Copyright 2003, Ayeng Waldesi (awaldesi@yahoo.com)
Sebagai seorang ibu muda, kehidupan Lisa amatlah monoton, tidak ada yang menonjol. Hari-harinya dilalui untuk merawat dan mengasuh kedua anaknya yang lucu-lucu. Suaminya adalah seorang eksekutif di sebuah perusahaan yang bonafid di jakarta.
Lisa adalah seorang ibu rumahtangga yang berumur 28 tahun. Ia amat memperhatikan perawatan dan kecantikan tubuhnya, sesuai anjuran dari ibunya sejak ia remaja. Ia memiliki wajah yang cantik, ditunjang pula dengan bentuk tubuh yang ramping dan kulit yang putih.
Lisa amat memperhatikan penampilannya, ia tidak ingin suaminya Rudi akan berpaling kepada wanita lain, hanya dengan alasan klasik yaitu kecantikan dan penampilannya sebagai istri. Di rumahnya yang terbilang megah, Lisa menghabiskan waktu dengan senam untuk menjaga kebugaran.
Akhir-akhir ini Rudi amat sibuk dengan pekerjaan kantornya sehingga membutuhkan perhatian dan kerja ekstra. Hampir tidak ada waktu lowong bagi Rudi untuk bermesraan dan libur dengan anak-anaknya.
Seiring dengan menanjaknya karir Rudi, pria itu diangkat sebagai manager di daerah baru, kawasan timur Indonesia. Dengan sendirinya Rudi mengajak pindah keluarganya ke daerah itu.
Di daerah baru itu Rudi menempati sebuah rumah dinas yang amat megah dan luas. Di rumah dinasnya itu telah tersedia segala perabotan dan kendaraan yang dibutuhkan oleh Rudi sekeluarga, juga telah ada seorang pembantu dan tukang kebun yang merangkap satpam di rumah itu.
Seperti biasanya, Rudi terus larut dengan kesibukannya dengan kunjungan ke daerah yang merupakan daerah kepulauan itu. Setiap perjalanannya biasa memakan waktu sekitar 1-2 minggu. Tidak heran jika Lisa sering ditinggal di rumah sendirian. Lisa sebetulnya sangat khawatir akan keselamatan Rudi.
Kehidupan rumah tangga mereka yang telah berjalan lebih kurang 8 tahun telah mereka lalui dengan penuh kemesraan dan keserasian sehingga membuat iri teman-teman Rudi. Rudi tidak melupakan kehidupan seks dan rutin menjaga kemesraannya dengan Lisa.
Karena pengaruh kehidupan kota yang egois, sering membuat kedua pembantunya tersinggung. Bagaimanapun Lisa adalah seorang wanita yang dibesarkan di dalam lingkungan keluarga berada dan segala keinginannya slalu didapatkan begitu juga dengan Rudi memiliki latar belakang yang sama.
Rudi pun sering menghardik Pak Martin tukang kebunnya. Pak Martin adalah tukang kebun di rumah itu telah lama bekerja, tidak pernah ia diremehkan oleh majikannya terdahulu, tidak seperti Rudi dan Lisa yang sering memandang rendah kepadanya.
Kalau dilihat usia pak Martin seusia orang tua Rudi yang telah berumur 58 tahun. Pak Martin adalah penduduk asli di daerah itu. Masa mudanya Pak Martin amat ditakuti oleh masyarakat sekitarnya. Dulunya ia adalah seorang penjahat dan gembong rampok yang memiliki ilmu yang tinggi dan sudah beberapa kali keluar masuk penjara di daerah itu, tidak heran hampir seluruh badannya dipenuhi tato.
Suatu hari Rudi dan Lisa pergi ke sebuah pusat perbelanjaan dan pulannya ia mendapati pak Martin sedang tidur sehingga pintu pagar rumah itu tidak ada yang membuka, setelah di gedor beberapa kali , akhirnya pak Martin bangun dan dengan kasar dan marah2 Lisa memaki maki pak Martin.
“Dasar tua bangka, malas, apa saja, kerja kamu hahh,” sengit Lisa yang disaksikan Rudi dari atas mobilnya.
“Maaf , nyak.. saya tertidur, skali lagi maafkan saya nyak..” kata Martin memohon.
“Cih,” Lisa meludahi wajah Martin lalu berlalu,kamu tak perlu di beri maaf..”
“Kamu kerja saya gaji, masa masih malas?” sahut Lisa berlalu dari hadapan Martin.
Martin hanya menunduk dan merasakan amat pedih di dadanya dihina dan direndahkan oleh kedua suami istri itu. Lalu timbullah pikiran jahat di dalam hatinya, padahal ia telah lama berusaha untuk selalu berbuat benar dan lurus, bagaimanapun naluri jahat dalam dirinya kembali muncul.
Ia akan membalas perlakuan Rudi dan Lisa itu yang telah kelewatan. Ia tahu, Rudi sering ke luar kota untuk saat yang lama, sedang Lisa tinggal di rumah itu dengan kedua anaknya. ia ingin Lisa bertekuk lutut minta belas kasihan kepadanya, bagaimanapun usianya saat ini ia masih mampu untuk menaklukkan wanita ditunjang dengan ilmu mistis yang dimilikinya.
Ia tahu, Lisapun pada saat-saat tertentu pasti membutuhkan kemesraan dari Rudi. Martin amat berpengalaman dalam soal seks. Ia tahu Lisa termasuk dalam katagori wanita yang tidak bisa menahan nafsu apalagi jika sering ditinggal suaminya beberapa hari.
Pada hari itu, Rudi berangkat ke daerah untuk meninjau proyek yang ia tangani di sebuah pulau yang memakan waktu beberapa hari. Saat itulah yang dinanti-nanti Martin. Di kamarnya ia telah menyiapkan beberapa sesajen untuk mengadakan ritual memantapkan ajian pemikat yang ia miliki.
Saat itu Lisa sedang berada di dalam kamarnya yang luas, dilengkapi AC yang bersuhu dingin itu amat kedinginan. Gairah nafsunya menghentak hentak, padahal sebelum berangkat Rudi telah menyirami batin Lisa beberapa kali ronde, namun aneh saat itu ia ingin kembali mengulangnya.
Kemudian Lisa berjalan ke luar kamarnya, terlihat tubuh mulusnya terbungkus baju tidur sutra yang halus sehingga lekuk tubuhnya yang indah itu terbentuk. Ia lihat di sekeliling ruang rumahnya, semua pada tidur dan hanya ia yang masih bangun. Ingin rasanya ia bermasturbasi namun ia sadar tidak akan memuaskannya,
Lisa berpikir keras untuk meredam nafsunya itu. Semakin malam hari semakin dingin dan begitu juga nafsunya ingin di salurkan namun kepada siapa? Sedang Rudi saat ini masih berada di luar kota.
Di kamarnya pak Martin terus mengadakan ritual mistis, ia ingin agar Lisa benar-benar datang minta belas kasihan kepadanya. Martin sudah tidak dapat lagi menahan nafsu dendamnya kepada Rudi dan Lisa, meskipun selama ini ia sering melihat Lisa yang cantik dan menggairahkan itu dalam kamar dan rumahnya , namun Martin selalu dapat mengatasinya. Secara lahiriyah ia akui Lisa amat menggoda gairahnya, namun pikiran itu ia buang jauh-jauh. Ia tidak ingin membuat masalah. Bisa saja dari dulu-dulu ia pelet Lisa dan ia gauli sesukanya namun ia tak pernah melakukannya. Sekarang, karena tindakan Rudi dan Lisa yang sudah amat kelewatan saja maka ia berbuat itu.
Kemudian Lisa menuruni anak tangga rumahnya dan berjalan ke ruang tamunya. Di luar hari mulai hujan dan diiringi petir. Ia berjalan ke kamar pembantunya, Mbok Ijah, namun Mbok Ijah telah tidur. Kamar Martin terletak di samping garasi rumah itu.
Lalu Lisa berjalan ke arah kamar Martin. Secara tiba-tiba pintu kamar Martin terbuka. Lisa sempat mencium aroma menyan yang dibakar Martin saat itu. Dari dalam kamarnya, Martin memanggil Lisa dengan suara serak. Martin saat itu telah tahu bahwa Lisa akan mendatanginya.
Lisa melihat ke dalam kamar itu. Ia lihat kamar itu hanya diterangi lampu 5 watt sehingga samar-samar saja ia melihat Martin duduk bersila di lantai kamar.
“Lisa, masuk… duduklah, Lisa…” kata Martin serak. Lalu Lisa jongkok dan duduk di atas karpet merah yang telah disediakan Martin.
Sambil komat-kamit, Martin memerintahkan Lisa untuk memandang matanya.
“Nah, pandanglah mata saya, Lisa,” kata Martin lagi.
Inilah kesalahan fatal bagi Lisa. Ia tatap mata Martin. Lalu Martin yang saat itu hanya mengenakan sarung, berdiri dan berjalan kearah pintu untuk menguncinya dari dalam.
Lisa yang telah terpaku oleh pengaruh Martin, hanya duduk diam. Nafasnya nampak naik turun, karena gairah nafsunya amat menghentak-hentak kepalanya.
Melalui baju tidur sutra tipis itu tampak kulit tubuh Lisa yang amat menggoda. Warna lampu 5 watt amat mempengaruhi kecantikan Lisa. Martin lalu berjalan ke arah belakang badan Lisa.
Tangannya langsung meraih jemari Lisa. Sambil memeluk dari belakang, ia ciumi tengkuk yang berbulu halus itu dengan syahdu. Mata Lisa hanya merem melek menikmati sentuhan Martin yang nota bene adalah pembantunya itu.
Selama ia berada di daerah itu ia belum sekalipun dirinya menginjakkan kakinya di kamar Martin. Pengaruh pelet dari Martin ternyata mampu membuatnya mendatangi kamar itu.
Masih dari belakang tubuh Lisa, Martin lalu meraih kedua payudara Lisa yang terbungkus baju tidur. Tangan Martin meremas dan memilin bukit ranum itu. Lalu mulutnya ia geser ke depan dan ia kulum bibir Lisa yang merah jambu itu. Di bibir itu Martin mencari-cari lidah Lisa. Dengan nafasnya ia hirup lidah Lisa hingga Lisa merasa sesak nafas.
Tangan Martin tidak mau kalah. Dari dada Lisa, tangan itu terus turun ke paha dan terus bergeser ke arah pangkal paha Lisa. Baju tidur perempuan itu ia singkapkan sehingga paha mulusnya terlihat jelas. Lisa memakai CD putih tipis berenda. Jari-jemari Martin lalu bermain di dalam rongga kemaluan Lisa dan mulai mengorek-ngorek isi vaginanya.
Di atas karpet merah itu, sangat kontras terlihat tubuh putih mulus Lisa yang mengenakan baju sutra tipis itu duduk bersila. Lalu Martin membuka kedua tali yang menahan baju itu dari bahu Lisa sehingga baju itu terlepas ke bawah. Terpampanglah bahu putih serta payudara yang masih tertutup BH 34c milik Lisa. Baju itu ia turunkan terus, sementara tali BH itu ia buka pengaitnya dari belakang sehingga kedua bukit salju Lisa terlihat jelas.
Kedua putingnya berwarna merah jambu. Dengan mulutnya, bukit indah itu dijilat inci demi inci, sesekali ia gigit dengan lembut sehingga menambah kenikmatan dan sensasi tersendiri bagi Lisa. Dari mulutnya hanya terdengar dengusan kenikmatan. Ia ingin permainan itu diteruskan segera oleh Martin. Martin yang telah berpengalaman itu tahu semua titik kelemahan Lisa. Ia terus memancing setiap inci dari tubuh Lisa dengan lidahnya. Lalu ia buka CD Lisa dan terlihatlah sorga kenikmatan Lisa yang masih rapet itu.
Meskipun Lisa telah melahirkan namun liang vaginanya masih rapat. Itu karena setiap melahirkan, ia melakukan bedah caesar sehingga tidak mempengaruhi bentuk vaginanya. Di samping itu, ia juga rajin olah kebugaran hingga perutnya tetap rata dan kencang.
Martin menggeser mulutnya ke bawah pusar Lisa dan berhenti di lobang yang di tutup oleh bulu halus terawat itu. Lobang vagina Lisa ia obok-obok dengan lidahnya. Lubang kelamin Lisa memiliki bau yang khas, yang memancing gairah Martin.
Lalu Martin mengambil posisi membelakangi Lisa. Ia arahkan penisnya yang panjang dan tidak dikhitan sehingga menyerupai pisang flores itu ke mulut Lisa. Melalui bibir Lisa, penis itu menerobos masuk masuk perlahan ke dalam mulut istri Rudi itu. Lisa menerima kepala penis itu dengan pasrah dan mengulumnya hingga tuntas.
Penis itu terus ia kocok di dalam mulutnya hingga kepala penis yang telah lama tidak dipakai dan menghitam itu terlihat licin mengkilat. Akhirnya penis Martin memuntahkan larvanya karena dikocok secara intensif oleh mulut Lisa selama 15 menit. Lisa menelan sperma Martin sampai habis. Bahkan setelah semua sperma kental itu berpindah ke dalam perutnya, ia masih terus menjilati kepala baja hitam itu.
Martin terus memanjakan lobang vagina Lisa berulang-ulang. Ia tidak peduli Lisa telah beberapa kali orgasme, yang ditandai dengan adanya lonjakan-lonjakan panjang pada tubuh Lisa.
Lalu Martin merubah posisinya. Ia berhadap- hadapan dengan Lisa yang masih terbaring di atas karpet tebal di dalam kamar Martin. Dengan tangannya Martin memasuki lobang Lisa. Ia korek-korek kelintit Lisa.
Lisa meregang menahan geli dan nafsu, sedangkan tubuh putih mulus itu telah basah bersimbah keringat karena permainan pemulaan itu. Martin merasa yakin Lisa telah terbangkitkan nafsunya.
Ia lalu membuka kedua kaki Lisa dan meletakkan bantal di bawah pantat Lisa. Ia tidak ingin penetrasi yang ia inginkan itu gagal. Telah lama ia
mengimpikan saat ini, menanamkan benihnya ke dalam rahim Lisa. Sesekali tangannya meraih payudara yang mulai tegak memerah itu. Kepala Lisa menggeleng-geleng. Ia menarik kepalanya menahan nikmat yang menjalari lobang kewanitaannya.
Martin membuka kaki Lisa sehingga lobang kemaluannya jelas terlihat. Ia kangkangkan kedua kaki Lisa. Penis yang telah tegak menghitam itu serta merta terarah ke lobang vagina Lisa. Saat baru saja kepala baja itu masuk ada rasa nyeri pada Lisa.
“Aaauuuuu…. nyilu, Pak!!” kata Lisa.
“Diam dulu, Lisa, hanya sebentar….”
Lalu Martin mendorong seluruh batang kejantanannya masuk ke dalam lobang memek Lisa. Ia genjot terus tanpa menghiraukan keluhan dan rasa nyeri pada lobang Lisa. Lisa hanya menuruti setiap gerakan Martin yang maju mundur di dalam lobang vaginanya.
Keringat membasahi tubuh kedua mahluk berlainan suku itu. Di antara kedua kaki Lisa tampak kaki Martin yang terus bertumpu menahan gerakan pinggulnya yang maju mundur. Kedua kaki Lisa terus menerjang ke kiri dan ke kanan. Ia merasakan kenikmatan yang amat dalam. Kedua tangan Lisa mencari-cari pegangan, lalu ia bertumpu pada bahu Martin. Ia mencengkeram bahu Martin karena merasakan nikmat yang tidak terhingga.
Gerakan penis Martin terus mengaduk-aduk lobang kewanitaan Lisa, maju mundur. Meskipun telah berusia senja, Martin masih memiliki kemampuan untuk berhubungan seks yang luar biasa. Lisa sendiri mengakui kalau tenaganya tidak kalah dengan Rudi.
Dalam kepala Martin saat itu adalah ia harus terus mengenjot Lisa sehingga Lisa mengalami beberapa kali orgasme. Ia amat sakit hati diperlakukan sewenang-wenang oleh Lisa dan Rudi. Dengan cara itulah ia membalasnya.
Lisa terus digenjot Martin. Tulang-belulangnya serasa dilolosi Martin. Permainan seks itu telah berlangsung hampir setengah jam namun Martin belum juga memuntahkan maninya. Ia terus melakukan gerakan berputar-putar pada saat penisnya masih di dalam lobang Lisa. Ia pegang kedua tangan Lisa, sementara mulutnya terus berada pada puting susu Lisa.
Akhirnya setelah lewat setengah jam ia genjot, barulah mani Martin tumpah di dalam lobang vagina Lisa sebanyak-banyaknya. Penis besar itu masih terus tertanam dalam lobang kemaluan Lisa sementara ia memuncratkan cairan pembuat bayinya di dalam tubuh istri Rudi. Lisa amat puas. Belum pernah ia merasakan kepuasan yang seperti itu selama ia berhubungan seks dengan Rudi. Suaminya tak ada apa-apanya dibandingkan Pak Martin. Pak Martin amat pandai mengatur tempo permainan. Rudi yang juga memiliki segudang cara dalam bersenggama tetap jauh tertinggal dari Pak Martin ini.
Menjelang pagi Martin terus mempermainkan nafsu dan gairah Lisa sampai 3 kali. Saat itu cuaca amat berpihak pada Martin. Selain hujan badai di luar rumah, pembantu dan anak-anak Lisa tidak terbangun. Inilah yang amat mengembirakan Martin sehingga ia bisa berasyik masyuk berdua saja bersama Lisa.
Setelah subuh barulah Lisa selesai dikerjai Pak Martin. Perempuan itu bangun dari karpet dan memakai CD dan BH-nya. Lalu ia kenakan kembali baju tidurnya. Terlihat keletihan yang mendalam pada wajah Lisa.
Ia keluar dari kamar Pak Martin dan naik ke kamarnya di lantai atas. Lalu ia membersihkan badan dan mandi. Masih banyak sisa sperma Martin pada bibirnya dan pada kedua pahanya.
Sejak itu hubungan Lisa dan Martin semakin intim. Saat Rudi tak ada di rumah, mereka berdua terus mengayuh biduk kemesraan di kamar Martin ataupun di ranjang Lisa dan Rudi.
Martin selalu melakukan aji penglimunan sehingga seluruh penghuni rumah itu tertidur kecuali Lisa dan dirinya. Jika Martin sedang berhasrat untuk melakukan hubungan seks, ia akan memanggil Lisa dengan caranya yang unik.
Pernah gairahnya terhadap Lisa tiba-tiba menghentak-hentak, padahal saat itu hari Minggu pagi dan Rudi sedang ada di rumah. Pasangan suami istri itu baru saja bangun tidur, sedangkan anak-anak mereka masih tertidur pulas. Begitu Rudi masuk ke kamar mandi, Pak Martin melafazkan mantranya. Maka Lisa langsung datang ke kamarnya seolah tahu Pak Martin sedang ngebet membutuhkannya. Begitu dilihatnya perempuan itu, Pak Martin langsung menerkamnya dan, tanpa banyak omong, saat itu juga ia menuntaskan nafsunya ke tubuh Lisa, sementara suaminya sedang asyik mandi.
Walaupun Lisa sudah berada dalam gengamannya, ia tidak menginginkan perkawinan Lisa dan Rudi hancur. Makanya Martin berusaha pandai-pandai mengatur saat-saat kebersamaannya dengan Lisa. Lisa pun selalu menurut kepada perintah Martin. Keduanya begitu kompak menjaga rahasia ini.
Sejak saat itu, apa pun keinginan Martin, baik tubuh Lisa atau uang, selalu terpenuhi. Ia tinggal minta kepada Lisa yang seolah sudah tak bisa lepas lagi dari Martin. Martin memang amat pandai mengatur siasat untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
Sementara itu, Lisa pun terus melayani Rudi suaminya sebagaimana biasa. Tidak ada keganjilan yang ditangkap Rudi. Martin sendiri tidak terlalu cemburu karena tahu Lisa tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh peletnya dan pasti akan selalu kembali kepadanya. Lama-kelamaan, Rudi pun secara tidak langsung telah masuk ke dalam pengaruh Martin.
Martin memanglah seorang pria yang dilahirkan berkemampuan seks luar biasa. Saat jadi penjahat dulu, tidak sedikit pelacur maupun wanita baik-baik yang ia gauli, tidak peduli masih perawan atau pun istri orang.
Sampai saat ini Lisa masih terus digauli Martin sesuka hatinya, tidak memandang tempat dan waktu.
TAMAT
Showing posts with label Tukang Kebun. Show all posts
Showing posts with label Tukang Kebun. Show all posts
6/25/2011
6/01/2011
Double Impact
Sampai detik ini, aku masih bingung dengan jati diriku, akan orientasi seksualku. Ketika kumelihat sosok pria gagah, berkulit bersih dan berkumis serta bercambang. Darahku begitu menggelegak. Namun saat melihat wanita seksi dengan pakaian mini, berkulit putih montok dan berpayudara besar, akupun begitu bernafsu. Kuanggap, aku sebagai pria kebanyakan, manusia yang punya naluri seks terhadap hal-hal yang bersifat sensual. Namun, karena sadar akan akibat dan resiko yang aku tanggung, jika aku berhubungan seks dengan wanita, maka pandanganku lebih beralih ada pria-pria tampan.
Daripada aku harus berurusan dengan kehamilan pacar cewekku, tentu aku lebih aman jika melakukan onani bersama dengan teman priaku. Dan ini membuatku lebih banyak bergaul dengan teman-teman pria. Sering saat renang, aku memperhatikan bentuk tubuh mereka, hingga jendolan di celana renag mereka. Di mana saja dan kapan saja, saya selalu memuaskan pandanganku dengan menikmati tubuh indah para pria. Diam-diam saya berharap bakal ada pria homo yang menyadari keberadaanku dan mengajakku berkencan. Tapi tentu agak susah jika penampilanku seperti kebanyakan pria yang lain.
Meski Kota Malang bukan termasuk kota yang langganan banjir seperti kota Jakarta, Surabaya dan kota lain. Tapi daerah Sawojajar yang menjadi area perumahan tempatku tinggal ini, memang terkenal suka banjir jika hujan besar mengguyur. Ortuku berniat meninggikan rumah, dan hari ini memanggil tukang untuk memperbaiki rumahku. Karena ortu bekerja, maka urusan mengawasi para tukang diserahkan padaku.
Sejak jam 8 pagi, dua orang pekerja bangunan sudah sibuk memulai pekerjaannya. Tampang mereka lelaki sekali. Meskipun kulit mereka agak gelap akibat sinar matahari, namun mereka terkesan macho. Mereka memperkenalkan diri, Romli dan Junar. Romli lebih tua, sekitar tigapuluhan sedangkan Junar lebih muda. Nampaknya mereka teman baik. Diam-diam, saya sering mengintip mereka bekerja dari balik jendela kamarku.
Kunikmati tubuh mereka yang berotot and berkilauan akibat keringat yang tertimpa cahaya matahari. Aahh.. Lama aku mengamati ke dua tukang itu. Andai saja saya dapat meraba tubuh mereka. Lalu sebuah ide mesum muncul di benakku. Kebetulan saat istirahat siang, mereka beristirahat di teras samping, tepat di luar kamarku sambil bercanda dan minum kopi. Tak susah bagi mereka jika mereka ingin mengintip jendelaku.
Maka saya pun menelanjangi diriku dan berbaring di ranjangku. Kontolku sudah menegang duluan, membayangkan apa yang akan terjadi berikutnyaSambil menyetel VCD porno, saya mulai memainkan kontolku. Sengaja kusuarakan erangan tertahanku agar Romli dan Junar mendengarnya.
"Aahh.. Oohh.. Mm.. Uuhh.. Hhoohh.."
Dan ternyata mereka mendengarnya!
Dari sudut mataku, saya mengintip ke arah jendela. Romli dan Junar, dengan mulut ternganga, memandangiku lekat-lekat. Sengaja aku terus menyibukkan diri mengocok kontolku tanpa melihat VCD. Kudengar Romli berbisik.
"Gile banget! Dia lagi ngloco sambil liat VCD."
Tapi beberapa saat kemudian, mereka menghilang. Saya kecewa sekali, tapi berhubung tanggung maka saya meneruskan masturbasi.
Ternyata kulihat kedua tukang itu berpindah lokasi di jendelaku satunya, dan mereka mengintip tontonan video pornoku. Sengaja kusetel VCD porno biseks dengan 3 orang cowok yang ketiganya juga melakukan gay seks dengan pemain cowok lainnya.
Tiba-tiba muncul ide nekatku, karena birahiu sudah begitu memuncak. Kusingkap tirai jendela, dan kulambaikan tanganku pada Romli dan Junar agar bergabug denganku di dalam kamar. Awalnya mereka terkejut dan malu-malu. Tapi aku terus berkeras dan memanggil nama mereka. Akhirnya mereka mau masuk ke kamarku dan duduk menonton video porno itu. Aku yang masih telanjang, meneruskan masturbasiku di belakan mereka. Lalu aku minta mereka untuk ikut onanai bersama-sama dneganku. Dan anehnya, mereka menurut dan mulai melepaskan celana mereka dan masing-masing meremas kontol masing-masing. Kini keduanya telah bugil dengan tubuh masih bersimbah keringat. Untuk pertama kalinya, saya berkesempatan untuk melihat kontol mereka yang tegang berdiri. Panjangnya sekitar 15 cm, cukup lumayan untuk kontol cowok macho. Kepala kontol mereka yang ungu kemerahan seolah teracung begitu kerasnya.
Jantungku berdegup kencang, gugup sekali. Namun saya juga amat senang karena rencanaku berhasil. Lalu ketika kegiatan onani itu berjalan beberapa menit, kuhampiri Romli. Sambil terus mengocok kontolku, kucoba meraba-raba kontol Romli. Dia hanya diam dan memandangiku. Di matanya jelas terpancar nafsu birahi yang menggebu-gebu.
Lalu dengan sigap, kuambil alih kontol Romli dan aku kocok kontolnya. Ternyata dia pasrah. Inilah saatnya aku akan beraksi, ujarku dalam hati.
Dengan penuh, saya menciuminya tengkuk Romli dan itu membuatnya menggelinjang pasrah. Akhirnya semakin kupercepat kocokan di kontol Romli.
Agar dapat berbagi rata, kualihkan perhatianku pada Junar. Ternyata kontol Junar tak disunat. Jadi aku harus menarik kulupku ke bawah terlebih dahulu. Kepala kemerahan yang basah dengan precum pun muncul. Sebutir precum nampak menyembul keluar dari lubang kencing Junar yang sempit.
"Mm.. Seksi sekali," aku berkomentar.
Lalu dengan perlahan, aku mencoba menunduk dan mencoba menjilat kontol Jura. Kulihat reaksinya terkejut sesaat, naun karena rasa nikmat yang dirasakannya, dia hanya diam pasrah. Sementara tangaku yang satunya tetap menggenggam kontol Romli dengan kocokan-koncokan konstan.
Romli menghentikan kocokan tanganku di kontolnya. Dengan pandangan penuh nafsu, dia mengontrol kepalaku dan membimbingnya turun. Saya amat memuja tubuhnya. Cepat-cepat kujilati tubuh kekarnya yang penuh keringat itu. Benar-benar tubuh maskulin yang amat sempurna, bagaikan patung Yunani kuno. Sungguh sulit dipercaya tubuh indah seperti itu adalah milik seorang abang tukang bangunan. Dadanya kujilati dan sempat kukulum salah satu putingnya yang berwarna coklat tua. Dapat kurasakan bulu-bulu halus di putingnya menggelitik mulutku. Aahh.. Nikmat sekali.
Romli nampak puas dengan servis jilatku. Tubuhnya berkilauan dengan air liurku, dan dia pun makin ngaceng. Kontolnya menusuk-nusuk tubuhku, seolah ingin melubanginya. Saya tahu apa yang dia mau. Maka tanpa ragu, saya pengulum kontolnya. Begitu bibirku mengatup di antara batang kontolnya, bau khas laki-laki menusuk hidungku.
Jelas sekali Romli malas membersihkan kontolnya. Bau pejuh kering bercampur dengan keringat serta air kencing berpadu menjadi satu. Saya merasa seperti disihir. Tanpa takut dan ragu, saya mulai memompa kontolnya dengan mulutku. Kuberikan servisku yang terbaik. Kujilati kepala kontolnya, lalu lubang kontolnya, dan juga bagian bawah kepala kontolnya. Romli mengerang-ngerang kenikmatan, sambil meremas-remas dadaku. Romli mengerang keenakan saat dia rasakan kepala kontolnya yang amat sensitive bergesekkan dengan dinding dalam mulutku. Aahh.. Hangat dan basah.
"AARRGH!! Ya, hisap terus kontol gua.. Hisap gue.. Kontol Romli memang lumayan bagus, lurus, tegak dengan warna senada.. Ayo, hisap yang kuat.. Aarrgghh.."
Mendengar erangannya, saya menjadi semakin terangsang, apalagi kontol Junar masih dalam remasan tangaku. Muncul ide gilaku, Ah, tak terbayang nikmatnya senadainya aku menghisap kontol cowok sambil kontolku juga dihisapin pula. Ku rengkuh kepala Junar dan kuarahkan ke selangkanganku. Ternyata dengan sigap Junar melahap dan melumat kontolku. Kontolku terus berdenyut, dan melelehkan cairan precum. Semuanya habis dijilat Junar. SLURP! SLURP! Begitu bunyinya.
Semakin lama Junar menghisap kontolku, semakin besar keinginanku untuk ngecret di dalam mulutnya. Tekanan di dalam biji pelerku makin besar dan pelan-pelan pejuhku mulai mengalir naik. Astaga, sebentar lagi saya akan ngecret! Nafasku mulai memburu dan nampaknya Romli dan Junar mengetahuinya. Dengan cekatan, Junar menekankan jari-jarinya tepat di bawah kontolku kuat-kuat. Dan pada saat itu pula, saya ngecret.
"MMPPHH!! UUGGHH!! MMPPHH!! MMPPHH!!" Orgasme mengguncang tubuhku.
CRROOTT!! CCRROOTT!! Kurasakan kontolku menembakkan pejuh berkali-kali, namun aneh, kenapa tak ada pejuh yang mengalir keluar. Ternyata tekanan jari Junar yang membuat spermaku tidak mengalir keluar. Setelah semuanya berakhir, saya terduduk lemas, tapi saya tetap menghisap kontol Romli dengan semangat. Junar sibuk menjilati sisa precum pada kontolku. Erangan-eranganku tadi tertahan oleh kontol Romli yang tersumpal di dalam mulutku. Erangan-eranganku bergetar-getar di dalam rongga mulutku dan merangsang kontol Romli. Tak pelak lagi, kini giliran Romli untuk menumpahkan cairan kontolnya.
"UUGGHH!! Bangsat! Gue mau ngecret.. Bersiaplah.."
Dengan penuh tenaga, Romli memegang kepalaku lalu pinggulnya didorong maju sehingga kontolnya nyaris menyumbat kerongkonganku.
"AARRGGHH!!" Dengan jeritan yang memekakkan telinga, Romli pun menumpahkan semua isi biji pelernya tepat ke dalam kerongkonganku.
CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! Saya tak perlu menelannya sebab kepala kontolnya langusng menembakkan pejuhnya ke dalam perutku. Cairan hangat kental dari kontolnya meluncur turun kerongkonganku. Rasanya erotis sekali. Sambil mengejang-ngejang, Romli menghentak-hentakkan pinggulnya dan tetap mengerang.
"UUGGHH.. AAGGHH.. OOHH.. AARRGGHH.." CRROTT!! CCRROOTT!! CRROOTT!! Dan akhirnya semuanya selesai. Tapi semua belum berakhir.
Junar memeluk tubuhku dan menggulingkannya. Dia lalu segera berbaring di samping tubuh telanjangku secara menyamping. Tubuhku menghadap ke arah lain dengan pantatku menghadap kontolnya. Tiba-tiba, dengan bernafsu, dia memelukku dan menarik tubuhku kuat-kuat.
"AARRGGHH!!" teriakku. Junar sendiri hanya menyuarakan "MMPPHH!!" saat kontol besar miliknya menghunjam masuk ke dalam lubang pantatku yang masih sempit. Dengan sedikit ludah yang dilumurkan ke kepala kontol Junar, dia membenamkan kepala kontolnya ke bongkahan pantatku. Masuk perlahan hingga akhirnya kontol itu melesak dan terjepit lubang anusku.
Tanpa ampun, kepala kontol itu menarik lubang anusku lebar-lebar. Karena dilakukan dengan kasar sekali, aku kesakitan, saya meronta-ronta namun Junar memegangku dengan kuat. Romli terangsang sekali melihat rasa sakit yang kualami; kontolnya kembali ngaceng.
"AARRGHH!! Sakit, Bang! Ampun," ratapku meski kurasakan sensasi nikmat diantara rasa sakit itu. Ah sensasional !!!.
Sambil tetap menyodomiku, Junar berusaha untuk berkata di antara helaan napasnya.
"Kamu suka ga?.. UGH! . ARGH! OOHH! Aku baru tau rasanya ngentotin cowok.. ARGh!"
Saya hanya dapat pasrah. Rasa sakit di anusku dan sengatan rasa nikmat karena entotan itu semakin bertambah parah saja. Kontol Junar menghajar pantatku tanpa ampun. Air mataku terus mengalir keluar, membaurkan rasa sakit dan nikmat yang tiada terkira. Sungguh, saya sangat menyukainya. Junar sedang memakai tubuhku untuk kepuasan seksualnya. Entah kenapa, tapi pikiran itu malah membuatku semakin terangsang.
Selama beberapa saat, saya merasa seperti akan buang air besar. Tekanan dalam ususku bertambah besar. Lalu saya teringat akan sebuah artikel yang kubaca bahwa ketika pertama kali disodomi, perasaan palsu itu memang muncul karena usus tertipu dan mengira kontol yang sedang menyodomi itu adalah kotoran manusia.
Tiba-tiba kontol Junar mengenai sesuatu jauh di dalam tubuhku.
"AARGGHH!!" erangku.
Begitu organ itu tersentuh, tiba-tiba saya merasa 'kesetrum'. Gelombang orgasme yang luar biasa menyapu seluruh tubuhku, seakan-akan saya sedang orgasme. Memang G-spotku yang tersentuh, dan itu memberikan nikmat yang tiada taranya, mulutku ternganga menikmatinya. Romli menatapku dengan mata berbinar-binar, ingin mencicipi pantatku, namun Junar tak mengizinkannya sebab dia sedang sibuk ngentotin saya. Maka Romli pun menemukan ide hebat.
"Jun, Kamu berbaring di bawah dan dia di atas. Lalu aku bakal bergabung dengan kamu," katanya.
"Aku pengen mraktekin yang di video porno itu. Dan keliatannya enak, tuh."Romli menunjuk TV yang sedang memutar video pornoku.
"Gile kamu. Tapi bleh juga, dua kontol menghajar anus nih anak" sahut Junar terengah-engah.
Saya agak takut mendengar ide Romli, namun saya juga terangsang. Doble-fuck terdengar erotis. Sakit tapi nikmat. Maka Junar pun berguling sambil tetap menyodomiku. Kini dia berada di bawah dan saya menimpa tubuhnya. Kontolnya masih tertanam di dalam lobang pantatku, memompaku tanpa ampun. Pada saat tulah, Romli menimpa tubuhku.
Bibirnya menempel pada bibirku dan pria tukang itu kembali menciumiku. Sambil mencium, Romli memposisikan kontolnya tepat di bawah kontol Junar yang sedang sibuk memompaku. Tiba-tiba Romli memaksakan kontolnya masuk. Kontol itu, dibantu oleh cairan precum, mulai membuka luang anusku lebih besar lagi. Kurasakan lubangku tertarik semakin lebar, seakan ingin robek.
"AARRGGHH!!" erangku, sakit sekali.
Hal itu tidak mudah sebab lubangku ketat sekali. Romli hampir frustasi namun dia pantang mundur. Pelan tapi pasti, kontolnya membor lubangku. Begitu ada celah, kepala kontol Romli menyelip masuk dan terus memaksa masuk.
"AARRGGHH!! Ampun, Bang!" rengekku lagi berakting seolah aku ksakita, agar mereka berdua semakin terangsang. Padahal aku merasakan hal ternikmat yang belum kurasakan sebelumnya.
"Sstt.. Diam aja. Nikmat sekali kok. Bayangkan dua kontol gede di lobang kamu. Enak lagi," bujuk Romli.
Untuk mengekspresikan rasa nikmat itu saya tetap menjerit dan menjerit. Akhirnya PLOP! Kontol Romli masuk! Kini lubangku terasa penuh sekali. Kedua kontol itu berebut tempat di dalam anusku, sesak sekali rasanya. Junar dan Romli pun mendesah keenakkan. Kemudian, secara bergantian, mereka memompa pantatku. Ritme mereka adalah jika Junar menusuk masuk, maka Romli akan menarik keluar; dan begitu sebaliknya. Mereka kompak sekali sampai-sampai saya terlena dibuatnya. Aku melayang-layang karena kenikmatan yang kurasakan dari dinding anusku yang menjepit dua kontol gede itu.
Memang awalnya ada rasa sakit. Namun, hanya dalam hitungan detik rasa sakit itu pelan-pelan memudar. Sungguh nikmat sekali!! Satu lubang ketat diisi DUA KONTOL sekaligus! Bayangkan! Tubuhku terguncang-guncang, mengikuti irama sodokan kontol mereka. Tubuh Romli yang besar dan berotot menimpa tubuhku dan menahannya di sana. Kira-kira setengah jam berlalu. Mereka memang sengaja menahan laju ejakulasi mereka untuk memperlama permainan. Oh, mereka sungguh tahu cara memuaskan sorang gay 'bottom' sepertiku. Namun, semua hal mesti berakhir, begitu pula permainan panas ini.
Kontol Junar mulai berdenyut-denyut tak karuan. Denyutannya menggesek-gesek kepala kontol Romli dan memicu denyutannya. Berdua mereka mengerang-ngerang seakan-akan sedang dalam kesakitan yang teramat sangat. Ekspresi muka mereka pun menunjukkan rasa sakit. Namun mereka tidak kesakitan sama sekali. Sebaliknya, mereka sedang dilanda rasa nikmat yang amat teramat sangat. Rasa nikmat yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata.
"UGH! Oohh.. Hhoosshh.. Oohh.. Aahh.. Gue.. Oohh.. Mau kke.. Hhooshh.. Keluar," erang Junar, kedua tangannya mencengkeram pinggangku kuat-kuat.
"Aahh.. Gue juga.. Oohh.. Hhoosshh.. Uugh.." balas Romli.
Semakin lama, tubuh telanjang Romli yang menggairahkan itu semakin menekan tubuhku. Tak ayal lagi, perutnya yang kotak-kotak itu menggesek-gesek kontolku. Kontolku terperangkap dan tergesek-gesek mengikuti sodokan kontolnya. Secara tak langsung, Romli sedang men-coli kontolku dengan perutnya!
"ARGh! Gue sampe," teriak Junar dan muncratlah pejuhnya. CRROTT!! CCROOTT!! CCRROOTT!
"AARRGGHH..!! Erangnya, panjang sekali seperti lolongan serigala.
Kepala kontolnya menggembung sedikit dan terus-menerus menembakkan pejuhnya. Kontan saja perutku dibanjiri cairan lava putih yang mendidih. Ejakulasi Junar memicu ejakulasi Romli. Pria ganteng itu pun mulai mengejang-ngejang dan berteriak-teriak.
"UUGGHH!! OOHH!!" CRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! Tubuhnya berguncang-guncang dan gerakannya memicu orgasmeku.
"AARRGGHH..!!" erangku saat kepala kontolku mulai menembakkan pejuh.
CCROOTT!! CCROOTT!! CCRROOTT!! Pejuhku tersemprot mengotori tubuhku dan tubuh Romli. Berhubung pejuhku amat banyak, sebagian mengalir turun dan mengotori ranjangku serta tubuh Junar yang berada di bawahku. Bertiga kami mengerang-erang, terguncang-guncang, dikuasai nafsu birahi homoseksual.
"AAGGHH!! UUGGHH!! OOHH!! AAHH!!" Dan semuanya berakhir beberapa saat kemudian.
Tubuh kami basah dengan keringat bagaikan mandi uap, dan kami kesulitan menghela napas. Rasanya capek sekali, namun juga nikmat. Kami puas sekali. Terutama Romli dan Junar, karena mereka akhirnya dapat mencicipi enaknya ngentotin cowok Chinese sepertiku.
Begitu Romli mencabut kontolnya, pejuhnya meleleh keluar dari lubang pantatku. Dan saat saya mengangkat tubuhku, kontol Junar terlepas diikuti dengan lelehan pejuh yang jauh lebih banyak lagi. Perutku menggembung karena pejuh, rasanya penuh sekali. Romli tersenyum nakal padaku.
Tanpa dikomando, Junar dan Romli mengangkat tubuhku lalu mereka membawaku keluar kamar dan masuk ke kamar mandi. Di sana, saya terpaksa harus berjongkok bermenit-menit hanya untuk mengeluarkan pejuh mereka dari lubang pantatku. Setelah itu, kami mandi bertiga sambil saling meraba-raba. Tak ayal lagi, kontol kami pun ngaceng lagi.
"Waduh, tegang lagi nih," keluh Romli, matanya mengerdip nakal padaku.
"Mau lagi?" Langsung saja, saya mengangguk.
Tanpa basa-basi lagi, mereka kembali menyodomiku. Masih dengan double fuck tapi kali ini smabil berdiri. Saya hanya dapat mengerang-erang, nikmat sekaligus kesakitan karena perlakuan kasar, sambil berpegangan erat-erat pada tubuh Romli ketika Romli menancapkan batangnya ke dalam tubuhku. Sementara itu, Junar menyodok lubangku dari belakang. Aahh nikmatnya double fuck! Tak lama kemudian, kami pun mencapai klimak dan.. Pejuh mereka kembali membanjiriku. Oh sungguh hari yang tak terlupakan! Andai double fuck ini dilakukan dengan pelan dan penuh perasaan, tentu sensasinya akan berbeda!!!
Daripada aku harus berurusan dengan kehamilan pacar cewekku, tentu aku lebih aman jika melakukan onani bersama dengan teman priaku. Dan ini membuatku lebih banyak bergaul dengan teman-teman pria. Sering saat renang, aku memperhatikan bentuk tubuh mereka, hingga jendolan di celana renag mereka. Di mana saja dan kapan saja, saya selalu memuaskan pandanganku dengan menikmati tubuh indah para pria. Diam-diam saya berharap bakal ada pria homo yang menyadari keberadaanku dan mengajakku berkencan. Tapi tentu agak susah jika penampilanku seperti kebanyakan pria yang lain.
Meski Kota Malang bukan termasuk kota yang langganan banjir seperti kota Jakarta, Surabaya dan kota lain. Tapi daerah Sawojajar yang menjadi area perumahan tempatku tinggal ini, memang terkenal suka banjir jika hujan besar mengguyur. Ortuku berniat meninggikan rumah, dan hari ini memanggil tukang untuk memperbaiki rumahku. Karena ortu bekerja, maka urusan mengawasi para tukang diserahkan padaku.
Sejak jam 8 pagi, dua orang pekerja bangunan sudah sibuk memulai pekerjaannya. Tampang mereka lelaki sekali. Meskipun kulit mereka agak gelap akibat sinar matahari, namun mereka terkesan macho. Mereka memperkenalkan diri, Romli dan Junar. Romli lebih tua, sekitar tigapuluhan sedangkan Junar lebih muda. Nampaknya mereka teman baik. Diam-diam, saya sering mengintip mereka bekerja dari balik jendela kamarku.
Kunikmati tubuh mereka yang berotot and berkilauan akibat keringat yang tertimpa cahaya matahari. Aahh.. Lama aku mengamati ke dua tukang itu. Andai saja saya dapat meraba tubuh mereka. Lalu sebuah ide mesum muncul di benakku. Kebetulan saat istirahat siang, mereka beristirahat di teras samping, tepat di luar kamarku sambil bercanda dan minum kopi. Tak susah bagi mereka jika mereka ingin mengintip jendelaku.
Maka saya pun menelanjangi diriku dan berbaring di ranjangku. Kontolku sudah menegang duluan, membayangkan apa yang akan terjadi berikutnyaSambil menyetel VCD porno, saya mulai memainkan kontolku. Sengaja kusuarakan erangan tertahanku agar Romli dan Junar mendengarnya.
"Aahh.. Oohh.. Mm.. Uuhh.. Hhoohh.."
Dan ternyata mereka mendengarnya!
Dari sudut mataku, saya mengintip ke arah jendela. Romli dan Junar, dengan mulut ternganga, memandangiku lekat-lekat. Sengaja aku terus menyibukkan diri mengocok kontolku tanpa melihat VCD. Kudengar Romli berbisik.
"Gile banget! Dia lagi ngloco sambil liat VCD."
Tapi beberapa saat kemudian, mereka menghilang. Saya kecewa sekali, tapi berhubung tanggung maka saya meneruskan masturbasi.
Ternyata kulihat kedua tukang itu berpindah lokasi di jendelaku satunya, dan mereka mengintip tontonan video pornoku. Sengaja kusetel VCD porno biseks dengan 3 orang cowok yang ketiganya juga melakukan gay seks dengan pemain cowok lainnya.
Tiba-tiba muncul ide nekatku, karena birahiu sudah begitu memuncak. Kusingkap tirai jendela, dan kulambaikan tanganku pada Romli dan Junar agar bergabug denganku di dalam kamar. Awalnya mereka terkejut dan malu-malu. Tapi aku terus berkeras dan memanggil nama mereka. Akhirnya mereka mau masuk ke kamarku dan duduk menonton video porno itu. Aku yang masih telanjang, meneruskan masturbasiku di belakan mereka. Lalu aku minta mereka untuk ikut onanai bersama-sama dneganku. Dan anehnya, mereka menurut dan mulai melepaskan celana mereka dan masing-masing meremas kontol masing-masing. Kini keduanya telah bugil dengan tubuh masih bersimbah keringat. Untuk pertama kalinya, saya berkesempatan untuk melihat kontol mereka yang tegang berdiri. Panjangnya sekitar 15 cm, cukup lumayan untuk kontol cowok macho. Kepala kontol mereka yang ungu kemerahan seolah teracung begitu kerasnya.
Jantungku berdegup kencang, gugup sekali. Namun saya juga amat senang karena rencanaku berhasil. Lalu ketika kegiatan onani itu berjalan beberapa menit, kuhampiri Romli. Sambil terus mengocok kontolku, kucoba meraba-raba kontol Romli. Dia hanya diam dan memandangiku. Di matanya jelas terpancar nafsu birahi yang menggebu-gebu.
Lalu dengan sigap, kuambil alih kontol Romli dan aku kocok kontolnya. Ternyata dia pasrah. Inilah saatnya aku akan beraksi, ujarku dalam hati.
Dengan penuh, saya menciuminya tengkuk Romli dan itu membuatnya menggelinjang pasrah. Akhirnya semakin kupercepat kocokan di kontol Romli.
Agar dapat berbagi rata, kualihkan perhatianku pada Junar. Ternyata kontol Junar tak disunat. Jadi aku harus menarik kulupku ke bawah terlebih dahulu. Kepala kemerahan yang basah dengan precum pun muncul. Sebutir precum nampak menyembul keluar dari lubang kencing Junar yang sempit.
"Mm.. Seksi sekali," aku berkomentar.
Lalu dengan perlahan, aku mencoba menunduk dan mencoba menjilat kontol Jura. Kulihat reaksinya terkejut sesaat, naun karena rasa nikmat yang dirasakannya, dia hanya diam pasrah. Sementara tangaku yang satunya tetap menggenggam kontol Romli dengan kocokan-koncokan konstan.
Romli menghentikan kocokan tanganku di kontolnya. Dengan pandangan penuh nafsu, dia mengontrol kepalaku dan membimbingnya turun. Saya amat memuja tubuhnya. Cepat-cepat kujilati tubuh kekarnya yang penuh keringat itu. Benar-benar tubuh maskulin yang amat sempurna, bagaikan patung Yunani kuno. Sungguh sulit dipercaya tubuh indah seperti itu adalah milik seorang abang tukang bangunan. Dadanya kujilati dan sempat kukulum salah satu putingnya yang berwarna coklat tua. Dapat kurasakan bulu-bulu halus di putingnya menggelitik mulutku. Aahh.. Nikmat sekali.
Romli nampak puas dengan servis jilatku. Tubuhnya berkilauan dengan air liurku, dan dia pun makin ngaceng. Kontolnya menusuk-nusuk tubuhku, seolah ingin melubanginya. Saya tahu apa yang dia mau. Maka tanpa ragu, saya pengulum kontolnya. Begitu bibirku mengatup di antara batang kontolnya, bau khas laki-laki menusuk hidungku.
Jelas sekali Romli malas membersihkan kontolnya. Bau pejuh kering bercampur dengan keringat serta air kencing berpadu menjadi satu. Saya merasa seperti disihir. Tanpa takut dan ragu, saya mulai memompa kontolnya dengan mulutku. Kuberikan servisku yang terbaik. Kujilati kepala kontolnya, lalu lubang kontolnya, dan juga bagian bawah kepala kontolnya. Romli mengerang-ngerang kenikmatan, sambil meremas-remas dadaku. Romli mengerang keenakan saat dia rasakan kepala kontolnya yang amat sensitive bergesekkan dengan dinding dalam mulutku. Aahh.. Hangat dan basah.
"AARRGH!! Ya, hisap terus kontol gua.. Hisap gue.. Kontol Romli memang lumayan bagus, lurus, tegak dengan warna senada.. Ayo, hisap yang kuat.. Aarrgghh.."
Mendengar erangannya, saya menjadi semakin terangsang, apalagi kontol Junar masih dalam remasan tangaku. Muncul ide gilaku, Ah, tak terbayang nikmatnya senadainya aku menghisap kontol cowok sambil kontolku juga dihisapin pula. Ku rengkuh kepala Junar dan kuarahkan ke selangkanganku. Ternyata dengan sigap Junar melahap dan melumat kontolku. Kontolku terus berdenyut, dan melelehkan cairan precum. Semuanya habis dijilat Junar. SLURP! SLURP! Begitu bunyinya.
Semakin lama Junar menghisap kontolku, semakin besar keinginanku untuk ngecret di dalam mulutnya. Tekanan di dalam biji pelerku makin besar dan pelan-pelan pejuhku mulai mengalir naik. Astaga, sebentar lagi saya akan ngecret! Nafasku mulai memburu dan nampaknya Romli dan Junar mengetahuinya. Dengan cekatan, Junar menekankan jari-jarinya tepat di bawah kontolku kuat-kuat. Dan pada saat itu pula, saya ngecret.
"MMPPHH!! UUGGHH!! MMPPHH!! MMPPHH!!" Orgasme mengguncang tubuhku.
CRROOTT!! CCRROOTT!! Kurasakan kontolku menembakkan pejuh berkali-kali, namun aneh, kenapa tak ada pejuh yang mengalir keluar. Ternyata tekanan jari Junar yang membuat spermaku tidak mengalir keluar. Setelah semuanya berakhir, saya terduduk lemas, tapi saya tetap menghisap kontol Romli dengan semangat. Junar sibuk menjilati sisa precum pada kontolku. Erangan-eranganku tadi tertahan oleh kontol Romli yang tersumpal di dalam mulutku. Erangan-eranganku bergetar-getar di dalam rongga mulutku dan merangsang kontol Romli. Tak pelak lagi, kini giliran Romli untuk menumpahkan cairan kontolnya.
"UUGGHH!! Bangsat! Gue mau ngecret.. Bersiaplah.."
Dengan penuh tenaga, Romli memegang kepalaku lalu pinggulnya didorong maju sehingga kontolnya nyaris menyumbat kerongkonganku.
"AARRGGHH!!" Dengan jeritan yang memekakkan telinga, Romli pun menumpahkan semua isi biji pelernya tepat ke dalam kerongkonganku.
CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! Saya tak perlu menelannya sebab kepala kontolnya langusng menembakkan pejuhnya ke dalam perutku. Cairan hangat kental dari kontolnya meluncur turun kerongkonganku. Rasanya erotis sekali. Sambil mengejang-ngejang, Romli menghentak-hentakkan pinggulnya dan tetap mengerang.
"UUGGHH.. AAGGHH.. OOHH.. AARRGGHH.." CRROTT!! CCRROOTT!! CRROOTT!! Dan akhirnya semuanya selesai. Tapi semua belum berakhir.
Junar memeluk tubuhku dan menggulingkannya. Dia lalu segera berbaring di samping tubuh telanjangku secara menyamping. Tubuhku menghadap ke arah lain dengan pantatku menghadap kontolnya. Tiba-tiba, dengan bernafsu, dia memelukku dan menarik tubuhku kuat-kuat.
"AARRGGHH!!" teriakku. Junar sendiri hanya menyuarakan "MMPPHH!!" saat kontol besar miliknya menghunjam masuk ke dalam lubang pantatku yang masih sempit. Dengan sedikit ludah yang dilumurkan ke kepala kontol Junar, dia membenamkan kepala kontolnya ke bongkahan pantatku. Masuk perlahan hingga akhirnya kontol itu melesak dan terjepit lubang anusku.
Tanpa ampun, kepala kontol itu menarik lubang anusku lebar-lebar. Karena dilakukan dengan kasar sekali, aku kesakitan, saya meronta-ronta namun Junar memegangku dengan kuat. Romli terangsang sekali melihat rasa sakit yang kualami; kontolnya kembali ngaceng.
"AARRGHH!! Sakit, Bang! Ampun," ratapku meski kurasakan sensasi nikmat diantara rasa sakit itu. Ah sensasional !!!.
Sambil tetap menyodomiku, Junar berusaha untuk berkata di antara helaan napasnya.
"Kamu suka ga?.. UGH! . ARGH! OOHH! Aku baru tau rasanya ngentotin cowok.. ARGh!"
Saya hanya dapat pasrah. Rasa sakit di anusku dan sengatan rasa nikmat karena entotan itu semakin bertambah parah saja. Kontol Junar menghajar pantatku tanpa ampun. Air mataku terus mengalir keluar, membaurkan rasa sakit dan nikmat yang tiada terkira. Sungguh, saya sangat menyukainya. Junar sedang memakai tubuhku untuk kepuasan seksualnya. Entah kenapa, tapi pikiran itu malah membuatku semakin terangsang.
Selama beberapa saat, saya merasa seperti akan buang air besar. Tekanan dalam ususku bertambah besar. Lalu saya teringat akan sebuah artikel yang kubaca bahwa ketika pertama kali disodomi, perasaan palsu itu memang muncul karena usus tertipu dan mengira kontol yang sedang menyodomi itu adalah kotoran manusia.
Tiba-tiba kontol Junar mengenai sesuatu jauh di dalam tubuhku.
"AARGGHH!!" erangku.
Begitu organ itu tersentuh, tiba-tiba saya merasa 'kesetrum'. Gelombang orgasme yang luar biasa menyapu seluruh tubuhku, seakan-akan saya sedang orgasme. Memang G-spotku yang tersentuh, dan itu memberikan nikmat yang tiada taranya, mulutku ternganga menikmatinya. Romli menatapku dengan mata berbinar-binar, ingin mencicipi pantatku, namun Junar tak mengizinkannya sebab dia sedang sibuk ngentotin saya. Maka Romli pun menemukan ide hebat.
"Jun, Kamu berbaring di bawah dan dia di atas. Lalu aku bakal bergabung dengan kamu," katanya.
"Aku pengen mraktekin yang di video porno itu. Dan keliatannya enak, tuh."Romli menunjuk TV yang sedang memutar video pornoku.
"Gile kamu. Tapi bleh juga, dua kontol menghajar anus nih anak" sahut Junar terengah-engah.
Saya agak takut mendengar ide Romli, namun saya juga terangsang. Doble-fuck terdengar erotis. Sakit tapi nikmat. Maka Junar pun berguling sambil tetap menyodomiku. Kini dia berada di bawah dan saya menimpa tubuhnya. Kontolnya masih tertanam di dalam lobang pantatku, memompaku tanpa ampun. Pada saat tulah, Romli menimpa tubuhku.
Bibirnya menempel pada bibirku dan pria tukang itu kembali menciumiku. Sambil mencium, Romli memposisikan kontolnya tepat di bawah kontol Junar yang sedang sibuk memompaku. Tiba-tiba Romli memaksakan kontolnya masuk. Kontol itu, dibantu oleh cairan precum, mulai membuka luang anusku lebih besar lagi. Kurasakan lubangku tertarik semakin lebar, seakan ingin robek.
"AARRGGHH!!" erangku, sakit sekali.
Hal itu tidak mudah sebab lubangku ketat sekali. Romli hampir frustasi namun dia pantang mundur. Pelan tapi pasti, kontolnya membor lubangku. Begitu ada celah, kepala kontol Romli menyelip masuk dan terus memaksa masuk.
"AARRGGHH!! Ampun, Bang!" rengekku lagi berakting seolah aku ksakita, agar mereka berdua semakin terangsang. Padahal aku merasakan hal ternikmat yang belum kurasakan sebelumnya.
"Sstt.. Diam aja. Nikmat sekali kok. Bayangkan dua kontol gede di lobang kamu. Enak lagi," bujuk Romli.
Untuk mengekspresikan rasa nikmat itu saya tetap menjerit dan menjerit. Akhirnya PLOP! Kontol Romli masuk! Kini lubangku terasa penuh sekali. Kedua kontol itu berebut tempat di dalam anusku, sesak sekali rasanya. Junar dan Romli pun mendesah keenakkan. Kemudian, secara bergantian, mereka memompa pantatku. Ritme mereka adalah jika Junar menusuk masuk, maka Romli akan menarik keluar; dan begitu sebaliknya. Mereka kompak sekali sampai-sampai saya terlena dibuatnya. Aku melayang-layang karena kenikmatan yang kurasakan dari dinding anusku yang menjepit dua kontol gede itu.
Memang awalnya ada rasa sakit. Namun, hanya dalam hitungan detik rasa sakit itu pelan-pelan memudar. Sungguh nikmat sekali!! Satu lubang ketat diisi DUA KONTOL sekaligus! Bayangkan! Tubuhku terguncang-guncang, mengikuti irama sodokan kontol mereka. Tubuh Romli yang besar dan berotot menimpa tubuhku dan menahannya di sana. Kira-kira setengah jam berlalu. Mereka memang sengaja menahan laju ejakulasi mereka untuk memperlama permainan. Oh, mereka sungguh tahu cara memuaskan sorang gay 'bottom' sepertiku. Namun, semua hal mesti berakhir, begitu pula permainan panas ini.
Kontol Junar mulai berdenyut-denyut tak karuan. Denyutannya menggesek-gesek kepala kontol Romli dan memicu denyutannya. Berdua mereka mengerang-ngerang seakan-akan sedang dalam kesakitan yang teramat sangat. Ekspresi muka mereka pun menunjukkan rasa sakit. Namun mereka tidak kesakitan sama sekali. Sebaliknya, mereka sedang dilanda rasa nikmat yang amat teramat sangat. Rasa nikmat yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata.
"UGH! Oohh.. Hhoosshh.. Oohh.. Aahh.. Gue.. Oohh.. Mau kke.. Hhooshh.. Keluar," erang Junar, kedua tangannya mencengkeram pinggangku kuat-kuat.
"Aahh.. Gue juga.. Oohh.. Hhoosshh.. Uugh.." balas Romli.
Semakin lama, tubuh telanjang Romli yang menggairahkan itu semakin menekan tubuhku. Tak ayal lagi, perutnya yang kotak-kotak itu menggesek-gesek kontolku. Kontolku terperangkap dan tergesek-gesek mengikuti sodokan kontolnya. Secara tak langsung, Romli sedang men-coli kontolku dengan perutnya!
"ARGh! Gue sampe," teriak Junar dan muncratlah pejuhnya. CRROTT!! CCROOTT!! CCRROOTT!
"AARRGGHH..!! Erangnya, panjang sekali seperti lolongan serigala.
Kepala kontolnya menggembung sedikit dan terus-menerus menembakkan pejuhnya. Kontan saja perutku dibanjiri cairan lava putih yang mendidih. Ejakulasi Junar memicu ejakulasi Romli. Pria ganteng itu pun mulai mengejang-ngejang dan berteriak-teriak.
"UUGGHH!! OOHH!!" CRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! Tubuhnya berguncang-guncang dan gerakannya memicu orgasmeku.
"AARRGGHH..!!" erangku saat kepala kontolku mulai menembakkan pejuh.
CCROOTT!! CCROOTT!! CCRROOTT!! Pejuhku tersemprot mengotori tubuhku dan tubuh Romli. Berhubung pejuhku amat banyak, sebagian mengalir turun dan mengotori ranjangku serta tubuh Junar yang berada di bawahku. Bertiga kami mengerang-erang, terguncang-guncang, dikuasai nafsu birahi homoseksual.
"AAGGHH!! UUGGHH!! OOHH!! AAHH!!" Dan semuanya berakhir beberapa saat kemudian.
Tubuh kami basah dengan keringat bagaikan mandi uap, dan kami kesulitan menghela napas. Rasanya capek sekali, namun juga nikmat. Kami puas sekali. Terutama Romli dan Junar, karena mereka akhirnya dapat mencicipi enaknya ngentotin cowok Chinese sepertiku.
Begitu Romli mencabut kontolnya, pejuhnya meleleh keluar dari lubang pantatku. Dan saat saya mengangkat tubuhku, kontol Junar terlepas diikuti dengan lelehan pejuh yang jauh lebih banyak lagi. Perutku menggembung karena pejuh, rasanya penuh sekali. Romli tersenyum nakal padaku.
Tanpa dikomando, Junar dan Romli mengangkat tubuhku lalu mereka membawaku keluar kamar dan masuk ke kamar mandi. Di sana, saya terpaksa harus berjongkok bermenit-menit hanya untuk mengeluarkan pejuh mereka dari lubang pantatku. Setelah itu, kami mandi bertiga sambil saling meraba-raba. Tak ayal lagi, kontol kami pun ngaceng lagi.
"Waduh, tegang lagi nih," keluh Romli, matanya mengerdip nakal padaku.
"Mau lagi?" Langsung saja, saya mengangguk.
Tanpa basa-basi lagi, mereka kembali menyodomiku. Masih dengan double fuck tapi kali ini smabil berdiri. Saya hanya dapat mengerang-erang, nikmat sekaligus kesakitan karena perlakuan kasar, sambil berpegangan erat-erat pada tubuh Romli ketika Romli menancapkan batangnya ke dalam tubuhku. Sementara itu, Junar menyodok lubangku dari belakang. Aahh nikmatnya double fuck! Tak lama kemudian, kami pun mencapai klimak dan.. Pejuh mereka kembali membanjiriku. Oh sungguh hari yang tak terlupakan! Andai double fuck ini dilakukan dengan pelan dan penuh perasaan, tentu sensasinya akan berbeda!!!
5/23/2011
Pak Pardi dan Aku
(by: hayudian@telkom.net)
Waktu itu aku berumur 16 tahun dan aku adalah anak seorang pejabat daerah. Aku tinggal di tempat yang pelosok, kebetulan daerah itu sedang dalam tahap pengembangan, letaknya di dekat laut dan rumahku dekat kaki gunung yang juga tak jauh dari laut.
Ayah dan ibuku setiap hari selalu pergi, entah itu rapat, penyuluhan atau apapun itu. Hari itu ayah bilang padaku untuk memberikan amplop pada Pak Pardi, tukang kebun yang berusia 40-an, berambut keriting tingginya mungkin sekitar 160 cm-an dan berbadan kekar dengan kulit kecoklatan terbakar matahari. Pak Pardi sedang mengurus kebon ayah.
Sore itu sekitar jam 4-an, aku pakai sepeda pergi ke kebon. Sesampai di gubuk tempat Pak Pardi biasa istirahat dia tak ada. Jadi aku cari sambil sesekali memanggil. Ternyata dia ada di pinggir kolam ikan, sedang menanam bibit jati. Aku biasa melihat Pak Pardi bekerja hanya memakai celana panjang dan tak berbaju, badannya keren sekali. Tapi hari ini pemandangan itu berubah, kulihat Pak Pardi hanya memakai celana kolor berwarna biru yang sudah hampir pudar warnanya.
Perlahan aku dekati dan berusaha tak membuat suara. Kontolku seketika ngaceng, apalagi semakin aku dekat dengannya aku semakin jelas melihat celana kolornya sudah tidak ketat lagi, karetnya sudah kendor sehingga karetnya turun dan disatu sisi aku melihat tonjolan yang lumayan besar, lalu disisi samping kiri dan kanannya aku melihat jembutnya yang menyeruak.
Lalu dia mengambil bibit dan menungging untuk menanamnya. Ternyata bagian bawah celana kolornya robek lumayan besar, sehingga salah satu biji pelernya sedikit keluar. Aku menahan nafas dan kuperbaiki posisi kontolku karena terasa sangat tidak nyaman. Aku berusaha menenangkan diriku, lalu aku pura-pura memanggil namanya lagi. Dia menengok dan sedikit kaget melihat aku sudah di dekatnya. Dia memperbaiki celana kolornya dan berusaha senyum meski aku tahu dia sedikit canggung.
"Pak, ini ada titipan dari ayah," ujarku sambil menyerahkan amplop dari kantong celanaku.
"Oh makasih Mas," katanya dengan mimik bingung akan ditaruh dimana amplop itu.
"Sini, aku bantu taruh Pak Pardi, di deket celana ya?" kataku sambil mengambil lagi amplop itu dari tangannya dan berjalan ke arah celana Pak Pardi yang di alasi daun pisang lebar tak jauh dari tempatnya menanam.
"Lagi apa sih Pak Pardi?" tanyaku lagi.
"Ini Mas, tanem bibit jati bapak, sudah selesai sih, bapak suruh ambil ikan buat acara besok jadi saya lepas celananya biar nggak kotor,"
"Oh," ujarku makfum.
Lalu kulihat dia mengambil jala besar dan melemparkannya ke arah kolam. Setelah beberapa lama, dia turun ke kolam dan air kolam setengah pinggang membasahi tubuhnya. Lalu dia menarik jala itu, kelihatannya dia sedikit kesusahan sehingga aku bantu dia menarik dari atas. Banyak sekali ikannya. Pak Pardi kemudian naik ke atas, dan saat itu kepala kontol Pak Pardi menyembul dari sisi samping celana kolornya, dan karena celana kolornya basah, tercetak jelas bagian rahasia Pak Pardi.
"Pak, kepalanya keluar tuh," ujarku sambil tertawa. Dia melihat ke bawah dan ikut tertawa sambil memasukkan kepala kontolnya, sungguh erotis.
Lalu dia nongkrong di atas jala untuk membersihkan beberapa kotoran sebelum mengambil ikan. Aku tak mensia-siakan kesempatan itu dan segera ikut nongkrong di depannya sambil berusaha membantu padahal tujuanku hanya ingin melihat kontolnya. Benar saja, karena kolornya basah menjadi agak berat sehingga merosot, kali ini aku bisa melihat jembutnya di bagian atas ban karet kolor tersembul keluar.
"Pak Pardi, tuh jembutnya keliatan," dia kembali tersenyum lalu menaikkan celananya sedikit.
"Enak ya Pak Pardi"
"Enak apanya Mas"
"Pak Pardi sudah jembutan, pasti lebet. Aku pengen banget punya jembut"
Dia tertawa dan kemudian berkata, "Lah pasti seumur Mas sudah ada"
"Iya sih, tapi pasti nggak selebat Pak Pardi" dan kulihat dia hanya tersenyum lagi.
Selesai sudah tugas dia hari itu, setelah membawanya ke pondok, masih dengan celana kolornya Pak Pardi membawa ember kecil.
"Mau kemana Pak?" tanyaku.
"Ke pancuran," jawabnya. Di kebon ayahku ini ada pancoran air dari bambu, sumbernya dari aliran air di gunung.
"Aku ikut ya Pak, serem disini sendirian"
"Lah, aku mau mandi kok ikut"
"Nggak apa-apa lah Pak, aku ikut yah"
"Ya sudah ikut saja"
Sambil berjalan aku mencoba memancing ke arah pembicaraan yang lebih saru.
"Pak Pardi masih suka ngocok nggak?"
Dia terlihat kaget dengan pertanyaanku, tapi dia menjawabnya, "Ya kadang-kadang"
"Berapa kali Pak sehari"
"Yah nggak tiap hari. Kalo istri mau malemnya ya hari itu saya tidak ngocok".
"Kamu suka ngocok," tanyanya kemudian.
"Iya Pak, suka sekali. Hari ini Pak Pardi ngocok nggak"
Selesai ku tanya begitu aku lihat ke arah celana kolornya dan semakin gembung saja, bahkan sudah membentuk tenda, sehingga celananya turun dan jembutnya kembali terlihat dan bentuk kepala kontolnya tercetak jelas.
"Sebenernya sih saya nggak rencana ngocok, tapi.."
"Tapi apa Pak?"
"Mas Win sih bikin saya ngaceng nih," ujarnya sambil memperbaiki posisi batang kontolnya.
"Yah kok di benerin sih Pak letaknya, saya suka sekali ngelihatnya"
Pak Pardi menatapku lalu berkata, "Mas win suka ngelihat kontol?"
"Iya Pak. Mm kalo boleh saya mau lihat kontol Pak Pardi, boleh nggak Pak?"
Pak Pardi menghentikan langkahnya dan kemudian membalikkan badannya ke arah saya. Dia diam saja, tapi tangannya menurunkan celana kolornya hingga sebatas lutut, sehingga terlihatlah pemandangan yang sangat saya impikan.
Kontol Pak Pardi gemuk dan besar, benar-benar full ngaceng dan batang kontolnya berurat-urat semakin menampakkan kesan jantan dan gagah. Pelernya tidak terlalu besar dan bulu-bulu jembutnya tumbuh lebat serta menyeruak kemana-mana, benar-benar kontol yang sempurna buatku.
Dengan agak sedikit gemetar aku memegang batang kontol itu, terus terang ini pertama kalinya aku megang kontol orang dewasa. Batang kontol itu terasa hangat dalam genggaman tanganku dan sesekali berkedut-kedut. Kulirik ke arah Pak Pardi dan dia juga menatapku tapi tanpa ekspresi. Aku buat gerakan mengocok seperti aku biasa mengocok kontolku dan Pak Pardi juga sangat menikmatinya, terbukti dia terus memaju mundurkan badannya.
Tiba-tiba aku lepas genggamanku dari kontolnya, dan sebelum dia bertanya aku berkata,
"Pak Pardi, tunjukin ke saya dong cara bapak biasa ngocok saya pengen liat orang gede ngocok kontol"
"Ohh, em gitu ya," ujarnya dengan nafas yang masih dikuasai birahi.
Kemudian Pak Pardi menarik daun pisang yang ada di dekat kami hingga putus, kemudian menaruhnya di tanah. Bersandar di pohon pisang itu Pak Pardi mulai mengocok kontolnya.
Dia mengocok kontolnya dengan gerakan yang cepat dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya terus meraba-raba bulu jembut dia yang ampun banget lebetnya dengan mata yang tertutup dan gumaman keenakan keluar dari mulutnya.
"Enak ya Pak?" tanyaku dan aku berada tepat disamping kontolnya.
"I.. Iya Mas Win, enak sekali. Kenapa nggak ikut ngocok sekalian?"
"Ah saya malu Pak, kontol saya nggak sebesar punya bapak"
"Kenapa malu, kamu kan belum sempurna betul pertumbuhan kontolnya. Lagi pula kontol itu yang penting maennya, bukan ukurannya."
"Gitu ya Pak?" jawabku gelisah karena kontolku memang pengen keluar karena sudah sangat ngaceng melihat tubuh bugil Pak Pardi yang berotot berada di atas daun pisang sedang mengocok kontolnya yang besar.
"Ah.. Shh, ayo Mas Win buka aja, apa mau bapak bukain?"
Akhirnya aku tahan juga dan segera membuka baju dan akhirnya celanaku hingga benar-benar bugil.
"Wah sudah ngaceng ya Mas Win," ujar Pak Pardi sambil tersenyum melihat keadaan kontolku.
"Iya Pak, abis ngeliat Pak Pardi bikin saya jadi ngaceng juga"
"Sini sebelah saya saja"
Aku kemudian duduk di sebelahnya dan mulai mengocok kontolku. Tangan kanan Pak Pardi menggerayangi jembutku.
"Jembut Mas Win persis kayak anak bapak, Atin, cuma kontol Mas Win ini agak panjang yah"
Aku kaget mendengar ucapan Pak Pardi.
"Memangnya Pak Pardi pernah liat kontol Atin?" tanyaku penasaran menghentikan gerakanku di kontol.
Atin adalah kakak kelasku di SMP, tapi dia nggak nerusin SMA mungkin karena biaya. Atin itu anak tertua dan satu-satunya dari Pak Pardi, dia juga sering membantu di rumah.
"Kenapa, Mas Win suka ya dengernya," ujar Pak Pardi yang kini membantuku mengocok.
Kulit tangannya terasa kasar di kontolku tapi genggaman tangannya sangat mantap, baru sekali ini juga batang kontolku di pegang orang, Aku sedikit kelojotan karena sensasinya.
"Bapak suka ngeliat si Atin ngocok di kali belakang rumah kalo sore, kadang-kadang bapak juga suka ngocok bareng"
Ah, darahku semakin mendidih mendengarnya, belum lagi kocokan Pak Pardi bener-bener yahud. Dia menghentikan kocokan di kontolnya dan mengalihkan kedua tangannya di kontolku. Kini aku yang nyender di batang pisang dan Pak Pardi duduk bersila di sampingku dekat di bagian kontol. Sambil tangan kanannya mengocok batang kontolku, tangan kirinya tidak henti-hentinya bergerilya di biji peler dab jembutku yang masih terbilang tipis.
"Kadang bapak ngocokin kontol dia, dan dia ngocokin kontol bapak, aduh enak banget Mas Win. Persis kayak kita gini"
"Ah Pak Pardi, gila bener, aku jadi pengen ngecrot dengernya"
"Mas Win mau nggak kalo kapan-kapan bapak ajak ngocok bareng sama Atin?" tanya Pak Pardi sambil terus merancapiku.
Aku tidak bisa menjawab pertanyaannya, hanya bisa melenguh enak dan kedua tanganku terangkat ke atas dan memeluk batang pisang yang kusandari.
"Ahh.. Mau banget Pak, mau banget, aduh Pak.. enak, pengen keluar udah bener-bener nggak kuat"
Tapi sebelnya Pak Pardi menghentikan kocokan mautnya di kontolku. Aku membuka mata dan bertanya dengan tatapan mataku,
"Mas Win bangun dulu" ujarnya. Aku bangun dan bersender di batang pisang yang sama dengan kontol yang masih tegak mengacung.
"Kenapa Pak?"
"Kalo mau ngecrot, kita ngecrotin samaan ya"
"Kita ngocok berdiri Pak?"
"Nggak, liat aja. Bapak biasanya kalo ngecrot bareng Atin sering yang kayak gini, Mas Win diem aja yah"
Kemudian Pak Pardi mendekatiku, sebagai yang sangat tak berpengalaman jelas sekali aku deg-deganm apalagi melihat Pak Pardi sekarang hanya beberapa senti saja di depanku dan kontol kami sudah saling menyenggol.
Pak Pardi kemudian memelukku, karena tubuh kami hampir setara, posisi kontol kami tak terlalu berbeda sehingga saat Pak Pardi memelukku kontol kami saling bersentuhan.
Darahku seperti mengalir dengan cepat dan sensasi kontol kami yang saling berdempetan membuat tubuhku bergetar.
Pak Pardi kemudian menggeol-geolkan tubuhnya dengan gerakan memutar dan sedikit naik turun. Rasanya LUAR BIASA, kontol kami bergesekan, jembut kami bersatu dan sesekali ada sedikit rasa sakit saat jembutku tertarik entah oleh gerakan gesek batang kontolnya atau tertarik oleh jembutnya.
Kedua tangan Pak Pardi memeluk batang pisang dan kepalanya di rebahku di bahuku sementara kontolnya terus di gesek-gesekkan di kontolku.
Aku benar-benar sudah nggak tahan lagi. Akupun mengerang keras dan..
Crott.. Crott.. Crott spermaku menyembur berkali-kali diantara gesekan kontol kami, entah kemana saja semprotannya aku tak perduli karena rasa yang begitu enak membuatku tak berfikir apa-apa lagi. Kemudian Pak Pardi melepas pelukannya di tubuhku lalu mengocok kontolnya dengan sangat cepat dan kembali
Crott.. Crott.. Crott.. Crott.. Crott.. Crott, semprotan yang jauh lebih banyak dari kepala kontolnya di arahkan Pak Pardi di kontol dan jembutku. Cairan kental itu mengalir ke bawah dan Pak Pardi kembali memelukku serta kembali menggesekkan kontolnya sembari ia mengatur nafasnya yang terengah-engah.
Kami akhirnya sudah mendapatkan kesadaran, dan dengan tubuh bugil berjalan ke arah pancuran untuk membersihkan tubuh dan sisa-sisa sperma.
"Pak, kapan kita bisa ngocok bareng Atin?" tanyaku.
"Yah kalo Mas Win mau, besok juga bisa disini" jawab Pak Pardi sambil tersenyum.
"Nanti bapak kasih liat, bagaimana cara bapak maen sama Atin."
"Maen..? Maen apa Pak?"
"Pokoknya liat aja besok, di jamin Mas Win suka, malah pengen ngerasain"
"Ah Pak Pardi ini bikin penasaran aja" ujarku manja.
"Tapi apa Atin mau ya kalo ada aku Pak?"
"Dia sih pasti mau, malah seneng. Kadang Pak Danial juga suka ikutan"
"Pak Danial hansip?" tanyaku kaget.
"Iya"
Mulutku melongo, Pak Danial adalah hansip yang suka jaga malam di rumahku.
"Ya sudah Pak, saya sudah nggak sabar nunggu besok"
Pak Pardi tertawa dan menarik jembutku sehingga aku kaget, lalu Pak Pardi berjalan cepat mendahuluiku yang berusaha mengejarnya untuk balas dendam menarik jembutnya juga. Senangnya...
E N D
Waktu itu aku berumur 16 tahun dan aku adalah anak seorang pejabat daerah. Aku tinggal di tempat yang pelosok, kebetulan daerah itu sedang dalam tahap pengembangan, letaknya di dekat laut dan rumahku dekat kaki gunung yang juga tak jauh dari laut.
Ayah dan ibuku setiap hari selalu pergi, entah itu rapat, penyuluhan atau apapun itu. Hari itu ayah bilang padaku untuk memberikan amplop pada Pak Pardi, tukang kebun yang berusia 40-an, berambut keriting tingginya mungkin sekitar 160 cm-an dan berbadan kekar dengan kulit kecoklatan terbakar matahari. Pak Pardi sedang mengurus kebon ayah.
Sore itu sekitar jam 4-an, aku pakai sepeda pergi ke kebon. Sesampai di gubuk tempat Pak Pardi biasa istirahat dia tak ada. Jadi aku cari sambil sesekali memanggil. Ternyata dia ada di pinggir kolam ikan, sedang menanam bibit jati. Aku biasa melihat Pak Pardi bekerja hanya memakai celana panjang dan tak berbaju, badannya keren sekali. Tapi hari ini pemandangan itu berubah, kulihat Pak Pardi hanya memakai celana kolor berwarna biru yang sudah hampir pudar warnanya.
Perlahan aku dekati dan berusaha tak membuat suara. Kontolku seketika ngaceng, apalagi semakin aku dekat dengannya aku semakin jelas melihat celana kolornya sudah tidak ketat lagi, karetnya sudah kendor sehingga karetnya turun dan disatu sisi aku melihat tonjolan yang lumayan besar, lalu disisi samping kiri dan kanannya aku melihat jembutnya yang menyeruak.
Lalu dia mengambil bibit dan menungging untuk menanamnya. Ternyata bagian bawah celana kolornya robek lumayan besar, sehingga salah satu biji pelernya sedikit keluar. Aku menahan nafas dan kuperbaiki posisi kontolku karena terasa sangat tidak nyaman. Aku berusaha menenangkan diriku, lalu aku pura-pura memanggil namanya lagi. Dia menengok dan sedikit kaget melihat aku sudah di dekatnya. Dia memperbaiki celana kolornya dan berusaha senyum meski aku tahu dia sedikit canggung.
"Pak, ini ada titipan dari ayah," ujarku sambil menyerahkan amplop dari kantong celanaku.
"Oh makasih Mas," katanya dengan mimik bingung akan ditaruh dimana amplop itu.
"Sini, aku bantu taruh Pak Pardi, di deket celana ya?" kataku sambil mengambil lagi amplop itu dari tangannya dan berjalan ke arah celana Pak Pardi yang di alasi daun pisang lebar tak jauh dari tempatnya menanam.
"Lagi apa sih Pak Pardi?" tanyaku lagi.
"Ini Mas, tanem bibit jati bapak, sudah selesai sih, bapak suruh ambil ikan buat acara besok jadi saya lepas celananya biar nggak kotor,"
"Oh," ujarku makfum.
Lalu kulihat dia mengambil jala besar dan melemparkannya ke arah kolam. Setelah beberapa lama, dia turun ke kolam dan air kolam setengah pinggang membasahi tubuhnya. Lalu dia menarik jala itu, kelihatannya dia sedikit kesusahan sehingga aku bantu dia menarik dari atas. Banyak sekali ikannya. Pak Pardi kemudian naik ke atas, dan saat itu kepala kontol Pak Pardi menyembul dari sisi samping celana kolornya, dan karena celana kolornya basah, tercetak jelas bagian rahasia Pak Pardi.
"Pak, kepalanya keluar tuh," ujarku sambil tertawa. Dia melihat ke bawah dan ikut tertawa sambil memasukkan kepala kontolnya, sungguh erotis.
Lalu dia nongkrong di atas jala untuk membersihkan beberapa kotoran sebelum mengambil ikan. Aku tak mensia-siakan kesempatan itu dan segera ikut nongkrong di depannya sambil berusaha membantu padahal tujuanku hanya ingin melihat kontolnya. Benar saja, karena kolornya basah menjadi agak berat sehingga merosot, kali ini aku bisa melihat jembutnya di bagian atas ban karet kolor tersembul keluar.
"Pak Pardi, tuh jembutnya keliatan," dia kembali tersenyum lalu menaikkan celananya sedikit.
"Enak ya Pak Pardi"
"Enak apanya Mas"
"Pak Pardi sudah jembutan, pasti lebet. Aku pengen banget punya jembut"
Dia tertawa dan kemudian berkata, "Lah pasti seumur Mas sudah ada"
"Iya sih, tapi pasti nggak selebat Pak Pardi" dan kulihat dia hanya tersenyum lagi.
Selesai sudah tugas dia hari itu, setelah membawanya ke pondok, masih dengan celana kolornya Pak Pardi membawa ember kecil.
"Mau kemana Pak?" tanyaku.
"Ke pancuran," jawabnya. Di kebon ayahku ini ada pancoran air dari bambu, sumbernya dari aliran air di gunung.
"Aku ikut ya Pak, serem disini sendirian"
"Lah, aku mau mandi kok ikut"
"Nggak apa-apa lah Pak, aku ikut yah"
"Ya sudah ikut saja"
Sambil berjalan aku mencoba memancing ke arah pembicaraan yang lebih saru.
"Pak Pardi masih suka ngocok nggak?"
Dia terlihat kaget dengan pertanyaanku, tapi dia menjawabnya, "Ya kadang-kadang"
"Berapa kali Pak sehari"
"Yah nggak tiap hari. Kalo istri mau malemnya ya hari itu saya tidak ngocok".
"Kamu suka ngocok," tanyanya kemudian.
"Iya Pak, suka sekali. Hari ini Pak Pardi ngocok nggak"
Selesai ku tanya begitu aku lihat ke arah celana kolornya dan semakin gembung saja, bahkan sudah membentuk tenda, sehingga celananya turun dan jembutnya kembali terlihat dan bentuk kepala kontolnya tercetak jelas.
"Sebenernya sih saya nggak rencana ngocok, tapi.."
"Tapi apa Pak?"
"Mas Win sih bikin saya ngaceng nih," ujarnya sambil memperbaiki posisi batang kontolnya.
"Yah kok di benerin sih Pak letaknya, saya suka sekali ngelihatnya"
Pak Pardi menatapku lalu berkata, "Mas win suka ngelihat kontol?"
"Iya Pak. Mm kalo boleh saya mau lihat kontol Pak Pardi, boleh nggak Pak?"
Pak Pardi menghentikan langkahnya dan kemudian membalikkan badannya ke arah saya. Dia diam saja, tapi tangannya menurunkan celana kolornya hingga sebatas lutut, sehingga terlihatlah pemandangan yang sangat saya impikan.
Kontol Pak Pardi gemuk dan besar, benar-benar full ngaceng dan batang kontolnya berurat-urat semakin menampakkan kesan jantan dan gagah. Pelernya tidak terlalu besar dan bulu-bulu jembutnya tumbuh lebat serta menyeruak kemana-mana, benar-benar kontol yang sempurna buatku.
Dengan agak sedikit gemetar aku memegang batang kontol itu, terus terang ini pertama kalinya aku megang kontol orang dewasa. Batang kontol itu terasa hangat dalam genggaman tanganku dan sesekali berkedut-kedut. Kulirik ke arah Pak Pardi dan dia juga menatapku tapi tanpa ekspresi. Aku buat gerakan mengocok seperti aku biasa mengocok kontolku dan Pak Pardi juga sangat menikmatinya, terbukti dia terus memaju mundurkan badannya.
Tiba-tiba aku lepas genggamanku dari kontolnya, dan sebelum dia bertanya aku berkata,
"Pak Pardi, tunjukin ke saya dong cara bapak biasa ngocok saya pengen liat orang gede ngocok kontol"
"Ohh, em gitu ya," ujarnya dengan nafas yang masih dikuasai birahi.
Kemudian Pak Pardi menarik daun pisang yang ada di dekat kami hingga putus, kemudian menaruhnya di tanah. Bersandar di pohon pisang itu Pak Pardi mulai mengocok kontolnya.
Dia mengocok kontolnya dengan gerakan yang cepat dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya terus meraba-raba bulu jembut dia yang ampun banget lebetnya dengan mata yang tertutup dan gumaman keenakan keluar dari mulutnya.
"Enak ya Pak?" tanyaku dan aku berada tepat disamping kontolnya.
"I.. Iya Mas Win, enak sekali. Kenapa nggak ikut ngocok sekalian?"
"Ah saya malu Pak, kontol saya nggak sebesar punya bapak"
"Kenapa malu, kamu kan belum sempurna betul pertumbuhan kontolnya. Lagi pula kontol itu yang penting maennya, bukan ukurannya."
"Gitu ya Pak?" jawabku gelisah karena kontolku memang pengen keluar karena sudah sangat ngaceng melihat tubuh bugil Pak Pardi yang berotot berada di atas daun pisang sedang mengocok kontolnya yang besar.
"Ah.. Shh, ayo Mas Win buka aja, apa mau bapak bukain?"
Akhirnya aku tahan juga dan segera membuka baju dan akhirnya celanaku hingga benar-benar bugil.
"Wah sudah ngaceng ya Mas Win," ujar Pak Pardi sambil tersenyum melihat keadaan kontolku.
"Iya Pak, abis ngeliat Pak Pardi bikin saya jadi ngaceng juga"
"Sini sebelah saya saja"
Aku kemudian duduk di sebelahnya dan mulai mengocok kontolku. Tangan kanan Pak Pardi menggerayangi jembutku.
"Jembut Mas Win persis kayak anak bapak, Atin, cuma kontol Mas Win ini agak panjang yah"
Aku kaget mendengar ucapan Pak Pardi.
"Memangnya Pak Pardi pernah liat kontol Atin?" tanyaku penasaran menghentikan gerakanku di kontol.
Atin adalah kakak kelasku di SMP, tapi dia nggak nerusin SMA mungkin karena biaya. Atin itu anak tertua dan satu-satunya dari Pak Pardi, dia juga sering membantu di rumah.
"Kenapa, Mas Win suka ya dengernya," ujar Pak Pardi yang kini membantuku mengocok.
Kulit tangannya terasa kasar di kontolku tapi genggaman tangannya sangat mantap, baru sekali ini juga batang kontolku di pegang orang, Aku sedikit kelojotan karena sensasinya.
"Bapak suka ngeliat si Atin ngocok di kali belakang rumah kalo sore, kadang-kadang bapak juga suka ngocok bareng"
Ah, darahku semakin mendidih mendengarnya, belum lagi kocokan Pak Pardi bener-bener yahud. Dia menghentikan kocokan di kontolnya dan mengalihkan kedua tangannya di kontolku. Kini aku yang nyender di batang pisang dan Pak Pardi duduk bersila di sampingku dekat di bagian kontol. Sambil tangan kanannya mengocok batang kontolku, tangan kirinya tidak henti-hentinya bergerilya di biji peler dab jembutku yang masih terbilang tipis.
"Kadang bapak ngocokin kontol dia, dan dia ngocokin kontol bapak, aduh enak banget Mas Win. Persis kayak kita gini"
"Ah Pak Pardi, gila bener, aku jadi pengen ngecrot dengernya"
"Mas Win mau nggak kalo kapan-kapan bapak ajak ngocok bareng sama Atin?" tanya Pak Pardi sambil terus merancapiku.
Aku tidak bisa menjawab pertanyaannya, hanya bisa melenguh enak dan kedua tanganku terangkat ke atas dan memeluk batang pisang yang kusandari.
"Ahh.. Mau banget Pak, mau banget, aduh Pak.. enak, pengen keluar udah bener-bener nggak kuat"
Tapi sebelnya Pak Pardi menghentikan kocokan mautnya di kontolku. Aku membuka mata dan bertanya dengan tatapan mataku,
"Mas Win bangun dulu" ujarnya. Aku bangun dan bersender di batang pisang yang sama dengan kontol yang masih tegak mengacung.
"Kenapa Pak?"
"Kalo mau ngecrot, kita ngecrotin samaan ya"
"Kita ngocok berdiri Pak?"
"Nggak, liat aja. Bapak biasanya kalo ngecrot bareng Atin sering yang kayak gini, Mas Win diem aja yah"
Kemudian Pak Pardi mendekatiku, sebagai yang sangat tak berpengalaman jelas sekali aku deg-deganm apalagi melihat Pak Pardi sekarang hanya beberapa senti saja di depanku dan kontol kami sudah saling menyenggol.
Pak Pardi kemudian memelukku, karena tubuh kami hampir setara, posisi kontol kami tak terlalu berbeda sehingga saat Pak Pardi memelukku kontol kami saling bersentuhan.
Darahku seperti mengalir dengan cepat dan sensasi kontol kami yang saling berdempetan membuat tubuhku bergetar.
Pak Pardi kemudian menggeol-geolkan tubuhnya dengan gerakan memutar dan sedikit naik turun. Rasanya LUAR BIASA, kontol kami bergesekan, jembut kami bersatu dan sesekali ada sedikit rasa sakit saat jembutku tertarik entah oleh gerakan gesek batang kontolnya atau tertarik oleh jembutnya.
Kedua tangan Pak Pardi memeluk batang pisang dan kepalanya di rebahku di bahuku sementara kontolnya terus di gesek-gesekkan di kontolku.
Aku benar-benar sudah nggak tahan lagi. Akupun mengerang keras dan..
Crott.. Crott.. Crott spermaku menyembur berkali-kali diantara gesekan kontol kami, entah kemana saja semprotannya aku tak perduli karena rasa yang begitu enak membuatku tak berfikir apa-apa lagi. Kemudian Pak Pardi melepas pelukannya di tubuhku lalu mengocok kontolnya dengan sangat cepat dan kembali
Crott.. Crott.. Crott.. Crott.. Crott.. Crott, semprotan yang jauh lebih banyak dari kepala kontolnya di arahkan Pak Pardi di kontol dan jembutku. Cairan kental itu mengalir ke bawah dan Pak Pardi kembali memelukku serta kembali menggesekkan kontolnya sembari ia mengatur nafasnya yang terengah-engah.
Kami akhirnya sudah mendapatkan kesadaran, dan dengan tubuh bugil berjalan ke arah pancuran untuk membersihkan tubuh dan sisa-sisa sperma.
"Pak, kapan kita bisa ngocok bareng Atin?" tanyaku.
"Yah kalo Mas Win mau, besok juga bisa disini" jawab Pak Pardi sambil tersenyum.
"Nanti bapak kasih liat, bagaimana cara bapak maen sama Atin."
"Maen..? Maen apa Pak?"
"Pokoknya liat aja besok, di jamin Mas Win suka, malah pengen ngerasain"
"Ah Pak Pardi ini bikin penasaran aja" ujarku manja.
"Tapi apa Atin mau ya kalo ada aku Pak?"
"Dia sih pasti mau, malah seneng. Kadang Pak Danial juga suka ikutan"
"Pak Danial hansip?" tanyaku kaget.
"Iya"
Mulutku melongo, Pak Danial adalah hansip yang suka jaga malam di rumahku.
"Ya sudah Pak, saya sudah nggak sabar nunggu besok"
Pak Pardi tertawa dan menarik jembutku sehingga aku kaget, lalu Pak Pardi berjalan cepat mendahuluiku yang berusaha mengejarnya untuk balas dendam menarik jembutnya juga. Senangnya...
E N D
Subscribe to:
Posts (Atom)
Paling Populer Selama Ini
-
Klik dong plis
-
. Album Berikutnya
-
Album Sebelumnya
-
... padahal bentuknya yah sama semua - hihihi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ...
-
Malam ini aku benar-benar tersiksa dengan hasratku yang semakin menggebu. Aku mulai mempreteli pakaianku sendiri lalu telentang di atas temp...
-
turkish: big mustache
-
lovedaddy.mobie.in
-
martin.edgar49@yahoo.com - - - - - - - - - - - - - -
-
Terlepas dari anda para pembaca, percaya atau tidak. Di usiaku yang 38 tahun saat ini, wajar saja orang menaruh kasihan terhadapku. Gak ada ...
-
Big Daddy Master & Submissive Cub (Part 3):