setelah menyibakan bulu-bulu yang menutupi lubang analnya, aku melumuri kembali rectum dan pennyku dengan air ludah. Lalu dengan perlahan ku tempelkan ujung glans ke dinding rectum yang sudah mulai merekah itu. Satu kali dorongan kepala pennyku sudah tertelan kemudian dengan sentakan yang kuat maka seluruh batang kemaluanku sudah berada di lubang kenikmatan.

Kurasakan suatu sensasi saat batang kemaluanku meluncur di rectum Jono. Denyut otot rectum Jono terasa mencengkeram seolah melakukan pengurutan terhadap pennyku. Rasa senut-senut nikmat mengaliri sekujur tubuhku. Jono menggoyangkan pantatnya dan aku merespon dengan mendorong maju mundur 6 kali serta menggesek-gesakan bulu pubicku ke pantatnya 1 kali, demikian berulang-ulang.

Dengus nafas Jono berpacu dengan desah nafasku yang juga memburu. Keringat kami sudah bersimbah dan liang anal Jono semakin terasa longgar dan licin. Sementara itu, Jono meminta berubah posisi sebab dia agak capek dengan bertumpu pada meja. Maka ia kini berbaring telentang di amben dengan ganjalan bantal di pantatnya. Kedua kakinya diletakan dipundakku sehingga lubang rectumnya terlihat nganga minta diinsert dan penny Jono terlihat bagai gada yang dibaringkan. Setelah melumuri kembali dengan air ludah maka kudorong kembali penny ku yang segera lenyap ditelan tubuh Jono.

Kami kembali menyebrangi lautan birahi sejenis. Aku merasa sudah hampir dekat dengan titik tujuan dan sekonyong-konyong Jono mencengkram bahuku dan mendorong hingga aku jatuh terlentang di tempat tidur dan sekarang Jono berada di atas tubuhku dengan masih menelan pennyku di dalam rectumnya.

Sekarang Jono yang aktif bergoyang salsa membuat diriku menjadi hingar bingar sampai tiba-tiba aku menggelinjang dan menggelepar memuntahkan cairan mani di dalam anus Jono. Ku rasakan denyut dan cengkeraman liang birahi Jono membuat diriku terbang tinggi. Jono tidak segera berdiri dari tubuhku sehingga pennyku masih tetap terbenam di rectumnya.

Setelah pennyku terasa tidak bangun lagi maka Jono bangkit dan pergi ke belakang mengambilkan aku air minum serta membawa handuk dan mengusap tubuhku yang bersimbah peluh. Pada saat yang sama aku masih melihat penny Jono tetap tegang seperti semula.

Melihat hal itu aku terangsang kembali dan aku jadi ngaceng lagi. Maka aku segera meraih penny Jono dan kemudian melumatnya di dalam mulutku. Ternyata tidak kuduga Jono ingin melakukan hal yang sama; setelah merubah posisi maka kami melakukan felatio dalam posisi 69. Berguling-gulingan dalam posisi demikian akhirnya membuat kami sampai pada saat penyelesaian yang bersamaan. Tidak ada setetespun air mani yang tercecer karena semuanya dimuntahkan dan langsung di telan.

Dua kali pertempuran itu cukup membuatku lelah dan mengantuk. Sehingga aku jadi sungguh-sungguh tertidur dan bermalam di rumah Jono. Ketika aku terbangun menjelang subuh itu bukan karena aku mendengar suara kokok ayam atau apapun tapi karena dinginnya suhu Yogya yang kutaksir 25-27 derajat celcius yang menyelusup dibalik selimut kain sarung Jono.

Ya ampun, ternyata kami berdua masih bugil. Kulirik Jono masih mendengkur. Aku sibakan perlahan kain sarung yang menutupi tubuh Jono. Terlihat penny Jono yang melingkar di atas rerimbunan jembutnya membuat diriku kemudian menjadi horny.

Dengan perlahan aku gesek-gesekan wajahku pada pubicnya serta kujilat-jilat glans dan batang kemaluannya; efek yang terlihat kemudian adalah penny Jono menjadi membesar. Semakin aku kulum dan kelamoti menjadikan penny itu berubah menjadi keras dan tegak.

Pemandangan yang luar biasa indah, apalagi tubuh Jono memang termasuk dalam kategori orang berbulu lebat. Bulu-bulunya bermula dari bawah pusar dan kemudian bergerombol di selangkangan sampai ke pantat Jono; yang lainnya menyebar ke paha dan kaki.

Jono masih tetap memejamkan mata(?) aku tak perduli ia mau melek atau merem yang kumau saat ini adalah ingin merasakan genjotan pennynya bermain di dalam rectumku. Aku merangsang rectumku dengan olesan air liurku supaya nanti tidak terlalu sakit saat penetrasi. Biasanya aku menggunakan vaginal lubricant (cairan pelumas) vagina merek KY atau Durex jika aku sedang bermain anal intercourse. Setidaknya itu masih lebih aman daripada aku menggunakan hand body yang biasanya malah membuat rasa panas di lubang analku. Untuk yang darurat air liur masih menjadi pilihan yang oke.

Dengan hati-hati aku berjongkok di atas selangkangan Jono dan mengarahkan kepala penny Jono yang sudah berdiri tegak ke lubang analku dan dengan sentakan yang agak kuat aku berhasil menelan penny Jono yang kemudian terjaga dari tidurnya. Meskipun sesungguhnya terlihat terkejut namun ia tidak marah. Ia tersenyum ke arahku dan kemudian ia malah mendorong-dorongkan pinggulnya ke atas sehingga makin membuat pennynya melesak masuk ke dalam liang anusku. Aku menjadi semakin melayang dan mulai kehilangan arah untuk bergoyang. Kenikmatan ini sedemikian hebatnya sehingga membuatku jadi lupa harus bagaimana.

Jono mencoba untuk duduk dengan meraih bahuku dan sambil memegang punggungku dan ia melumat bibirku dan mengisap lidahku.. Walau baru saja bangun tidur aku sudah tidak lagi menghiraukan aroma mulutnya kecuali kami saling berpagut, menggigit, dan melumat sambil, tentu saja, aku terus memompa penny Jono.

Ditelusuri leherku dengan gesekan kumisnya yang kasar dan digigit-gigit kecil puting susuku menjadi aku melenguh tak berkesudahan, sementara tangan Jono yang satunya memanjakan pennyku dengan melakukan massage pada batang dan kepala pennyku. Akupun tidak kalah gilanya meremas dan mencengkram tubuh Jono.Kuangkat lengan Jono kucium dan kugesekan wajahku di kelebatan bulu ketiak Jono yang menebarkan aroma jantan. Jono menggelinjang saat lidahku yang basah menyapu bawah lengannya itu. Olah raga pagi itu akhirnya mengantarkan kami pada satu kebersamaan yang penuh kenikmatan diiringi lenguhan dan desahan nafas penuh kepuasan.

"Cari oleh-oleh mas? Mari saya antarkan, ada bakpia.. atau kaos .."
Kembali sapaan ramah itu menyadarkanku bahwa dulu aku pernah bertemu seseorang bernama Jono. Aku hanya menggeleng dan terus bergegas berjalan menuju stasiun Tugu. Dengan membawa satu Hand Bag aku tidak begitu kesulitan menerobos orang yang berlalu lalang. Dari kejauhan kulihat kereta Taksaka telah menanti untuk membawa ku kembali ke dalam rutinitas kerja di Jakarta.

Tamat

7/09/2011

Mas Tarmin dan Becaknya

Mas Tarmin tukang beca, suka mangkal di depan kos-kosanku.
Sejak aku melihat pertama, aku sudah nebak, pasti kontolnya gede.
Mulai saat itu aku nggak bisa lagi nyetop memikirkan dia dan kontolnya itu.
Aku selalu cari akal bagaimana aku bisa mendapatkan kontol itu.
Mas Tarmin.., aku pengin banget ngisepin kontolmu, mas.
Aku juga pengin njilatin bokongmu, pengin nyiumin duburmu.
Kencingin aku ya mas, berakin aku ya.. N'tar aku cebokin pakai lidahku.
Tanggung bersih deh.
Ahh, Mas Tarmin kapan aku bisa jalan sama kamu.

*****

Demikian sebaris catatan yang aku buat di buku harianku. Aku buat dengan penuh gelora nafsu saat mengingat Mas Tarmin. Kebetulan orangnya baik banget. Aku sering numpang becaknya saat nganter ke halte bis menuju sekolah. Dalam usaha mendekati dia, aku suka boros memberi upah gedean, diatas rata-rata tarip yang dia minta. Dia senang sekali. Terkadang saat-saat iseng, aku cari makan ke warung Tegal, kuajak sekalian untuk sama-sama makan.

Tetapi hingga saat ini aku nggak berani mengemukakan apa yang tersimpan jauh dalam pikiran dan hatiku. Selama ini aku cukup menciumi kontolnya lewat khayalan-khayalanku, yang biasanya berakhir dengan onani. Yaa, aku bisa onani di mana saja. Bahkan di dalam kelas, saat Bu guru memberikan pelajaran. Tidak jarang, bayangan susu ibu guru, atau leher Surti di depan bangkuku, atau bokong si Jay yang seksi menjadi sasaran onaniku. Aku cukup memasukkan tangan kiriku ke kantong celana, dan pelan-pelan mijit kemaluanku. Sementara khayalanku mengalir sesuai dengan gelora birahiku.

Sabtu sore. Saat-saat besok libur macam ini, pikiranku selalu kembali ke Mas Tarmin. Aku nengok ke jendela. Dia nggak nampak. Barangkali lagi narik. Biar kutunggu. Aku udah punya rencana. Aku mau minta antar dia keliling-keliling kawasan di seputar kos-kosanku ini. Aku akan bilang 'Aku carter mas, sampai pagi. Kuat yaa?! Aku mau santai-santai mbecak sama sampeyan. Kalau lapar atau haus mampir warung. Sak ketemunya, warung mana saja. Setuju??!'. Aku juga sudah siap sebungkus GG rokok kretek kesukaannya. Yahh, ini semua untuk membuat dia senang padaku. Biar dia susah untuk menolak keinginanku. Bahkan kalau perlu aku akan mengemis-emis untuk bisa ngisepin kontolnya.

Aku sudah bayangkan, kalau semalam panjang ini kami jalan bareng, pasti ada saat-saat dia pengin kencing, atau berak atau yaahh.. apalah. Dimana pada saat seperti itu aku bisa lebih mudah memulai ngomong menyampaikan keinginanku. Mungkin perlu kubelikan bir. Khan kalau minum bir biasanya terus pengin kencing. Ahh, Mas Tarmiinn, aku udah gemeter nihh..

Ehh, tiba-tiba saja dia yang nongol, sementara aku nunggu dan gelisah melongok-longok ke jalanan. 'Malam Minggu Mas Egis (begitu panggilanku), nggak muter-muter nih?'. Lho, lho, lho, koq kaya sudah di atur, dia yang nyamperin dan dia juga yang buka omongan ngajak muter-muter. Jadinya aku malahan pasang aksi, sedikit jual mahal. 'Muter-muter kemana mas? Lagian opo sampeyan kuat kalau narik jauh-jauh. Kalau aku sih enak tinggal leyeh-leyeh di jok becanya sambil kantuk-kantuk', begitu jawaban sok aksiku.

'Nantangin nih, ayyoo, biar sampai pagi biar aku layanin', begitu balik dia nantang penuh semangat sambil wajahnya semringah penuh senyum seperti jendral yang yakin akan menang perang.

'Kalau aku mau, aku suruh bayar berapa sam, peyan narik sampai pagi?', 'Jangan khawatir, pokoknya dijamin saja makan minumnya beres. Eeehh, di gang Jambe ada orang ngawinin nanggap Dang-Dut, n'tar kita mampir aja ke sono. Banyak babu-babu pada keluar nonton. Ng'kali bisa di senggol-senggol, asyyiikk..'. Woo, aku yang seharusnya bersorak-sorai. Aku langsung mengkhayal, 'Kena lu mas. Biar ku emut kontolmu. Biar ku isep dan telen tuh pejuh lu'. 'Ayyoo..!!', desaknya penuh semangat yang membuatku langsung ber-anjak. Ngambil dompet, jaket buat malam yang dingin, rokoknya Mas Tarmin. Tanpa ba bi Bu lagi kami keluar, aku langsung nangkring di becaknya, dia tarik sedikit mundur untuk dia cemplak dan mulai jalan. Pertualangan malam Minggu di mulai.

'Jangan buru-buruu, katanya santai', aku menegornya saat dia penuh semangat menggenjot becaknya hingga jalannya begitu kenceng. 'Bagaimana kalau kita nongkrong dulu di warung wak Sakir, ngopi, setuju', 'Okee boss, ha ha ha asyiikk'. Mas Tarmin melaju menuju warung wak Sakir di pengkolan dekat halte.

Terus terang aku nggak 'concern' pada kopi atau makanan saat ini. Aku bahagia banget bisa berdesak dengan Mas Tarmin. Bau keringatnya yang tanpa di tutup-tutupi dengan pewangi segala merupakan bau alami yang keluar dari tubuh Mas Tarmin. Begini rasanya bau lelaki. Kontolku jadi ngaceng. 'Mas ini kebetulan aku nyimpen rokok, dikasih temen, padahal aku nggak ngrokok khan, buat Mas Tarmin deh', 'Weh, weh, weh trima kasih banget Mas Egis. Sampeyan bener-bener bos saya lho'. Begitu gembira dia menerima sebungkus rokok GG dan langsung merangkulku, ngoyok-ojok tubuhku. Keringat dari bajunya nempel ke bajuku. Dan ini akan terus kuendusi sepanjang malam itu.

Yang aku menjadi deg-degan adalah saat dia merangkulku tanpa sengaja tangan kiriku menekan selangkangannya. Aku merasa bahwa dia juga ngaceng. Aku yakin itu. Dan bener rasanya, saat aku mau bayar makan & minuman ke wak Sakir, Mas Tarmin berdiri dan aku melirik ke arah selangkangan itu, woo, nampak celananya menggunung. Ada yang mendesak dari balik dalamnya. Mas Tarmin buru-buru beranjak, mungkin malu atau kagok, khawatir ngacengnya diperhatikan orang-orang di warung itu. Wahh, kalau bener.

Hari udah gelap. Di daerah itu jarak antara lampu jalannya jauh-jauh. Banyak juga yang nggak menyala. Jadinya secara umum kesannya gelap. Sementara orang-orang sudah menyepi. Beberapa sepeda lewat, tanpa lampu. Sesekali sepeda motor atau mobil orang yang pulang kerja. Suara bel kroncong becaknya Mas Tarmin ini berisik. Kena legokkan jalan sedikit saja suaranya gaduh.

'Mas Egis udah punya pacar belon? Koq perasaan saya Mas Egis nggak pernah pacaran ya?! Di kampungnya kali ya, ada yang nungguin'. Wah, pertanyaan macam begini yang menarik bagiku. Pertanyaan macam ini bisa dikembangkan. Bisa jadi lantaran untuk mencapai sasaran. Tapinya aku berlagak pilon. Aku hanya jawab, 'Hmm.., sok tau sampeyan..', 'Nah.., benar khan..', langsung saja dia jawab balik.

'Mas Tarmin kalo gelap-gelap gini ingat pacar ya?', tanyaku melempar jurus. 'N'tar mengkhayal lagi!', seranganku beruntun. 'Khayal apaan mas?!', bego atawa pura-pura, 'Yaa, khayal .., mbayangkan paha mulus, susu gede dan macam-macam.. Supaya menjadi tegang.. ha, ha, ha, ..'.

Dan jawabannya membuat jantungku langsung berdegup keras, 'Udah hee, udah tegang nih Mas Egis..', kudengar suara itu setengah berbisik, diselang ngos-ngosannya nggenjot becak. Bisikkan itu rasanya mengandung tujuan. Degup jantungku semakin tak keruan, 'Apanya yang tegang ma..mass ..?', seakan aku menginjak gas untuk mempercepat tercapainya tujuan.

'Kontolku ngaceng Mas Egis..', ampuunn.. 'Lihat nih', tanganku yang bersender di jok atas diraihnya dirabakan ke selangkangannya. Tentu saja aku nggak ngelak. Bahkan tanganku yang merasakan ada daging nonjol di selangkangan itu langsung memijat. Bukan main, kontol ini bener-bener gede. 'Gede banget mas!!'. Tanganku terus memijat-mijat.

'Aduh Mas Egis, enak nih di pijat-pijat'. 'Pelan-pelan dong jalannya', pintaku dengan maksud biar aku bisa mijat lebih lama. Bukannya dipelanin. Mas Tarmin sama sekali menghentikan becaknya. Turun dari sadelnya, tengak-tengok ke depan dan ke belakang, nggak ada orang, berdiri mendekat ke aku dari arah belakang. 'Mas, aku keluarin aja yah, Mas Boy pijatin yah ..'. 'Hhee eehh..'. Mas Tarmin membuka kancing celana kemudian menarik resluitingnya. Nampak celana dalamnya sekilas. Tangan kanannya langsung merogoh dan mengeluarkan kontolnya. Wwwoo.., panjangnyaa, gedenyaa.. 'Ayo Mas pijitin terus, enakk banget dehh..'.

Aku sendiri terus terang langsung kelimpungan. Kontolku jadi ngaceng banget. Dan kontol Mas Tarmin itu wuuhh, kenceng, keras, gede dan panjang. Aku langsung meraihnya kembali. 'Wwwuu, gede banget sih mass..', sambil aku membetulkan dudukku, memutar badan dan sedikit menarik kontol yang kuraih itu, sepertinya aku mau melihat lebih dekat. Tapi bukan itu. Aku sudah nggak sabar lagi. Aku ingin lebih dekat untuk membaui aroma kontolnya itu.

Tangan kananku terus memijat-mijat dan mengurut-urut. Mas Tarmin mendesah merinding. Dia bilang pijatanku nikmat banget. Dia bilang udah lama kepingin dipijitin macam ini. 'Ayyoo mass.., ennaakk bangett..'.

Kata-katanya aku tangkap seakan hendak diperpanjang tetapi tak terucapkan. Aku yakin Mas Tarmin ingin lebih dari pijatan. 'Maass, bb.. boleh akuu.. sun yaahh..', akhirnya dengan sedikit serak aku membisik. Ahh, akhirnya terucap juga. Khayalan atau lebih tepat obsesi, obsesiku berbulan-bulan terpenuhi kini. Aku nggak lagi nunggu jawaban, langsung mengasongkan mulutku, sementara tanganku menarik kontol itu lebih dekat lagi dan aku mencaploknya. Langsung kukenyot.

'Waaduuhh mass Eggiiss.., amppuunn eennaakknyaa.. Wwwoo. Aaarrcchh..'.
Tidak lama. Mas Tarmin nggak bisa menahan lagi. Dari kontolnya muncrat-muncrat pejuhnya. Aku agak bingung dan sibuk. Rasa pejuh itu macam kelapa muda. Cairan kental itu gurihnya bukan main. Sebagian aku langsung minum, ini yang pertama kali aku, karena dalam khayalan telah aku laksanakan lama sebelumnya. Dan sebagian lain ada yang nyiprat ke pipiku, ke dagu, ada di tangan dan sebagian lain di leher kemejaku dan tercecer ke tanah.

'Maaf mas, aku nggak bisa tahan emosi tadi. Sungguh, sepertinya aku nafsu banget .. Uuhh.. malluu..', 'Kenapaa.., nggak pa pa koq, aku ngerti dan aku juga jadi pengin lho begitu lihat ini (sambil meraba kembali kontolnya) gede banget. Aku juga jadi nafsu banget'. Aku tak hendak melepas rabaan itu. Tapi dari jauh nampak lampu mobil bergoyang. Ada yang datang dari arah depan. Aku lepaskan yang aku pegang. Naik ke becak. Sementara Mas Tarmin membetulkan celananya dan kembali mendorong kemudian menggenjot becaknya. Se-akan-akan tidak ada sesuatupun yang terjadi untuk tidak memancing kecurigaan orang. Maklum ini merupakan perbuatan yang pertama kali diantara kami. Masih besar rasa takutnya.

Sejak itu sepanjang jalan aku nggak nglepasin remasan tanganku dari kontolnya. 'Pejuhku enak ya mas?, n'tar tak kasih lagi yaa?!', begitulah macam omongan selanjutnya sepanjang jalan. 'Aku pp.. pengin nyiumin.. ss..seluruh tubuh kamu Mas Tarmin..', suaraku serak-serak dan tersendat menahan birahi yang semakin memuncak.

'Aku juga mau mas, biar aku kenyotin kontol Mas Egis sampai basah kuyup. Biar aku jilatin tuh bokongnya dan silit (dubur)nya. Boleh ya mass?!'.

Aku tidak menyadari, tahu-tahu sudah berada di depan orang punya kawinan itu. Suara musik dang-dut dari kaset, sementara nunggu krew 'live show'-nya yang lagi mempersiapkan alat-alatnya. Ramai orang lalu lalang. Di sana-sini pedagang kaki lima menggunakan kesempatan untuk menanggok rejeki. Mungkin pedagang kagetan, yang keluar dagang karena tetangga punya hajatan, khususnya karena adanya tontonan Dang-dut yang sangat disenangi oleh orang-orang kampung di sekitar situ. Malam itu babu-babu pada dandan untuk memancing jodoh. Siapa tahu ada pria yang berkenan di hatinya untuk mengajak makan bakso atau beli es teler.

'Mas, jangan ketempat yang ramai banget!, n'tar dilihat orang lhoo', 'Nggaakk maass, aku malahan cari yang agak gelapan dikit. Tuuhh, di bawah pohon sebelah kanan tuh. Dekat tukang bajigur lagi. Khan enak di-obok-obok samil makan ubi', jawab Mas Tarmin sambil langsung menggenjpot becaknya ke tempat itu. Aku pasrah saja. Dia pasti lebih tahu. Mungkin juga berpengalaman.

Ternyata malam itu agak konyol. Aku dan Mas Tarmin nggak bisa berbuat apa-apa lagi. Ditempat hajatan ini orang lalu lalang dan tak ada tempat yang sepi tanpa mencurigakan orang. Dan jam 3 pagi kami pulang. Semangat kami udah terpukul oleh kantuk yang sangat.

Tapi ada kelegaan yang besar. Antara Mas Tarmin dan aku telah ada saling pengertian. Pasti ada kesempatan lain untuk menyalurkan nafsu birahi lebih total.

Bekasi, Februari 2003

Tamat

6/28/2011

Abang becak

Pada suatu hari aku dapat tugas mendadak keluar kota yaitu ke kota Genteng Banyuwangi, dengan catatan besok sudah harus ada dikota tersebut, entah bagaimana caranya untuk bisa sampai kesana. Maka dengan berat hati dan penuh dengan keterpaksaan, setelah pulang kerja sekitar pukul 18.00 aku pulang dari tempat kerjaku menuju ketempat kostku yang jaraknya hanya beberapa ratus meter saja dengan tubuh lunglai, lemas, males yang semuanya bercampur aduk, apalagi aku harus berangkat seorang diri tanpa ada rekan yang menyertaiku.

Setelah sampai ditempat kost, aku mandi dan segera ganti baju untuk siap berangkat dan sebelumnya aku berkemas dengan membawa beberapa potong pakaian untuk berjaga-jaga kalau tugasku disana tidak dapat selesai dalam waktu sehari. Setelah semuanya beres, maka segera kukunci kamar tempat kostku dan segera kulangkahkan kakiku menuju jalan raya untuk menyetop angkot yang akan membawaku ke terminal bus Arjosari-Malang, setelah sampai diterminal bus antar kota sekitar pukul 19.00 malam, aku segera memilih bus jurusan Probolinggo, dan sebelumnya dalam hati aku juga penginnya berniat untuk naik bus secara estafet yaitu dari Malang ke Probolinggo, Probolinggo ke Jember dan Jember baru ke Genteng.

Setelah kupilih bus dengan tujuan yang kuinginkan, maka segera aku naik bus Akas dengan tujuan Probolinggo, aku memang sengaja tidak memilih bus Patas karena perjalanan malam hari tidak seberapa pengap disamping itu tidak seramai kalau perjalanan siang hari. Setelah aku menikmati perjalanan kurang lebih dua jam sekitar pukul 21.00, sampailah aku diterminal bus Banyuangga-Probolinggo, aku pindah kebus yang ada di depannya bus yang baru kutumpangi agar tidak antri terlalu lama, kebetulan bus yang ada di depan bus yang baru kutumpangi adalah bus Tjipto dengan jurusan Jember, dalam perjalanan kali ini aku dapat tempat duduk paling depan sendiri sebelah kiri dekat pintu depan sehingga tempat di depanku agak luang sehingga aku dapat meluruskan kakiku. Dan aku segera terlelap dalam perjalanan kali ini setelah terlebih dulu aku membayar ongkos tiket ke Jember. Perjalanan berlalu selama kurang lebih dua jam pula, sekitar pukul 23.00 sampailah aku di terminal Tawangalun-Jember dan akupun segera ikut menunggu dengan beberapa orang yang juga ingin melanjutkan perjalanan ke arah Banyuwangi.

Tidak berapa lama kemudian datanglah bus Akas dengan tujuan Denpasar lewat Banyuwangi, aku segera naik bus tersebut dengan perasaan yang sudah ngantuk, lelah akan tetapi aku ingin rasanya segera sampai ditempat tujuan. Dalam perjalanan ini cukup banyak juga penumpangnya dan rata-rata tujuan mereka adalah Denpasar atau Banyuwangi, setelah menikmati perjalanan yang tidak begitu menyenangkan sekitar dua jam, maka sampailah kekota tujuanku yaitu Genteng, maka aku segera bersiap-siap untuk turun diterminal Genteng, karena hari sudah menjelang pagi maka bus tidak masuk ke dalam terminal akan tetapi hanya berhenti ditepi jalan depan terminal.

Pada saat itu yang turun disana hanya beberapa orang saja termasuk diriku, setelah kakiku menginjakkan tanah maka beberapa abang becak datang menyerbu untuk saling berebut penumpang yang baru turun dari bus, mungkin ada sekitar lima atau enam orang abang becak yang mengerubuti aku, akan tetapi aku hanya menggelengkan kepala yang berarti bagi mereka aku tidak berniat untuk naik becak mereka, akan tetapi ada satu abang becak yang dengan gigihnya mengikuti aku walaupun aku sudah melangkahkan kakiku beberapa langkah dari kerumunan abang becak tersebut. Kulihat sepintas abang becak yang mengejarku tadi, masih muda, berbadan kekar dan lumayan ganteng untuk ukuran abang becak, maka aku mengiyakan saja ketika dia menawarkan diri untuk mengantarkan aku mencari tempat menginap.

Dalam perjalanan menuju hotel yang menjadi tempat tujuanku, maka terjadi percakapan yang biasa-biasa saja sebagai basi-basi, hingga sampailah di depan hotel yang menjadi tempat tujuanku, segera kubayar ongkosnya, dan pada saat itulah aku baru menyadari kalau tampilan abang becak yang satu ini begitu seksi dengan celana jeans belelnya yang lutut kiri dan kanan sengaja disobek dan yang terlebih membuatku dag dig dug adalah disebelah bawah kantong kirinya juga sobek yang lumayan lebar sehingga aku bisa melihat pangkal pahanya yang kekar itu dan hal ini makin membuatku jadi salah tingkah dan segera ada perasaan yang berdesir dalam hatiku untuk mencari berbagai cara dan alasan untuk bisa menggaetnya malam itu. Maka aku bertanya kepadanya.

"Abis ini mau kemana?" tanyaku sekenanya.

"Yah, mau balik di depan terminal lagi sambil nunggu penumpang"

"Kalau aku mau pakai kamu lagi gimana? Sebabnya tadi aku belum makan"

"Yah, nggak apa-apa saya tunggu saja"

"Gini aja aku pesan kamar dulu ke dalam, kamu tunggu dulu di depan yaa"

"Hmm," gumannya tidak jelas.

Setelah aku menemui resepsionis dan sudah mendapatkan kamar yang kuinginkan maka aku kembali keluar untuk menemui abang becak tadi dan dia kuajak masuk dengan alasan aku mau mandi dulu. Dengan rada segan-segan akhirnya dia mau juga masuk ke dalam kamarku setelah sebelumnya dia memarkir becaknya dihalaman hotel dan kepada room boy yang mengantarkan aku kekamar kubilang kalau aku mau keluar lagi untuk cari makan dengan menggunakan jasa becaknya sehingga aku dengan leluasa mengajaknya masuk ke dalam kamar.

Setelah sampai di kamar, kusuruh dia untuk mandi, akan tetapi dia menolak dengan alasan sudah malam dan dingin airnya, maka segera kubuka keran air hangat dan kusuruh dia untuk merasakan hangatnya air dan dengan sedikit rayuan gombal kalau air hangat dapat menyegarkan tubuh yang sedang capek, kemudian dia mau. Dengan segera dia memasuki kamar mandi dan aku segera membereskan barang bawaanku setelah sekitar lima menit dia didalam kamar mandi, aku mengetoknya dari luar dengan alasan biar cepet selesai kalau mandinya bersamaan dan ternyata dia tidak keberatan dengan segera dibukanya slot kamar mandi dan aku segera masuk.

Kudapati dia sudah telanjang bulat sambil menggosok badannya dengan sabun yang tersedia disana. Karena pada waktu itu dia menghadap ketembok maka aku tidak bisa melihat penisnya yang ingin segera kulihat karena dengan panampilannya yang seksi itu membuatku merangsang, maka aku segera melangkahkan kaki menuju bak mandi yang berarti aku membelakanginya setelah kuguyur badanku dengan beberapa gayung air hangat, kubalikan tubuhku menghadapnya untuk meminta sabun dari darinya dan barulah pada saat itu aku bisa melihat penisnya yang lumayan panjang dalam keadaan biasa, sehingga tanpa terasa penisku langsung tegak lurus dan diapun juga melihatnya dan komentarnya penuh dengan arti.

"Lho, koq ngaceng penis sampeyan?" katanya.

"Iyoo, ndelok penismu sing dowo itu opo," jawabku juga sekenanya.

"Hehehehe"

"Koq iso dowo koyok ngene iki diapakno sih," tanyaku lagi.

"nDisik sering dikom karo teh anget," jawabnya lagi.

Dengan penuh ketidak sabaran segera kuraih penisnya yang panjang menggantung itu dan dia diam saja, sambil kukocok perlahan-lahan dan mulai terlihat reaksinya dengan sedikit mengeras dan makin mengeras dan terlihat makin panjang lagi sampai diatas pusarnya beberapa mili.

"Ah, wong podo lanange koq dulinan penis," katanya lagi.

"Enggak opo-opo, aku seneng nek ndelok penis sih dowo ngene," jawabku.

"Nek gelem emuten pisan opoo," katanya lagi.

Tanpa dikomando dua kali maka segera jongkok di depan selakangannya dan kuselomot tuh penis yang sudah tegang mengacung itu sambil sesekali kusiran dengan air hangat dari bak kamar mandi. Dan dia hanya berdiri sambil diam mematung sambil sesekali mendesis keenakan dan mengelus-elus kepalaku Setelah permaian berjalan sekitar seperempat jam didalam kamar mandi dan itu baru pemanasan saja, karena belum ada tanda-tanda dia akan mencapai puncak kenikmatannya. Maka kamipun meraih handuk yang tersedia didalam kamar mandi dan segera mengeringkan badan kami masing-masing dan menuju ketempat tidur dengan ukuran yang cukup besar untuk dipakai berguling-guling dua orang.

Setelah kutelentangkan dia ditempat tidur dan dia menurut saja tanpa ada perlawanan dan penolakan, maka segera kucumbui dia mulai dari cuping telinganya, ke arah pipinya kemudian bibirnya, mula-mula dia diam saja akan tetapi lama kelamaan dia mulai merespon semua kegiatanku untuk mencumbuinya, kemudian kuturunkan lagi kelehernya, dan terus menjulur kebawah lagi ke arah ketiaknya dan kucium aroma yang membuatku makin terangsang, yaitu aroma laki-laki jantan dengan baunya yang sangat khas sekali. Mungkin kalau dalam keadaan biasa aku akan merasa jijik untuk menjilati ketiak yang berbulu dan berbau, akan tetapi pada pagi hari itu hilang sudah perasaan jijik dan lain sebagainya yang ada hanya rangsangan demi rangsangan yang makin membuatku mabuk kepayang.

Terus cumbuanku kuteruskan ke arah putingnya yang berwarna hitam kecoklatan dan ditumbuhi beberapa bulu yang cukup panjang-panjang, kemudian kuteruskan lagi ke arah pusarnya dengan cara memasukan lidahku ke dalam lubang pusarnya dan dia mengelinjang-ngelinjang kegelian sambil mendesah penuh dengan kenikmatan. Kemudian kuarahkan cumbuan bibirku ke arah pinggangnya dan terus turun kebawah lagi ke arah jembutnya yang tumbuh dengan kasar dan kaku itu terus kukulum ujung penisnya yang hitam tegar itu dan menjulang tegak sepanjang sejengkal tanganku yang kukira-kira panjangnya sekitar 20 cm.

Kuemut dengan memasuk-keluarkan dengan mulutku terus dan kudengar rintihan makin keras dan mendesis-desis seperti ular yang sedang mencari mangsa. Setelah cukup lama aku menyelomoti penisnya, segera kuambil lotion yang sudah kupersiapkan disebelah tempat tidur, kemudian kuolesi lubang anusku dengan lotion dan segera aku merangkak ke atasnya dan mulai berusaha untuk memasukan penisnya yang panjang itu ke dalam lubang kenikmatanku, setelah semua penisnya masuk sampai pangkalnya aku segera menaik turunkan bokongku dan dia rupanya masih menikmati permainan sex yang sebelumnya belum pernah dia dapatkan, setelah cukup lama aku naik turun diatas penisnya yang tegak mengacung itu, akhirnya dia memintaku untuk melepaskannya dan menyuruhku untuk telentang dan sambil mengangkat kedua belah kakiku ke atas pundaknya kemudian dia mulai menunduk dan memasukkan penisnya yang masih tegang mengacung itu ke dalam lubang kenimatanku sambil terus mengenjotnya dan kurasakan batang penisnya yang panjang itu sampai ke dalam perutku yang menyodok-nyodok dengan liarnya sambil melenguh-lenguh diantara desisan kenikmatan yang dia rasakan.

"Aaahh, aauucchh"

"Ayoo teruss ggooyaanngg"

"Yaahh"

"Uuuhhaahh"

"AAaauucchh"

Dan gerakan maju mundurnya makin lama makin cepat sampai akhirnya dia tersungkur diatas dadaku sambil merasakan puncak kenikmatannya dengan mengeluarkan pejuh yang sangat banyak dalam lubangku yang sampai kurasakan meleleh keluar dari antara lubang anusku dan penisnya yang masih tertancap dalam lubangku, cukup lama dia memeluk aku dan sambil tersenyum dia berkata,

"Enak ee," katanya.

Kemudian dia bangkit dari pelukanku dan kemudian dia menuju kekamar mandi untuk membersihkan diri dan mandi lagi dengan air hangat, kalau sebelumnya dia masuk ke dalam kamar mandi dengan mengunci pintunya maka untuk kali ini pintu kamar mandi dibiarkannya dalam keadaan terbuka dan kulihat dia sedang mencuci penisnya dengan air hangat dan kuawasi dia dari tempat tidur, sedangkan aku pada saat itu masih belum mendapatkan kepuasan dengan mengecrotkan pejuhku.

Aku maklum akan hal itu karena yang kuhadapi sekarang itu bukanlah seorang gay akan tetapi seorang lekong asli yang sama sekali tidak mengenal hubungan sesama jenis, sehingga mungkin dia tidak mengerti kalau dalam hubungan seperti harus take and give atau harus saling memuaskan lawan mainnya. Kemudian akupun bangkit dari tempat tidurku dengan penisku masih ngaceng penuh karena belum keluar pejuhku, kususul dia kekmar mandi untuk mengguyur tubuhku dengan air hangat pula dan kulihat dia sudah selesai mandi dan sudah mengeringkan badannya dan mulai memakai celdalnya atau Cd-nya dan celana pendek kolor warna abu-abu, kemudian dia rebahan diatas tempat tidur sambil telentang. Setelah selesai dari kamar mandi aku menyusulnya rebahan diatas tempat tidur namun aku masih dalam keadaan telanjang bulat dan penisku sudah mulai surut dari ngacengnya.

Kamipun mengobrol sambil menanyakan identitas kami masing-masing. Dari obrolan itu baru kuketahui kalau namanya adalah Giman, dia adalah orang asli kota itu dan dia sudah beristri dan mempunyai seorang anak yang baru berumur sekitar tiga tahun dan dia memulai pengalaman sexnya dengan seorang wanita sejak kelas dua SMU yaitu sekitar umur 16-17 tahun, dan kadang-kadang dia juga suka jajan dengan perempuan jalanan kalau dia mempunyai kelebihan uang dari hasil narik becaknya. Dan ketika kutanya tentang bagiamna rasanya pengalaman sek yang baru dia rasakan tadi lalu katanya,

"Luwih enak," katanya.

"Enak apane," tanyaku penasaran.

"Luwih seret, luwih keset dibandingno main karo wong wedok," katanya polos.

"Nek ngono gelem maneh yoo?" pancingku.

"Hmm," gumamnya.

Dia tidak mengatakan sesuatu akan tetapi pandangan matanya mempunyai arti tersendiri bagiku, maka segera kuraih kembali penisnya yang sudah lemas dibalik celana pendeknya yang cukup ketat itu dan kuelus-elus lagi dengan perlahan-lahan, sambil kugesek-gesek dan mulai tampak reaksinya dengan makin bertambah panjang dan mengerasnya kembali penisnya, kemudian kulorot celana pendeknya dan ketika itu penisku kembali tegang mengacung kembali kemudian kuraih tangannya untuk memegang penisku.

Mulanya dia canggung dan segan akan tetapi akhirnya dia mau juga mengocok penisku akan tetapi tidak seprofesional sparing partnerku yang benar-benar gay, terus kulorot kembali CD-nya dan kulihat penisnya yang panjang menjulang sudah mengacung kembali, kuemot kembali dengan posisi 69, walaupun begitu aku tidak memintanya untuk menghisap penisku karena aku tahu dia pasti akan menolaknya karena belum biasa, akan hal itu tidak menjadi masalah bagiku, dengan kocokan yang tidak teratur pada penisku hal itu sudah cukup untuk membuat rangsangan pada diriku makin meningkat, setelah cukup lama aku mengemotnya maka segera kuminta dia untuk bangkit dari tidurnya dan segera menindih tubuhku dan kubimbing penisnya yang panjang tegak mengacung itu memasuki lubang anusku.

"Aaahh"

"Aaayyoo teeruss genjot," pintaku.

"Hmm"

Makin lama gerakannya makin cepat dan menggila kekanan kekiri sehingga kurasakan desakan penisnya menusuk kekanan dan kekiri didalam anusku sampai akhirnya kembali kudengar lenguhannya diiringi dengan muncratnya pejuhnya.

"AAaaoocchh enaakk," katanya.

"Ssseeddaapp"

"Aaahh nniikkmmaatt"

Sebelum dia melepaskan penisnya dari lubangku dan masih kurasakan kehangatan dan denyutan penisnya, maka segera aku mengocok penisku makin lama makin cepat sambil diawasinya sampai aku akhirnya melenguh.

"Aaauucchh"

Jrot.. Jrot.. Jrott

Pejuhku muncrat diatas dadaku, kemudian kudekap dia, sampai cukup lama sambil penisnya yang sudah mulai melemas tertancap dilubangku, dua ronde sudah permainan yang dilakukannya pada diriku, setelah dia bangkit dari dekapanku kulihat pejuhku yang tadinya muncrat didadaku, terlihat pula lelerannya didadanya karena dekapanku tadi kemudian segera dia menuju ke kamar mandi lagi dan kudengar siraman air mengguyur tubuhnya.

Sejenak kemudian aku menyusulnya ke dalam kamar mandi dan kami mandi bersama saling menggosok, saling menyabun dan sekali-kali tangan nakalku memegang penisnya yang sudah tidak tegang lagi akan tetapi masih cukup panjang, setelah selesai berpakaian kami ngobrol sebentar, waktu sudah menunjukkan pukul 04.00 pagi lebih, dan diapun mohon pamit sambil kuberikan tips tambahan dan kubisikkan.

"Aku pengin main ngene maneh," kataku.

"Kapan?" tanyanya.

"Nek, aku nang kene maneh," jawabku.

"Iyoo, tak enteni yoo," sambungnya lagi.

Dia segera keluar dari kamarku dan aku segera mengunci kamarku dari dalam dan merebahkan badanku dengan rasa yang sangat puas dan segera tertidur dengan pulasnya sambil tersenyum dan sekitar pukul 07.00 pagi aku segera bangun, mandi dan bersiap-siap untuk menuju tempat tugasku.

Ketika sebulan berikutnya aku ke Genteng lagi dengan jam yang sama dan aku berharap dapat bertemu kembali dengannya, akan tetapi tidak kutemukan dia, walaupun aku berdiri ditepi jalan di depan terminal cukup lama.

Dimanakah kamu Gimanku?

Apakah kamu sudah lupa dengan janjimu atau mungkin kamu tak ingin menemuiku lagi karena memang kamu bukan gay?

TAMAT

5/29/2011

Abang Becak

(by: hanurapta@yahoo.com)

Pada suatu hari aku dapat tugas mendadak keluar kota yaitu ke kota Genteng Banyuwangi, dengan catatan besok sudah harus ada dikota tersebut, entah bagaimana caranya untuk bisa sampai kesana. Maka dengan berat hati dan penuh dengan keterpaksaan, setelah pulang kerja sekitar pukul 18.00 aku pulang dari tempat kerjaku menuju ketempat kostku yang jaraknya hanya beberapa ratus meter saja dengan tubuh lunglai, lemas, males yang semuanya bercampur aduk, apalagi aku harus berangkat seorang diri tanpa ada rekan yang menyertaiku.

Setelah sampai ditempat kost, aku mandi dan segera ganti baju untuk siap berangkat dan sebelumnya aku berkemas dengan membawa beberapa potong pakaian untuk berjaga-jaga kalau tugasku disana tidak dapat selesai dalam waktu sehari. Setelah semuanya beres, maka segera kukunci kamar tempat kostku dan segera kulangkahkan kakiku menuju jalan raya untuk menyetop angkot yang akan membawaku ke terminal bus Arjosari-Malang, setelah sampai diterminal bus antar kota sekitar pukul 19.00 malam, aku segera memilih bus jurusan Probolinggo, dan sebelumnya dalam hati aku juga penginnya berniat untuk naik bus secara estafet yaitu dari Malang ke Probolinggo, Probolinggo ke Jember dan Jember baru ke Genteng.

Setelah kupilih bus dengan tujuan yang kuinginkan, maka segera aku naik bus Akas dengan tujuan Probolinggo, aku memang sengaja tidak memilih bus Patas karena perjalanan malam hari tidak seberapa pengap disamping itu tidak seramai kalau perjalanan siang hari. Setelah aku menikmati perjalanan kurang lebih dua jam sekitar pukul 21.00, sampailah aku diterminal bus Banyuangga-Probolinggo, aku pindah kebus yang ada di depannya bus yang baru kutumpangi agar tidak antri terlalu lama, kebetulan bus yang ada di depan bus yang baru kutumpangi adalah bus Tjipto dengan jurusan Jember, dalam perjalanan kali ini aku dapat tempat duduk paling depan sendiri sebelah kiri dekat pintu depan sehingga tempat di depanku agak luang sehingga aku dapat meluruskan kakiku. Dan aku segera terlelap dalam perjalanan kali ini setelah terlebih dulu aku membayar ongkos tiket ke Jember. Perjalanan berlalu selama kurang lebih dua jam pula, sekitar pukul 23.00 sampailah aku di terminal Tawangalun-Jember dan akupun segera ikut menunggu dengan beberapa orang yang juga ingin melanjutkan perjalanan ke arah Banyuwangi.

Tidak berapa lama kemudian datanglah bus Akas dengan tujuan Denpasar lewat Banyuwangi, aku segera naik bus tersebut dengan perasaan yang sudah ngantuk, lelah akan tetapi aku ingin rasanya segera sampai ditempat tujuan. Dalam perjalanan ini cukup banyak juga penumpangnya dan rata-rata tujuan mereka adalah Denpasar atau Banyuwangi, setelah menikmati perjalanan yang tidak begitu menyenangkan sekitar dua jam, maka sampailah kekota tujuanku yaitu Genteng, maka aku segera bersiap-siap untuk turun diterminal Genteng, karena hari sudah menjelang pagi maka bus tidak masuk ke dalam terminal akan tetapi hanya berhenti ditepi jalan depan terminal.

Pada saat itu yang turun disana hanya beberapa orang saja termasuk diriku, setelah kakiku menginjakkan tanah maka beberapa abang becak datang menyerbu untuk saling berebut penumpang yang baru turun dari bus, mungkin ada sekitar lima atau enam orang abang becak yang mengerubuti aku, akan tetapi aku hanya menggelengkan kepala yang berarti bagi mereka aku tidak berniat untuk naik becak mereka, akan tetapi ada satu abang becak yang dengan gigihnya mengikuti aku walaupun aku sudah melangkahkan kakiku beberapa langkah dari kerumunan abang becak tersebut. Kulihat sepintas abang becak yang mengejarku tadi, masih muda, berbadan kekar dan lumayan ganteng untuk ukuran abang becak, maka aku mengiyakan saja ketika dia menawarkan diri untuk mengantarkan aku mencari tempat menginap.

Dalam perjalanan menuju hotel yang menjadi tempat tujuanku, maka terjadi percakapan yang biasa-biasa saja sebagai basi-basi, hingga sampailah di depan hotel yang menjadi tempat tujuanku, segera kubayar ongkosnya, dan pada saat itulah aku baru menyadari kalau tampilan abang becak yang satu ini begitu seksi dengan celana jeans belelnya yang lutut kiri dan kanan sengaja disobek dan yang terlebih membuatku dag dig dug adalah disebelah bawah kantong kirinya juga sobek yang lumayan lebar sehingga aku bisa melihat pangkal pahanya yang kekar itu dan hal ini makin membuatku jadi salah tingkah dan segera ada perasaan yang berdesir dalam hatiku untuk mencari berbagai cara dan alasan untuk bisa menggaetnya malam itu. Maka aku bertanya kepadanya.

 "Abis ini mau kemana?" tanyaku sekenanya.
 "Yah, mau balik di depan terminal lagi sambil nunggu penumpang"
 "Kalau aku mau pakai kamu lagi gimana? Sebabnya tadi aku belum makan"
 "Yah, nggak apa-apa saya tunggu saja"
 "Gini aja aku pesan kamar dulu ke dalam, kamu tunggu dulu di depan yaa"
 "Hmm," gumannya tidak jelas.

Setelah aku menemui resepsionis dan sudah mendapatkan kamar yang kuinginkan maka aku kembali keluar untuk menemui abang becak tadi dan dia kuajak masuk dengan alasan aku mau mandi dulu. Dengan rada segan-segan akhirnya dia mau juga masuk ke dalam kamarku setelah sebelumnya dia memarkir becaknya dihalaman hotel dan kepada room boy yang mengantarkan aku kekamar kubilang kalau aku mau keluar lagi untuk cari makan dengan menggunakan jasa becaknya sehingga aku dengan leluasa mengajaknya masuk ke dalam kamar.

Setelah sampai di kamar, kusuruh dia untuk mandi, akan tetapi dia menolak dengan alasan sudah malam dan dingin airnya, maka segera kubuka keran air hangat dan kusuruh dia untuk merasakan hangatnya air dan dengan sedikit rayuan gombal kalau air hangat dapat menyegarkan tubuh yang sedang capek, kemudian dia mau. Dengan segera dia memasuki kamar mandi dan aku segera membereskan barang bawaanku setelah sekitar lima menit dia didalam kamar mandi, aku mengetoknya dari luar dengan alasan biar cepet selesai kalau mandinya bersamaan dan ternyata dia tidak keberatan dengan segera dibukanya slot kamar mandi dan aku segera masuk.

Kudapati dia sudah telanjang bulat sambil menggosok badannya dengan sabun yang tersedia disana. Karena pada waktu itu dia menghadap ketembok maka aku tidak bisa melihat penisnya yang ingin segera kulihat karena dengan panampilannya yang seksi itu membuatku merangsang, maka aku segera melangkahkan kaki menuju bak mandi yang berarti aku membelakanginya setelah kuguyur badanku dengan beberapa gayung air hangat, kubalikan tubuhku menghadapnya untuk meminta sabun dari darinya dan barulah pada saat itu aku bisa melihat penisnya yang lumayan panjang dalam keadaan biasa, sehingga tanpa terasa penisku langsung tegak lurus dan diapun juga melihatnya dan komentarnya penuh dengan arti.

 "Lho, koq ngaceng penis sampeyan?" katanya.

 "Iyoo, ndelok penismu sing dowo itu opo," jawabku juga sekenanya.

 "Hehehehe"

 "Koq iso dowo koyok ngene iki diapakno sih," tanyaku lagi.

 "nDisik sering dikom karo teh anget," jawabnya lagi.

Dengan penuh ketidak sabaran segera kuraih penisnya yang panjang menggantung itu dan dia diam saja, sambil kukocok perlahan-lahan dan mulai terlihat reaksinya dengan sedikit mengeras dan makin mengeras dan terlihat makin panjang lagi sampai diatas pusarnya beberapa mili.

 "Ah, wong podo lanange koq dulinan penis," katanya lagi.

 "Enggak opo-opo, aku seneng nek ndelok penis sih dowo ngene," jawabku.

 "Nek gelem emuten pisan opoo," katanya lagi.

Tanpa dikomando dua kali maka segera jongkok di depan selakangannya dan kuselomot tuh penis yang sudah tegang mengacung itu sambil sesekali kusiran dengan air hangat dari bak kamar mandi. Dan dia hanya berdiri sambil diam mematung sambil sesekali mendesis keenakan dan mengelus-elus kepalaku Setelah permaian berjalan sekitar seperempat jam didalam kamar mandi dan itu baru pemanasan saja, karena belum ada tanda-tanda dia akan mencapai puncak kenikmatannya. Maka kamipun meraih handuk yang tersedia didalam kamar mandi dan segera mengeringkan badan kami masing-masing dan menuju ketempat tidur dengan ukuran yang cukup besar untuk dipakai berguling-guling dua orang.

Setelah kutelentangkan dia ditempat tidur dan dia menurut saja tanpa ada perlawanan dan penolakan, maka segera kucumbui dia mulai dari cuping telinganya, ke arah pipinya kemudian bibirnya, mula-mula dia diam saja akan tetapi lama kelamaan dia mulai merespon semua kegiatanku untuk mencumbuinya, kemudian kuturunkan lagi kelehernya, dan terus menjulur kebawah lagi ke arah ketiaknya dan kucium aroma yang membuatku makin terangsang, yaitu aroma laki-laki jantan dengan baunya yang sangat khas sekali. Mungkin kalau dalam keadaan biasa aku akan merasa jijik untuk menjilati ketiak yang berbulu dan berbau, akan tetapi pada pagi hari itu hilang sudah perasaan jijik dan lain sebagainya yang ada hanya rangsangan demi rangsangan yang makin membuatku mabuk kepayang.

Terus cumbuanku kuteruskan ke arah putingnya yang berwarna hitam kecoklatan dan ditumbuhi beberapa bulu yang cukup panjang-panjang, kemudian kuteruskan lagi ke arah pusarnya dengan cara memasukan lidahku ke dalam lubang pusarnya dan dia mengelinjang-ngelinjang kegelian sambil mendesah penuh dengan kenikmatan. Kemudian kuarahkan cumbuan bibirku ke arah pinggangnya dan terus turun kebawah lagi ke arah jembutnya yang tumbuh dengan kasar dan kaku itu terus kukulum ujung penisnya yang hitam tegar itu dan menjulang tegak sepanjang sejengkal tanganku yang kukira-kira panjangnya sekitar 20 cm.

Kuemut dengan memasuk-keluarkan dengan mulutku terus dan kudengar rintihan makin keras dan mendesis-desis seperti ular yang sedang mencari mangsa. Setelah cukup lama aku menyelomoti penisnya, segera kuambil lotion yang sudah kupersiapkan disebelah tempat tidur, kemudian kuolesi lubang anusku dengan lotion dan segera aku merangkak ke atasnya dan mulai berusaha untuk memasukan penisnya yang panjang itu ke dalam lubang kenikmatanku, setelah semua penisnya masuk sampai pangkalnya aku segera menaik turunkan bokongku dan dia rupanya masih menikmati permainan sex yang sebelumnya belum pernah dia dapatkan, setelah cukup lama aku naik turun diatas penisnya yang tegak mengacung itu, akhirnya dia memintaku untuk melepaskannya dan menyuruhku untuk telentang dan sambil mengangkat kedua belah kakiku ke atas pundaknya kemudian dia mulai menunduk dan memasukkan penisnya yang masih tegang mengacung itu ke dalam lubang kenimatanku sambil terus mengenjotnya dan kurasakan batang penisnya yang panjang itu sampai ke dalam perutku yang menyodok-nyodok dengan liarnya sambil melenguh-lenguh diantara desisan kenikmatan yang dia rasakan.

 "Aaahh, aauucchh"

 "Ayoo teruss ggooyaanngg"

 "Yaahh"

 "Uuuhhaahh"

 "AAaauucchh"

Dan gerakan maju mundurnya makin lama makin cepat sampai akhirnya dia tersungkur diatas dadaku sambil merasakan puncak kenikmatannya dengan mengeluarkan pejuh yang sangat banyak dalam lubangku yang sampai kurasakan meleleh keluar dari antara lubang anusku dan penisnya yang masih tertancap dalam lubangku, cukup lama dia memeluk aku dan sambil tersenyum dia berkata,

 "Enak ee," katanya.

Kemudian dia bangkit dari pelukanku dan kemudian dia menuju kekamar mandi untuk membersihkan diri dan mandi lagi dengan air hangat, kalau sebelumnya dia masuk ke dalam kamar mandi dengan mengunci pintunya maka untuk kali ini pintu kamar mandi dibiarkannya dalam keadaan terbuka dan kulihat dia sedang mencuci penisnya dengan air hangat dan kuawasi dia dari tempat tidur, sedangkan aku pada saat itu masih belum mendapatkan kepuasan dengan mengecrotkan pejuhku.

Aku maklum akan hal itu karena yang kuhadapi sekarang itu bukanlah seorang gay akan tetapi seorang lekong asli yang sama sekali tidak mengenal hubungan sesama jenis, sehingga mungkin dia tidak mengerti kalau dalam hubungan seperti harus take and give atau harus saling memuaskan lawan mainnya. Kemudian akupun bangkit dari tempat tidurku dengan penisku masih ngaceng penuh karena belum keluar pejuhku, kususul dia kekmar mandi untuk mengguyur tubuhku dengan air hangat pula dan kulihat dia sudah selesai mandi dan sudah mengeringkan badannya dan mulai memakai celdalnya atau Cd-nya dan celana pendek kolor warna abu-abu, kemudian dia rebahan diatas tempat tidur sambil telentang. Setelah selesai dari kamar mandi aku menyusulnya rebahan diatas tempat tidur namun aku masih dalam keadaan telanjang bulat dan penisku sudah mulai surut dari ngacengnya.

Kamipun mengobrol sambil menanyakan identitas kami masing-masing. Dari obrolan itu baru kuketahui kalau namanya adalah Giman, dia adalah orang asli kota itu dan dia sudah beristri dan mempunyai seorang anak yang baru berumur sekitar tiga tahun dan dia memulai pengalaman sexnya dengan seorang wanita sejak kelas dua SMU yaitu sekitar umur 16-17 tahun, dan kadang-kadang dia juga suka jajan dengan perempuan jalanan kalau dia mempunyai kelebihan uang dari hasil narik becaknya. Dan ketika kutanya tentang bagiamna rasanya pengalaman sek yang baru dia rasakan tadi lalu katanya,

 "Luwih enak," katanya.

 "Enak apane," tanyaku penasaran.

 "Luwih seret, luwih keset dibandingno main karo wong wedok," katanya polos.

 "Nek ngono gelem maneh yoo?" pancingku.

 "Hmm," gumamnya.

Dia tidak mengatakan sesuatu akan tetapi pandangan matanya mempunyai arti tersendiri bagiku, maka segera kuraih kembali penisnya yang sudah lemas dibalik celana pendeknya yang cukup ketat itu dan kuelus-elus lagi dengan perlahan-lahan, sambil kugesek-gesek dan mulai tampak reaksinya dengan makin bertambah panjang dan mengerasnya kembali penisnya, kemudian kulorot celana pendeknya dan ketika itu penisku kembali tegang mengacung kembali kemudian kuraih tangannya untuk memegang penisku.

Mulanya dia canggung dan segan akan tetapi akhirnya dia mau juga mengocok penisku akan tetapi tidak seprofesional sparing partnerku yang benar-benar gay, terus kulorot kembali CD-nya dan kulihat penisnya yang panjang menjulang sudah mengacung kembali, kuemot kembali dengan posisi 69, walaupun begitu aku tidak memintanya untuk menghisap penisku karena aku tahu dia pasti akan menolaknya karena belum biasa, akan hal itu tidak menjadi masalah bagiku, dengan kocokan yang tidak teratur pada penisku hal itu sudah cukup untuk membuat rangsangan pada diriku makin meningkat, setelah cukup lama aku mengemotnya maka segera kuminta dia untuk bangkit dari tidurnya dan segera menindih tubuhku dan kubimbing penisnya yang panjang tegak mengacung itu memasuki lubang anusku.

 "Aaahh"

 "Aaayyoo teeruss genjot," pintaku.

 "Hmm"

Makin lama gerakannya makin cepat dan menggila kekanan kekiri sehingga kurasakan desakan penisnya menusuk kekanan dan kekiri didalam anusku sampai akhirnya kembali kudengar lenguhannya diiringi dengan muncratnya pejuhnya.

 "AAaaoocchh enaakk," katanya.

 "Ssseeddaapp"

 "Aaahh nniikkmmaatt"

Sebelum dia melepaskan penisnya dari lubangku dan masih kurasakan kehangatan dan denyutan penisnya, maka segera aku mengocok penisku makin lama makin cepat sambil diawasinya sampai aku akhirnya melenguh.

 "Aaauucchh"

 Jrot.. Jrot.. Jrott

Pejuhku muncrat diatas dadaku, kemudian kudekap dia, sampai cukup lama sambil penisnya yang sudah mulai melemas tertancap dilubangku, dua ronde sudah permainan yang dilakukannya pada diriku, setelah dia bangkit dari dekapanku kulihat pejuhku yang tadinya muncrat didadaku, terlihat pula lelerannya didadanya karena dekapanku tadi kemudian segera dia menuju ke kamar mandi lagi dan kudengar siraman air mengguyur tubuhnya.

Sejenak kemudian aku menyusulnya ke dalam kamar mandi dan kami mandi bersama saling menggosok, saling menyabun dan sekali-kali tangan nakalku memegang penisnya yang sudah tidak tegang lagi akan tetapi masih cukup panjang, setelah selesai berpakaian kami ngobrol sebentar, waktu sudah menunjukkan pukul 04.00 pagi lebih, dan diapun mohon pamit sambil kuberikan tips tambahan dan kubisikkan.

 "Aku pengin main ngene maneh," kataku.

 "Kapan?" tanyanya.

 "Nek, aku nang kene maneh," jawabku.

 "Iyoo, tak enteni yoo," sambungnya lagi.

Dia segera keluar dari kamarku dan aku segera mengunci kamarku dari dalam dan merebahkan badanku dengan rasa yang sangat puas dan segera tertidur dengan pulasnya sambil tersenyum dan sekitar pukul 07.00 pagi aku segera bangun, mandi dan bersiap-siap untuk menuju tempat tugasku.

Ketika sebulan berikutnya aku ke Genteng lagi dengan jam yang sama dan aku berharap dapat bertemu kembali dengannya, akan tetapi tidak kutemukan dia, walaupun aku berdiri ditepi jalan di depan terminal cukup lama.

 Dimanakah kamu Gimanku?

 Apakah kamu sudah lupa dengan janjimu atau mungkin kamu tak ingin menemuiku lagi karena memang kamu bukan gay?

E N D

Paling Populer Selama Ini