Perkenalkan, nama saya Bonaventura, saya sering dipanggil Bona. Saya adalah seorang duda yang ditinggal mati istri. Saya adalah kepala marketing di salah satu perusahaan plastik di Kota Malang. Almarhum istri saya adalah seorang dosen di salah satu perguruan tinggi swasta.
Umur saya sekarang 42 tahun. Meskipun umur hampir setengah abad, kata orang saya masih terlihat tampan dan gagah. Sebagai kepala marketing, sering saya harus ke luar kota untuk mengadakan meeting dengan klien di kota lain.
Sebenarnya urusan meeting di luar kota tidak akan menjadi perjalanan yang melelahkan, jika saya tidak phobia terhadap ketinggian. Sehingga karenanya seumur hidup, saya tidak akan pernah berani naik pesawat terbang.
Entah sudah berapa kali saya naik kereta api malam KA Gajayana seperti ini, baru malam ini hati saya berdebar-debar. Ada yang saya takuti? Sama sekali tidak. Jantung saya berdebar-debar karena penumpang di samping saya yang sejak tadi merebahkan kepalanya di atas bahuku. Padahal masih banyak kursi yang kosong, entah kenapa pemuda ini tidak mau pindah.
Mungkin dia mentaati duduk sesuai nomor tiketnya, sehingga biarpun kursi lain banyak yang kosong, dia tetap duduk sesuai nomor tiketnya, dan kebetulan tempatnya persis disebelahku. Penumpang itu, seorang laki-laki ganteng yang memperkenalkan dirinya, namanya Ikram Permana. Dia berumur kurang lebih 20 tahun lebih muda dari saya, dengan tubuh yang tegap dan kulitnya yang bersih. Karena bukan akhir pekan, penumpang kereta api eksekutif kali ini tidak terlalu full, sehingga banyak tempat duduk dalam satu gerbong yang terisi sebagian saja. Sejak sore tadi, dia sempat mengajakku mengobrol. Obrolan awal sekedar tanya tentang siapa saya, pekerjaanku hingga rumah tanggaku. Lama mengobrol tentang masalah umu, diapun mulai menyerempet membahas hal hal yang sensitif. Tentang perilaku seks remaja kota masa kini hingga pengalaman seksnya.
Awalnya aku cuma sekedar mengimbangi obolannya, namun aku begitu penasaran ketika dia mulai mengarahkan obrolan pada tren remaja saat ini yang lebih suka melakukan eksperimen dalam seksnya. Bahkan dia bercerita hampir semua teman prianya pernah melakukan hubungan sejenis dengan teman kuliahnya, atau teman kost-nya. Bahkan ada ada pemikiran bahwa remaja pria lebih suka bereksperimen dengan sesamanya dibandingkan dengan teman wanitanya. Dikarenakan melakukan eksperimen dengan sesaa pria tidak mengakibatkan kehamilan yang dapat berakibat pada aib.
Awalnya aku hanya menganggap ceritanya sebagai obrolan tanpa makna.
Sebenarnya ceritanya yang semakin nyeleneh itu membuatku semakin tertarik ingin tahu lebih banyak. Namun karena aku merasakan itu tidak sesuai dengan nilai nilai yang selama ini aku anut, ada penyangkalan dalam jiwaku.
Bahkan pertanyaannya yang menggelitik lebih pikiranku, apakah aku pernah melakukan hal-hal yang sifatnya erotis dengan sesama pria saat aku remaja. Karena menurutnya, hampr semua pria pernah melakukan onani saat remaja, saling onani hingga sebagian besar diantaranya melakukan hal hal erotis dengan sesamanya, meskipun mereka bukan homoseks.
Bahkan cerita Ikram tentang praktek mairilan di pondok pesantren yang begitu marak, semakin menarik minatku untuk tau lebih banyak.
Karena lama mengobrol, akhirnya kami berdua merasa kecapean. Lewat jam 21.00 sebagian besar penumpang mulai aa yang tertidur. Namun kami berdua masih sesekali bercakap. Hingga akhirnya lewati tengah malam, sebagian besar penumpang di atas KA VIP Gajayana sudah lelap, namun mata saya bahkan tidak mau saya pejamkan. Padahal waktu itu arloji sudah menujukkan pada angka satu. Jam satu malam. Tidak ada lagi suara orang bercakap-cakap atau bergurau. Semua sudah larut dalam mimpinya sendiri-sendiri. Termasuk aku yang juga terkantuk kantuk menahan lelah.
Beberapa kali aku dibuat terkaget kaget ketika dari balik selimutnya, pemuda tadi berulang kali menyentuh jendolan selangkangan saya yang juga tertutup selimut. Awalnya kupikir tidak secara sengaja. Namun ini sudah dilakukannya lebih dari sekali. Jantungku berdebar antara rasa penasaran akibat ceritanya tadi sore, sehingga aku mendiamkan saja selama tidak berbuat lebih jauh.
Ketika jari-jari tangan kanannya mulai meraba-raba daerah selangkangan saya, rasanya saya mau berteriak keras-keras ingin memberontak karena dia telah berbuat kurang ajar. Tetapi saya malu. Nanti orang segerbong akan terbangun semua. Aku Cuma memindahkan tangannya dan menepisnya. Namun dia tak kenal menyerah, dia berusaha dan berusaha lagi. Semakin kuat aku menepis, semakin kuat usahanya melakukan hal itu lagi. Terpaksa saya biarkan saja. Rabaannya makin lama makin aktif. Mula-mula dielus-elusnya permukaan jendolan celana jeans saya, lalu diremasnya pelan-pelan. Kadang, jendolan selangkangan saya ditekan-tekan, lalu diremas-remas lagi. Demikian berganti-ganti antara diremas dan diraba-raba. Setelah meraba, menekan dan meremas-remas, tangannya mulai menelusup di antara pinggang dan perutku. Jari tangannya berusaha menyentuh celana dalamku, hingga menyeruak ingin menyentuh bagian sensitifku. Mula-mula terasa geli, tetapi lama kelamaan terasa nikmat. Alat kejantanan saya mulai membesar dan menegang karena ulahnya. Perasaan apa ini? Mungkin perasaan nikmat yang tidak pernah saya rasakan lagi setelah 7 tahun ditinggal istriku karena dia telah meninggal. Sejak itu, bagian sensitifku tidak ada lagi yang merabai dan menyentuhnya. Karena aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku. Jika libido memuncak, paling paling yang kulakukan adalah mengocoknya sewaktu di dalam kamar mandi. Selebihnya, aku begitu tenggeam dalam pekerjaanku. Tetapi malam ini, kurasakan kembali kenikmatan itu. Apalagi tangan kiri Dik Ikram, juga mulai meraba pantatku.
Tidak itu saja. Tangan pemuda itu juga mulai naik, mengelus-ngelus perutku. Ke atas lagi, tangan itu menggelitik dada dan putting dadaku. Mula-mula di remas kedua putingku hingga kadang divariasikan dengan pilinan. Rasanya semakin nikmat. Kini saya tidak lagi dan berniat akan berteriak. Saya menikmati perangsangan pada bagian sensitifku. Belum lagi sesekali jari tangannya diselusupkan hingga menyentuh batang kejantannanku. Aduh, bukan makin. Birahiku semakin terbangun setelah sekian lama saya tidak merasakan birahi yang memang sudah saya tunggu-tunggu. Cairan precum mulai merembes dari dalam lubang perkecinganku. Saya rasakan debar jantung saya semakin kuat, nafasku sedikit tersengal. Tetapi di tengah gejolak berahiku tersebut, pemuda tadi berbisik, "Kita lanjutkan, di kamar kecil. Saya tunggu!"
Entah setan mana yang telah merasuki tubuhku. Yang jelas, bagaikan kerbau dicocok hidungnya, beberapa menit kemudian, saya menyusul pemuda tadi. Sampai di depan kamar kecil, pintunya sudah dibuka oleh Dik Ikram. Saya kemudian masuk.
"Aduh... Mas ini, cakep banget..."
Tersentak juga saya mendengar ucapan pemuda tadi (Cakepkah saya?). Tentu!!. Seberapa tampankah? Tidak perlu susah-susah membayangkan. Kata orang, saya mirip aktor film Surya Saputra. Namun belum sempat saya menyambut ucapan pemuda yang wajahnya imut-imut mirip bintang sinetron Glen Aliensky, leherku sudah dipeluk dengan kedua tangannya.
Bibirnya segera menerkam dan melumat bibir saya. Ditekannya kuat-kuat, sampai hidung saya tertindih hidung Dik Ikram. Karena jadi sulit bernafas, tanganku mendorong dada Dik Ikram. Tetapi Dik Ikram bukannya mundur, tetapi justru serangannya semakin menggebu, hanya sekarang ke wilayah leher, bawah telinga, serta daerah dagu. Itu semua adalah daerah yang sensitiku. Parfum lembut yang dia pakai ikut juga merangsang nafsu birahiku, terlihat dari gerakanku yang begitu pasrah diperlakukan kurang ajar oleh remaja belia seperti itu. Sedang Ikram sudah seperti harimau kelaparan yang ingin cepat-cepat merobek dan memamah mangsanya. Saya semakin terangsang dengan bau gel rambut dan body-lotion yang dipakai Ikram. Dan gelegak birahiku itu cukup dipuasi dengan amukan nafsu birahi serangan total Dik Ikram.
Disamping wajahnya yang dienduskan ke seluruh tubuh saya, kedua tangannya seolah memegang kemudi yaitu jendolan selangkangan saya. Meremas, menggoyang-goyang, memutar-memutar dan entah diapakan lagi, semuanya memberikan kenikmatan yang luar biasa. Dengan menempelkan kontolnya ke dada saya, saya seolah diajak terbang memasuki alam maya surga kenikmatan yang sudah lama tidak saya rasakan. Pegangannya ke dadaku kadang dipindahkan ke alat vital saya, dielus-elus, ditarik-tarik batang kejantanan saya. Rasanya diperlukan lima pasang tangan lagi untuk dapat meraba, menggerayangi, memijat-mijat seluruh tubuhku yang padat ini sekaligus. Kemudian pindah lagi, sekarang kedua telapak tangannya mencubit dan mencowel pantatku seperti mencowel kue.
“Kalau aku pasrah, kamu akan melakukan apa pada saya?”tanyaku menantang.
“Mas akan kubuat menggelinjang keenakan. Aku jamin!!”,janjinya menyakinkan.
Antara rasa penasaran dan kerinduan gelegak nafsu yang lama tak kurasakan dengan istriku, akhirnya aku bersikap pasrah.
Dia tersenyum dan mulai bergerak turun menyusuri tubuhku, dadaku yang bidang dia jilat dan kedua putingku dia isep dan gigit gigit mesra. Hal ini membuat aku mulai mendesah nikmat. Dia terus bergerak menjilati perutku dan akhirnya dia menyingkap celanaku. Dibukanya CD ku dan menyebullah kontol berwarna coklat muda kemerahan dengan kontol disunat bersih. Lalu segera diraihnya kontolku itu dan dijilat jilat batangnya. “Oh yeaaahhhh . . . .. . mmmhhh . . . . isepp yang kuat .. . . .sshhhh . . oohhhhh” racauku saat Ikram mulai mengemut kontolku.
Ikram mengisap kontolku dengan penuh gairah. Kontolku diperasnya dengan penuh gairah dengan mulutnya. Desahanku semakin keras. Ikram nggak hanya mengulum kontolku itu, tapi juga menjilati dua biji yang menggantung dibawahnya. Aku menjadi tak terkendali dan tak tahan, lalu kumasukkan kepala kontol jumboku ke dalam mulut Ikram lebih dalam. Semakin tegang rasanya kontolku itu dan dengan irama tetap, Ikram terus mengocok dan memaju mundurkan mulutnya mengisap dan mengulum batang dan ujung kontolku.
Lama-lama saya tidak kuat lagi bergumul sambil berdiri seperti ini. Denyut jantungku makin meningkat, mengalirkan aliran listrik kebirahian di sekujur tubuhku.
Ada sesuatu yang bergolak ingin muncrat dari lubang perkencinganku. Namun karena aksi Ikram berhenti, gejolak itupun mereda.
Dia lalu duduk di atas wastafel, setengah duduk setengah berdiri. Dan benda nikmat kenyal punyaku yang terus teracung keras itu itu pelan-pelan di tuntun dan arahkan, lalu dimasukkan ke sela sela pantatnya.
"Bleeessss..," bunyi batang kejantananku memasuki sesuatu yang hangat rasanya, yang berada diantara dua bongkahan pantatnya. Oww…masuk kemakah batang kontolku ini? Kenapa rasanya begitu nikmat dan hangat? Berarti itu liang anusnya (otakku seolah begitu lambat mencerna dan berfikir).
"Aduh... nikmatnya..." teriakku dalam hati.
Setelah masuk, kontolku itu tetap diam, tidak kutarik keluar. Sengaja kulakukan karena hal ini biasanya merangsang bagian dalam liang anus yang langsung mulai meremas-remas benda hangat tadi. Saya rasakan batang kenjantananku seperti berdenyut. Oh... alangkah nikmatnya. Diremas secara ritmis, mula-mula kuat, lama-lama melemah seiring dengan dengusan nafasku yang makin cepat dan tidak teratur.
Ibarat seorang musafir yang sudah berhari-hari kehausan di tengah padang pasir, itulah rasa nikmat yang saya dapatkan lewat cengkeraman liang anus pemuda tampan dihadapanku. Sudah 7 tahun tidak diberi sentuhan. Kenikmatan ini terulang lagi manakala sambil menciumi pipi dan belakang telingaku, Dik Ikram berbisik.
“Mau merasakan hal yang lebih dahsyat?. Kita berganti posisi”,bisiknya di telingaku.
Jari tangan Ikram yang lentik itupun menjelujur dan menusuk nusuk di bongkahan pantatku. Sesekali ujung jarinya menusuk lubang anusku. Ada sensasi aneh yang kurasakan saat tangan dingin itu menyentuh pinggiran lubang anusku. Sementara aku berusaha memilin milin kedua putting susunya dan sesekali pula membantu mengocok kontolnya.
“Mas, aku ingin memberikan sensasi luar biasa untukmu,” kata Ikram sambil memposisikan aku berhadapan. Lalu kakiku diangkat dan dirauh di dinding kamar mandi kereta yang sempit itu. Dia terus mengocok kontolnya sambil perlahan lahan kepala kontolnya mulai membuka lobang pantat aku mulai menerobos masuk.
Aku mendesah nikmat saat kontol Dik Ikram sudah masuk semua kedalam lobang pantat aku.
Dik Ikram mulai menggoyangkan pinggangnya memaju mundurkan kontolnya di dalam lobang pantat aku. Dik Ikram tampak sangat menikmati persetubuhan sejenis ini. Sambil mengentot aku, dia menciumi bibir aku dengan penuh gairah.
Batang kontol Dik Ikram dimasuk-tarikkan ke liang anus saya yang merekah. Listrik birahi makin meningkat voltasenya. Entah berapa kali lubang anus saya berkontraksi secara beruntun dalam jarak yang demikian pendek. Mungkin lima kali atau lebih saya merasakan sodokan batang kenyal milik seorang pemuda.
Kini badan saya mulai lemas. Orgasmus yang saya rasakan memakan energi yang cukup banyak. Ya... seperti energi seseorang yang bergulat sambil berlari. Keringat panas keluar dari tubuh saya bercampur dengan keringat Dik Ikram yang benar-benar menaikkan birahi kami.
"Saya tembakkan sekarang ya........?" bisiknya lembut.
"He... ehh.. saya sudah terangsang sekali Dik..."
Kini batang kejantanan Dik Ikram mulai "memompa" lubang anusku. Masuk-keluar dan terus masuk-keluar. Mula-mula pelan kemudian makin lama makin cepat. Lubang anusku terasa seperti disetrum listrik ribuan voltase.
"Terus... terus... masuk-keluar... masuk-keluar... in-out... in-out... terus..." pintaku dalam hati karena membawa perasaan yang luar biasa.
Saya tidak bisa membayangkan wajah saya. Saya juga tidak dapat membayangkan rambut saya yang sudah diacak-acak jari Dik Ikram saat menggumuli saya. Tetapi saat batang kejantanan itu dipompakan ke lubang anusku, saya tidak dapat menceritakan rasanya. Bila saja saat ini saya terbaring di tempat tidur, saya pasti akan bergolek menggeliat-geliat seperti cacing menari di saat kepanasan.
Tiba-tiba, "Dukk..!" batang kejantanan milik Dik Ikram berhenti bergerak, masuk sangat dalam ke liang anusku. rupanya dia mengalami ejakulasi. Air mani Dik Ikram meyemprot ke dalam liang anus saya. Rasanya saya seperti kram. Pantat Dik Ikram secara refleks saya tarik dan tempelkan kuat-kuat ke dalam lubang anus saya. Saya lihat Dik Ikram menikmati sekali puncak kepuasan itu, demikian juga saya. Nafas kami mulai mengendor. Rasanya seperti baru saja megikuti lomba lari cepat. Kami berdua mandi keringat. Keringat birahi. Keringat kenikmatan di atas sebuah gerbong kereta api yang sedang berjalan. Hm.. sensasi yang di lua biasa…
Showing posts with label Kereta Api. Show all posts
Showing posts with label Kereta Api. Show all posts
6/08/2011
5/29/2011
Perkenalan tak terduga di atas kereta...
| bazzoka.22 |
hanya satu tas ransel saja. Cukup sudah,aku ingin segera meninggalkan kota ini. Aku
muak dengan kejadian semalam, dan dalam hati sendiri aku berjanji tak akan lagi
menginjakkan kaki di kota ini lagi, setidaknya sampai waktu yang tidak ditentukan.
Tepat kereta api Taksaka yang akan aku naiki berhenti di jalur 2.
Segera saja tanpa berlama-lama aku meuju ke gerbong sesuai yang tertulis di tiketku,
gerbong 4 nomor kursi 2D. Gotcha!ini yang aku suka, kursi di dekat jendela, yang
membuatku leluasa menikmati pemandangan. Sekitar setengah jam berlalu, dan seperti
biasa, di saat tingkat stress naik drastis biasanya pelarianku adalah rokok. Segera
saja aku menuju bordes (tempat di dekat sambungan gerbong) karena memang di dalam
gerbong eksekutif dilarang keras untuk merokok. Dengan mengambil posisi duduk setengah
jongkok, tepat di depan pintu WC segera saja kunikmati LA merahku. Aneh memang, ada
orang yang lebih suka duduk di depan WC, tapi entah aku sendiri nyaman berada di sana,
mungkin sekaligus mengamati orang-orang (baca lelaki) yang akan menggunakan WC itu,
sukur-sukur dapet yang good looking. Ups..
membuatku leluasa menikmati pemandangan. Sekitar setengah jam berlalu, dan seperti
biasa, di saat tingkat stress naik drastis biasanya pelarianku adalah rokok. Segera
saja aku menuju bordes (tempat di dekat sambungan gerbong) karena memang di dalam
gerbong eksekutif dilarang keras untuk merokok. Dengan mengambil posisi duduk setengah
jongkok, tepat di depan pintu WC segera saja kunikmati LA merahku. Aneh memang, ada
orang yang lebih suka duduk di depan WC, tapi entah aku sendiri nyaman berada di sana,
mungkin sekaligus mengamati orang-orang (baca lelaki) yang akan menggunakan WC itu,
sukur-sukur dapet yang good looking. Ups..

Baru setengah hisapan, datang seorang PKD (Petugas Keamanan Daop) dengan seragam
kebesarannya di sampingku. Aku sendiri tak terlalu memperhatikannya, karena aku lebih
asyik menghisap rokok & memainkan HPku.
"Ngapain di sini?mau ngambing (kambing = sebutan untuk orang yang naik kereta tanpa
tiket)?", dengan suara yang sama sekali tak bisa dibilang ramah ia bertanya.
"Merokok!" jawabku singkat tak kalah ketus.
Aku bisa ramah ke orang lain, asalkan ia bisa memposisikan aku sebagaimana manusia.
"Mana tiketnya kalau emang kamu gak ngambing?!",
"Ada, memang kenapa?toh anda juga bukan KP (Kondektur Pemimpin)!"
Jujur aku mulai muak dengan sikapnya yang seenaknya, atas dasar itulah aku mulai tak
peduli dengan tingkah polahnya. Toh aku juga punya saudara yang bahkan jabatannya di
PT. KA jauh di atas dia yang sok.
"Tapi saya di sini menjaga ketertiban & keamanan di atas KA, dan kalau ada orang tanpa
tiket itu tanggung jawab saya untuk menanganinya!".
Ok, dia mulai main keras, aku juga bisa!! "Apakah ini cara anda untuk membuat tidak
nyaman penumpang?? Saya punya tiket dan akan saya tunjukkan yang pasti kepada KP! Dan
nanti kita lihat kalau KP sudah datang apakah saya benar-benar memiliki tiket atau
tidak! Asal anda tau, saya bisa laporkan anda kepada pak "A" Kepala Stasiun atas sikap
anda yang kurang bisa menghargai penumpang!".
Njing, mati kau busuk. Mulai aku keluarkan "orang-orang sakti" yang memang betul-betul
aku kenal baik. Kulihat dari sorot muka & matanya tak lagi segarang tadi, bahkan ia
cenderung memelankan suaranya, "Memang anda siapanya beliau?".
"Hanya sekedar kenal, dan kebetulan oom saya adalah Wasi Sarana di Daop. Ada
masalah?".
"Oh tidak, maaf kalau saya kasar tadi, mungkin karena tuntutan pekerjaan, yang membuat
saya tidak bisa santai.
"Ooo...." kujawab pelan tanpa sekalipun aku melihat wajahnya. Maaf aku terlalu muak
atas perlakuan tadi.
Hingga beberapa lama ia tak juga pergi dari tempatnya. Dan akhirnya akupun mulai
sedikit mencuri pandang, sekedar untuk melihat proporsi tubuhnya. Hmm,tinggi sekitar
167 cm dengan kulit coklat. Dan ahaaa!!!satu hal yang bisa membuat muakku hilang
adalah perutnya. Aku tidak terlalu suka laki-laki kurus ataupun berotot. Yang aku suka
adalah perut yang sedikit berisi, tidak gemuk tapi juga tidak kurus. Sesekali dia
menoleh untuk mengamati jendela di pintu sisi sebelahku, dan segera saja aku
konsentrasi untuk melihat HPku lagi. HPyang berisi foto telanjang bf-ku (tepatnya
mantan bf beberapa jam yang lalu).
Tanpa kusangka-sangka,tiba-tiba saja PKD songong itu berkata pelan "ooooo,suka buka
gambar kayak gitu ya?"
Anjing!!!WTF,shit!!!aku salah tingkah tingkat dewa!!! Karena memang aku tidak siap
sama sekali dengan perkataannya, dan sekarang aku terpojok! Di antara kagetku
tiba-tiba saja terlintas pikiran yang aku takutkan. Dia tahu rahasiaku dan dia bisa
mengatakannya kepada orang-orang yang aku kenal di sekitar stasiun. Mati aku!!!lengkap
sudah penderitaan yang aku alami sejak tadi malam.
Segera saja aku menguasai kekagetanku dan kujawab datar, "Bukan urusan anda kan, toh
kita juga gak kenal..".
"Oke kalau begitu kita sekarang kenalan!", ia memulai segalanya dengan bonus senyuman
yang aku tahu pasti, memiliki arti tersembunyi. Dengan sedikit ragu aku menerima
uluran tangannya, dan akhirnya aku tau, namanya adalah "H". Akhirnya obrolan kita
mulai mencair, dengan sedikit basa basi tidak penting sama sekali. Sampai akhirnya
datang KP yang mengharuskannya ikut berkeliling untuk memeriksa tiket penumpang yang
lainnya.
"Nanti aku LD (lepas dinas), kalau mau tunggu aku di pintu keluar peron selatan.
Mampir ya ke kostku...",
"Ok,Insya Allah". Dengan masih membawa keragu-raguan aku hanya menjawab sekedarnya
saja. Tapiii, ahh boleh juga dicoba! Toh aku juga sedang sendiri, tak ada salahnya aku
melepaskan beban pikiran. Kalaupun tak harus berujung ML, toh aku bisa menjadikannya
teman!!
Pukul 5 kereta yang aku tumpangi sampai. Segera aku mencari kursi di peron selatan
dekat pintu keluar, kalaupun ia tidak benar-benar datang,ya sudahlah, aku akan pulang.
"hei,udah lama?", tanpa memperdulikanku ia segera duduk disampingku.
"Lho kan turunnya barengan, ya kamu tau lah sudah lama atau belum?"
"hahaha,maaf maaf tadi aku ada sedikit urusan di kantor. Yuk sekarang aja, udah pengen
pulang nih. Kamu bawa motor?".
"Bawa, ada di parkir inap.."
"oke ditinggal aja dulu, kamu bonceng aku.."
"ya..."
Tanpa berlama-lama akhirnya aku sampai di kost dia yang memang dekat sekali dengan
stasiun. Dia mempersilahkanku masuk, segera saja aku minta ijin merebahkan diri di
kasurnya. Aku memang tidak tidur sejak semalam yang membuat aku merasa sangat lelah.
"Silahkan, tapi maaf ruangannya seadanya.."
Entah berapa lama aku tidur, yang pasti ketika aku terbangun aku melihat jam terlihat
pukul 10 malam. Dan saat aku mulai tersadar berada di mana segera aku memutar badan
dan terlihat H yang sudah terlelap juga di sampingku. Aku perhatikan wajahnya, tidak
tampan, tapi mengguratkan garis lelaki yang kuat. Aku puaskan pandanganku untuk
melihat wajahnya, dadanya yang naik turun teratur dan masih terbungkus rapi kaos dalam
putihnya,dan tentunya bawah perutnya! Hahaha! Tepat diatas selangkangannya aku
perhatikan lama,dan heiiiiii ternyata terlihat kontol dia yang sedang berdiri
menyamping. Badanku mulai memanas demi melihat pemandangan indah yang sangat rugi
kalau aku sia-siakan. Setan mulai menggodaku untuk sedikit meraba-raba kontol yang
masih terbungkus rapi di celana boxernya itu. Segera saja! Karena aku tahu bisikan
setan itu pasti terasa lebih enak! (Maaf Tuhan saya berbuat dosa,upsssss).
Dengan sedikit gemetar aku mulai meraba bagian terindahnya. Mulai dari kepala
kontolnya yang tercetak indah di celana boxernya. Sepertinya CD yang ia pakai berjenis
ketat, kasian amat kontol indahnya musti terjepit tak bisa bernapas. Pelan aku elus
mulai dari pangkal kepala di titik V dekat lubang kencingnya, kebawah sampai pangkal,
kuelus bijinya pelan, dengan perasaan yang campur aduk aku lakukan, sekaligus kujaga
agar ia tidak terbangun. Matilah aku kalau dia bangun, dimana reputasiku sebagai
laki-laki alim (halah.....)
Cukup lama aku menikmati tanganku yang sedang bergerilya di atas kontol indah itu,
sampai akhirnya bzzzzzzzzzzzzzzzzz..Kampret!!! Aku lupa mematikan ringtone HP + getar
yang suara kerasnya bisa membangunkan orang tidur apalagi saat sepi seperti ini.
"Lho kok masih bangun?" katanya pelan sambil membetulkan posisi tidurnya, dan sekarang
ia memeluk bantal. Ahh hilanglah pemandangan indahku.
"Iya, biasa insomnia, kadang bangun sendiri kalau malem gini".
"Ohhhh sama ya, punyaku juga suka bangun sendiri, nih yang bawah bangun juga
kayaknya..."
Eeeeeee asu! Aku sendiri yang memang dasarnya bejat tak akan seberani itu mengumbar
omongan, lha ini yang baru kenal aja bisa santai ngomong tanpa beban.
"ooohhhh"
Singkat padat & tidak jelas, hanya suara itu yang bisa aku keluarkan. Walaupun dalam
hati aku memakinya "Goblok,aku udah tau dari tadi lha wong udah aku pegang juga.
Hahahahaa"
Selesai urusanku dengan hapeku, aku segera merebahkan diriku lagi tepat disampingnya.
Tentu dengan perasaan yang tidak menentu plus debar jantungku yang kerasnya ibarat
beduk masjid di malam yang sepi. Lama aku memandang langit-langit, karena aku tak
berani memandang apapun dari dia, sampai akhirnya.. fyuhhhhhhh,tiupan napas yang cukup
keras tepat di telingaku membuat aku bergidik.
"hehehehehe...", tertawa dengan gaya yang dibuat sepolos mungkin H berhasil
mengerjaiku.
"apaan,,gak ngantuk?"
"enggak,terlanjur bangun..."
"yaudah aku mau tidur..."
Dengan penuh perjuangan aku mencoba untuk memejamkan mata, walaupun sangat sulit! Apalagi dengan seorang laki-laki lain di sampingku yang jelas menggoda iman. Mulai sayup-sayup antara sadar dan tidak aku hampir masuk ke alam tidur sampai akhirnya.....
aku mulai tersadar bahwa ternyata ada yang sedikit bergoyang disampingku. Karena
kebetulan aku tidur terlentang. Dengan sangat hati-hati aku membuka mata dan melirik
apa yang terjadi disampingku. WTF! dengan membelakangiku ternyata H sedang melihat
video \"adult\" di HP dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya bergerak-gerak di
sekitar kontolnya. Jujur aku sendiri penasaran dengan kontolnya karena aku belum
melihat ketika kontol itu keluar dari sarangnya. Dengan gerakan yang sangat
hati-hati,ia memainkan kontolnya sendiri (Goblokkk woeee,gunakan aku di
sampingmu!!!). Dari boxernya yang hanya terbuka setengah pantat (karena aku melihat
dari belakang),sepertinya ia tidak membuka seluruh celananya. Ia hanya membuka
bagian depannya saja supaya ketika ia mengocok kontolnya lebih mudah. Segera saja
aku menemukan ide! Aku akan pura-pura bangun dan memergokinya (padahal sih aku sudah
bangun).yessssss laksanakan!!
"ngapain mas????"
"eh.." dengan muka terkejut dan buru-buru ia melepaskan tangannya dari kontolnya,
namun tetap saja kolor celana boxernya masih menyangkut di bawah bijinya.
Ahaaa!!akhirnya aku melihat kontolnya juga! Buru-buru ia merapikan celananya dengan
muka yang sepertinya mirip kepiting rebus (aku juga tidak tau pasti karena
penerangan hanya lampu 5 watt saja).
"kamu bangun lagi?", nada suaranya seperti tercekat di tenggorokan, antara kaget &
malu.
"ya salah siapa pake goyang-goyang,kebangun lagi deh..lagian ga jelas amat situ
ngocok malam-malam" (segera aku tertawa dalam hati,gobloknya aku ngasih pertanyaan
ini, jelas aku juga salah tingkah!)
"emang kamu mau ngocokin?" (lebih goblok lagi dia yang nanyain ini!)
"enggak..". walaupun dengan kata penolakan, tapi setan lebih membutakan mataku, tanpa
berlama-lama segera saja aku menuju ke bibirnya. Aku cium dengan penuh nafsu, mulai
dari bibir, lidah sampai jilatan-jilatan di tengkuk, pipi, telinga dan semua yang ada
di mukanya.
"kirain kamu ga mau,tadi aku pancing cuek aja..."
"salah siapa cuma mancing kata-kata,tindakan nyata dong.Apa gunanya jadi petugas
keamanan kalo tindakan nol besar..masa ada yang nganngur di samping malah...."
sebelum aku sempat menyelesaikan ucapanku,ternyata gantian dia yang mengambil
kendali. Dia merebahkanku dan segera menindihku. Aku hanya bisa diam, pasrah, ingin
menguji seberapa besar pengalaman dia dengan laki-laki..
Dia mulai mencium bibirku lagi. Pelan-pelan dia naikkan kaosku dan mulai menjilati
leher sampai dadaku. Di atas pentilku dia mulai memainkan lidahnya, yang ternyata
jauh dari kata amatir. Aku benar-benar terbuai dengan tindakannya yang sungguh
membuatku melayang. Tak banyak yang bisa aku lakukan,sementara tangan kiriku hanya
meremas kepala & rambutnya, tangan kananku mulai bergerilya di atas perutnya yang
kalau menghadap ke bawah menunjukkan sedikit kelebihan lemak. Tapi justru ini yang
aku suka!aku raba perutnya yang bertebaran bulu-bulu jembut tipis. Aku turunkan
tanganku ke sekitar kontolnya. Aku masukkan tanganku ke dalam celana boxer dan
celana dalammnya. Sedikit basah aku dapati di lubang kontolnya yang semakin
membuatku bergairah. Lebih mudah untuk melicinkan permainan jariku di sekitar
kontolnya. Ia hanya bisa mendesah sambil mulai menjilati sekitar perutku.
Jujur aku paling tidak tahan sekitar perutku dijilati. Aku tipe orang yang mudah
geli. Aku hanya bisa menggeliat ke kiri & kanan.
Sampai akhirnya bibirnya menuju ke kontolku yang masih terbungkus celana jeans yang
aku pakai. Ia mulai melepas ikat pinggang yang aku pakai sekaligus kancing celanaku.
Lepas sudah celana jeansku,hanya tinggal CD yang aku pakai. ia sepertinya tak mau
terlalu cepat menikmati kontolku,dengan masih berbalut CD ia mencium dan menjilati
setiap jengkal yang ada di selangkanganku. Dengan gerakan tangan kirinya ia membuka
sedikit celana dalamku dan mulai menjilati lubang kontolku.
Hanya nikmat yang aku rasakan.
Aku hanya bisa mendesah atas kenikmatan dunia yang aku dapatkan. Sungguh tak
kusangka laki-laki petugas keamanan itu ternyata bisa begitu profesional
melayaniku,yang notabene laki-laki juga sepertinya. Tak ada lagi kesan angkuh saat
kami bergumul. Yang ada hanya membuat & dibuat nikmat. Sesaat aku mulai merasa akan
keluar ketika ia seolah menelan seluruh kontolku dari ujung hingga pangkalnya.
Segera aku dorong kepalanya. Aku tak mau keluar duluan! Karena biasanya nafsuku
turun kalau aku sudah keluar. Aku berinisiatif memutar kepalaku hingga sekarang
kepalaku tepat berdaa di area kontolnya dalam posisi 69.
Tanpa banyak kata aku segera menjilati cairan bening yang sudah menetes di kepala
kontolnya. Aku rasakan setiap tetes kenikmatan yang aku dapat. Aku jilati mulai dari
kepala sampai pangkal,kadang sedikit kumainkan lidahku di kedua biji pelernya. Dia
semakin mendesah keenakan atas apa yang aku lakukan. Sambil aku mainkan putingnya
dengan tanganku,aku memaju mundurkan mulutku yang sekarang aku gunakan untuk melumat
habis batang kenjantanannya. Sampai aku merasa badannya mulai menegang dan ia
mengeluarkan desah tertahan, aku sadar ia akan segera memuncratkan pejuhnya. Aku
percepat mulutku maju mundur di kontolnya,ia mulai melepas mulutnya dari kontolku.
Dan... crooooooott croootttt,dua tembakan pertama pejuhnya ia lepaskan dimulutku.
Cairan yang rasanya tak karuan itu sekarang ada di mulutku. Sayangnya aku sedikit
tidak tahan dengan baunya, jadi ketika semprotan pejuhnya yang ketiga,kontolnya tak
lagi ada di mulutku. Pejuh yang terlepas dari kontol jantannya mulai melumuri dada
dan perutku. Hanya empat semprotan pejuh yang aku rasakan,selebihnya menetes dari
kontolnya,namun membuat aku kewalahan juga. Ia segera tersadar dengan aku yang
menahan setengah mati bau pejuh yang masih tercium dan mulutku yang masih penuh
pejuhnya.
"Ga suka ya??"
"mmmmhhh,,mhhhmmmm" aku tak bisa menjawabnya,hanya memberi isyarat padanya,bertanya
dimana aku bisa membuang pejuh ini.Ia segera mengambil celana boxer yang tadi ia
pakai. Aku memuntahkan isi mulutku di boxernya.
"ga suka nelen ya?"
"ga kuat baunya..haha"
"maaf ya,tadi kalau kamu bilang kan bisa keluarkan di luar"
"santai aja...ga usah dipikirin"
sementara dia mengelap pejuh yang telah keluar dari kontolnya, aku mulai mengocok
kontolku sendiri yang sepertinya ingin segera memuntahkan isi lahar di dalamnya.
"Tahan.." ia memegang tangan kananku yang aku gunakan untuk mengocok kontolku
sendiri.
Selesai ia mengelap pejuhnya,ternyata ia masih bernafsu untuk mengemut kontolku.
Dengan posisi seperti ini tentu akan lebih cepat bagiku untuk memuntahkan pejuh yang
sedari tadi tertahan.
"aahhhhhhh" aku hampir sampai!aku segera memberi isyarat kepadanya untuk melepaskan
kepalanya dari kontolku, tapi ternyata tidak! Ia justru semakin melumat erat batang
kontolku. Tak bisa aku tahan lagi..
croooootttt crooooottt,entah berapa kali semburan pejuh yang aku keluarkan yang
pasti aku merasa geli yang teramat sangat. Memuncratkan pejuhku di dalam
mulutnya,sementara lidahnya masih aktif menjilat apa yang ada di dalam mulutnya. Aku
memberikan boxer untuk digunakan menampung luapan pejuhku,tapi ternyata ia justru
menelan habis seluruh pejuhku. Belum habis rasa heranku atas apa yang ia lakukan, ia
masih memberi bonus jilatan-jilatan di kontolku yang tentu membuat rasa nikmat yang
aku rasakan semakin bertambah.
"kamu telan semua??"
"iya emang knapa sayang?" .Wehh dia mulai memanggilku sayang...
"enggak,aneh aja,kirain kamu ga suka..emang rasanya kayak apa sih? .. (goblok,aku
tadi juga merasakan rasa itu!)
"enak lah pokoknya..."
"ya tapi kan,cowok kayak kamu ga keliatan bakat sakit.."
"luarku cowok,tapi untuk urusan nafsu beda..hahahha"
yayaya,aku mulai bisa merasakan nyaman di pelukannya. Kami akhirnya tidur berpelukan
dengan posisi telanjang bulat. Sungguh sebuah kenikmatan plus kenyamanan yang aku
dapatkan malam itu. Hingga paginya kami terbangun dan mengulangi apa yang telah kami
lakukan semalam...
*beberapa hari berikutnya*
"serius itu tulisan mau dikirim??kepanjangan tuh,kurang hot".sambil meraba dadaku ia
mencium tengkukku pelan dtiambah jialatan-jilatan yang membuatku kegelian.
"bentar toh,tak selesaiin dulu,lagian kan mending panjang gini,justru sesuai dengan
kenyataan...."
"yaudah buruan ah,kan mau lagiiiiiiiii".
"iya bentar,eh ini namamu tak tulis ya..huahahahaaaa"
"heh!awas berani nulis namaku,tak gantung kowe (kamu) di tiang sinyal!!!"
"enggak bercanda....hehehe"
-Kenangan Taksaka,Gerbong 4 kursi 2D, 20 Maret 2011-
tiket)?", dengan suara yang sama sekali tak bisa dibilang ramah ia bertanya.
"Merokok!" jawabku singkat tak kalah ketus.
Aku bisa ramah ke orang lain, asalkan ia bisa memposisikan aku sebagaimana manusia.
"Mana tiketnya kalau emang kamu gak ngambing?!",
"Ada, memang kenapa?toh anda juga bukan KP (Kondektur Pemimpin)!"
Jujur aku mulai muak dengan sikapnya yang seenaknya, atas dasar itulah aku mulai tak
peduli dengan tingkah polahnya. Toh aku juga punya saudara yang bahkan jabatannya di
PT. KA jauh di atas dia yang sok.
"Tapi saya di sini menjaga ketertiban & keamanan di atas KA, dan kalau ada orang tanpa
tiket itu tanggung jawab saya untuk menanganinya!".
Ok, dia mulai main keras, aku juga bisa!! "Apakah ini cara anda untuk membuat tidak
nyaman penumpang?? Saya punya tiket dan akan saya tunjukkan yang pasti kepada KP! Dan
nanti kita lihat kalau KP sudah datang apakah saya benar-benar memiliki tiket atau
tidak! Asal anda tau, saya bisa laporkan anda kepada pak "A" Kepala Stasiun atas sikap
anda yang kurang bisa menghargai penumpang!".
Njing, mati kau busuk. Mulai aku keluarkan "orang-orang sakti" yang memang betul-betul
aku kenal baik. Kulihat dari sorot muka & matanya tak lagi segarang tadi, bahkan ia
cenderung memelankan suaranya, "Memang anda siapanya beliau?".
"Hanya sekedar kenal, dan kebetulan oom saya adalah Wasi Sarana di Daop. Ada
masalah?".
"Oh tidak, maaf kalau saya kasar tadi, mungkin karena tuntutan pekerjaan, yang membuat
saya tidak bisa santai.
"Ooo...." kujawab pelan tanpa sekalipun aku melihat wajahnya. Maaf aku terlalu muak
atas perlakuan tadi.
Hingga beberapa lama ia tak juga pergi dari tempatnya. Dan akhirnya akupun mulai
sedikit mencuri pandang, sekedar untuk melihat proporsi tubuhnya. Hmm,tinggi sekitar
167 cm dengan kulit coklat. Dan ahaaa!!!satu hal yang bisa membuat muakku hilang
adalah perutnya. Aku tidak terlalu suka laki-laki kurus ataupun berotot. Yang aku suka
adalah perut yang sedikit berisi, tidak gemuk tapi juga tidak kurus. Sesekali dia
menoleh untuk mengamati jendela di pintu sisi sebelahku, dan segera saja aku
konsentrasi untuk melihat HPku lagi. HPyang berisi foto telanjang bf-ku (tepatnya
mantan bf beberapa jam yang lalu).
Tanpa kusangka-sangka,tiba-tiba saja PKD songong itu berkata pelan "ooooo,suka buka
gambar kayak gitu ya?"
Anjing!!!WTF,shit!!!aku salah tingkah tingkat dewa!!! Karena memang aku tidak siap
sama sekali dengan perkataannya, dan sekarang aku terpojok! Di antara kagetku
tiba-tiba saja terlintas pikiran yang aku takutkan. Dia tahu rahasiaku dan dia bisa
mengatakannya kepada orang-orang yang aku kenal di sekitar stasiun. Mati aku!!!lengkap
sudah penderitaan yang aku alami sejak tadi malam.
Segera saja aku menguasai kekagetanku dan kujawab datar, "Bukan urusan anda kan, toh
kita juga gak kenal..".
"Oke kalau begitu kita sekarang kenalan!", ia memulai segalanya dengan bonus senyuman
yang aku tahu pasti, memiliki arti tersembunyi. Dengan sedikit ragu aku menerima
uluran tangannya, dan akhirnya aku tau, namanya adalah "H". Akhirnya obrolan kita
mulai mencair, dengan sedikit basa basi tidak penting sama sekali. Sampai akhirnya
datang KP yang mengharuskannya ikut berkeliling untuk memeriksa tiket penumpang yang
lainnya.
"Nanti aku LD (lepas dinas), kalau mau tunggu aku di pintu keluar peron selatan.
Mampir ya ke kostku...",
"Ok,Insya Allah". Dengan masih membawa keragu-raguan aku hanya menjawab sekedarnya
saja. Tapiii, ahh boleh juga dicoba! Toh aku juga sedang sendiri, tak ada salahnya aku
melepaskan beban pikiran. Kalaupun tak harus berujung ML, toh aku bisa menjadikannya
teman!!
Pukul 5 kereta yang aku tumpangi sampai. Segera aku mencari kursi di peron selatan
dekat pintu keluar, kalaupun ia tidak benar-benar datang,ya sudahlah, aku akan pulang.
"hei,udah lama?", tanpa memperdulikanku ia segera duduk disampingku.
"Lho kan turunnya barengan, ya kamu tau lah sudah lama atau belum?"
"hahaha,maaf maaf tadi aku ada sedikit urusan di kantor. Yuk sekarang aja, udah pengen
pulang nih. Kamu bawa motor?".
"Bawa, ada di parkir inap.."
"oke ditinggal aja dulu, kamu bonceng aku.."
"ya..."
Tanpa berlama-lama akhirnya aku sampai di kost dia yang memang dekat sekali dengan
stasiun. Dia mempersilahkanku masuk, segera saja aku minta ijin merebahkan diri di
kasurnya. Aku memang tidak tidur sejak semalam yang membuat aku merasa sangat lelah.
"Silahkan, tapi maaf ruangannya seadanya.."
Entah berapa lama aku tidur, yang pasti ketika aku terbangun aku melihat jam terlihat
pukul 10 malam. Dan saat aku mulai tersadar berada di mana segera aku memutar badan
dan terlihat H yang sudah terlelap juga di sampingku. Aku perhatikan wajahnya, tidak
tampan, tapi mengguratkan garis lelaki yang kuat. Aku puaskan pandanganku untuk
melihat wajahnya, dadanya yang naik turun teratur dan masih terbungkus rapi kaos dalam
putihnya,dan tentunya bawah perutnya! Hahaha! Tepat diatas selangkangannya aku
perhatikan lama,dan heiiiiii ternyata terlihat kontol dia yang sedang berdiri
menyamping. Badanku mulai memanas demi melihat pemandangan indah yang sangat rugi
kalau aku sia-siakan. Setan mulai menggodaku untuk sedikit meraba-raba kontol yang
masih terbungkus rapi di celana boxernya itu. Segera saja! Karena aku tahu bisikan
setan itu pasti terasa lebih enak! (Maaf Tuhan saya berbuat dosa,upsssss).
Dengan sedikit gemetar aku mulai meraba bagian terindahnya. Mulai dari kepala
kontolnya yang tercetak indah di celana boxernya. Sepertinya CD yang ia pakai berjenis
ketat, kasian amat kontol indahnya musti terjepit tak bisa bernapas. Pelan aku elus
mulai dari pangkal kepala di titik V dekat lubang kencingnya, kebawah sampai pangkal,
kuelus bijinya pelan, dengan perasaan yang campur aduk aku lakukan, sekaligus kujaga
agar ia tidak terbangun. Matilah aku kalau dia bangun, dimana reputasiku sebagai
laki-laki alim (halah.....)
Cukup lama aku menikmati tanganku yang sedang bergerilya di atas kontol indah itu,
sampai akhirnya bzzzzzzzzzzzzzzzzz..Kampret!!! Aku lupa mematikan ringtone HP + getar
yang suara kerasnya bisa membangunkan orang tidur apalagi saat sepi seperti ini.
"Lho kok masih bangun?" katanya pelan sambil membetulkan posisi tidurnya, dan sekarang
ia memeluk bantal. Ahh hilanglah pemandangan indahku.
"Iya, biasa insomnia, kadang bangun sendiri kalau malem gini".
"Ohhhh sama ya, punyaku juga suka bangun sendiri, nih yang bawah bangun juga
kayaknya..."
Eeeeeee asu! Aku sendiri yang memang dasarnya bejat tak akan seberani itu mengumbar
omongan, lha ini yang baru kenal aja bisa santai ngomong tanpa beban.
"ooohhhh"
Singkat padat & tidak jelas, hanya suara itu yang bisa aku keluarkan. Walaupun dalam
hati aku memakinya "Goblok,aku udah tau dari tadi lha wong udah aku pegang juga.
Hahahahaa"
Selesai urusanku dengan hapeku, aku segera merebahkan diriku lagi tepat disampingnya.
Tentu dengan perasaan yang tidak menentu plus debar jantungku yang kerasnya ibarat
beduk masjid di malam yang sepi. Lama aku memandang langit-langit, karena aku tak
berani memandang apapun dari dia, sampai akhirnya.. fyuhhhhhhh,tiupan napas yang cukup
keras tepat di telingaku membuat aku bergidik.
"hehehehehe...", tertawa dengan gaya yang dibuat sepolos mungkin H berhasil
mengerjaiku.
"apaan,,gak ngantuk?"
"enggak,terlanjur bangun..."
"yaudah aku mau tidur..."
Dengan penuh perjuangan aku mencoba untuk memejamkan mata, walaupun sangat sulit! Apalagi dengan seorang laki-laki lain di sampingku yang jelas menggoda iman. Mulai sayup-sayup antara sadar dan tidak aku hampir masuk ke alam tidur sampai akhirnya.....
aku mulai tersadar bahwa ternyata ada yang sedikit bergoyang disampingku. Karena
kebetulan aku tidur terlentang. Dengan sangat hati-hati aku membuka mata dan melirik
apa yang terjadi disampingku. WTF! dengan membelakangiku ternyata H sedang melihat
video \"adult\" di HP dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya bergerak-gerak di
sekitar kontolnya. Jujur aku sendiri penasaran dengan kontolnya karena aku belum
melihat ketika kontol itu keluar dari sarangnya. Dengan gerakan yang sangat
hati-hati,ia memainkan kontolnya sendiri (Goblokkk woeee,gunakan aku di
sampingmu!!!). Dari boxernya yang hanya terbuka setengah pantat (karena aku melihat
dari belakang),sepertinya ia tidak membuka seluruh celananya. Ia hanya membuka
bagian depannya saja supaya ketika ia mengocok kontolnya lebih mudah. Segera saja
aku menemukan ide! Aku akan pura-pura bangun dan memergokinya (padahal sih aku sudah
bangun).yessssss laksanakan!!
"ngapain mas????"
"eh.." dengan muka terkejut dan buru-buru ia melepaskan tangannya dari kontolnya,
namun tetap saja kolor celana boxernya masih menyangkut di bawah bijinya.
Ahaaa!!akhirnya aku melihat kontolnya juga! Buru-buru ia merapikan celananya dengan
muka yang sepertinya mirip kepiting rebus (aku juga tidak tau pasti karena
penerangan hanya lampu 5 watt saja).
"kamu bangun lagi?", nada suaranya seperti tercekat di tenggorokan, antara kaget &
malu.
"ya salah siapa pake goyang-goyang,kebangun lagi deh..lagian ga jelas amat situ
ngocok malam-malam" (segera aku tertawa dalam hati,gobloknya aku ngasih pertanyaan
ini, jelas aku juga salah tingkah!)
"emang kamu mau ngocokin?" (lebih goblok lagi dia yang nanyain ini!)
"enggak..". walaupun dengan kata penolakan, tapi setan lebih membutakan mataku, tanpa
berlama-lama segera saja aku menuju ke bibirnya. Aku cium dengan penuh nafsu, mulai
dari bibir, lidah sampai jilatan-jilatan di tengkuk, pipi, telinga dan semua yang ada
di mukanya.
"kirain kamu ga mau,tadi aku pancing cuek aja..."
"salah siapa cuma mancing kata-kata,tindakan nyata dong.Apa gunanya jadi petugas
keamanan kalo tindakan nol besar..masa ada yang nganngur di samping malah...."
sebelum aku sempat menyelesaikan ucapanku,ternyata gantian dia yang mengambil
kendali. Dia merebahkanku dan segera menindihku. Aku hanya bisa diam, pasrah, ingin
menguji seberapa besar pengalaman dia dengan laki-laki..
Dia mulai mencium bibirku lagi. Pelan-pelan dia naikkan kaosku dan mulai menjilati
leher sampai dadaku. Di atas pentilku dia mulai memainkan lidahnya, yang ternyata
jauh dari kata amatir. Aku benar-benar terbuai dengan tindakannya yang sungguh
membuatku melayang. Tak banyak yang bisa aku lakukan,sementara tangan kiriku hanya
meremas kepala & rambutnya, tangan kananku mulai bergerilya di atas perutnya yang
kalau menghadap ke bawah menunjukkan sedikit kelebihan lemak. Tapi justru ini yang
aku suka!aku raba perutnya yang bertebaran bulu-bulu jembut tipis. Aku turunkan
tanganku ke sekitar kontolnya. Aku masukkan tanganku ke dalam celana boxer dan
celana dalammnya. Sedikit basah aku dapati di lubang kontolnya yang semakin
membuatku bergairah. Lebih mudah untuk melicinkan permainan jariku di sekitar
kontolnya. Ia hanya bisa mendesah sambil mulai menjilati sekitar perutku.
Jujur aku paling tidak tahan sekitar perutku dijilati. Aku tipe orang yang mudah
geli. Aku hanya bisa menggeliat ke kiri & kanan.
Sampai akhirnya bibirnya menuju ke kontolku yang masih terbungkus celana jeans yang
aku pakai. Ia mulai melepas ikat pinggang yang aku pakai sekaligus kancing celanaku.
Lepas sudah celana jeansku,hanya tinggal CD yang aku pakai. ia sepertinya tak mau
terlalu cepat menikmati kontolku,dengan masih berbalut CD ia mencium dan menjilati
setiap jengkal yang ada di selangkanganku. Dengan gerakan tangan kirinya ia membuka
sedikit celana dalamku dan mulai menjilati lubang kontolku.
Hanya nikmat yang aku rasakan.
Aku hanya bisa mendesah atas kenikmatan dunia yang aku dapatkan. Sungguh tak
kusangka laki-laki petugas keamanan itu ternyata bisa begitu profesional
melayaniku,yang notabene laki-laki juga sepertinya. Tak ada lagi kesan angkuh saat
kami bergumul. Yang ada hanya membuat & dibuat nikmat. Sesaat aku mulai merasa akan
keluar ketika ia seolah menelan seluruh kontolku dari ujung hingga pangkalnya.
Segera aku dorong kepalanya. Aku tak mau keluar duluan! Karena biasanya nafsuku
turun kalau aku sudah keluar. Aku berinisiatif memutar kepalaku hingga sekarang
kepalaku tepat berdaa di area kontolnya dalam posisi 69.
Tanpa banyak kata aku segera menjilati cairan bening yang sudah menetes di kepala
kontolnya. Aku rasakan setiap tetes kenikmatan yang aku dapat. Aku jilati mulai dari
kepala sampai pangkal,kadang sedikit kumainkan lidahku di kedua biji pelernya. Dia
semakin mendesah keenakan atas apa yang aku lakukan. Sambil aku mainkan putingnya
dengan tanganku,aku memaju mundurkan mulutku yang sekarang aku gunakan untuk melumat
habis batang kenjantanannya. Sampai aku merasa badannya mulai menegang dan ia
mengeluarkan desah tertahan, aku sadar ia akan segera memuncratkan pejuhnya. Aku
percepat mulutku maju mundur di kontolnya,ia mulai melepas mulutnya dari kontolku.
Dan... crooooooott croootttt,dua tembakan pertama pejuhnya ia lepaskan dimulutku.
Cairan yang rasanya tak karuan itu sekarang ada di mulutku. Sayangnya aku sedikit
tidak tahan dengan baunya, jadi ketika semprotan pejuhnya yang ketiga,kontolnya tak
lagi ada di mulutku. Pejuh yang terlepas dari kontol jantannya mulai melumuri dada
dan perutku. Hanya empat semprotan pejuh yang aku rasakan,selebihnya menetes dari
kontolnya,namun membuat aku kewalahan juga. Ia segera tersadar dengan aku yang
menahan setengah mati bau pejuh yang masih tercium dan mulutku yang masih penuh
pejuhnya.
"Ga suka ya??"
"mmmmhhh,,mhhhmmmm" aku tak bisa menjawabnya,hanya memberi isyarat padanya,bertanya
dimana aku bisa membuang pejuh ini.Ia segera mengambil celana boxer yang tadi ia
pakai. Aku memuntahkan isi mulutku di boxernya.
"ga suka nelen ya?"
"ga kuat baunya..haha"
"maaf ya,tadi kalau kamu bilang kan bisa keluarkan di luar"
"santai aja...ga usah dipikirin"
sementara dia mengelap pejuh yang telah keluar dari kontolnya, aku mulai mengocok
kontolku sendiri yang sepertinya ingin segera memuntahkan isi lahar di dalamnya.
"Tahan.." ia memegang tangan kananku yang aku gunakan untuk mengocok kontolku
sendiri.
Selesai ia mengelap pejuhnya,ternyata ia masih bernafsu untuk mengemut kontolku.
Dengan posisi seperti ini tentu akan lebih cepat bagiku untuk memuntahkan pejuh yang
sedari tadi tertahan.
"aahhhhhhh" aku hampir sampai!aku segera memberi isyarat kepadanya untuk melepaskan
kepalanya dari kontolku, tapi ternyata tidak! Ia justru semakin melumat erat batang
kontolku. Tak bisa aku tahan lagi..
croooootttt crooooottt,entah berapa kali semburan pejuh yang aku keluarkan yang
pasti aku merasa geli yang teramat sangat. Memuncratkan pejuhku di dalam
mulutnya,sementara lidahnya masih aktif menjilat apa yang ada di dalam mulutnya. Aku
memberikan boxer untuk digunakan menampung luapan pejuhku,tapi ternyata ia justru
menelan habis seluruh pejuhku. Belum habis rasa heranku atas apa yang ia lakukan, ia
masih memberi bonus jilatan-jilatan di kontolku yang tentu membuat rasa nikmat yang
aku rasakan semakin bertambah.
"kamu telan semua??"
"iya emang knapa sayang?" .Wehh dia mulai memanggilku sayang...
"enggak,aneh aja,kirain kamu ga suka..emang rasanya kayak apa sih? .. (goblok,aku
tadi juga merasakan rasa itu!)
"enak lah pokoknya..."
"ya tapi kan,cowok kayak kamu ga keliatan bakat sakit.."
"luarku cowok,tapi untuk urusan nafsu beda..hahahha"
yayaya,aku mulai bisa merasakan nyaman di pelukannya. Kami akhirnya tidur berpelukan
dengan posisi telanjang bulat. Sungguh sebuah kenikmatan plus kenyamanan yang aku
dapatkan malam itu. Hingga paginya kami terbangun dan mengulangi apa yang telah kami
lakukan semalam...
*beberapa hari berikutnya*
"serius itu tulisan mau dikirim??kepanjangan tuh,kurang hot".sambil meraba dadaku ia
mencium tengkukku pelan dtiambah jialatan-jilatan yang membuatku kegelian.
"bentar toh,tak selesaiin dulu,lagian kan mending panjang gini,justru sesuai dengan
kenyataan...."
"yaudah buruan ah,kan mau lagiiiiiiiii".
"iya bentar,eh ini namamu tak tulis ya..huahahahaaaa"
"heh!awas berani nulis namaku,tak gantung kowe (kamu) di tiang sinyal!!!"
"enggak bercanda....hehehe"
-Kenangan Taksaka,Gerbong 4 kursi 2D, 20 Maret 2011-
5/22/2011
Sensasi Kereta Api
Awal kejadian yang sungguh sulit untuk kulupakan, pada saat aku dapat tugas dari pimpinan cabang Malang untuk rapat ke kantor pusat Jakarta. Saat itu aku naik kereta api executive Gajayana Malang-Jakarta. Saat pukul 13.00 aku diantar istri dan anak-anak ke stasiun Kota Baru Malang.
Gerbong kereta telah siap dan beberapa orang sudah masuk sesuai tempatnya masing-masing. Kebetulan aku di kursi 1 A ujung depan dekat jendela, dan disebelahku seorang pemuda tanggung. Tepat jam 16.05 , akhirnya istri dan anak-anakku keluar dari gerbong kereta api saat kereta mulai bergerak. Selama di perjalanan laki-laki di sampingku diam tak berbicara, dan akupun tidah menghiraukannya. Dan kuperhatikan dia sibuk dengan HP. Waktu kereta memasuki Kota Blitar dimulai menyapa.
"Tujuan mau kemana Mas?"aku dibuat kaget dengan sapaanya.
"Jakarta. Kalau adik tujuan kemana?" aku berbalik tanya.
"Saya juga ke Jakarta, memang Jakartanya turun mana Mas?"
"Gambir, trus ntar nyambung naik taksi ke Menteng" jawabku singkat.
"Wah, kita satu arah Mas saya daerah Jalan Jaksa."
Hari mulai gelap, saat kami mulai akrab dan sudah saling bercerita, dari tanya jawab tentang skripsi sampai pekerjaanku. Laki-laki bernama Hermawan ini berinisiatip untuk banyak ngomong dan mengajak aku berbicara. Selama pembicaraan sepenuhnya dia menujukkan sikap hormat dan santunnya padaku. Aku juga menaruh respek padanya karena sikapnya itu. Dia pinjamkan majalah dan koran bacaannya padaku, dia juga tawarkan makanan atau minuman yang dia bawa.
Jam 20.00 pegawai kereta membagikan selimut dan bantal. Dan akhirnya pukul 22.15 lampu kereta mulai ada yang dipadamkan. Mungkin memberi kesempatan penumpang untuk isirahat. Akupun mulai berselimut dan mencoba memejamkan mata. Malam semakin larut Aku sangat kaget ketika tiba-tiba tangannya menggenggam tanganku, hampir kutarik kalau dia tidak bilang,
"Tangan Mas dingin banget, nih. Mau nggak kalau aku pijat refleksi tangannya, nanti hangat, deh?", ah, dia punya seribu satu alasan yang selalu tepat untuk banyak berbuat padaku. Aku juga nggak tahu, kenapa aku pasrah saja saat tangannya meraih tanganku membawa ke pangkuannya untuk dia pijit-pijit. Dia bilang pijat refleksi. Aduh, aku berteriak tertahan karena kesakitan, tetapi dengan cepat dia bilang dalam bisikkan, bahwa kalau aku merasakan sakit artinya bahwa memang aku sedang sakit.
Dia terangkan bahwa yang dia pijat itu adalah tombol-tombol saraf yang berhubungan dengan bagian di tubuhku yang sedang kena sakit. Dia bilang paru-paru dan punggungku sedang tidak normal karena dingin atau mungkin karena lelahnya perjalanan. Dan yang membuatku langsung merinding dan bergetar adalah suara bisikkannya itu.
Hermawan mulai tangannya menyentuh pahaku dan aku singkirkan tangannya dari pahaku.
"Maaf Wan," aku mencoba menegurnya.
"Maaf Mas bukan maksudku." Jawabnya sopan.
Langsung aku putus pembicaraannya.
"Dudahlah Dik, lebih baik adik tidur saja, Mas juga sudah ngantuk."
Iwanpun terdiam, tapi ternyata Hermawan tidak mau menyerah begitu saja mungkin rasa penasarannya terhadapku.
Tangannya mulai bergerak lagi tapi tanganya merangkul aku, diletakkan tangannya dibelakang kepalaku. Dan memaksaku dalam pelukannya. Akupun kaget tapi apa daya tangannya kuat, aku pun gak mau membuat keributan di dalam kereta yang penuh dengan penumpang. Akhirnya aku dipelukannya dengan kusandarkan kepalaku di pundaknya dan tanganya melingkar di tubuhku.
Sangat luar biasa kehangatan yang kurasakan saat itu, dan rasa yang aneh karena seorang pemuda merangkulku.
Hermawan tidak berhenti disitu aja dia mulai meraba paha dan menyentuh jendolan selangkanganku. Aku mencoba melarangnya tapi kenapa aku merasakan kenikmatan. Dia terus memijit-mijit daerah sensitifku, dan aku mendesis, "akh.!!!"
Hermawan terus memijit daerah sensitifku tersebut tanpa henti-henti.
Akupun tidak merasa takut ketahuan penumpang lainya karena perbuatannya d ibawah selimut kereta api.
Hermawan mulai bergerak dan membuka kancing celanaku. Aku hanya diam tak bicara, ingin tau apa yang akan dilakukannya.
Namun tiba-tiba timbul kesadaranku. Kudorong dada Hermawan supaya ia melepaskan pelukannya pada diriku.
"Wan, jangan Wan, ini enggak pantas kita lakukan..!", kataku terbata-bata.
Tiba-tiba Hermawan menarik badanku sehingga merapat ke tubuhnya. Tanpa berkata apa-apa dia langsung menciumku. Aku tidak sempat menghindar, dan aku merasakan sesuatu aneh. Bahkan aku juga membiarkan ketika bibir dan kumis halus Hermawan menempel ke tengkuk leherku. Aku merasakan birahi dan rangsangat menjalar ke sekujur tubuhku.
bibirku hingga beberapa saat. Dadaku semakin berdegup kencang ketika kurasakan bibir halus Hermawan melumat mulutku. Lidah Hermawan menelusup kecelah bibirku dan menggelitik hampir semua rongga mulutku. Mendapat serangan mendadak itu darahku seperti berdesir, sementara bulu tengkukku merinding.
Lalu ia mulai menjilati dan menciumi seluruh leherku, lalu merambat pipi dan telingaku. Aku memang pasif dan diam, namun perlahan tapi pasti nafsu birahi semakin kuat menguasaiku. Harus kuakui, Hermawan sangat pandai mengobarkan birahiku. Jilatan demi jilatan lidahnya keleherku benar-benar telah membuatku terbakar dalam kenikmatan.
Hermawan memang melepas ciumannya dibibirku, tetapi kedua tangannya yang kekar dan kuat masih tetap memeluk pinggang rampingku dengn erat. Aku juga masih terduduk dipangkuannya.
"Memang nggak pantas Mas, tapi gimana lagi Mas, toh juga meresponku waktu di kereta api ", Ujar Hermawan yang terdengar seperti desahan.
Setelah itu Hermawan kembali mendaratkan ciuman Hermawan sendiri tampaknya juga mulai terangsang. Aku dapat merasakan napasnya mulai terengah-engah. Sementara aku semakin tak kuat untuk menahan erangan. Maka aku pun mendesis-desis untuk menahan kenikmatan yang mulai membakar kesadaranku. Setelah itu tiba-tiba tangan Hermawan yang kekar itu membuka kancing celanaku. Tak ayal lagi, celana dalam berwarna putih bersih itu terbuka di depan Hermawan. Secara refleks aku masih coba berontak.Aku berusaha menutupi dengan mendekapkan tangaku. Tetapi dengan cepat tangan Hermawan memegangi lenganku dan merentangkannya. Setelah itu Hermawan menunduk dan tanpa membuang waktu, bibir Hermawan melumat jendolan celana dalamku.
Bagaikan seekor singa buas ia menjilati dan meremas jendolan kenyal di dalam celana dalamku itu..
Kini aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain megap-megap dan mengerang karena kenikmatan yang mencengkeramku. Aku semakin menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan karena rasa geli dan nikmat ketika tangan Hermawan mencoba menyingkap celana dalamku. Ikat pinggang celaku dikendorkan dan diturunkan, sehingga kontolku yang telah tegang itupun lalu mencuat keluar. Aku tersentak kaget, namun aku kalah cepat karena bibir dan lidah Hermawan menjilat dan melumat kontolku yang teracung itu.
"Mas.. barangmu besar banget. A.. aku makin nggak ta.. tahan.... , ", kata Hermawan terputus-putus karna nafsu birahi yang kian memuncak. Sambil dijilati dan dihisapnya kontolku, tangan Hermawan menggerayang ke dadad dan perutku. Lala dia mengulum dan menyedoti cairan precum dari ujung kontolku.
Kemudian Hermawan juga menciumi perut dan pusarku. Dengan lidahnya, ia pandai sekali mengelitik dada hingga perutku. Sekali lagi aku hanya mendesis-desis mendapat rangsangan yang menggelora itu. Kemudian tanpa kuduga, dengan cepat Hermawan melepas celana dan celana dalamku dalam sekali tarikan. Lagi-lagi aku berusaha melawan, tetapi dengan tubuh besar dan tenaga kuat yang dimiliki Hermawan , dengan mudah ia menaklukkan perlawananku.
"Gimana Mas?"
Akh. Ogh... aku hanya mendesisi kenikmatan. Ternyata tidak berhenti disitu saja dia mulai menurunkan seluruh celanaku. Lalu dia menurunkan celana dalamku.
Dan ya ampun.. Nikmat luar biasa sangat dia mengulum buah pelerku.
"Akh.. Akh... ough.. Terus dik. Terus.. Oh...!!!"
Dia terus mengobok-ngobok kontolku dengan mulutnya dan menghisap kontolku. Dan akhirnya aku kontolku berdenyut denyut mau mengeluarkan sesuatu yang menyentak nyentak di dalam kantung spermaku. Aku akhirnya ejakulasi di dalam mulut pemuda ini. Baru kali ini aku rasakan oral seks dan aku memuncratkan spermaku di dalam mulut orang. Karena selama ini tidak pernah aku merasakan hisapan dan jilatan lidah di kontolku.
Sungguh nikmat luar biasa. Aku mengerang dan menjambak rambutnya saat ejakulasi. "Akhhhhh...!!!" Crott….crottt…semburan spemaku memenuhi mulut pemuda ini.
Hermawan lalu duduk dan dengan tissue mengelap sudut bibirnya.
"Mas tolong gantian dong."
Dia menuntun tangannya kearah kontolnya. Sebetulnya aku amat tersinggung dan terhina pada ulah Hermawan ini, tetapi nggak tahu kenapa aku tiba-tiba serasa ditimpa dan ditampar sebuah sensasi yang hebat saat tanganku dia paksakan menggenggam sesuatu yang sangat luar biasa bagiku. Tanganku merasakan kontol Hermawan itu sangat hangat, meskipun gede dan panjangnya hanya selisih lebih dikit dibanding milikku. Sepertinya aku terpukau oleh sihir kontol Hermawan ini. Untung reflek bertahanku masih menampakkan penolakkan dengan berusaha menarik dari cengkeraman tangannya. Hanya akhirnya karena kekuatan yang tidak seimbang, dia membuat aku tidak berkutik,
"Tolong, Mas, sebentar saja, saya bener-bener tidak bisa menahan nafsu birahiku, tolong Mas, biar aku terlepas dari siksaanku ini, tolooonng.. tadikan Mas sudah saya buat orgasme. Jadi gantian Mas.", dia menghiba dalam berbisik dan aku semakin tertelikung oleh kekuatan tangannya dan sekaligus sihir nafsu birahiku yang tak mampu menghadapi sensasi penuh pesona ini.
Dia kembali bisikkan ke telingaku,
"Kocok, Mas, aku pengin keluar cepet, nih", sambil dia pegang tanganku untuk menuntun kocokkannya. Dan aku sudah mengambil keputusan yang sangat berbeda dengan ketegaran awalku tadi. Aku merasa telah dikalahkan oleh suatu kondisi.
Akupun mulai mengocok kontolnya.
Telah beberapa saat dia mendesah dan merintih lirih, tetapi belum juga ejakulasinya datang. Bahkan kini aku sendiri mulai terjebak dalam kisaran arus birahi sejak tangannya juga merabai dadaku dan memainkan puting susuku. Sedangkan tangan satunya kembali meraba raba jendolan kontolku. Aku terbawa mendesah dan merintih pelan dan tertahan. Aku mengalami keadaan ekstase birahi. Mataku tertutup, khayalanku mengembara, pikiranku sudah kemana-mana mungkin karena aku sudah terangsang.
"Ayoo, dik, aku sudah cape, nih, keluarin cepeett...s",
Dia tersenyum, "Susah, Mas, kecualii...",
"Apaan lagi?",
"Kalau Mas mau menciumi dan mengisepnya.". Gila. Dia sudah gila. Beraninya dia bilang begitu padaku. Tt.. tet.. ttapi .. mungkin aku kini yang lebih gila lagi. Aa.. aak.. ku mengangguk saat matanya melihat mataku. Sesungguhnya sejak tadi saat tanganku menggapai kontolnya kemudian merasakan betapa keras aku sudah demikian terhanyut untuk selekasnya bisa menyaksikan betapa mentakjubkan kontol segede itu. Aku sudah demikian tergiring untuk selekasnya mencium betapa harumnya aroma kontol itu, betapa lidahkupun ingin merasakan bagaimana seandainya aku berkesempatan melumat-lumat kontol si Hermawan ini. Dan kini rasanya yang sangat berharap untuk mengisep-isep itu bukan dia tetapi aku kini yang kehausan dan ingin sekali menciumi dan mengisep kontol Hermawan .
Cahaya lampu Kereta Gajayana yang memang diredupkan untuk memberi kesempatan para penumpang bisa tidur nyenyak sangat membantu apa yang sedang berlangsung di kursi kami ini. Aku bergerak telungkup menyusup ke dalam selimutnya. Gelap, tetapi bibirku langsung menyentuh kemudian mencaplok kontol Punya Hermawan itu. Aku sudah di luar kendali. Entah apa yang terjadi. Aku tidak lagi berfikir jernih. Aku sudah masa bodo. Nafsuku sudah menjerat aku. Aku mulai mengkulum kontol itu, lidahku bermain dan aku mulai memompakan mulutku ke kontol Hermawan . Huuhh, aroma kontolnyaa.., sungguh aku langsung terhanyut dan bergelegak. Aku mengharapkan sperma dan air mani Hermawan cepat muncrat ke mulutku. Aku biasa menelan sperma suamiku, sehingga kini aku juga merasa biasa saja kalau kontol ini akhirnya akan memuncratkan spermanya dan aku pasti menelannya.
Aku yakin Hermawan sudah memikirkan kemungkinan untuk tidak sampai menjadi perhatian penumpang lainnya. Aku sendiri akhirnya demikian masa bodoh. Aku yang sudah demikian larut dalam kenikmatan yang tak mudah kutemui di tempat lain ini terus hanyut dalam keasyikan birahi dengan kontol dalam jilatan dan kulumanku. Aku merem melek setiap lidahku menjulur dan menariknya kembali. Rasa asin precum Hermawan demikian aku nikmati sepenuh perasaan dan gelinjang nafsuku.
Aroma jembut tebal Hermawan sangat memabukkanku. Dalam ruangan selimut yang demikian sempit itu aroma kelelakian Hermawan demikian menggumpal merasuki hidungku. Sementara tangan Hermawan sendiri kurasakan aktif mengelusi di arah rambutku, terkadang juga turun hingga ke pantatku. Aku menggelinjang tertahan dalam tempat yang serba terbatas ini.
Kini yang kurasakan adalah kehausan yang amat sangat. Aku ingin minum. Aku ingin secepatnya air mani Hermawan muncrat dari kontolnya ini. Aku sangat haus untuk segera meminum sperma panasnya. Aku lumat-lumat sepenuh perasaanku dengan harapan bisa secepatnya merangsang Hermawan untuk melepaskan spermanya. Kontol itu kuperosokkan dalam-dalam kemulutku hingga menyentuh tenggorokkanku. Aku mengerang, mendesah sambil bergumam meracau. Tanganku juga ikut mengelusi batangnya kekar dan keras itu. Sesekali lidah dan bibirku menjilati batangnya hingga ke pangkal dan bijih pelernya.
Benar, tidak sampai 5 menit sebuah kedutan yang sangat keras mengejut dalam mulutku diikuti pancaran panas air mani Hermawan . Kedutan-kedutan selanjutnya membuat mulutku penuh oleh cairan lendir panas itu. Aku buru-buru menelannya agar tidak tercecer.
"Terima kasih, ya Mas", katanya sambil membetulkan celananya dan menarik tutup resluitingnya.
Akupun membersihkan mulutku dengan tisu diatas kursi kami.
Akhirnya karena kelelahan, kamipun tertidur pulas.
Akhirnya pukul 06.30 kereta api sampai Stasiun Gambir dan kami pun turun.
"Mas gimana kalau kita satu taksi biar irit biaya toh jalannya satu arah"
"Ok..!!" akupun mengiyakan
Didalam taksi aku dan Hermawan berdiam diri. Aku terdiam sambil membayangkan semalam di dalam kereta api yang aneh dan kurasakan luar biasa.
Akhirnya saya turun depan kantor pusat aku bekerja. Lalu kami tukar nomor HP dan aku turun dari taksi.
Setelah selesai bertemu dengan staf kantor pusat sekaligus mengatur jadwal kegiatanku selama di Jakarta. Aku diantar staf untuk check in di salah satu hotel dekat kantor pusatku.
Setelah berbenah diri dan membongkar barang bawaanku, aku ingin mandi rendaman di bath up. Namun, sungguh aneh. Kuterbayang lagi kejadian pertama kali yang kurasakan di dalam kereta api tadi malam.
Bunyi Hp berdering, lalu kuangkat
"Sore Mas. lagi dimana??"tanya Hermawan
"Sore juga Wan, Aku lagi di kamar hotel. Ini mau mandi. Kalo kamu?.
"Aku lagi di jalan, abis cari makan. Boleh mampir ke kamar Mas?
Antara ragu dan gamang, akhirnya aku malah memberikan nomor kamar hotelku.
Saat aku masih rendaman di bath up, kudengar suara dering bel pintu. Bergegas aku menyambar handuk dan kubukakan pintu kamar. Ternyata Hermawan datang lebih cepat dari perkiraanku.
“Bentar ya…aku selesaikan mandiku dulu” aku berpamitan dan menyilahkan Hermawan duduk.
Lalu aku kembali ke kamar mandi. Namun rupanya Hermawan malah membuntutiku dan menahan pintu kamar mandi saat kututup.
Lalu dengan gerak cepat dia menyambar handukku, sehingga aku telanjang bulat di depannya.
Sekarang tubuhku yang padat dan putih itu benar-benar telanjang total dihadapan Hermawan . Sungguh, aku belum pernah sekalipun telanjang dihadapan laki-laki lain seperti ini. Sebelumnya aku juga tak pernah terpikir akan terjadi seperti ini.
Entah karna apa aku malah cuma diam saja ketika Hermawan mulai mendekapku. Perlahan birahiku mulai mengalir saat rabaan dan elusan tangan Hermawan menjulur di bagian sensitifku.
Aku diam saja ketika Hermawan kembali menggarap tubuhku. Bibir dan salah satu tangannya menggerayangi dadaku, sementara tangan yanga satunya lagi mengusap-usap paha dan selangkangan kakiku. Mataku benar-benar merem-melek merasakan kenikamatan itu. Sementara napasku juga semakin terengah-engah.
Tiba-tiba Hermawan beranjak dan dengan cepat melepas semua pakaian yang menempel di tubuhnya. Kini ia sama denganku, telanjang bulat-bulat. ya ampun, aku tidak dapat percaya, kini aku sama-sama telanjang dengan sesama laki-lakinya. Ohh. Aku melihat tubuh Hermawan yang memang benar-benar atletis, besar dan kekar terutama otot-otot perutnya. Ia lebih tinggi dan lebih besar dibandingkan denganku.
Kini tubuh telanjang Hermawan mendekapku. Darahku seperti terkesiap ketika merasakan dada bidang Hermawan menempel erat dadaku. Ada sensasi hebat yang melandaku, ketika dada yang kekar itu merapat dengan tubuhku. Ohh, baru kali ini kurasakan dekapan lelaki lain. Ia masih meciumi sekujur tubuhku, sementara tangannya juga tidak kenal lelah meremas-remas dadaku. Sekali lagi, sebelumnya tidak pernah kurasakan sensasi dan rangsangan sedahsyat ini.
Aku tersentak ketika kurasakan ada benda yang menggelitik pantatku. Ternyata Hermawan nekat memasukkan jari tangannya kecelah pantatku.Ia memutar-mutar telunjuknya di dalam lubang pantatku, aku merasakan suatu sensasi yang aneh dan nikmat yang berbeda. Sehingga aku benar-benar hampir tidak kuat lagi menahan kenikmatan yang menderaku. Mendapat serangan yang luar biasa nikmat itu, secara refleks aku memutar-mutarkan pantatku. Toh, aku masih berusaha menolaknya.
"Wan, jangan sampai dimasukkan jarinya, cukup diluaran saja..! ", pintaku.
Tetapi lagi-lagi Hermawan tidak menggubrisku. Selanjutnya ia menelusupkan kepalanya di selangkanganku, lalu bibir dan lidahnya melumat habis kontolku. Aku tergetar hebat mendapatkan rangsangan ini. Tidak kuat lagi menahan kenikmatan itu, tanpa sadar tanganku menjambak rambut Hermawan yang masih terengah-engah di selangkanganku. Kini aku telah benar-benar tenggelam dalam birahi.
Ketika kenikmatan birahi benar-benar menguasaiku, dengan tiba-tiba, Hermawan melepaskanku dan berdiri di tepi tempat tidur. Ia mengocok-ngocok batang penisnya yang berukuran luar biasa tersebut.
"Udah hampir setengah jam, dari tadi aku terus yang aktif, capek nih. Sekarang ganti Mas dong yang aktif..!", Kata Hermawan dengan manja.
"Mas nggak bisa Wan, lagian Mas masih takut..!", Jawabku dengan malu-malu.
"Oke kalo gitu pegang aja iniku, please, kumohon... kocok kontolku kayak di kereta api kemarin Mas", ujarnya sambil menyodorkan batang penis besar itu kehadapanku.
Dengan malu-malu kupegang batang yang besar dan berotot itu. Lagi-lagi berdebar-debar dan darahku berdesir ketika tanganku mulai memegang penis Hermawan ..
Dengan dada berdegup kencang, kukocok perlahan-lahan penis milik Hermawan . Ada sensasi tersendiri ketika aku mulai mengocok buah zakar Hermawan yang sangat besar tersebut. Aku berharap dengan kukocok penisnya, sperma Hermawan cepat muncrat, sehingga ia tidak berbuat lebih jauh kepada diriku. Hermawan yang kini telentang disampingku memejamkan matanya ketika tanganku mulai naik turun mengocok batang zakarnya.
Napasnya mendengus-dengus, tanda kalau nafsunya sudah meningkat lagi. Aku sendiri juga terangsang melihat tubuh tinggi besar di hadapanku seperti tidak berdaya dikuasai rasa nikmat. Tiba-tiba ia memutar tubuhnya, sehingga kepalanya kini tepat berada diselangkanganku sebaliknya kepalaku juga tepat menghadap selangkangannya. Hermawan kembali melumat batang kemaluanku. Lidahnya menjilat-jilat tanpa henti di urat keras batang kontolku. Sementara aku masih terus mengocok batang zakar Hermawan dengan tanganku.
Kini kami berdua berkelejotan, sementara napas kami juga saling memburu. Setelah itu Hermawan beranjak dan dengan cepat ia menindihku. Dari kaca lemari yang terletak di sebelah samping tempat tidur, aku bisa melihat tubuh rampingku seperti tenggelam di kasur busa ketika tubuh Hermawan yang tinggi besar mulai menindihku. Dadaku deg-degan melihat adegan kami melalui kaca lemari itu. Gila batinku, kini aku yang telanjang digumuli oleh sesama lelaki yang juga sedang telanjang.
Hermawan kembali melumat bibirku. kali ini teramat lembut. Gilanya lagi, aku tanpa malu lagi membalas ciumannya. Lidahku kujulurkan untuk menggelitik rongga mulut Hermawan . Hermawan terpejam merasakan seranganku, sementara tanganku kekarnya masih erat memelukku, seperti tidak akan dilepas lagi.
Bermenit-menit kami terus berpagutan saling memompa birahi masing-masing. Peluh kami mengucur deras dan berbaur ditubuhku dan tubuh Hermawan . Dalam posisi itu tiba-tiba kurasakan ada benda yang kenyal mengganjal diatas perutku. Ohh, aku semakin terangsang luar biasa ketika kusadari benda yang mengganjal itu adalah batang kemaluan Hermawan . Tiba-tiba kurasakan batang zakar itu mengganjal tepat bergesekan dengan batang kemaluanku. Gesekan dua batang kontol ini kurasakan sensasi luar biasa. Lalu Hermawan turun dan mulai menjilati dada, perut terus turun ke bulu-bulu kemaluanku hingga akhirnya kontolku melesak habis dikulum bibirnya.
Lama Hermawan mengocok dan menjilati batang kontolku, sambil tangannya meraba raba dan memijiti sekujur titik sensitifku. Lalu kurasakan jari telunjuk Hermawan menguak belahan pantatku dan menusuk ke lubang anusku.
Rupanya Hermawan berusaha memasukkan jarinya ke lubang anusku. Tentu saja aku tersentak dan kaget.
"Hermawan . jangan dimasukkan..!", kataku sambil tersengal-sengal menahan nikmat.
"Oke. kalau nggak boleh diamasukkan, kugesek-gesekkan di luarnya saja ya..?", jawab Hermawan juga dengan napas yang terengah-engah.
Kemudian Hermawan meubah posisi dan kini memasang ujung penisnya tepat di celah lubang anusku. Sungguh aku deg-degan luar biasa ketika merasakan kepala batang penis itu menyentuh lubang anusku.
Setelah sedikit dipaksa, akhirnya ujung kemaluan Hermawan berhasil menerobos lubang anusku. Ya ampun, aku menggeliat hebat ketika ujung kepala penis itu mulai menerobos masuk. Walau pun mulanya sedikit perih, tetapi selanjutnya rasa nikmatnya sungguh tiada tiara. Seperti janji Hermawan , penisnya itu hanya hanya digesek-gesekan di bibir lubang anusku saja. Meskipun hanya begitu, kenikamatan yang kurasa betul-betul membuatku hampir teriak histeris. Sungguh batang zakar Hermawan itu luar biasa nikmatnya.
Hermawan terus menerus memaju-mundurkan batang penis sebatas di bibir lubang anusku. keringat kami berdua semakin deras mengalir, sementara mulut kami masih terus berpagutan.
" Ayoohh.. ngoommoong lhooo, giimaanna raasaanyaa..?", Kata Hermawan tersengal-sengal.
"Oohh.. teeruuss.. Wan.. teeruss..!", ujarku sama-sama tersengal.
Entah bagaimana awal mulanya, tiba-tiba kurasakan batang kemaluan itu telah amblas semua ke lubang anusku. Bless, perlahan tapi pasti batang kemaluan yang besar itu melesak kedalam lubang anusku.
"Lohh..? wan..! Dimaassuukiin seemmua yah..?", tanyaku.
"Taanguung, Mas. Aku juga nggak tahhan..!", ujarnya dengan terus memompa kontolnya secara perlahan.
Entahlah, kali ini aku tidak protes. Ketika batang penis itu amblas semua di lubang anusku, aku hanya dapat terengah-engah dan merasakan kenikmatan yang kini semakin tertahankan. Sementara karena tubuhnya yang berat, batang penis Hermawan semakin tertekan kedalam lubang anusku dan melesak hingga ke dasar usus besarku. Sangat terasa sekali bagaimana rasanya batang zakar menggesek-gesek dinding ususku hingga perutku terasa penuh.
Tanpa sadar aku pun mengimbangi genjotan Hermawan dengan menggoyang pantatku. Kini tubuh rampingku seperti timbul tenggelam diatas kasur busa ditindih oleh tubuh besar dan kekarnya Hermawan . Semakin lama, genjotan Hermawan semakin cepat dan keras, sehingga badanku tersentak-sentak dengan hebat. "Clep., clep., clep., cleep..", begitulah bunyi batang zakar Hermawan yang terus memompa lubang pantatku.
"Teerruss waaannn..! Aakuu.. nggaak.. kuuaatt..!", erangku berulang-ulang.
Sungguh ini permainan seks yang paling nikmat yang pernah kurasakan dalam sepuluh tahun ini.
Aku sudah tidak berpikir lagi tentang hubungan sejenis antara dua pria ini. Hermawan benar-benar telah menenggelamkan aku dalam gelombang kenikmatan.
Tidak lama kemudian, aku merasakan nikmat yang luar biasa disekujur tubuhku. Badanku mengelepar-gelepar dibawah genjetan tubuh Hermawan . Kontolku tergesek gesek di perutku dan perutnya. Ada sensasi aneh ketika bulu-bulu di perut Hermawan menggelitik urat kontolku. Seketika itu seperti tidak sadar, kuciumi lebih berani bibir Hermawan dan kupeluk erat-erat.
"Wannnn.. aakkuu.. haampiir.. keluarr..!", desahku ketika hampir mencapai puncak kenikamatan. Tahu aku hampir orgasme, Hermawan semakin kencang menghunjam-hunjamkan batang kejantanannya lubang belahan pantatku.
Saat itu tubuhku semakin meronta-ronta dibawah dekapan Hermawan yang kuat. Akibatnya, tidak lama kemudian aku benar-benar mencapai klimaks.
"Kaalauu.. uudahh.. orrgassme.. ngoommoong.. Maasss.. biaarr.. aakuu.. ikuut.. barengan.!"desah Hermawan .
"Ooh.. aauuhh.. aakkuu.. mauuu klimaks.. wwaan..!", jawabku.Lalu dengan secepat kilat, aku mengocok kocok kontolku, agar ejakulasiku lebih cepat.
Seketika dengan refleks tangan kananku menjambak rambut Hermawan , sedangkan tangan kiriku memeluknya erat-erat. Pantatku kunaikkan keatas agar batang kemaluan si Hermawan dapat menancap sedalam-dalamnya.
Lalu beberapa semprotan spermaku muncrat menyembur membasahi perutku dan perut Hermawan. Tapi sperma itu tidak terlalu banyak, mungkin karena aku belum benar-benar mencapai klimas yang sebenarnya.
Setelah kenikmatan sesaat ejakulasi itu, tubuhku melemas dengan sendirinya. Hermawan juga menghentikan genjotannya.
"Aku belum keluar sayang. Tahan sebentar ya.. Aku terusin dulu..!", ujarnya lembut sambil mengecup pipiku.
Meskipun kurasakan sedikit ngilu, kubiarkan Hermawan memompa terus lubang anusku. Karena lelah, aku pasif saja saat Hermawan terus menggumuliku. Tanpa perlawanan, kini badanku benar-benar tenggelam ditindih tubuh atletis Hermawan . Clep.. clep.. clep.. clep. Kulirik kebawah untuk melihat lubang pantatku yang dihajar batang kejantanan Hermawan .
Hermawan semakin lama semakin kencang memompanya penisnya. Sementara mulutnya tidak henti-hentinya menciumi pipi, bibir dan dadaku. Mendapat rangsangan tanpa henti seperti itu tiba-tiba nafsuku bangkit kembali. Kurasakan kenikmatan mulai merambat lagi dari perbatasan selangkangan yang dengan kencang dipompa si Hermawan. Maka aku balik membalas ciuman Hermawan, semantara pantatku kembali berputar-putar mengimbangi penis Hermawan yang masih perkasa menusuk-nusuk lubang anusku.
"Mas ingiin.. lagii..?", tanya Hermawan .
"Eehh..", hanya itu jawabku.
Kini kami kembali mengelapar-gelepar bersama.
Tiba-tiba Hermawan bergulung, sehingga posisinya kini berbalik, aku diatas, Hermawan dibawah.
"Ayoohh gaantii..! Mas.. seekaarang di ataass..", kata Hermawan .
Dengan posisi tubuh diatas Hermawan , pantatku kuputar-putar, maju-mundur, kiri-kanan, untuk mengocok batang penis Hermawan yang masih mengacung di lubang anusku. Dengan masih malu-malu aku juga ganti menjilati leher dan puting Hermawan . Hermawan yang telentang dibawahku hanya dapat merem-melek karena kenikmatan yang kuberikan.
"Tuuh.. biisaa kaan..! Kaatanya taa.. dii.. nggak.. bisa..", kata si Hermawan sambil meremas-remas dadaku serta mengocok kocok mkontolku.
Hanya selang lima menit saat aku diatas tubuh Hermawan , lagi-lagi kenimatan tak terkira akan datang menderaku. Aku semakin kuat menghunjam-hunjamkan lubang pantatku kebatang penis Hermawan. Tubuhku yang ramping makin erat mendekap Hermawan . Aku juga semakin liar membalas ciuman Hermawan sambil tangaku terus membantu mengocok kocok kontolku.
Wwaaann.. aakuu.. haampiir.. keluarrr.. laaggii....!", kataku terengah-engah.
Tahu kalau aku akan orgasme untuk yang kedua kalinya, Hermawan langsung bergulung membalikku, sehingga aku kembali dibawah. Sehingga orgasmeku tertahan.Dengan napas yang terengah-engah, Hermawan yang telah berada diatas tubuhku semakin cepat memompa lagi lubang pantatku. Tak ayal lagi, rasa nikmat tiada tara terasa di sekujur tubuhku. Lalu rasa nikmat itu seperti mengalir dan berkumpul ke celah pantatku. Hermawan kupeluk sekuat tenaga, sementara napasku semakin tak menentu.
"Kalau mau orgasmee ngomong yaa.., biaar lepaass..!", desah Hermawan .
Karna tidak kuat lagi menahan nikmat, aku pun mengerang keras.
"Teruss.. , teruss.. , akuu.. mauu orgasmee Wannn..!", desahku, sementara tubuhku masih terus menggelepar-gelepar dalam tindihan tubuh Hermawan .
Belum reda kenikmatan klimaks yang kurasakan, tiba-tiba Hermawan mendengus-dengus semakin cepat. Tangan kekarnya mendekapku erat-erat seperti ingin meremukkan tulang-tulangku. Ia benar-benar membuatku tak bisa bergerak, dan napasnya terus memburu. Genjotannya di lubang anusku semakin cepat dan keras. Kemudian tubuhnya bergetar hebat.
"Mas.. , akuu.. , maauu.. , keluuarr..!", erangnya tidak tertahankan lagi.
Melihat Hermawan yang hampir keluar, pantatku kuputar-putar semakin cepat. Aku juga semakin erat mengocokm kocok kontolku sendiri. Crot.. crot.. crot..! Sperma Hermawan terasa sangat deras muncrat dilubang anusku.
Hermawan memajukan pantatnya sekuat tenaga, sehingga batang kejantanannya benar-benar menancap sedalam-dalamnya di lubang anusku. Aku merasa lubang anusku terasa sangat hangat oleh cairan sperma yang mengucur dari kemaluan si Hermawan .
Gila, sperma Hermawan luar biasa banyaknya, sehingga seluruh lubang anusku terasa basah kuyup. Bahkan karna sangking banyaknya, sperma Hermawan belepotan hingga mengalir keluar dan meleleh di pahaku. Berangsur-angsur gelora kenikmatan itu mulai menurun.
Untuk beberapa saat Hermawan masih menindihku, keringat kami pun masih bercucuran. setelah itu ia berguling kesampingku. Aku termenung menatap langit-langit kamar, sungguh baru kali ini kurasakan betapa nikmatnya disodomi. Mengapa tak sedari dulu kurasakan persetubuhan sejenis ini. Mengapa saat aku telah menikah dan punya anak??
Gerbong kereta telah siap dan beberapa orang sudah masuk sesuai tempatnya masing-masing. Kebetulan aku di kursi 1 A ujung depan dekat jendela, dan disebelahku seorang pemuda tanggung. Tepat jam 16.05 , akhirnya istri dan anak-anakku keluar dari gerbong kereta api saat kereta mulai bergerak. Selama di perjalanan laki-laki di sampingku diam tak berbicara, dan akupun tidah menghiraukannya. Dan kuperhatikan dia sibuk dengan HP. Waktu kereta memasuki Kota Blitar dimulai menyapa.
"Tujuan mau kemana Mas?"aku dibuat kaget dengan sapaanya.
"Jakarta. Kalau adik tujuan kemana?" aku berbalik tanya.
"Saya juga ke Jakarta, memang Jakartanya turun mana Mas?"
"Gambir, trus ntar nyambung naik taksi ke Menteng" jawabku singkat.
"Wah, kita satu arah Mas saya daerah Jalan Jaksa."
Hari mulai gelap, saat kami mulai akrab dan sudah saling bercerita, dari tanya jawab tentang skripsi sampai pekerjaanku. Laki-laki bernama Hermawan ini berinisiatip untuk banyak ngomong dan mengajak aku berbicara. Selama pembicaraan sepenuhnya dia menujukkan sikap hormat dan santunnya padaku. Aku juga menaruh respek padanya karena sikapnya itu. Dia pinjamkan majalah dan koran bacaannya padaku, dia juga tawarkan makanan atau minuman yang dia bawa.
Jam 20.00 pegawai kereta membagikan selimut dan bantal. Dan akhirnya pukul 22.15 lampu kereta mulai ada yang dipadamkan. Mungkin memberi kesempatan penumpang untuk isirahat. Akupun mulai berselimut dan mencoba memejamkan mata. Malam semakin larut Aku sangat kaget ketika tiba-tiba tangannya menggenggam tanganku, hampir kutarik kalau dia tidak bilang,
"Tangan Mas dingin banget, nih. Mau nggak kalau aku pijat refleksi tangannya, nanti hangat, deh?", ah, dia punya seribu satu alasan yang selalu tepat untuk banyak berbuat padaku. Aku juga nggak tahu, kenapa aku pasrah saja saat tangannya meraih tanganku membawa ke pangkuannya untuk dia pijit-pijit. Dia bilang pijat refleksi. Aduh, aku berteriak tertahan karena kesakitan, tetapi dengan cepat dia bilang dalam bisikkan, bahwa kalau aku merasakan sakit artinya bahwa memang aku sedang sakit.
Dia terangkan bahwa yang dia pijat itu adalah tombol-tombol saraf yang berhubungan dengan bagian di tubuhku yang sedang kena sakit. Dia bilang paru-paru dan punggungku sedang tidak normal karena dingin atau mungkin karena lelahnya perjalanan. Dan yang membuatku langsung merinding dan bergetar adalah suara bisikkannya itu.
Hermawan mulai tangannya menyentuh pahaku dan aku singkirkan tangannya dari pahaku.
"Maaf Wan," aku mencoba menegurnya.
"Maaf Mas bukan maksudku." Jawabnya sopan.
Langsung aku putus pembicaraannya.
"Dudahlah Dik, lebih baik adik tidur saja, Mas juga sudah ngantuk."
Iwanpun terdiam, tapi ternyata Hermawan tidak mau menyerah begitu saja mungkin rasa penasarannya terhadapku.
Tangannya mulai bergerak lagi tapi tanganya merangkul aku, diletakkan tangannya dibelakang kepalaku. Dan memaksaku dalam pelukannya. Akupun kaget tapi apa daya tangannya kuat, aku pun gak mau membuat keributan di dalam kereta yang penuh dengan penumpang. Akhirnya aku dipelukannya dengan kusandarkan kepalaku di pundaknya dan tanganya melingkar di tubuhku.
Sangat luar biasa kehangatan yang kurasakan saat itu, dan rasa yang aneh karena seorang pemuda merangkulku.
Hermawan tidak berhenti disitu aja dia mulai meraba paha dan menyentuh jendolan selangkanganku. Aku mencoba melarangnya tapi kenapa aku merasakan kenikmatan. Dia terus memijit-mijit daerah sensitifku, dan aku mendesis, "akh.!!!"
Hermawan terus memijit daerah sensitifku tersebut tanpa henti-henti.
Akupun tidak merasa takut ketahuan penumpang lainya karena perbuatannya d ibawah selimut kereta api.
Hermawan mulai bergerak dan membuka kancing celanaku. Aku hanya diam tak bicara, ingin tau apa yang akan dilakukannya.
Namun tiba-tiba timbul kesadaranku. Kudorong dada Hermawan supaya ia melepaskan pelukannya pada diriku.
"Wan, jangan Wan, ini enggak pantas kita lakukan..!", kataku terbata-bata.
Tiba-tiba Hermawan menarik badanku sehingga merapat ke tubuhnya. Tanpa berkata apa-apa dia langsung menciumku. Aku tidak sempat menghindar, dan aku merasakan sesuatu aneh. Bahkan aku juga membiarkan ketika bibir dan kumis halus Hermawan menempel ke tengkuk leherku. Aku merasakan birahi dan rangsangat menjalar ke sekujur tubuhku.
bibirku hingga beberapa saat. Dadaku semakin berdegup kencang ketika kurasakan bibir halus Hermawan melumat mulutku. Lidah Hermawan menelusup kecelah bibirku dan menggelitik hampir semua rongga mulutku. Mendapat serangan mendadak itu darahku seperti berdesir, sementara bulu tengkukku merinding.
Lalu ia mulai menjilati dan menciumi seluruh leherku, lalu merambat pipi dan telingaku. Aku memang pasif dan diam, namun perlahan tapi pasti nafsu birahi semakin kuat menguasaiku. Harus kuakui, Hermawan sangat pandai mengobarkan birahiku. Jilatan demi jilatan lidahnya keleherku benar-benar telah membuatku terbakar dalam kenikmatan.
Hermawan memang melepas ciumannya dibibirku, tetapi kedua tangannya yang kekar dan kuat masih tetap memeluk pinggang rampingku dengn erat. Aku juga masih terduduk dipangkuannya.
"Memang nggak pantas Mas, tapi gimana lagi Mas, toh juga meresponku waktu di kereta api ", Ujar Hermawan yang terdengar seperti desahan.
Setelah itu Hermawan kembali mendaratkan ciuman Hermawan sendiri tampaknya juga mulai terangsang. Aku dapat merasakan napasnya mulai terengah-engah. Sementara aku semakin tak kuat untuk menahan erangan. Maka aku pun mendesis-desis untuk menahan kenikmatan yang mulai membakar kesadaranku. Setelah itu tiba-tiba tangan Hermawan yang kekar itu membuka kancing celanaku. Tak ayal lagi, celana dalam berwarna putih bersih itu terbuka di depan Hermawan. Secara refleks aku masih coba berontak.Aku berusaha menutupi dengan mendekapkan tangaku. Tetapi dengan cepat tangan Hermawan memegangi lenganku dan merentangkannya. Setelah itu Hermawan menunduk dan tanpa membuang waktu, bibir Hermawan melumat jendolan celana dalamku.
Bagaikan seekor singa buas ia menjilati dan meremas jendolan kenyal di dalam celana dalamku itu..
Kini aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain megap-megap dan mengerang karena kenikmatan yang mencengkeramku. Aku semakin menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan karena rasa geli dan nikmat ketika tangan Hermawan mencoba menyingkap celana dalamku. Ikat pinggang celaku dikendorkan dan diturunkan, sehingga kontolku yang telah tegang itupun lalu mencuat keluar. Aku tersentak kaget, namun aku kalah cepat karena bibir dan lidah Hermawan menjilat dan melumat kontolku yang teracung itu.
"Mas.. barangmu besar banget. A.. aku makin nggak ta.. tahan.... , ", kata Hermawan terputus-putus karna nafsu birahi yang kian memuncak. Sambil dijilati dan dihisapnya kontolku, tangan Hermawan menggerayang ke dadad dan perutku. Lala dia mengulum dan menyedoti cairan precum dari ujung kontolku.
Kemudian Hermawan juga menciumi perut dan pusarku. Dengan lidahnya, ia pandai sekali mengelitik dada hingga perutku. Sekali lagi aku hanya mendesis-desis mendapat rangsangan yang menggelora itu. Kemudian tanpa kuduga, dengan cepat Hermawan melepas celana dan celana dalamku dalam sekali tarikan. Lagi-lagi aku berusaha melawan, tetapi dengan tubuh besar dan tenaga kuat yang dimiliki Hermawan , dengan mudah ia menaklukkan perlawananku.
"Gimana Mas?"
Akh. Ogh... aku hanya mendesisi kenikmatan. Ternyata tidak berhenti disitu saja dia mulai menurunkan seluruh celanaku. Lalu dia menurunkan celana dalamku.
Dan ya ampun.. Nikmat luar biasa sangat dia mengulum buah pelerku.
"Akh.. Akh... ough.. Terus dik. Terus.. Oh...!!!"
Dia terus mengobok-ngobok kontolku dengan mulutnya dan menghisap kontolku. Dan akhirnya aku kontolku berdenyut denyut mau mengeluarkan sesuatu yang menyentak nyentak di dalam kantung spermaku. Aku akhirnya ejakulasi di dalam mulut pemuda ini. Baru kali ini aku rasakan oral seks dan aku memuncratkan spermaku di dalam mulut orang. Karena selama ini tidak pernah aku merasakan hisapan dan jilatan lidah di kontolku.
Sungguh nikmat luar biasa. Aku mengerang dan menjambak rambutnya saat ejakulasi. "Akhhhhh...!!!" Crott….crottt…semburan spemaku memenuhi mulut pemuda ini.
Hermawan lalu duduk dan dengan tissue mengelap sudut bibirnya.
"Mas tolong gantian dong."
Dia menuntun tangannya kearah kontolnya. Sebetulnya aku amat tersinggung dan terhina pada ulah Hermawan ini, tetapi nggak tahu kenapa aku tiba-tiba serasa ditimpa dan ditampar sebuah sensasi yang hebat saat tanganku dia paksakan menggenggam sesuatu yang sangat luar biasa bagiku. Tanganku merasakan kontol Hermawan itu sangat hangat, meskipun gede dan panjangnya hanya selisih lebih dikit dibanding milikku. Sepertinya aku terpukau oleh sihir kontol Hermawan ini. Untung reflek bertahanku masih menampakkan penolakkan dengan berusaha menarik dari cengkeraman tangannya. Hanya akhirnya karena kekuatan yang tidak seimbang, dia membuat aku tidak berkutik,
"Tolong, Mas, sebentar saja, saya bener-bener tidak bisa menahan nafsu birahiku, tolong Mas, biar aku terlepas dari siksaanku ini, tolooonng.. tadikan Mas sudah saya buat orgasme. Jadi gantian Mas.", dia menghiba dalam berbisik dan aku semakin tertelikung oleh kekuatan tangannya dan sekaligus sihir nafsu birahiku yang tak mampu menghadapi sensasi penuh pesona ini.
Dia kembali bisikkan ke telingaku,
"Kocok, Mas, aku pengin keluar cepet, nih", sambil dia pegang tanganku untuk menuntun kocokkannya. Dan aku sudah mengambil keputusan yang sangat berbeda dengan ketegaran awalku tadi. Aku merasa telah dikalahkan oleh suatu kondisi.
Akupun mulai mengocok kontolnya.
Telah beberapa saat dia mendesah dan merintih lirih, tetapi belum juga ejakulasinya datang. Bahkan kini aku sendiri mulai terjebak dalam kisaran arus birahi sejak tangannya juga merabai dadaku dan memainkan puting susuku. Sedangkan tangan satunya kembali meraba raba jendolan kontolku. Aku terbawa mendesah dan merintih pelan dan tertahan. Aku mengalami keadaan ekstase birahi. Mataku tertutup, khayalanku mengembara, pikiranku sudah kemana-mana mungkin karena aku sudah terangsang.
"Ayoo, dik, aku sudah cape, nih, keluarin cepeett...s",
Dia tersenyum, "Susah, Mas, kecualii...",
"Apaan lagi?",
"Kalau Mas mau menciumi dan mengisepnya.". Gila. Dia sudah gila. Beraninya dia bilang begitu padaku. Tt.. tet.. ttapi .. mungkin aku kini yang lebih gila lagi. Aa.. aak.. ku mengangguk saat matanya melihat mataku. Sesungguhnya sejak tadi saat tanganku menggapai kontolnya kemudian merasakan betapa keras aku sudah demikian terhanyut untuk selekasnya bisa menyaksikan betapa mentakjubkan kontol segede itu. Aku sudah demikian tergiring untuk selekasnya mencium betapa harumnya aroma kontol itu, betapa lidahkupun ingin merasakan bagaimana seandainya aku berkesempatan melumat-lumat kontol si Hermawan ini. Dan kini rasanya yang sangat berharap untuk mengisep-isep itu bukan dia tetapi aku kini yang kehausan dan ingin sekali menciumi dan mengisep kontol Hermawan .
Cahaya lampu Kereta Gajayana yang memang diredupkan untuk memberi kesempatan para penumpang bisa tidur nyenyak sangat membantu apa yang sedang berlangsung di kursi kami ini. Aku bergerak telungkup menyusup ke dalam selimutnya. Gelap, tetapi bibirku langsung menyentuh kemudian mencaplok kontol Punya Hermawan itu. Aku sudah di luar kendali. Entah apa yang terjadi. Aku tidak lagi berfikir jernih. Aku sudah masa bodo. Nafsuku sudah menjerat aku. Aku mulai mengkulum kontol itu, lidahku bermain dan aku mulai memompakan mulutku ke kontol Hermawan . Huuhh, aroma kontolnyaa.., sungguh aku langsung terhanyut dan bergelegak. Aku mengharapkan sperma dan air mani Hermawan cepat muncrat ke mulutku. Aku biasa menelan sperma suamiku, sehingga kini aku juga merasa biasa saja kalau kontol ini akhirnya akan memuncratkan spermanya dan aku pasti menelannya.
Aku yakin Hermawan sudah memikirkan kemungkinan untuk tidak sampai menjadi perhatian penumpang lainnya. Aku sendiri akhirnya demikian masa bodoh. Aku yang sudah demikian larut dalam kenikmatan yang tak mudah kutemui di tempat lain ini terus hanyut dalam keasyikan birahi dengan kontol dalam jilatan dan kulumanku. Aku merem melek setiap lidahku menjulur dan menariknya kembali. Rasa asin precum Hermawan demikian aku nikmati sepenuh perasaan dan gelinjang nafsuku.
Aroma jembut tebal Hermawan sangat memabukkanku. Dalam ruangan selimut yang demikian sempit itu aroma kelelakian Hermawan demikian menggumpal merasuki hidungku. Sementara tangan Hermawan sendiri kurasakan aktif mengelusi di arah rambutku, terkadang juga turun hingga ke pantatku. Aku menggelinjang tertahan dalam tempat yang serba terbatas ini.
Kini yang kurasakan adalah kehausan yang amat sangat. Aku ingin minum. Aku ingin secepatnya air mani Hermawan muncrat dari kontolnya ini. Aku sangat haus untuk segera meminum sperma panasnya. Aku lumat-lumat sepenuh perasaanku dengan harapan bisa secepatnya merangsang Hermawan untuk melepaskan spermanya. Kontol itu kuperosokkan dalam-dalam kemulutku hingga menyentuh tenggorokkanku. Aku mengerang, mendesah sambil bergumam meracau. Tanganku juga ikut mengelusi batangnya kekar dan keras itu. Sesekali lidah dan bibirku menjilati batangnya hingga ke pangkal dan bijih pelernya.
Benar, tidak sampai 5 menit sebuah kedutan yang sangat keras mengejut dalam mulutku diikuti pancaran panas air mani Hermawan . Kedutan-kedutan selanjutnya membuat mulutku penuh oleh cairan lendir panas itu. Aku buru-buru menelannya agar tidak tercecer.
"Terima kasih, ya Mas", katanya sambil membetulkan celananya dan menarik tutup resluitingnya.
Akupun membersihkan mulutku dengan tisu diatas kursi kami.
Akhirnya karena kelelahan, kamipun tertidur pulas.
Akhirnya pukul 06.30 kereta api sampai Stasiun Gambir dan kami pun turun.
"Mas gimana kalau kita satu taksi biar irit biaya toh jalannya satu arah"
"Ok..!!" akupun mengiyakan
Didalam taksi aku dan Hermawan berdiam diri. Aku terdiam sambil membayangkan semalam di dalam kereta api yang aneh dan kurasakan luar biasa.
Akhirnya saya turun depan kantor pusat aku bekerja. Lalu kami tukar nomor HP dan aku turun dari taksi.
Setelah selesai bertemu dengan staf kantor pusat sekaligus mengatur jadwal kegiatanku selama di Jakarta. Aku diantar staf untuk check in di salah satu hotel dekat kantor pusatku.
Setelah berbenah diri dan membongkar barang bawaanku, aku ingin mandi rendaman di bath up. Namun, sungguh aneh. Kuterbayang lagi kejadian pertama kali yang kurasakan di dalam kereta api tadi malam.
Bunyi Hp berdering, lalu kuangkat
"Sore Mas. lagi dimana??"tanya Hermawan
"Sore juga Wan, Aku lagi di kamar hotel. Ini mau mandi. Kalo kamu?.
"Aku lagi di jalan, abis cari makan. Boleh mampir ke kamar Mas?
Antara ragu dan gamang, akhirnya aku malah memberikan nomor kamar hotelku.
Saat aku masih rendaman di bath up, kudengar suara dering bel pintu. Bergegas aku menyambar handuk dan kubukakan pintu kamar. Ternyata Hermawan datang lebih cepat dari perkiraanku.
“Bentar ya…aku selesaikan mandiku dulu” aku berpamitan dan menyilahkan Hermawan duduk.
Lalu aku kembali ke kamar mandi. Namun rupanya Hermawan malah membuntutiku dan menahan pintu kamar mandi saat kututup.
Lalu dengan gerak cepat dia menyambar handukku, sehingga aku telanjang bulat di depannya.
Sekarang tubuhku yang padat dan putih itu benar-benar telanjang total dihadapan Hermawan . Sungguh, aku belum pernah sekalipun telanjang dihadapan laki-laki lain seperti ini. Sebelumnya aku juga tak pernah terpikir akan terjadi seperti ini.
Entah karna apa aku malah cuma diam saja ketika Hermawan mulai mendekapku. Perlahan birahiku mulai mengalir saat rabaan dan elusan tangan Hermawan menjulur di bagian sensitifku.
Aku diam saja ketika Hermawan kembali menggarap tubuhku. Bibir dan salah satu tangannya menggerayangi dadaku, sementara tangan yanga satunya lagi mengusap-usap paha dan selangkangan kakiku. Mataku benar-benar merem-melek merasakan kenikamatan itu. Sementara napasku juga semakin terengah-engah.
Tiba-tiba Hermawan beranjak dan dengan cepat melepas semua pakaian yang menempel di tubuhnya. Kini ia sama denganku, telanjang bulat-bulat. ya ampun, aku tidak dapat percaya, kini aku sama-sama telanjang dengan sesama laki-lakinya. Ohh. Aku melihat tubuh Hermawan yang memang benar-benar atletis, besar dan kekar terutama otot-otot perutnya. Ia lebih tinggi dan lebih besar dibandingkan denganku.
Kini tubuh telanjang Hermawan mendekapku. Darahku seperti terkesiap ketika merasakan dada bidang Hermawan menempel erat dadaku. Ada sensasi hebat yang melandaku, ketika dada yang kekar itu merapat dengan tubuhku. Ohh, baru kali ini kurasakan dekapan lelaki lain. Ia masih meciumi sekujur tubuhku, sementara tangannya juga tidak kenal lelah meremas-remas dadaku. Sekali lagi, sebelumnya tidak pernah kurasakan sensasi dan rangsangan sedahsyat ini.
Aku tersentak ketika kurasakan ada benda yang menggelitik pantatku. Ternyata Hermawan nekat memasukkan jari tangannya kecelah pantatku.Ia memutar-mutar telunjuknya di dalam lubang pantatku, aku merasakan suatu sensasi yang aneh dan nikmat yang berbeda. Sehingga aku benar-benar hampir tidak kuat lagi menahan kenikmatan yang menderaku. Mendapat serangan yang luar biasa nikmat itu, secara refleks aku memutar-mutarkan pantatku. Toh, aku masih berusaha menolaknya.
"Wan, jangan sampai dimasukkan jarinya, cukup diluaran saja..! ", pintaku.
Tetapi lagi-lagi Hermawan tidak menggubrisku. Selanjutnya ia menelusupkan kepalanya di selangkanganku, lalu bibir dan lidahnya melumat habis kontolku. Aku tergetar hebat mendapatkan rangsangan ini. Tidak kuat lagi menahan kenikmatan itu, tanpa sadar tanganku menjambak rambut Hermawan yang masih terengah-engah di selangkanganku. Kini aku telah benar-benar tenggelam dalam birahi.
Ketika kenikmatan birahi benar-benar menguasaiku, dengan tiba-tiba, Hermawan melepaskanku dan berdiri di tepi tempat tidur. Ia mengocok-ngocok batang penisnya yang berukuran luar biasa tersebut.
"Udah hampir setengah jam, dari tadi aku terus yang aktif, capek nih. Sekarang ganti Mas dong yang aktif..!", Kata Hermawan dengan manja.
"Mas nggak bisa Wan, lagian Mas masih takut..!", Jawabku dengan malu-malu.
"Oke kalo gitu pegang aja iniku, please, kumohon... kocok kontolku kayak di kereta api kemarin Mas", ujarnya sambil menyodorkan batang penis besar itu kehadapanku.
Dengan malu-malu kupegang batang yang besar dan berotot itu. Lagi-lagi berdebar-debar dan darahku berdesir ketika tanganku mulai memegang penis Hermawan ..
Dengan dada berdegup kencang, kukocok perlahan-lahan penis milik Hermawan . Ada sensasi tersendiri ketika aku mulai mengocok buah zakar Hermawan yang sangat besar tersebut. Aku berharap dengan kukocok penisnya, sperma Hermawan cepat muncrat, sehingga ia tidak berbuat lebih jauh kepada diriku. Hermawan yang kini telentang disampingku memejamkan matanya ketika tanganku mulai naik turun mengocok batang zakarnya.
Napasnya mendengus-dengus, tanda kalau nafsunya sudah meningkat lagi. Aku sendiri juga terangsang melihat tubuh tinggi besar di hadapanku seperti tidak berdaya dikuasai rasa nikmat. Tiba-tiba ia memutar tubuhnya, sehingga kepalanya kini tepat berada diselangkanganku sebaliknya kepalaku juga tepat menghadap selangkangannya. Hermawan kembali melumat batang kemaluanku. Lidahnya menjilat-jilat tanpa henti di urat keras batang kontolku. Sementara aku masih terus mengocok batang zakar Hermawan dengan tanganku.
Kini kami berdua berkelejotan, sementara napas kami juga saling memburu. Setelah itu Hermawan beranjak dan dengan cepat ia menindihku. Dari kaca lemari yang terletak di sebelah samping tempat tidur, aku bisa melihat tubuh rampingku seperti tenggelam di kasur busa ketika tubuh Hermawan yang tinggi besar mulai menindihku. Dadaku deg-degan melihat adegan kami melalui kaca lemari itu. Gila batinku, kini aku yang telanjang digumuli oleh sesama lelaki yang juga sedang telanjang.
Hermawan kembali melumat bibirku. kali ini teramat lembut. Gilanya lagi, aku tanpa malu lagi membalas ciumannya. Lidahku kujulurkan untuk menggelitik rongga mulut Hermawan . Hermawan terpejam merasakan seranganku, sementara tanganku kekarnya masih erat memelukku, seperti tidak akan dilepas lagi.
Bermenit-menit kami terus berpagutan saling memompa birahi masing-masing. Peluh kami mengucur deras dan berbaur ditubuhku dan tubuh Hermawan . Dalam posisi itu tiba-tiba kurasakan ada benda yang kenyal mengganjal diatas perutku. Ohh, aku semakin terangsang luar biasa ketika kusadari benda yang mengganjal itu adalah batang kemaluan Hermawan . Tiba-tiba kurasakan batang zakar itu mengganjal tepat bergesekan dengan batang kemaluanku. Gesekan dua batang kontol ini kurasakan sensasi luar biasa. Lalu Hermawan turun dan mulai menjilati dada, perut terus turun ke bulu-bulu kemaluanku hingga akhirnya kontolku melesak habis dikulum bibirnya.
Lama Hermawan mengocok dan menjilati batang kontolku, sambil tangannya meraba raba dan memijiti sekujur titik sensitifku. Lalu kurasakan jari telunjuk Hermawan menguak belahan pantatku dan menusuk ke lubang anusku.
Rupanya Hermawan berusaha memasukkan jarinya ke lubang anusku. Tentu saja aku tersentak dan kaget.
"Hermawan . jangan dimasukkan..!", kataku sambil tersengal-sengal menahan nikmat.
"Oke. kalau nggak boleh diamasukkan, kugesek-gesekkan di luarnya saja ya..?", jawab Hermawan juga dengan napas yang terengah-engah.
Kemudian Hermawan meubah posisi dan kini memasang ujung penisnya tepat di celah lubang anusku. Sungguh aku deg-degan luar biasa ketika merasakan kepala batang penis itu menyentuh lubang anusku.
Setelah sedikit dipaksa, akhirnya ujung kemaluan Hermawan berhasil menerobos lubang anusku. Ya ampun, aku menggeliat hebat ketika ujung kepala penis itu mulai menerobos masuk. Walau pun mulanya sedikit perih, tetapi selanjutnya rasa nikmatnya sungguh tiada tiara. Seperti janji Hermawan , penisnya itu hanya hanya digesek-gesekan di bibir lubang anusku saja. Meskipun hanya begitu, kenikamatan yang kurasa betul-betul membuatku hampir teriak histeris. Sungguh batang zakar Hermawan itu luar biasa nikmatnya.
Hermawan terus menerus memaju-mundurkan batang penis sebatas di bibir lubang anusku. keringat kami berdua semakin deras mengalir, sementara mulut kami masih terus berpagutan.
" Ayoohh.. ngoommoong lhooo, giimaanna raasaanyaa..?", Kata Hermawan tersengal-sengal.
"Oohh.. teeruuss.. Wan.. teeruss..!", ujarku sama-sama tersengal.
Entah bagaimana awal mulanya, tiba-tiba kurasakan batang kemaluan itu telah amblas semua ke lubang anusku. Bless, perlahan tapi pasti batang kemaluan yang besar itu melesak kedalam lubang anusku.
"Lohh..? wan..! Dimaassuukiin seemmua yah..?", tanyaku.
"Taanguung, Mas. Aku juga nggak tahhan..!", ujarnya dengan terus memompa kontolnya secara perlahan.
Entahlah, kali ini aku tidak protes. Ketika batang penis itu amblas semua di lubang anusku, aku hanya dapat terengah-engah dan merasakan kenikmatan yang kini semakin tertahankan. Sementara karena tubuhnya yang berat, batang penis Hermawan semakin tertekan kedalam lubang anusku dan melesak hingga ke dasar usus besarku. Sangat terasa sekali bagaimana rasanya batang zakar menggesek-gesek dinding ususku hingga perutku terasa penuh.
Tanpa sadar aku pun mengimbangi genjotan Hermawan dengan menggoyang pantatku. Kini tubuh rampingku seperti timbul tenggelam diatas kasur busa ditindih oleh tubuh besar dan kekarnya Hermawan . Semakin lama, genjotan Hermawan semakin cepat dan keras, sehingga badanku tersentak-sentak dengan hebat. "Clep., clep., clep., cleep..", begitulah bunyi batang zakar Hermawan yang terus memompa lubang pantatku.
"Teerruss waaannn..! Aakuu.. nggaak.. kuuaatt..!", erangku berulang-ulang.
Sungguh ini permainan seks yang paling nikmat yang pernah kurasakan dalam sepuluh tahun ini.
Aku sudah tidak berpikir lagi tentang hubungan sejenis antara dua pria ini. Hermawan benar-benar telah menenggelamkan aku dalam gelombang kenikmatan.
Tidak lama kemudian, aku merasakan nikmat yang luar biasa disekujur tubuhku. Badanku mengelepar-gelepar dibawah genjetan tubuh Hermawan . Kontolku tergesek gesek di perutku dan perutnya. Ada sensasi aneh ketika bulu-bulu di perut Hermawan menggelitik urat kontolku. Seketika itu seperti tidak sadar, kuciumi lebih berani bibir Hermawan dan kupeluk erat-erat.
"Wannnn.. aakkuu.. haampiir.. keluarr..!", desahku ketika hampir mencapai puncak kenikamatan. Tahu aku hampir orgasme, Hermawan semakin kencang menghunjam-hunjamkan batang kejantanannya lubang belahan pantatku.
Saat itu tubuhku semakin meronta-ronta dibawah dekapan Hermawan yang kuat. Akibatnya, tidak lama kemudian aku benar-benar mencapai klimaks.
"Kaalauu.. uudahh.. orrgassme.. ngoommoong.. Maasss.. biaarr.. aakuu.. ikuut.. barengan.!"desah Hermawan .
"Ooh.. aauuhh.. aakkuu.. mauuu klimaks.. wwaan..!", jawabku.Lalu dengan secepat kilat, aku mengocok kocok kontolku, agar ejakulasiku lebih cepat.
Seketika dengan refleks tangan kananku menjambak rambut Hermawan , sedangkan tangan kiriku memeluknya erat-erat. Pantatku kunaikkan keatas agar batang kemaluan si Hermawan dapat menancap sedalam-dalamnya.
Lalu beberapa semprotan spermaku muncrat menyembur membasahi perutku dan perut Hermawan. Tapi sperma itu tidak terlalu banyak, mungkin karena aku belum benar-benar mencapai klimas yang sebenarnya.
Setelah kenikmatan sesaat ejakulasi itu, tubuhku melemas dengan sendirinya. Hermawan juga menghentikan genjotannya.
"Aku belum keluar sayang. Tahan sebentar ya.. Aku terusin dulu..!", ujarnya lembut sambil mengecup pipiku.
Meskipun kurasakan sedikit ngilu, kubiarkan Hermawan memompa terus lubang anusku. Karena lelah, aku pasif saja saat Hermawan terus menggumuliku. Tanpa perlawanan, kini badanku benar-benar tenggelam ditindih tubuh atletis Hermawan . Clep.. clep.. clep.. clep. Kulirik kebawah untuk melihat lubang pantatku yang dihajar batang kejantanan Hermawan .
Hermawan semakin lama semakin kencang memompanya penisnya. Sementara mulutnya tidak henti-hentinya menciumi pipi, bibir dan dadaku. Mendapat rangsangan tanpa henti seperti itu tiba-tiba nafsuku bangkit kembali. Kurasakan kenikmatan mulai merambat lagi dari perbatasan selangkangan yang dengan kencang dipompa si Hermawan. Maka aku balik membalas ciuman Hermawan, semantara pantatku kembali berputar-putar mengimbangi penis Hermawan yang masih perkasa menusuk-nusuk lubang anusku.
"Mas ingiin.. lagii..?", tanya Hermawan .
"Eehh..", hanya itu jawabku.
Kini kami kembali mengelapar-gelepar bersama.
Tiba-tiba Hermawan bergulung, sehingga posisinya kini berbalik, aku diatas, Hermawan dibawah.
"Ayoohh gaantii..! Mas.. seekaarang di ataass..", kata Hermawan .
Dengan posisi tubuh diatas Hermawan , pantatku kuputar-putar, maju-mundur, kiri-kanan, untuk mengocok batang penis Hermawan yang masih mengacung di lubang anusku. Dengan masih malu-malu aku juga ganti menjilati leher dan puting Hermawan . Hermawan yang telentang dibawahku hanya dapat merem-melek karena kenikmatan yang kuberikan.
"Tuuh.. biisaa kaan..! Kaatanya taa.. dii.. nggak.. bisa..", kata si Hermawan sambil meremas-remas dadaku serta mengocok kocok mkontolku.
Hanya selang lima menit saat aku diatas tubuh Hermawan , lagi-lagi kenimatan tak terkira akan datang menderaku. Aku semakin kuat menghunjam-hunjamkan lubang pantatku kebatang penis Hermawan. Tubuhku yang ramping makin erat mendekap Hermawan . Aku juga semakin liar membalas ciuman Hermawan sambil tangaku terus membantu mengocok kocok kontolku.
Wwaaann.. aakuu.. haampiir.. keluarrr.. laaggii....!", kataku terengah-engah.
Tahu kalau aku akan orgasme untuk yang kedua kalinya, Hermawan langsung bergulung membalikku, sehingga aku kembali dibawah. Sehingga orgasmeku tertahan.Dengan napas yang terengah-engah, Hermawan yang telah berada diatas tubuhku semakin cepat memompa lagi lubang pantatku. Tak ayal lagi, rasa nikmat tiada tara terasa di sekujur tubuhku. Lalu rasa nikmat itu seperti mengalir dan berkumpul ke celah pantatku. Hermawan kupeluk sekuat tenaga, sementara napasku semakin tak menentu.
"Kalau mau orgasmee ngomong yaa.., biaar lepaass..!", desah Hermawan .
Karna tidak kuat lagi menahan nikmat, aku pun mengerang keras.
"Teruss.. , teruss.. , akuu.. mauu orgasmee Wannn..!", desahku, sementara tubuhku masih terus menggelepar-gelepar dalam tindihan tubuh Hermawan .
Belum reda kenikmatan klimaks yang kurasakan, tiba-tiba Hermawan mendengus-dengus semakin cepat. Tangan kekarnya mendekapku erat-erat seperti ingin meremukkan tulang-tulangku. Ia benar-benar membuatku tak bisa bergerak, dan napasnya terus memburu. Genjotannya di lubang anusku semakin cepat dan keras. Kemudian tubuhnya bergetar hebat.
"Mas.. , akuu.. , maauu.. , keluuarr..!", erangnya tidak tertahankan lagi.
Melihat Hermawan yang hampir keluar, pantatku kuputar-putar semakin cepat. Aku juga semakin erat mengocokm kocok kontolku sendiri. Crot.. crot.. crot..! Sperma Hermawan terasa sangat deras muncrat dilubang anusku.
Hermawan memajukan pantatnya sekuat tenaga, sehingga batang kejantanannya benar-benar menancap sedalam-dalamnya di lubang anusku. Aku merasa lubang anusku terasa sangat hangat oleh cairan sperma yang mengucur dari kemaluan si Hermawan .
Gila, sperma Hermawan luar biasa banyaknya, sehingga seluruh lubang anusku terasa basah kuyup. Bahkan karna sangking banyaknya, sperma Hermawan belepotan hingga mengalir keluar dan meleleh di pahaku. Berangsur-angsur gelora kenikmatan itu mulai menurun.
Untuk beberapa saat Hermawan masih menindihku, keringat kami pun masih bercucuran. setelah itu ia berguling kesampingku. Aku termenung menatap langit-langit kamar, sungguh baru kali ini kurasakan betapa nikmatnya disodomi. Mengapa tak sedari dulu kurasakan persetubuhan sejenis ini. Mengapa saat aku telah menikah dan punya anak??
Subscribe to:
Posts (Atom)
Paling Populer Selama Ini
-
Klik dong plis
-
. Album Berikutnya
-
Album Sebelumnya
-
... padahal bentuknya yah sama semua - hihihi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ...
-
Malam ini aku benar-benar tersiksa dengan hasratku yang semakin menggebu. Aku mulai mempreteli pakaianku sendiri lalu telentang di atas temp...
-
turkish: big mustache
-
lovedaddy.mobie.in
-
martin.edgar49@yahoo.com - - - - - - - - - - - - - -
-
Terlepas dari anda para pembaca, percaya atau tidak. Di usiaku yang 38 tahun saat ini, wajar saja orang menaruh kasihan terhadapku. Gak ada ...
-
Big Daddy Master & Submissive Cub (Part 3):