6/24/2011

Dokter Siska

Copyright 2002, by Ayeng Waldesi (awaldesi@yahoo.com)

Siska adalah seorang dokter yang mendapat tugas PTT di sebuah desa yang terletak di pedalaman provinsi Jambi. Setamat dari kedokteran ia harus bertugas sebagaimana sumpah saat ia diwisuda. Berbagai upaya dilakukan oleh orang tuanya, yang notabene pejabat teras suatu daerah di pulau Jawa. Akan tetapi karena keadaan telah berubah dengan adanya keputusan pemerintah, hal seperti itu tak dapat dihindari.

Siska adalah seorang gadis yang berusia 26 tahun. Keluarganya asli keturunan Manado. Ia berparas cantik dengan rambutnya sebahu dan berkulit putih bersih. Tingginya 165 cm dengan pinggul yang berbentuk dan sepasang kaki yang panjang. Dadanya sesuai dan amat serasi dengan bobot tubuhnya yang 49 kg. Setiap ke kampus ia selalu menyetir sedan All New-nya sendiri.

Dengan sosok secantik itu, tidak heran banyak teman pria di kampus maupun di luar kampusnya yang naksir namun hanya Ryan yang berkenan di hatinya. Ryan adalah tunangannya. Ryan adalah seorang putra pengusaha di kota itu dan sekarang bekerja pada sebuah BUMN di kota itu juga.

Hari pertama Siska di desa itu, cukup jauh perjalanan ia tempuh. Selain langkanya angkutan umum juga perlu ditempuh satu hari perjalanan darat dari kota Siska. Letaknya terisolir. Maklum Siska biasa di provinsi yang telah maju. Siska diantar oleh pegawai kecamatan dan juga diantar oleh sang pacar.

Sesampai di desa itu, Siska diperkenalkan dengan para pegawai klinik. Salah seorangnya bernama Wati. Siska menetap di rumah kepala suku yang kebetulan memiliki dua buah rumah. Siska dikenalkan kepada Pak Bujana yang merangkap kepala dusun desa itu. Pak Bujana amat disegani dan ditakuti di desa itu. Jarak antar rumah di desa itu amat jarang. Mata pencaharian masyarakatnya adalah petani karet. Di rumah kayu Pak Bujana inilah Siska tinggal dan menetap selama ia bertugas.

Sebagai kepala suku, Pak Bujana bertanggung jawab terhadap keselamatan Siska. Pak Bujana adalah lelaki berumur 60 tahun. Ia penduduk asli dusun itu dan memiliki enam orang istri. Tiap istrinya memiliki rumah sendiri, maklum Pak Bujana banyak memiliki tanaman karet.

Siska betugas bersama Wati ke desa-desa memberikan pelayanan kesehatan. Pak Bujana kadang-kadang membantu Siska mengantar ke desa jika Wati sedang tidak bisa. Dengan sepeda motor tuanya Pak Bujana memboncengkan Siska. Untuk tugas kedesa yang jauh Pak Bujanalah yang mengantar dan bertindak sebagai penunjuk jalan.

Suatu ketika Siska pernah diganggu oleh pemuda kampung sebelah. Maklum jalan desa itu hanya setapak dan hanya bisa dilalui sepeda motor, untunglah saat itu Pak Bujana muncul. Ia menantang pemuda itu duel. Karena keberanian dan keahliannya silat maka pemuda itu dapat ia kalahkan. Pemuda itu berjanji tak akan menganggu Siska bertugas lagi. Saat itu Siska amat cemas namun ia lega sebab Pak Bujana memiliki kewibawaan dan ilmu silat, ditunjang kokohnya badan Pak Bujana.

Karena seringnya Siska berboncengan dengan Pak Bujana, ditambah jalan yang tidak mulus dan setapak, tidak heran sesekali dada Siska bergeser pada punggung Bujana. Saat-saat itu selalu membuat desiran dalam dada Bujana. Selain Siska cantik, Pak Bujana merasakan kekenyalan dada Siska. Setiap saat ia bonceng selalu menggoda nafsunya. Siska merasa Pak Bujana adalah sosok yang amat ia segani dan ia merasa terlindungi.

Suatu senja setelah pulang dari tugasnya, Siska mandi dan kebetualn Pak Bujana singgah di rumah Siska. Saat itu Siska baru saja akan berjalan ke kamarnya dengan handuk masih di badannya. Pak Bujana melihat kemulusan bahu dan kulit betis Siska amat bersih dan menambah keinginannya untuk mendekati Siska.

“Oooo… Pak Bujana.. Ada apa, Pak?” kata Siska.

“Nggak, Bu Dokter. Saya cuma ingin mampir saja,” jawab Bujana.

“Duduk dulu, Pak.. Saya baru mandi, nihh… Bentar ya, Pak?” kata Siska.

“Silahkan, Bu.”

Sempat Pak Bujana melihat ke pinggul Siska. Oooohhhhh amat menggodanya…. Ooo.. ia telan air liurnya.

Senja telah beranjak dan Siska pun keluar kamar dengan pakaian kaos longgar dan celana 3/4. selama ia mengantar Siska baru kali ini ia melihat kulit Siska yang putih dan mulus mulai dari bahunya. Siska selama bertugas selalu pakai celana jeans dan baju kemeja dokter jadi semua bentuk tubuhnya tertutup.

Lalu Pak Bujana berbincang-bincang dengan Siska. Karena hari mulai hujan dan angin pun bertiup kencang, maka mereka masuk ke beranda dalam. Siska pun tak lupa menyediakan makanan kecil dan minuman. karena telah akrab maka sesekali mereka ngomong kesana kemari dan kadang masalah seks. Bagi Siska amat lumrah, karena ia dokter dan Pak Bujana bukan orang lain baginya. Ia ladeni terus Pak Bujana berbicara.

Lalu Pak Bujana menggeser duduknya dan ada sesuatu yang membuatnya ingin lebih dekat kepada Siska. Siska pun dengan antusias membiarkan Pak Bujana duduk di sampingnya.

“Bu Dokter?” kata Pak Bujana. “Saya merasa Bu Dokter amat pintar. Apa nggak takut tinggal di rumah ini?”

“Ooo.. nggak, Pak…” kata Siska.

“Oooo… cincin Ibu amat bagus. Coba saya liat,” kata Bujana sambil meraih tangan Siska.

Siska biarkan Bujana meraih tangannya. Namun Bujana bukannya melihat cincin namun meremas tangannya.

Siska kaget dan bertanya.

“Jangan, Pak… Malu saya. Masak Pak Bujana begitu?” katanya.

“Ooo.. maaf, Bu,” kata Bujana.

Lalu Bujana kembali melihat cincin dan berkata.

“Ibu cantik. Kalo saya punya istri seperti ibu ndak saya biarkan kemana-mana,” kata Bujana.

Siska hanya senyum sambil memandang Pak Bujana.

“Jangan lagi lah, Pak. Masa sudah tiga nggak cukup-cukup? Apa Bapak nggak repot harus menggilir dan membagi belanja?” kata Siska.

“Oooo.. tenang aja, Bu… Saya sudah atur, kok,” kata Bujana.

Lalu Bujana melingkarkan tangannya ke bahu Siska. Siska pun melepaskan tangan Bujana itu. Bujana pun maklum, lalu ia dekatkan mulutnya dan ia tiupkan nafasnya ke tengkuk Siska yang di tumbuhi rambut halus sebab saat itu Siska mengikat rambutnya.

Siska bergidik. Ia merasa khawatir dengan sikap orang ini. ia kenal baik dan orang ini seperti ingin sesuatu darinya.

Lalu Siska menjauh. Ia berpikir kalau Ryan pacarnya, yang juga tunangannya, belum pernah berbuat seperti ini. Mereka pacaran pun biasa saja paling hanya cium pipi dan pegang tangan. Naluri wanitanya bangkit, namun menghadapi orang tua seperti Bujana ia harus bijaksana.

Bujanapun lalu terus mendekat kearah Siska, sambil berkata.

“Buuuu… Saya merasa suka dengan Ibu.”

Siska hanya diam.

Lalu Bujana kembali meraih tangannya dan menarik Siska ke pelukannya. Siska ingin berontak namun ia segan dan merasa serba salah. Ia biarkan Bujana memeluknya dan Bujana pun membelai rambut serta memainkan balik telinga Siska.

Karena suasana mendukung dan di rumah itu tiada cahaya listrik, ditambah hari hujan maka Siska pun terbawa hanyut dalam pelukan Bujana yang seusia dengan ayahnya.

Merasa mendapat kesempatan, Bujana tidak menyia-nyiakannya. Ia cium bibir Siska. Sebagai laki-laki berumur, ia amat berpengalaman dalam soal menaklukan wanita, apalagi wanita seperti Siska yang masih mentah dan belum berpengalaman.

Siska terbawa arus gairahnya, sebab Ryan belum pernah seperti itu terhadapnya. Dengan keliaran tangan Pak Bujana, jari Bujana berpindah kedalam blus yang dikenakan Siska. Lalu ia pilin bukit kembar itu.

Siska terhengak. Badannya panas dingin merasakan sensasi itu. Sementara mulut Pak Bujana terus menempel di bibir Siska dan turun ke leher jenjangnya. Meskipun hari hujan dengan derasnya di luar namun badan Siska mengeluarkan keringat.

Lalu Pak Bujana menghentikan aksinya dan terlihat wajah Siska memerah menahan gejolak nafsu sekaligus juga perasaan malu. Ia tahu Siska ingin permainan dilanjutkan namun Bujana ingin sesuatunya aman.

Ia angkat Siska ke kamar yang cukup bersih di rumah kayu itu. Di dalam kamar itu Bujana membaringkan Siska lalu ia berjalan ke luar untuk mengunci pintu rumah serta pintu kamar dari dalam. Siska tergolek di ranjang besi model tempo dulu yang ada di kamar itu sambil menunggu Pak Bujana kembali.

Lalu Pak Bujana kembali memulai aksinya dengan membuka kancing baju Siska. Baju itu ia lepaskan dan terbukalah tubuh bagian atas Siska. Siska hanya mendesis dan memicingkan matanya. Ia merasa malu dan jengah. Setelah baju itu terbuka, terpampanglah sepasang dada putih mulus tertutup BH bermerk Wacoal. Siska memang anak orang kaya yang amat memperhatikan pakaian dalamnya.

Pak Bujana lalu bergerak kebelakang tubuh Siska dan menciumi tengkuk yang ditumbuhi rambut halus itu, lalu turun ke bahu dan leher Siska. Siska hanya merem melek merasakan rangsangan yang mulai naik keubun-ubunnya.

Lalu tangan Bujana yang telah keriput itu, membuka pengait BH berwarna pink itu sehingga terlihatlah dua bukit salju yang puncaknya kemerahan. Pak Bujana yang melihat itu, tau bahwa puting dada Siska belum terjamah tangan laki-laki. Ia tau bahwa ada hentakan dari tubuh Siska saat ia putar puting dada saat itu. Putingnya pun masih kecil dan dengan bernafsu Pak Bujana lalu meremas dan memilin kedua bukit kembar yang ukurannya segenggam tangannya.

Siska hanya melenguh dan keringat mulai membasahi tubuhnya yang putih mulus itu. Kepalanya bergerak ke kiri ke kanan menahan geli dan nafsu. Dengan mulutnya Pak Bujana lalu menjilat puting dada Siska lalu menggigitnya dengan penuh perasaan, membuat dada yang putih itu menjadi merah dan lalu jilatan Pak Bujana turun ke arah perut Siska.

Langkahnya terhalang oleh celana Siska. Dengan tangannya, Pak Bujana menurunkan celana 3/4
itu ke lutut Siska dan lalu ia masuki goa vagina Siska dengan jari tangannya. Di sana ia menemukan hutan yang perawan dan terlindung, lalu ia menemukan goa yang mulai basah. Jari tangan Bujana memasuki goa terlarang itu dan memilin daging kecil yang ada di sela dinding goa Siska.

Siska terperanjat. Buru-buru ia tarik tangan Pak Bujana.

“Jangan, Pak. Sudahlah… Pakk… Yang itu jangan… mohon saya, Pak..” pinta Siska kepada Pak Bujana.

“Itu bukan buat Bapak… cukup, Pak? Saya akan menikah 3 bulan lagi,” kata Siska.

Pak Bujana menghentikan aksinya. Dengan wajah menahan nafsu, ia pandangi Siska. Ia tahu juga bahwa Siska pun sedang menikmati aksinya tadi. Ada bayangan kecewa dari mata Siska, namun Pak Bujana mengerti, bahwa memang sebagai seorang perawan Siska adalah seorang gadis baik-baik. Wajarlah kalau keperawanannya ingin ia persembahkan kepada suaminya kelak yaitu Ryan.

“Bapak… kan sudah mendapatkan apa yang Bapak inginkan. Maaf, Pak… Mungkin Bapak kecewa…” kata Siska.

“Pak.. sampai saat ini pun Bang Ryan, calon suami saya, belum pernah mencium bibir apalagi sampai telanjang seperti ini.. Hanya Bapaklah yang mampu membuat saya bisa sampai seperti saat ini. Maafkan saya, Pak.”

Pak Bujana diam, ia merasa Siska benar, namun ia ingin sekali menuntaskan gelora birahinya… Maka sekali lagi ia peluk Siska yang saat itu bertelanjang dada.

Lalu Pak Bujana meraih bibir Siska dan menciuminya Siska diam saja. Ia tahu Pak Bujana pasti kecewa, ia biarkan saya Pak Bujana kembali bertindak seperti tadi.

Lalu lidah Pak Bujana kembali bermain di rongga mulut Siska dan tangannya meraih dada Siska. Siska membiarkannya. Ia tidak ingin mengecewakan orang tua itu. Lalu aksi Pak Bujana kembali mulai dengan memilin buah dada Siska hingga Siska mau tidak mau bangkit nafsunya. Bujana ingin sekali merenggut kegadisan dokter cantik ini, apapun resikonya. Ia telah setengah jalan.

Lalu Siska kembali ia rebahkan ke kasur itu. Pak Bujana pun membuka busananya. Lalu ia buka kemejanya juga celana panjangnya sehingga Bujana hanya memakai celana dalam saja. Dada Bujana penuh bulu dan wajah Bujana yang keras itu menampakan keinginan yang besar untuk memerawani Siska. Belum pernah ia ditolak oleh wanita. Siska anak kemarin sore harus takluk kepadanya. Itulah prinsipnya.

Lalu ia buka celana 3/4 Siska sampai terlihat CD hijau muda bermerk sama dengan BH-nya. Masih terpasang CD itu, jari Pak Bujana meletakkan jari tangannya di belahan bibir vagina Siska. lalu dari samping CD itu ia masuki goa itu dengan jarinya.

Siska berkali kali merasa lonjakan pada dirinya tanda nafsunya menaik. Pak Bujana tahu, Siska mulai tak sadar akan tindakannya. Lalu CD itu ia turunkan dari selangkangan Siska.

Dengan sebelah tangannya, Bujana membelai bibir vagina dan memainkan klitoris Siska. Siska histeris. Lalu kepala Pak Bujana turun diantara paha Siska dan menjilat kelintit yang telah memerah itu. Inilah yang membuat Siska terpejam matanya dan kakinya menghentak hentak kegelian.

Ada sedikit malu pada dirinya saat itu. Namun rasa itu hilang dengan gelora birahinya. Pak Bujana tahu itulah saat-saat seorang gadis ingin merasakan sorga dunia. Pengalamannya telah biasa seperti itu.

Tidak berapa lama kemudian Siska memuncratkan air maninya keluar sedangkan saat itu lidah Pak Bujana sedang ada di bibir vaginanya. Siska orgasme dan lemaslah seluruh tubuhnya.

Lalu Pak Bujana kembali memilin dada dan bibir vagina Siska. Siskapun tidak mengerti ia hanya pasrah padahal saat itu ia telah melarang Pak Bujana menjamah kemaluannya.

Setelah yakin Siska mulai naik nafsunya, Pak Bujana melihat Siska terpejam dan kakinya menghentak-hentak, maka ia buka CD-nya, sehingga tersembullah sebatang kontol Pak Bujana yang meskipun tampak hitam namun telah 3 orang wanita ia perawani. Penis Pak Bujana tegak perkasa ingin memasuki goa terlarang milik Siska.

Siska merinding melihat panjang dan besarnya penis Pak Bujana yang tegak saat itu. Seumurnya baru kali ini ia melihat yang sebesar itu. Saat ia kuliah dulu ia hanya melihat vital pria yang telah mati dan tidak membuatnya takut.

Perlahan tangan Pak Bujana membuka paha Siska namun Siska merapatkan pahanya. Sebagai perawan ia merasa harus mempertahankannya. Berulang-ulang Pak Bujana berusaha membuka paha Siska. Ia ciumi betis dan jari Siska. Itu pernah ia lakukan saat ia melakukan hubungan seks dengan istrinya saat malam pertama dulu. Ia tahu Siska akan menyerah.

Memang tindakannya itu membuat kedua paha Siska terkuak dan terbuka sehingga tampaklah lobang yang basah dan rapat.

Tangan Pak Bujana mengelus elus paha yang putih itu dengan hati-hati. setelah paha Siska sempurna terbuka lalu ia angkat kedua kaki Siska ke bahunya. Lalu ia ganjal pinggul Siska dengan bantal. Ia berharap penisnya akan lancar saja masuk ke vagina Siska. setelah itu, ia arahkan kepala penisnya.

Siska memejamkan matanya, tidak berani menatap aksi Pak Bujana. Berulang-ulang Bujana mencoba namun terus gagal. Siska pun telah bersimbah keringat sehingga kulitnya jadi mengkilat, ditindih tubuh hitam yang juga berkeringat.

Lalu Pak Bujana membuka kaki Siska agak melebar dan paslah kepala penisnya memasuki dinding perawan itu. Lalu ia raih tangan Siska dan ia pegang keduanya sedang kontolnya telah mulai masuk.

“Aduhhhhhh….. Saaaakitttt, sakitttt… Pakkkk…” jerit Siska.

Bujana menghentikan goyangannya… Ia sadar itulah saat selaput dara Siska robek dan ia lalu perlahan mendorongkan masuk seluruhnya…

“Aduuuukhhhhhhhhh…. Ugghhhhhh…. Ampun, Pak….” jerit Siska.

Lalu Pak Bujana mengulum bibir Siska dengan mulutnya sehingga jeritan Siska tidak membuat pecah konsentrasinya. titik air mata menetes di mata Siska… Ia menangisi…. telah tidak gadis lagi dan kegadisannya direnggut orang lain. Bukan pacarnya.

Lalu… air mata Siska telah bercampur dengan keringat pada wajah dan badannya. Sedang saat itu di luar rumah sedang hujan deras seakan tidak mau kalah dengan kedua makhluk dalam kamar itu.

Berkali-kali Bujana memajumundurkan penisnya keluar masuk lobang yang masih perawan itu. Hal biasa baginya seorang gadis menangisi saat ia diperawani. Memang awalnya sakit namun setelah agak lama hubungan kelamin itu semakin nikmat rasanya. Itu dirasakan Siska. Ia memang masih mentah dalam hubungan seks. Ia pun menuruti gerakan Bujana.

Lalu setelah beberapa menit kemudian Bujana memuntahkan spermanya di dalam vagina Siska. Siska pun dari tadi telah beberapa kali orgasme. Lalu Pak Bujana menghentikan gerakannya dan tetap membiarkan penisnya tertanam di dalam lobang kemaluan Siska. Ia tertidur. Siska pun merasa letih dan nyilu pada selangkangannya.

Malam itu Pak Bujana melihat adanya noda darah pada paha dan seprei yang telah kusut karena permaianannya tadi. Menjelang subuh Pak Bujana kembali mengulang permainan ranjang itu. Siska pun seolah mulai mengerti dan tau caranya.

Malam itu sempat terjadi 3 kali permainan habis-habisan. Seolah dunia milik mereka. Sedang Siska mulai lupa dengan Ryan.

Siska terjebak oleh nafsu Bujana dan iapun setia melayani Bujana, baik saat bertugas atau sedang libur.

Bujana pun berkeinginan menjadikan Siska sebagai istrinya. inilah yang membuat Siska sedih, orangtuanya pasti marah dan Ryan akan memusuhinya. Namun akhirnya ia bertekad akan membatalkan pertunangan dengan Ryan. Ia pun ingin hidup di dusun itu dengan Bujana yang ia rasakan amat perkasa. Sebab bagaimanapun bagi Siska, kegadisannya telah direnggut Pak Bujana maka Pak Bujanalah yang bertanggung jawab.

Siska setiap bulan masih selalu pulang ke rumah orang tuanya di kota. Setelah kembali dari kota, ia telah ditunggu oleh Pak Bujana yang akan memberinya sejuta kenikmatan ranjang.

Meskipun umurnya telah tua, Pak Bujana selalu memiliki stamina yang yahud dalam hubungan seks. Sebagai seorang kepala suku di pedalaman itu, ia mengetahui resep untuk tetap kuat.

Siska pun dengan rela meninggalkan kemewahan yang ia miliki dengan kekasih dan orang tuanya. Sebaliknya ia memlih hidup dengan Pak Bujana di desa yang masih terbelakang itu untuk dijadikan sebagai istri ketujuhnya.

TAMAT

Dompet Om Bule

Tidak biasanya bis kota pulang kandang lebih awal. Kalau biasanya jam 7 malam masih beroperasi, hari ini, sudah sejam sejak aku keluar dari kantorku di Jl. KHA Dahlan, bis yang kutunggu tak kunjung juga datang. Mungkin imbas dari maraknya demo, yang memacetkan kompleks Kantor Pos, yang kebetulan menjadi sentra setiap demo, sekecil apapun itu. Padahal hari itu juga aku ada acara mujahadahan di Pondok Krapyak, dan kebetulan aku sie acaranya. Segala rasa berkecamuk, demi membayangkan betapa bingungnya teman-teman panitia. Sedangkan handphone andalanku, sudah ngedrop baterenya sejak jam 3 sore tadi, biasa, karena memang hari Sabtu tidak begitu banyak yang harus kukerjakan di kantor, sehingga hiburan alternatife yaa, main game HP.

Becak. Yah, tiba-tiba pikiran itu datang, ketika di depanku, becak sedang menurunkan penumpang. Persis di depan Radio Arma Sebelas, tempat kumenunggu bis. Entah kenapa, padahal kalau dalam keadaan biasa, tidak mungkin aku memakai jasa becak, yang tentunya, akan menghabiskan gaji sehariku, atau bahkan lebih, karena pondok Krapyak memang jauh dari Malioboro. Biasanya aku akan menelephone teman suruh menjemput dan mengganti uang bensinnya, meski tidak jarang ditolak uang itu.

“Silahkan!”, kata yang logatnya tidak pas dilafadzkan oleh yang empunya suara, karena memang penumpang itu bule.

“Terima kasih”, dengan senyum kubalas keramahan yang ditawarkannya. Tanpa banyak basa-basi, kupinta abang becak menggenjot becaknya. Sempat kutoleh bule itu, hmm, masih memandangku, aneh. Dari aku mencoba transaksi becak, tidak lama setelah dia turun, pandangannya aneh. Ah, sudahlah, pikirku, karena kemudian aku disibukkan dengan pikiranku ke acara mujahadahan, selama dalam perjalanan.

Sesampainya di kosku yang dekat pondok, tergesa kuraih dompet, kuberi ongkos pada abang becak. Ada yang aneh, tapi aku sendiri tidak tahu apa. Aku mandi, dan ke pondok. Urusan makan nanti, pikirku. Setelah acara setengah jalan, rasa lapar menterorku. Karena tragedi yang kualami sorenya, maka tugasku sudah dialihkan pada teman lain. Ah, aku bisa santai. Aku bisa bebas keluar nyari makan, pikirku.

Tersentak aku, ketika kubuka dompet saat mau membayar. Dompet itu tebal, banyak isinya, dengan berbagai kartu identitas, kartu kredit. Ah, bayanganku langsung ke sosok bule sore itu. Oh, mungkin aku tadi juga bayar becak pake duit di dompet ini, gumanku. Mungkinkah jatuh di jok becak itu, dan tanpa sadar aku mengambilnya?. Rasa bersalah berkecamuk. Rasa kasihan, terlebih. Aku yakin bapak itu bergantung banyak dengan dompet ini. Aku lihat isinya lebih teliti. Hmmm, dia nginap di Natour Garuda. Yup, aku harus memberi tahu, kalau dompetnya aman, di tanganku.

“Bisa disambungkan dengan Mr. Daniel Smith?”, pintaku kepada pihak hotel. “Sangat penting!”, sambungku.

“Dompet yaa?”, suara di seberang menyahut. Bayangan kebingunan bule itu menghantuiku. Kalau saja terjadi padaku, wuihh, aku tidak tahu lagi. Di negeri orang tanpa identitas, tanpa apapun.

“Selamat malam, di sini Smith!”, suara itu membuyarkan kengerianku.

“Bisa bahasa Indonesia?”, suara pertamaku.

“Tidak begitu lancar”, jawab bule itu. Nampak benar kebinaran di suaranya.

“Aku yang tadi sore anda sapa, ketika turun dari becak. Kuharap Mister masih ingat”, kuterdiam sesaat.

“Yaa, yaa. Hmmm”. Jawaban di seberang menyakinkanku kalau bule itu sudah ingat aku.

Aku bercerita panjang lebar. Sampai aku harus ganti beberapa uang yang tanpa sengaja aku pakai. Sesekali kami terlibat dalam tawa yang familiar.

“Ok, aku ke sana malam ini! Tunggu di seberang jalan yaa!, soalnya aku tidak biasa masuk hotel besar. Gagap”, pintaku dan disetujui olehnya.

Dengan motor pinjaman, kupacu cepat. Kuperlambat, ketika sudah mendekati Hotel. Ahhh, itu dia. Aku masih ingat sosok itu. Sigap, umur 53-an 179, 67, tidak begitu jangkung untuk ukuran dia.

“Ini, coba periksa isinya!”, masih di atas motor, aku menyerahkan dompet itu.

“Yup, persis”, senyum itu kembali mendesirkan hatiku. Aneh.

“Ok, aku balik dulu yaa!”, sambil kustarter motorku.

“Tunggu!, siapa namamu?, aku harus beri sesuatu ke kamu, aku harus ngobrol banyak ke kamu… “, berondongan kata-kata itu, mematikan motorku lagi.

“Hafiedz. Namaku Hafiedz. Tidak usah!, anda tidak harus memberi apapun ke aku!, tapi kalau mau ngobrol, aku bisa”.

“Deal. Di mana? Kamarku? Di resto? Tempatmu?”, demi melihat rasa berterima kasihnya justru aku jadi kikuk.

“Ke kosku tidak mungkin. Hmmm, ok ke kamar anda saja, tapi janji, nanti aku diantar, sampai sini lagi. Aku gagap”, keluguanku justru mendatangkan tawa renyahnya. Ah, tawa itu, kembali mendesirkanku. Aneh.

“Terima kasih”, uluran tangannya kusambut, sesaat setelah kami sampai di kamarnya. Aku ditariknya, didekap erat. Diciuminya keningku berkali-kali. Bahkan sesekali ciuman itu mendarat di pipiku. Aku tersentak, kaget, kejadian itu demikian cepatnya, karena belum sempat aku duduk, untuk bersiap ngobrol. Aku berontak, mencoba melepaskannya. Ingin kuteriak, tapi mulutku didekapnya.

“Tenang! Tenang!, aku tidak bermaksud jahat”, kulihat di wajah itu ketakutan, rasa bersalah, dan berbagai rasa, aku yakin berkecamuk. Aku masih belum bisa berteriak, Karena mulutku masih di sumbatnya.

“Maafkan, aku. Jangan teriak, aku tidak jahat. Aku hanya ingin berterima kasih atas kebaikan yang kau berikan. Dan mungkin caraku salah buatmu”, berkali wajah itu mencoba menyakinkanku. Aku mengangguk, tanda setuju. Perlahan tangannya di lepaskan dari mulutku.

“Maafkan aku. Aku begitu excited, atas apa yang terjadi hari ini. Kau begitu baik”, berkali-kali kata maaf itu terlontar dari mulutnya.

“OK, aku mengerti. Kalau ngomong dulu, mungkin akan lain”, aku mencoba menetralkan suasana.

“Benar?. Jadi sekarang aku boleh memelukmu, menciummu, untuk sekedar mengucapkan terima kasihku, mencoba menyambutmu sebagai bagian dari hidupku?”, pintanya penuh semangat.

“Tidak. Tidak harus begitu. Cukup dengan kata-kata saja”, sambungku cepat.

“Oh, .. Please. Sekali saja. Kau orang baik pertama yang pernah kutemukan di negeri ini. Please!”, rengekan itu seolah menghilangkan kesan bahwa dia sudah 53 tahun.

“Ok. Sekali saja!”, akhirnya aku tidak kuat juga melihat wajah itu.

Masih berdiri, dia dekap erat tubuhku. Dielusnya rambutku berkali, dicium kembali keningku, tapi kini berbeda, ada perasaan aneh hinggap di dadaku. Rasa haus figure seorang ayah yang sejak lahir tidak pernah kurasakan, hadir. Aku, mulai membalas dekapannya. Rasa sayangnya, elusan lembutnya, bisikan syahdunya, membangkitkan imaginasiku. Aku terhanyut. Aku mulai merasakan kehangatan asing yang selama ini aku impikan. Kesadaranku melayang, sehingga ciuman yang kemudian mendarat dibibirku, kubalas, tidak kalah lembutnya. Kurasakan ada yang menusuk nusuk di daerah sensitifku, tapi aku tidak pedulikan.

Air mataku meleleh. Bahagia?, entahlah. Rindukan sayang seorang ayah? Rindu sosok kakak?, atau aku merasa menemukan sosok yang bisa mengisi keseharianku yang sebatang kara?. Air mata itu semakin deras, membasahi wajahnya. Dia tersentak.

“Maaf, maafkan aku”, kembali dia merasa bersalah atas air mataku yang tidak bisa kubendung.

“Tidak apa-apa. Mister. Aku bahagia. Aku serasa menemukan sosok yang telah lama kurindukan. Justru aku yang harus minta maaf, telah melibatkan hatiku”.

“Tidak apa-apa, teman. Tidak apa-apa. Kau bisa memperlakukan aku sesukamu. Aku siap, selalu siap”, bisikan dibelakang telingan itu kembali melambungkanku. Apalagi elusan syahdunya.

Dia semakin gencar menyerangku, kami terjatuh di lantai. Ciuman mesranya berubah menjadi sangar. Tapi anehnya aku justru mengimbanginya. Bahkan, kurasakan bukan lagi rasa sayang, tapi gairah. Birahi, dan terangsang ketika aku melihat bf, kini kurasakan. Apalagi kemudian dengan cekatan dia membuka bajuku. Putingku yang tidak seberapa dipermainkan. Dijilatinya habis, aku mulai mengerang, seirama dengan irama kulumannya, gigitannya. Tangannya, meraih barang yang selama ini tidak pernah dijamah kecuali olehku. Aku terhenyak, tetapi birahi telah mengalahkanku. Dia semakin nekat melambungkan gairahku.

Bahkan ketika dia membuka paksa celanaku, kubiarkan. Tidak berapa lama aku telah telanjang bulat. Penisku yang tegak setegak tegaknya dipermainkan dengan tangannya. Desahan suaranya ketika berkali mencoba mempermainkan penisku, terasa membangkitkan sesuatu yang benar-benar asing. Keterkejutanku memuncak manakala, tiba-tiba dijilatinya penisku, bak es krim rasa vanilla kesukaan cewekku. Aku mengerang, mendesis. Tapi justru semakin membuat dia kesetanan. Dia buka sendiri bajunya, kulihat penisnya telah memerah, keras dan tegak. Dan tentunya besar. Dan kini sama-sama telanjang. Aku tidak habis pikir, tapi tetap saja semakin tertarik untuk mengikuti permainannya gilanya.

Aku dipapahnya ke kasur. Dijilatinya anusku, lama. Bahkan aku sendiri jijik membayangkannya. Tapi birahi yang memuncak, telah mengalahkan logikaku. Fantasiku semakin melayang. Rasa nikmat naik ke ubun-ubun. Aku semakin mengerang. Bahkan kini, aku sendiri yang memapah mulutnya agar mengulum penisku. Dengan sigap disambarnya penisku. Aku semakin memuncak. Keinginnan untuk merasakan seberapa nikmat penis ini dikulum, terlaksanan sudah, meski bukan dengan cewekku. Kujambak rambutnya, kubenamkan, seirama kenikmatan yang tersendat mengalir ke ubun-ubun.

Sempat kulirik, betapa wajah bule itu begitu menikmati permainan, yang bagiku merupakan pengalaman pertama. Tangannya berkali meremas putingku yang tidak seberapa besar. Sedang tangan satunya, memainkan penisnya yang tidak kalah tegangnya.

Kenikmatan yang bertubi, pada akhirnya tidak bisa kubendung. Pada cabutan mulut terakhirnya, kutekan erat kepalanya. Ada yang menyentak ingin keluar dari penisku. Dan diraungan terakhirku, kusemburkan dengan kuat maniku di mulutnya,

“Oughhh… Oughhh…”, pengalaman pertama membuatku terasa melayang di negeri penuh kenikmatan. Sesuatu yang muncrat dari penisku telah membawaku ke pengalam asing yang sungguh tidak terkira nikmatnya.

Dia semakin merancap penisnya. Aku terpejam kenikmatan. Aku tahu, inilah kali pertama maniku muncrat banyak, dan kental. Namun aku tidak pernah tahu seberapa banyak dan kentalnya, karena mulut itu masih mengulum penisku, bahkan, di telannya tak bersisa. Dan djilatinya sisa sisa maniku. Di akhir kenikmatanku, kurasakan sesuatu menyembur penisku.

“Oughhh… Oughhh,”, demikian desisnya, ketika penisnya juga memancarkan maninya persis ke penisku.

Dia tersenyum. Mendekapku erat, bertubi menciumiku. Kami sama-sama kelelahan. Lama kami masih saling berpagutan ganas, meski nafsu itu tidak lagi berkobar.

“Maafkan aku Mister”, rintihanku, membuyarkan dekapan itu.

“Maaf untuk apa?”, dia kaget.

“Aku telah menjadikan Mister…, uihh. Maafkan aku Mister”. Aku hanya bisa sesenggukan.

“Tidak apa-apa. Bahkan kalau kau menginginkan lagi, aku selalu siap”, wajah itu kembali berbinar, kembali aku diciumnya mesra.

Dan sejak hari itu, aku seolah menemukan kehidupanku yang 180 derajat berbalik. Mister, telah menjadi malaikatku. Aku dibelikannya motor, sebagai tanda terima kasih. Meski aku menolak pada awalnya, namun dia tidak mau ditolak, untuk sekedar memberiku ucapan terima kasih, entah untuk apa. Bahkan, kalau mau aku mau diajak ke negerinya, untuk diperkerjakan di perusahaan bapaknya. Tapi aku tahu diri, bahwa akan lebih baik mengawali sesuatu di negeri sendiri.

Dan kini, 6 tahun sesudah hari itu, motor dengan plat AB 2311 LG, masih terawat baik. Yah, 23 November, kami jadikan nomor plat motor yang dibelikannya. Bahkan, akhirnya rumah berlantai dua, bercat biru, warna kesukaannya, masih asri terawat di kawasan Kota Baru. Dan dia masih sering mengunjungi rumah pemberiannya. Datang, menjenguk aku dan istriku. Anakku yang dianggapnya cucunya sendiri, dan tentunya, memberikan pengalaman lain kepadaku, yang entah sampai kapan berakhir, karena ternyata aku juga sangat menikmatinya.

E N D

Pensiunan VS. Binaraga

Oke, pada kesempatan ini aku akan menceritakan pengalamanku dalam sosokku yang sekarang ini. Cerita-cerita sebelumnya merupakan kejadian saat aku SMA atau saat aku masih tentara. Sedangkan aku yang sekarang ini sudah bergelut di bidang wiraswasta dengan berbisnis kecil-kecilan dan telah memiliki rumah dan kendaraan sendiri walaupun tidak terlalu mewah. Aku yang sekarang sudah mulai bisa menerima gay-nya aku sehingga sudah tidak pantang ngesex lagi dengan sesama cowok yang kusenangi tentunya selama cowoknya mau, tidak banyak menuntut dan tidak terikat komitmen atau kusebut istilah temanan plus :). Gimana ceritanya? Begini..

*****

Kejadian ini terjadi kira-kira setahun yang lalu, tepatnya di tempat fitness yang kukunjungi secara rutin untuk memelihara kondisi tubuhku. O ya, sebagai informasi buat anda yang ingin gay sex, jika anda ingin mencari pasangan maka tempat fitness atau gym merupakan tempat dengan kans yang tinggi. Kenapa demikian? Soalnya gym merupakan tempat berkumpulnya orang-orang (cowok tentunya) yang suka/menginginkan tubuh seksi proporsional sehingga kemungkinannya besar sekali diantara mereka yang gay dan dapat diajak berhubungan jika dengan pendekatan yang tepat. So.. rajin-rajinlah fitness karena selain membuatmu seksi juga akan dapat pasangan kencan ;). Aku berani bilang ini karena kebanyakan ‘teman plus’ ku didapat di sana.

OK, kembali ke cerita ini. Saat itu di gym aku sudah menukar pakaianku dengan kaos tanpa lengan dan celana boxer. Saat sedang melakukan pemanasan aku melihat ada seorang cowok yang badannya gede yang sedang asyik mengangkat barbel. Ia bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek saja. Otot-otot lengan dan dadanya menggelembung besar setiap ia mengangkat barbelnya. Kalau ditaksir-taksir boleh dibilang hanya selisih sedikit dengan Ade Rai yang sering kulihat di TV itu. Kulitnya putih bersih dengan rambut cepak. Wajahnya ganteng dengan alis yang tebal.

“Wah, ada orang baru nih..”, batinku saat itu karena aku sama sekali belum pernah melihatnya di gym itu.
Saat itu aku cuma sedikit berdebar saja dan kontolku juga hanya berdenyut sebentar lalu normal lagi soalnya aku dapat mengendalikannya. Aku dapat melakukannya karena dia sama sekali bukan tipe yang bisa membuatku ‘liar’ dan ereksi habis. Tipe yang bisa membuatku demikian adalah cowok dengan tipe body tidak berselisih jauh denganku yaitu yang memiliki otot bak binaragawan namun gedenya harus seperti perenang atau yang kusebut sebagai body tipe kombinasi perenang-binaragawan.

Aku mulai cuek lagi dan mengambil barbel yang ada lalu berbaring di bangku dan mulai melakukan ‘bench press’. Setelah melakukannya sebanyak 2 set aku melakukan sit-up dan ‘crunch’. Latihan yang kusebutkan tadi merupakan favoritku karena membentuk otot yang juga menjadi favoritku :).

Setelah itu berturut-turut aku melatih otot pahaku lalu otot punggung dengan menggunakan peralatan yang ada, lalu push up dan banyak lagi gerakan lainnya. Suatu ketika secara tidak sengaja aku melihat kalau cowok yang kuceritakan tadi sedang memperhatikanku. Saat itu dia sedang berada di atas treadmill. Dia kelihatan agak salah tingkah dan cepat-cepat mengalihkan perhatiannya dariku. Mungkin takut ketahuan, ia lalu pindah agak jauh mengambil dumbbell. Dari feelingku yang sudah tajam :) aku merasa kalau dia pasti gay.
“Wah.. Kayaknya dia gay nih..”, aku tersenyum di dalam hati lalu pura-pura tidak tahu, cuek dan terus melanjutkan latihanku.

Tiba-tiba saja terlintas dibenakku untuk menjadikannya sebagai ‘teman plus’ ku.

“Kayaknya asyik nih.. mencoba body segede itu”, batinku saat itu.

Memang aku belum pernah melakukan gay sex dengan cowok berbody sebesar itu, karena biasanya aku selalu mencari tipe yang minimal mendekati syarat-syarat ideal yang kusebutkan tadi.

Singkat cerita, mulailah aku melancarkan jurus-jurus ‘menebar pesona’. Jurus pertama aku mulai menanggalkan kaosku sambil pura-pura mengelap keringat yang membasahi wajahku sekedar memamerkan otot-otot tubuhku. Saat itu dari ekor mataku aku tahu kalau dia diam-diam selalu curi pandang. Ibaratnya lagu Naif, dianya selalu curi ke kiri.. curi ke kanan.. :) heh.. heeh.. heh.. Sorry, just joking. Hope u don’t mind ;). Jurus kedua aku tidak memakai kembali kaosku dan mulai latihan angkat beban lagi. Dari ekor mataku kulihat kalau dia mulai gelisah dan.. ia lalu pindah lagi ke treadmill. Mungkin agar lebih leluasa mencuri pandang ke arahku.

Sialnya, rupanya pertunjukanku tidak hanya disaksikan oleh cowok gede yang kutaksir tadi. Ada cowok lain yang memandangku secara terang-terangan dengan mata buas bernafsu. Bodynya yang agak kurus karena sepertinya ia baru saja menjadi anggota di gym itu. Aku baru beberapa kali melihatnya di sana dan juga bukan pertama kalinya dia melihatku dengan penuh nafsu. Aku jadi geram dan mendelik memperlihatkan ketidaksenanganku. Rupanya ia agak takut juga dan buru-buru menjauh dari sana.

Pembaca sekalian, sorry ya, aku sama sekali bukan memandang hina dirinya atau merasa diriku lebih perfect dibanding cowok krempeng tadi. Ketidaksenanganku lebih disebabkan oleh pandangan matanya yang menjilat-jilat yang membuatku seolah-olah dilecehkan. Ceritanya akan lain kalau si krempeng tadi melihatku dengan cara lebih ‘sopan’. Aku pribadi selalu berprinsip untuk tidak melakukan sesuatu yang berbau ‘nafsu sex’ pada orang lain yang tidak mau/tidak menginginkannya. Kalau aku melakukannya berarti aku telah melakukan pelecehan sex and that’s bad..

Kembali ke cerita, untung aksiku mendelik marah tidak diketahui oleh cowok gede yang menjadi targetku karena posisi dia dan cowok krempeng tadi berseberangan. Tibalah saatnya aku melancarkan jurus mautku sambil berharap.. :) Saat itu aku masih rebah di bangku sambil melakukan ‘bench press’. Tiba-tiba saja aku pura-pura kesulitan mengangkat barbell yang ada di atas dadaku. Melihat itu cowok gede tadi cepat-cepat menghampiri dan membantuku mengangkat barbell dan meletakkannya di penyangganya.

“Kena.. deh”, batinku saat itu.

“Thanks ya.. Untung kamu membantuku, soalnya tadi tiba-tiba saja merasa lemas gitu”, aku berkata sambil menebar senyum padanya.

“Never mind. Latihan ini memang membutuhkan sparing partner disampingmu hingga dapat membantumu sewaktu-waktu. Kenapa tidak mencari satu saja?”, kata cowok gede itu sopan.

“Wah, ide yang bagus juga. Namaku Bobby”, aku berkata sambil mengulurkan tanganku.

“Aku Roy”, Ia menjabat tanganku dengan genggaman yang mantap.

Dari dekat baru kelihatan kalau cowok ini ternyata OK juga. Wajahnya bersih kelimis dan cukup simpatik. Otot-otot tubuhnya yang gede menyembul disana-sini dan mengkilat karena basah oleh keringatnya. Jantungku mulai berdebur lagi yang segera kukendalikan.

Dari obrolanku selanjutnya dengan Roy kuketahui kalau ternyata Roy asalnya tinggal di Jakarta. Dia adalah famili dari pemilik gym ini. Kebetulan saja dia sedang liburan ke Pekanbaru. Roy masih cukup muda. Umurnya saat itu cuma 24 tahun dan masih mahasiswa. Dia adalah salah seorang atlet binaraga dan pernah mengikuti beberapa kejuaraan binaraga di Jakarta dan walau bukan juara pertama ia pernah menjadi juara favorit.

Roy tampak ‘excited’ saat mengetahui kalau aku adalah bekas tentara. Roy sangat fleksibel orangnya khas orang kota besar hingga obrolan kami terasa makin akrab yang diselingi canda tawa. Yang kusuka dari Roy adalah suara tawanya yang menurutku sangat seksi. Saat itu sikapku masih biasa saja, tidak menunjukkan kalau aku mulai nafsu dengannya. Akhirnya aku mengakhiri obrolan kami dan sebelum pulang aku meninggalkan alamat dan nomor HP-ku padanya.

“Malam ini boleh ke rumahmu nih..”, kata Roy dengan penuh senyum.

“Boleh-boleh saja. Malam ini aku juga tidak kemana-mana kok. Aku juga ingin tahu lebih banyak tentang kejuaraan binaraga yang kamu ikuti”, kataku dan diam-diam hatiku girang sekali.

“Wah.. kebetulan nih, aku membawa foto-foto saat kejuaraan. Nanti sekalian kubawakan”, kata Roy dengan antusias.

“OK, that’s a deal. See you later”.

Aku lalu beranjak keluar dari gym untuk segera pulang dan ‘mempersiapkan’ malam itu ;).

*******

Suara mobil terdengar memasuki halaman rumahku.

“Ting tong..”. Bel rumahku berbunyi tak lama kemudian saat jam menunjukkan lebih kurang pukul 8.30 malam.

Dari lubang pintu kelihatan rupanya Roy yang datang.

“Silakan masuk, susah ya mencari rumahku?”, aku membuka pintu sambil mempersilahkannya masuk ke dalam.

“Sulit juga sih, soalnya aku kan cukup asing dengan Pekanbaru. Untung aku bertanya di sepanjang jalan hingga tidak kesasar”, Roy berkata sambil masuk. Tercium wangi parfumnya yang maskulin saat ia melintas di depanku.

Wah, tidak mengganggu nih”, kata Roy lagi sambil matanya menyapu seisi rumahku.

“Ah.. Nggak, soalnya aku tinggal sendirian. Jadi tenang aja”, kataku lagi.

Malam itu penampilan Roy menurutku cukup seksi dengan memakai jeans ketat yang dipadukan dengan kaos playboy ketat yang lagi ngetrend saat itu. Bodynya yang penuh sesak dengan otot yang gede-gede itu tercetak jelas di kaosnya.

“Nah silakan kalau mau duduk atau apa aja. Anggap aja seperti rumah sendiri”.

“Nih.. foto-foto yang kujanjikan”, kata Roy menghempaskan diri ke sofa sambil menyerahkan sebuah album foto.

“Minuman dan makanan ringannya ada di kulkas belakang sana. Ambil saja sendiri. Jangan malu-malu ya”, kataku sambil menerima album foto itu.

“Oke deh..”. Roy segera berlalu ke belakang.

Saat Roy kembali aku sedang asyik membolak-balik album fotonya. Makin dilihat ternyata body gede seperti Roy itu ternyata menarik juga.

“Gimana.. Apa pendapatmu tentang diriku jika dibandingkan dengan peserta lain yang ada?”, tanya Roy ingin tahu.

“Ehm.. Bagiku kamu kelihatan paling OK kok”, aku berkata sejujurnya karena memang itu yang kurasakan.

“Sungguh?”, mata Roy kelihatan agak berbinar.

“Sungguh. Kalau kejuaraannya diadakan di Pekanbaru aku pasti akan hadir menjadi pendukungmu”, kataku sambil menatapnya.

“Thanks ya..”. Roy kelihatannya sangat senang sekali mendengar ucapanku.

“O ya.. Bolehkan aku melihat foto-fotomu saat masih tentara?”, tanya Roy penuh harap.

“Boleh. Ayo ikut aku ke kamar”, jawabku singkat sambil beranjak menuju kamarku.

“Wah kamarmu luas ya? Lebih luas dari ruang tamu”, komentar Roy sambil duduk di tepian ranjangku yang berkasur empuk.

“Nih”, kataku sambil menyerahkan sebuah album foto besar.

Roy segera membolak-baliknya.

“Wah, gagah sekali..”, Roy tidak dapat menyembunyikan kekagumannya melihat foto-fotoku saat tentara dulu.

“Suka ya?”, aku mulai memberikan pertanyaan yang menjebak.

“Ya.., Oh.. Eh.. maksudku aku sangat suka dengan penampilanmu”, Roy agak salah tingkah ketika menjawab pertanyaanku.

“Sungguh? Gimana kalau sekarang aku memakai seragam tentara, kebetulan aku masih punya”, aku semakin memancingnya.

“Wah.. Sungguh nih, tentu aku sangat senang sekali. Kalau boleh aku ingin foto bersama, soalnya aku sejak lama ingin sekali foto bareng sama tentara”, Roy tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya.

Di sudut ruanganku memang ada kamera polaroid yang terpasang di atas tripod. Kamera itu memang biasa kugunakan untuk menjepret foto teman plusku dan saat itu sebenarnya sudah dalam keadaan standby karena sudah kupersiapkan sebelumnya dengan maksud untuk menjepret gambar Roy tentunya.

“Tapi aku bukan tentara lagi lho..”, kataku lagi.

“Nggak apa-apa tuh, yang penting bisa foto sama yang berseragam”. Roy kelihatannya makin ‘excited’ aja.

“Wah, ini cowok rupanya terobsesi pada tentara berseragam rupanya”, batinku saat itu.

“Kamu apa juga bawa seragam kamu?”, tanyaku kalem.

“Maksudmu?”. Roy agak terheran dengan pertanyaanku.

“Aku juga ingin sekali foto bersama binaragawan. Gimana kalau kita siapkan seragam kita masing-masing? Nanti kita foto bersama”, aku menjawab sambil membuka lemari pakaianku.

“Oke deh. Seragam binaragawan kan cuma simple aja. G-String doang juga OK. Tapi kamu punya minyak tidak?”, tanya Roy.

“Minyak? untuk apa?”, tanyaku heran.

“Lho.. katanya kita pakai seragam masing-masing. Minyak adalah salah satu seragam binaragawan lho. Untuk dioleskan ke tubuh hingga otot lebih jelas kelihatan”, jelas Roy panjang lebar.

“Yang ada cuma minyak sayur. Di dapur sana. Apa boleh?”, ia bertanya.

“Boleh jugalah. Aku ambil segera”, kata Roy sambil beranjak keluar menuju ke dapur.

“Wah, bakalan seru nih”, batinku girang saat itu.

Aku segera mengeluarkan seragam tentara lengkap dengan segala aksesorinya yang kusimpan di lemari dan mulai kupakai satu persatu. Seragam ini sebenarnya adalah buatan salah satu kenalanku yang memiliki usaha butik, sedangkan seragamku yang sebenarnya tentunya sudah tidak ada lagi. Pemilik butik itu adalah cowok gay juga. Aku mengenalnya karena kami pernah kerja sama saat aku menang tender pengadaan seragam karyawan salah satu perusahaan minyak di Riau. Aku cuma menganggapnya sebagai teman biasa karena ia bukan tipeku. Ia adalah tipe cowok ‘sissy’ yang terang-terangan sangat menyukaiku dan selalu berusaha memikatku. Tapi aku selalu cuek saja dan pura-pura bego. Seragam ini pun dibuatkannya dengan gratis. O ya, seragam ini sangat berguna sekali dan seringkali teman plusku ingin melihat penampilanku dengan seragam. Jadi cukup berguna juga untuk membakar nafsu lawan mainku hingga mereka tambah ‘buas’ dan aku yang jadi tambah ‘puas’ tentunya :). Bagi anda yang suka gay sex, walau anda bukan tentara sebaiknya boleh juga punya cadangan seragam, baik seragam tentara ataupun hanya sekedar seragam satpam. Kujamin pasti ‘berguna’ deh buatmu ;).

Aku mulai melepaskan kaosku diganti dengan kaos loreng yang dipadukan dengan seragam luar. Kemudian aku memakai aksesori lainnya. Kurapikan diriku sekali lagi di depan cermin besar kamarku. Saat aku sedang mengenakan sepatu Roy masuk dengan hanya memakai G-Stringnya saja sambil menenteng botol minyak sayuran yang biasa kugunakan untuk sekedar menggoreng makanan kecil. Penampilan Roy cukup membuat gairahku terbakar.
“Boleh tolong pakaikan minyak ini nggak?”, kata Roy sambil menyerahkan botol di tangannya.
Matanya tidak berkedip menatapku.
“Boleh. Berbaring saja di ranjang”, kataku dengan nada suara yang kubuat sewajar mungkin.
Saat itu nafasku mulai sesak oleh nasfu yang membara yang kutahan-tahan. Roy menelungkupkan badannya di ranjangku hingga punggungnya yang kekar berotot menghadapku. Aku menuangkan minyak ke tanganku dan mulai mengusapkannya ke punggung Roy. Usapanku semakin lama semakin turun hingga sampai ke daerah pantat Roy. Roy kelihatannya masih tenang-tenang saja. Aku memutar mutar telapak tanganku di bukit pantatnya beberapa saat lalu terus turun ke paha dan kaki.

“Belakang sudah OK, sekarang balikkan badanmu”, kataku setelah usapanku sampai ke mata kakinya.
Roy membalikkan tubuhnya menghadapku. Matanya kelihatan sedang menerawang entah ke mana. Aku mulai membalurkan minyak ke daerah favoritku yaitu di bagian dada dan perut. Aku sengaja memutar-mutar telapak tanganku di sekitar puting Roy seperti gerakan message. Roy kelihatan sangat menikmatinya. Matanya mulai sayu menatapku. Tanganku yang berada di dadanya juga dapat merasakan deburan jantungnya yang makin kencang. Tonjolan dibalik G-stringnya juga mulai tumbuh.

“Oh. kamu gagah sekali dengan seragammu itu”, Roy agak menggumam saat mengucapkan kata-kata itu.
“Ah, bohong tuh”, aku memasang muka tidak percaya.
“Sungguh. Aku sudah sejak lama mengimpikan teman berseragam yang gagah seperti kamu”. Entah sengaja atau tidak Roy mulai membuka isi hatinya.
“Kalau begitu kamu mau apa?”, aku mencoba menantangnya.
“Oh.. Aku ingin sekali memelukmu..”.
Roy yang sudah nafsu semakin berani menjawab tantanganku.
“Lakukan saja”, kataku sambil duduk di tepian ranjang.
Roy bangkit lalu benar-benar memelukku dengan kuatnya. Otot-ototnya yang besar dan berkilat oleh minyak sayur itu terasa sekali melingkari sekujur tubuhku. Rasanya beda sekali, nyaman gitu, seolah-olah aku tenggelam ke dalam body yang besar itu.

Hawa kamarku makin dipenuhi aroma sex. Saat itu tanpa diomonginpun kami sudah tahu sama tahu kalau kami saling menginginkan. Semboyannya NIKE sangat terasa disini, JUST DO IT begitu kira-kira :). Aku mulai menyungsepkan sambil mendusal-dusalkan wajahku ke dada Roy, kemudian pindah ke daerah sekitar ketiak Roy yang bersih sama sekali dari bulu-bulu. Lidahku mulai menari-nari di sana yang membuat Roy menggelinjang kegelian.

“Uh.. Ah kita foto saja dulu ya.. mumpung masih rapi..”, kataku agak terengah sambil dengan lembut melepaskan diri dari pelukan Roy yang enak itu.

Roy hanya menganguk saja. Aku segera mempersiapkan kamera dan setelah mendapatkan angle yang pas aku lalu menyetel agar kamera dapat dengan otomatis menjepret sendiri 5 kali. Aku cepat cepat pindah ke samping Roy yang sudah standby. Roy segera merangkul bahuku dan blitz kamera menyala-nyala melakukan tugasnya.

“Sudah selesai ya? Mari lanjut..”, kata Roy sambil menarikku ke ranjang lagi.

Rupanya ia sudah tidak sabar lagi hingga tidak melihat lagi hasil jepretan kamera barusan.

“Sini”, kata Roy sambil mendudukkanku di pangkuannya.

Saat itu g stringnya kelihatan sudah tidak bisa menahan cuatan kontolnya yang cukup besar itu. Aku duduk di pangkuan Roy sambil tanganku melingkar di leher Roy. Roy membenamkan wajahnya ke dadaku sambil menarik nafas mengendus seragam yang masih kukenakan sambil tangannya mengelus-elus daerah sensitifku yang makin berdenyut tegang. Aku membarenginya dengan ciuman di kepala Roy, lalu aku mulai diam sengaja menunggu apa yang akan dilakukan Roy selanjutnya.

Roy membopongku dan dengan lembut membaringkanku ke ranjang, lalu dengan perlahan penuh penghayatan ia mulai membuka seragamku satu persatu dimulai dari sepatu, berikutnya seragam luarku. Ia selalu mencium-cium seragam yang ada ditangannya setiap selesai melepaskannya dari tubuhku. Ia kelihatan begitu menikmatinya hingga pernik seragam yang terakhir :) Hingga kemudian aku hanya mengenakan CD saja. Roy kemudian naik ke ranjang menindihku di bawah tubuhnya yang gede itu. Tangannya memelukku dengan erat sambil menari-nari di punggungku. Aku mengimbanginya dengan menciumi wajahnya yang halus itu sambil tanganku aktif menjelajahi lekuk-lekuk otot di tubuhnya. Untuk beberapa lama kami bergulingan saling libat plus raba plus cium hingga keadaan makin memanas saja. Kemudian saat posisi Roy ada di bawah aku mulai melepaskan diri dari pelukannya yang kuat itu dan mulai menciumi dadanya yang besar itu.

Aku semakin senang dengan memainkan putingnya dengan ciuman dan jilatan lidahku yang sudah ahli lalu kusedot pinggiran putingnya hingga meninggalkan bekas merah (cupang). Dadanya yang besar bidang juga kucupangi beberapa kali hingga meninggalkan bekas-bekas merah yang sangat kontras dengan kulitnya yang putih itu. Roy sangat menikmatinya dan ia menegang-negangkan otot dadanya hingga ototnya yang gede itu bergerak -gerak di depan mataku yang membuatku jadi gemas. Saking gemasnya lalu kugigit-gigit kecil dadanya yang masih bergerak itu tidak ketinggalan putingnya juga.

Roy makin mendesah menikmati gigitanku. Ciuman, sedotan plus gigitanku sampai ke daerah perut Roy yang punya deretan otot yang menonjol dan terus merambah turun hingga sampai ke daerah ternikmatnya. Kulihat g string roy sudah basah di dekat bagian kepala kontolnya. Segera kutanggalkan g stringnya hingga kontol Roy bebas tegak berdenyut-denyut menantang nafsuku yang kian membara. Kontol Roy walaupun kalah gemuk dengan punyaku namun ukurannya ternyata lebih panjang dengan warna merah muda yang menggemaskan. Sejenak kukagumi bentuk kontol Roy yang kepalanya sudah licin basah oleh cairan precum yang masih terus keluar. Rupanya Roy memiliki cairan precum yang cukup banyak juga. Aku kontan mendusalkan wajahku ke selangkangan Roy yang gundul tanpa bulu hingga cairan bening precumnya ada yang menempel di wajahku.

“Oh.. enak.. Bob.. ahh..”, desahan Roy makin kencang saat aku mulai menjilat lalu mengulum kantong kontol beserta bijinya di dalam mulutku sambil tanganku mengocok-ngocok batangnya.

Setelah selesai mencicipi kantongnya, giliran kepala kontol Roy yang kupermainkan dengan mulutku. Pertama-tama kujilat-jilat kepala kontolnya layaknya orang yang sedang makan loli dan hap.. akhirnya kepala kontol Roy masuk ke dalam mulutku. Kumajukan kepalaku hingga kontol Roy yang panjang masuk lebih dalam kedalam mulutku hingga mencapai kerongkonganku hampir mencapai pangkalnya. Lalu sambil menyedot kuat aku mundurkan kepalaku hingga tersisa bagian kepalanya saja dalam mulutku sambil ujung lidahku memainkan lubang di kepala kontol Roy lalu secara terus menerus kumajumundurkan kepalaku dengan cara yang sama.

“Ahh.. Ohh.. God.. Enak Bob, akh..”, Roy mendesah desah sambil tangannya memainkan putingnya sendiri.

Aku terus melakukannya hingga..

“Cukup, Roy.. Aku hampir keluar.. Sekarang giliranku..”, kata Roy parau sambil bangkit dari rebahannya.

Rupanya Roy tidak ingin keluar duluan yang membuatku senang karena ini menandakan kalau Roy bukan tipe cowok egois yang hanya mementingkan kenikmatan sendiri. Sekarang giliran Roy yang menggarapku. Tanpa basa-basi lagi Roy segera menanggalkan CDku yang masih menempel. Seperti halnya Roy selangkanganku juga bersih dari bulu. Kulihat ada sinar kekaguman di mata Roy saat melihat kontolku.

“Beautiful..”, desis Roy tidak kentara.

Sama seperti yang kulakukan, Roy mulai melakukan aksi serupa terhadap kontolku. Aku meram-melek merasakan kehangatan mulut Roy. Sedotannya semakin membuatku melayang-layang hingga tanpa sadar aku mendesah-desah dengan gencarnya sambil tanganku mencengkeram pundak Roy yang keras berotot.

Setelah Roy beraksi sekian lama, aku mulai merasakan sedikit sensasi yang menandakan kalau aku akan nembak tidak lama lagi. Aku menyetop aksi Roy yang makin buas menyedot kontolku, lalu kami pindah ke posisi 69. Kami mulai saling menyedot kontol lawan sambil bergulingan di ranjangku yang luas. Sensasi nikmat di selangkanganku terus dan terus menguat hingga pelukanku di pinggang Roy juga makin mengencang. Roy juga berkeadaan sama denganku. Tubuhku mengejang dan crott.. crott.. crott.. akhirnya tak kuasa menahan lebih lama lagi aku nembak duluan di dalam mulut Roy tanpa sempat permisi lagi karena mulutku penuh oleh kontol Roy. Kurasakan mulut Roy yang makin menyedot kontolku dengan lahap sekali.

Crott.. Croot.., akhirnya Roy nembak juga beberapa detik setelahku. Maninya sangat kental dan banyak sekali. Aku bagai orang kehausan terus menelannya dan tidak membiarkannya terbuang setetespun juga. Akhirnya aku berbaring di sebelah Roy dengan senyum puas sambil menenangkan nafasku yang memburu.. Roy juga menatapku dengan pandangan puas dan ia meraihku untuk berbaring di dadanya yang lebar luas itu sambil mendekapku. Itu baru pertama kalinya aku berbaring di atas dada lawan mainku karena biasanya aku tidak suka bermanja-manja, lagipula dada mereka tidak seluas punya Roy. Rasanya cukup nyaman juga. Cukup lama juga kami dalam keadaan seperti itu sambil pikiranku menerawang kemana-mana.

Aku mulai horny lagi hingga tanganku yang satu mulai mengelus dada Roy sambil tangan lainnya memilin-milin putingnya. Rupanya puting Roy sangat sensitif hingga ia juga mulai terbakar. Deburan di dadanya makin kencang dan kelihatan kalau kontolnya juga mulai tegak berdenyut-denyut. Punyaku sendiri saat itu sudah tegang penuh siap kapan saja untuk segera digunakan. Aku segera duduk di atas perut Roy sementara Roy masih berbaring. Aku mendekatkan wajahku ke wajah Roy dan kukecup bibirnya dengan nafsu sambil tanganku terus memainkan putingnya. Masih duduk di atas perut Roy, aku mulai menggeser agak ke bawah.

Sambil mengangkat pantatku aku mulai mengarahkan kontol Roy masuk ke anusku. Roy hanya memandangku dengan pasrah. Dan kurasakan kontol Roy secara perlahan mulai tenggelam ke dalam lobang pantatku hingga ke pangkalnya. Perutku agak mulas karena mungkin ukuran kontol Roy yang panjang itu telah mencapai usus besarku. Saat itu posisiku jongkok/duduk di selangkangan Roy. Setelah kurasa cukup aku mulai menaikkan pantatku sambil menegangkan otot dubur. Aku terus menaik turunkan pantatku dengan cara sama hingga kontol Roy keluar masuk dari lobangku dengan lancarnya.

“Ohh.. ah.. aah..”, Roy mendesah-desah menikmati aksiku.

Aku sendiri makin gencar menaik turunkan pantatku seiring dengan sensasi nikmat yang kurasakan saat kontol Roy bergesekan dengan dinding anusku.

“Akh.. teruskan dong Bob.. Please..”, Roy agak merengek saat aku menghentikan aksiku dan mengeluarkan kontol Roy dari lobangku.

Aku tidak ingin Roy keluar duluan karena aku juga ingin menikmati lobang anusnya yang saat oral tadi sekilas kulihat masih perawan. Kalau dibiarkan keluar duluan maka Roy pasti ogah kalau aku ingin menikmati lobang pantatnya.

“Nanti pasti kulanjutkan sayang.. tapi sekarang kamu nungging ya Roy..”, instruksiku.

Roy sepertinya mengerti mauku dan sambil menungging ia berkata lagi, “Pelan-pelan ya Bob.., soalnya aku belum pernah digituin..”.

Mendengar itu hatiku sangat girang karena tepat seperti dugaanku kalau pantat Roy ternyata masih perawan yang tentunya lebih nikmat dientot ;).

Pertama-tama kumasukkan jari tengahku ke anus Roy. Mulanya Roy meringis kesakitan sambil menegangkan otot duburnya.

“Kalau aku masuk jangan tegangkan otot duburmu ya sayang.. Biar nggak terlalu sakit..”, aku memberi petunjuk pada Roy.

Tampaknya Roy cukup patuh dan tidak mengencangkan otot duburnya lagi saat aku mulai menggerakkan jari tengahku keluar masuk dari anus Roy. Roy agak meringis tapi mulai bisa menikmati permainan jariku di lobangnya. Melihat Roy sudah agak tenang aku segela meludahi kontolku agar licin dan mulai mengarahkannya ke lobang Roy. Kepala kontolku secara perlahan mulai masuk ke lobang Roy yang sempit. Roy mulai meringis dan menegangkan otot duburnya lagi saat merasakan kepala kontolku memasuki lobangnya. Aku segera menghentikan aksiku dan dari belakang tanganku mulai memainkan dada dan puting Roy agar ia lebih tenang.

“Akh.. sakit..”, Roy mulai mengaduh saat aku memulai kembali aksiku yang tadi.

“Tenang sayang.. Nanti pasti nikmat deh..”, kataku sambil menyetop lagi aksiku memasukkan kontolku.

Dengan lembut aku terus start stop hingga memakan waktu lebih kurang setengah jam baru kontolku masuk hingga ke pangkalnya. Selama itu aku tetap memainkan puting sensitif Roy agar ia ‘high’. Aku membiarkan sebentar kontolku terbenam di lobang Roy agar ia lebih terbiasa lagi.

“Mulai saja Bob..”, ucap Roy.

Rupanya ia cukup penasaran juga. Mendengar itu tanpa ayal aku segera menarik kontolku lalu memompanya masuk lagi. Awalnya Roy mengaduh-aduh kesakitan sambil mengencang-ngencangkan otot duburnya yang membuat kontolku serasa dipijat-pijat kuat dan dilingkari oleh cincin hangat. Memang itulah rasanya lobang yang masih perawan, sempit dan nikmat.. ;).

Tidak lama kemudian Roy mulai menikmati entotanku dan suara erangan nikmatpun mulai keluar dari mulut Roy.

“Auh.. enak.. oh.. God.. enak.. sshh.. truss.. ahh..”, erang Roy sambil tangannya dengan kuat mencengkeram seprei ranjangku yang sudah awut-awutan.

Plak.. pak.. pakk.. pek.. bunyi selangkanganku yang beradu dengan pantat Roy dikombinasikan dengan erangan Roy merupakan simphoni yang sangat merdu di telingaku hingga goyanganku makin cepat, kuat dan bersemangat. Nafasku terus memburu dan keringat sudah membanjiri tubuhku, hingga beberapa saat kemudian..

“Oohh.. Aku mau keluar Roy..”, Hampir berteriak aku makin menghentak menusuk pantat Roy dengan gencarnya.

Untung kamarku sudah dipasangi peredam yang cukup hingga tidak perlu khawatir ada yang mendengarnya.

“Truss.. Bob.. truss.. ahh..”. Roy masih meneruskan erangan nikmatnya.

“Ooohh.. crott.. crott.. croott”, aku melolong kepuasan disertai dengan tembakan maniku di dalam anus Roy.

Aku keluar banyak sekali.. Oooh.. I feel so high.. ;).

Kukecup punggung Roy lalu giliranku yang menungging. Roy segera memasukkan kontolnya yang sudah terlalu ‘excited’ ke dalam anusku lagi dan segera mulai memompa dengan cepat sekali. Giliranku yang mengerang kenikmatan merasakan kehebatan kontol Roy.

“Auh.. teruss.. teruss Roy..”, erangku.

Lama juga Roy mengentoti pantatku dan selama itu aku merasakan beberapa kali tembakan kecil yang menghangat di dalam anusku. Aku pernah membaca kalau ada orang yang dapat mengendalikan hingga klimaksnya belum dicapai walau telah sempat menembak beberapa kali. Mungkin Roy telah menguasai teknik itu pikirku. Aku makin kagum saja sama Roy.

“Hosh.. hoshh.. ahh..”, suara nafas Roy yang makin memberat disertai desahan nikmatnya makin jelas terdengar di telingaku dan akhirnya..

“Aaakh.. crott.. crett.. crrott..”, Roy berteriak melenguh panjang puas dan kali ini mani yang ditembaknya sangat banyak sekali dan terasa mengalir hangat di dalam anusku menciptakan sensasi nikmat yang kusuka.

Rupanya ia sudah mencapai titik puncak kepuasannya. Kami sama-sama terhempas di ranjang dengan kontol Roy masih menancap dalam pantatku. Posisi kami saat itu aku berbaring menyamping membelakangi Roy sedang Roy dengan mesra memelukku dari belakang.

“Terima kasih Bob.. Aku puas sekali..”, bisik Roy di telingaku.

“Aku juga Roy, permainanmu hebat sekali..”, jawabku dengan suara menggumam.

Sesat kemudian kami sama-sama tertidur pulas dengan senyum kepuasan menghiasi wajah masing-masing.

*****

Keesokan paginya barulah kami punya kesempatan melihat hasil jepretan kamera yang telah membuka peluang terjadinya gay sex semalam. Kami sama-sama tertawa melihat ekspresi kami di dalam foto itu yang sangat lucu karena jelas kelihatan muka kami yang penuh nafsu sex dengan tonjolan di selangkangan kami masing-masing. Akhirnya Roy mengambil 2 foto untuknya sedangkan sisanya kusimpan baik-baik di dalam lemari yang nantinya akan kusatukan dengan ‘koleksi’ fotoku yang lain.

Roy pamit pulang dan setelah itu kami sempat beberapa kali bertemu dan mengulangi gay sex di rumahku. Namun sayang karena liburan Roy sudah usai dan ia harus kembali ke Jakarta. Aku menghadiahinya beberapa potong koleksi CDku yang diterima dengan senang hati oleh Roy. Roy juga meninggalkan alamat dan nomor teleponnya di Jakarta dan kami saling berjanji untuk melakukannya lagi jika ada kesempatan lainnya. Aku sama sekali tidak mengantar saat Roy berangkat ke Bandara karena ia sudah ditemani oleh keluarganya hingga mungkin malah bisa dicurigai jika aku melakukannya. Aku hanya mengirimkan SMS selamat jalan kepadanya. Dan.. hari-hariku pun kembali seperti biasanya, tentunya sambil menunggu petualangan yang lebih asyik dengan penggemar gay sex lainnya :).

Paling Populer Selama Ini