5/27/2011

Akhir Dari Segalanya

(by: dedybtm@yahoo.com)

Sebut saja namaku Dian Prasetyo, umurku
sekarang ini lebih kurang 23 tahun. Aku di lahirkan di kota Jambi,
tanggal 28 desember 1980. Aku anak 1 (pertama) dari 3 bersaudara yaitu
adikku yang kedua laki laki sedangkan adikku yang paling kecil
perempuan. Banyak perbedaan sifat dan karakter di antara kami bertiga.
Aku sendiri orangnya sangat kalem dan cendrung berdiam diri sehingga
banyak teman temanku yang mengatakan susah untuk berkomunikasi dengan
saya. Sedangkan adikku yang kedua orangnya pemalu dan bertindak sangat
tegas dalam sesuatu hal, nah adikku yang cewek banyak orang bilang
seperti burung nuri karena tak mulutnya selalu berkicau dan sangat
ramah kepada siapapu sehingga banyak orang yang senang dan gemas
melihatnya.

Jujur saja kukatakan kalau aku itu adalah seorang gay dengan kata
lain suka melakukan hubungan sex dengan sesama jenis baik itu
laki-laki(straight), gay maupun bisex. Tetapi itu semua berawal dari
keluarga kami yang tidak harmonis dengan kata lain Broken home. Sejak
aku duduk di bangku kelas 1 SD, orangtuaku cerai. Bapakku sendiri pergi
entah ke mana seolah olah hilang ditelan bumi, dan Ibuku menikah dengan
pria lain. Sejak saat itulah terpaksa kami harus diasuh oleh nenek
kami. Begitu susahnya kehidupan ekonomi kami saat itu, karena nenekku
yang kesehariannya cuman pedagang nasi kecil kecilan, dan berkebun
seadanya saja, terpaksa harus menanggung beban hidup kami bertiga,
rasanya saat itu aku menyesal kenapa saya harus di lahirkan ke dunia
ini kalau harus menderita hidup. Kami tetap sabar dan berusaha dan
berjuang untuk hidup sehingga akupun sampai di kelas 3 SLTP. Saat itu
pulalah aku baru menyadari tentang jati diriku maksudnya pertama kali
aku melakukan sex dengan bapak guruku sendiri yang kebetulan punya
kelainan sex.

Bapak guruku itu orangnya sangat baik dan sangat perhatian sama
saya sebut saja namanya Pak Ak, Pak Ak yang kesehariannya mengajarkan
bidang study bahasa Indonesia yang sekaligus wali kelas kami kelas 3.
Wajahnya yang kebapakan, meskipun usianya yang sudah hampir baya tetapi
badannya masih tetap segar dan boleh di katakana atletis. Senyumannya
yang manis di tambah lagi dengan wajahnya yang ganteng kadang kadang
membuat birahiku kadang kadang naik di saat dia sedang mengajar di
depan kelas, di tandai dengan penisku sering ngaceng cuman semua itu
kupendam dan kusimpan dan di malam harinya barulah kutumpahkan
segalanya dengan ngebayangin Pak Ak ada di sisiku sambil aku melakukan
onani. Entah firasat darimana dan aku juga bingung apakah gerak gerikku
sudah tercium oleh Pak Ak sendiri sehingga rasanya setiap hari kami
semakin dekat saja, sampai.. KejaDian itupun terjadi.

Awal dari kejaDian itu adalah di saat aku berada di kantin dan
ternyata cuman kami berdua saja yaitu aku dan Pak Ak sendiri. Bahkan
secara tak sengaja sampai ke obrolan yang sangat pribadi. Yaitu tentang
pribadi saya dan juga Pak Ak.

"Jadi sekarang ini di rumah sendirian donk," tanyaku!

"Iya Dian, bapak sangat kesepian sekali semenjak istri bapak meninggal sekitar 2 tahun yang lalu."

Dan akupun mulai bicara tentang diriku kepada Ak, "Begitu juga Dian
pak, Dian sangat kesepian, dan merasa kekurangan kasih sayang karena
sejak kecil Dian tidak kenal dengan wajah bapak Dian sendiri, belom
lagi dengan Ibuku yang seolah olah lepas dari tanggung jawabnya dan
kamipun di asuh oleh nenekku dengan penuh perjuangan.

"Jadi kita punya nasib yang sama yah Dian?" Tanya Pak Ak lagi dan
kubalas dengan sebuah senyuman, Pak Akpun tersenyum kepadaku. Dengan
senyumannya yang manis. Dan belpun berbunyi menandakan kalau kami sudah
masuk kelas dan mengakhiri perbincangan kami berdua.

Hari hariku selalu bersama Pak Ak, dan cuman dialah orang yang
paling dekat dengan aku saat itu, begitu juga dengan Pak Ak, dia sangat
senang kepadaku dan pernah mengatakan kepadaku dia ingin terus ngobrol
denganku tentang apa aja, bahkan dia kepingin lebih dekat lagi
denganku, karena aku itu orangnya sangat pendiam ditambah lagi dengan
wajahku yang lugu dan kalem sehingga menambah point tersendiri
kepadanya sehingga hal itu enggak akan membuat orang curiga tentang
kami. Makanya meskipun sebenarnya aku otakku yang enggak terlalu
pintar, tetapi nilaiku selalu bagus dan aku selalu meraih rangking 1 di
kelas tentunya dengan bantuan Pak Ak karena kedekatanku dengannya dan
kerja sama yang baik di antara kami berdua. Dan sudah barang tentu
kalau hal itupun kumanfaatkan dan mengambil keuntungan dari dia.

Secara diam diam akupun ingin memanfaatkan suasana ini. Aku ingin
suatu saat nanti Pak Ak bertekuk lutut di hadapanku sehingga apa yang
kuminta dari dia harus ada, bukan cuman nilai yang kudapatkan, kasih
sayang, harta, bahkan aku ingin mereguk kasih sayang darinya karena aku
adalah orang yang benar benar kekurangan kasih sayang. Siang malam aku
terus memikirkan misi itu, dan bagaimana caranya supaya aku bisa
berhasil nanti. Ternyata ide cemerlang itupun datang bahkan dari Pak Ak
sendiri, yaitu Pak secara tiba tiba Pak Ak mengundangku datang ke
rumahnya untuk membantu membersihkan pekarangan rumahnya. Sudah barang
tentu kuterima dengan senang hati apalagi dia memang menjanjikan
memberikan upah kepadaku, jadi saya enggak usah terlalu repot repot
untuk mencari uang lagi seperti biasa saya lakukan sehabis pulang
sekolah saya harus mencari uang tambahan dengan cara mojok mojok di
luaran. Sementara adik adikku sibuk membantu nenekku berjualan nasi di
rumahnya. Dengan rasa bahagia kudekati Pak Ak.

"Pak memangnya Dian nanti jam berapa ke rumah bapak"

"Yah.. Terserah Dian aja." sahut Pak Ak!

"Sehabis pulang sekolaHPun saya siap ke sana sama sama bapak," jawabku dengan semangatnya.

"Oklah!" kata Pak Ak.

Dan akupun tersenyum tetapi yang ada di pikiranku saat itu adalah
(kamu akan tahu siapa Dian yang sebenarnya dan akupun ingin tahu apakah
kamu itu sakit juga seperti saya). Akhirnya kamipun pulang ke rumah Pak
Ak sama sama.

Dan kamipun sampai ke rumah Ak yang memang enggak terlalu jauh dari
sekolah kami, rumahnya memang sederhana dengan rumput yang sudah
lumayan memblukar. Sampai di dalam rumah akupun di persilak duduk di
sofanya dan Pak Ak pun bergegas ke dapur untuk mengambil minuman karena
siang siang begini memang terasa haus sekali. Setelah selasai minum
kami berduapun melanjutkan makan siang bersama karena memang selama ini
kami sudah dekat jadi aku itu enggak ngerasa canggung lagi di rumahnya
Pak Ak. Dan Pak Akpun bisa memahami itu. Saat makan siang Pak Akpun
menanyakan sesuatu kepadaku.

"Memangnya nanti kamu enggak dicariin nanti kenapa enggak langsung pulang ke rumah." Tanya Pak Ak.!

"Oh.. enggak pa pa kok Pak sudah biasa," jawabku dengan tegas!

Karena memang aku sudah tidak perduli lagi dengan sesuatu yang
jelas aku itu harus bisa mendapatkannya hari ini terbesit di benakku.
Enggak terasa ternyata pekerjaan itupun selesai hanya dalam beberapa
jam saja dan sudah menunjukkan jam 06.00 sore, dan kami pun masuk lagi
ke dalam rumah untuk beristirahat dan mandi. Selesai mandi kami pun
kembali duduk duduk di sofa untuk istirahat sejenak sambil mimun teh.
Suasana di dalam rumah itu memang terasa sepi karena Pak Ak sendirilah
yang ada di sana, karena istrinya sudah meninggal sementara dia cuman
punya anak laki laki satu dan sekarang sudah kuliah di kota. Dan kadang
kadang saja anak Pak Ak itu pulang ke rumahnya untuk mengambil biaya
sekolahnya.

Kusandarkan pundakku di sofanya Pak Ak yang empuk itu sambil
melirik lirik Pak Ak, Sedagkan Pak Ak nya sendiri kelihatannya masih
sedikit capek sambil mengisap rokok di hadapanku.

"Capek ya pak," tanyaku!

"Yah lumayanlah Dian" jawab Pak Ak lagi! Terbukti dari tangan Pak
Aku yang dari tadi terus terus mengurut pundaknya dan kakinya karena
mungkin terasa pegal pegal. Akhirnya otakkupun encer saat itu karena
aku enggak ingin berlama lama lagi dan aku ingin secepatnya terbang
dengan Pak Ak, jadi sengajapun ku cari jalan untuk memancing arah
pembicaraan yang menjurus ke arah itu.

"Capek capek begini enaknya ngapain yah pak?" tanyaku kepada ak!
Dan Pak Akpun melirikku dengan tatapan mata yang penuh arti, seolah
olah Pak Akupun sudah paham akan sesuatunya.

"Menurut Dian sendiri apa?" Tanya Pak Ak lagi.

"Apa yah??" tanyaku dengan suara yang sedikit manja sambil tersenyum manis ke arahnya.

Secara tak sengaja pandangan matakupun beralih ke sesuatu hal yakni
aku melihat Pak Ak sedang meraba raba kontolnya dengan sangat
lembutnya. Mataku hampir saja melotot melihatnya dan nafaskupun sedikit
sesak seolah olah aku merasakan sesuatu bisikan, agar aku bisa
menggantikan Pak Ak dengan tanganku sendiri untuk meraba raba benda
yang ada di dalam celananya itu. Secara spontan kujawab sendiri
pertanyaanku tadi.

"Kalau bagi Dian sih pak, capek-cepek gini enaknya urut-urutan aja pak," pintaku seketika.!

"Boleh" kata Pak Ak, "Bapakpun kepingin ngerasain pijatanmu Dian" sahut Pak Ak.

Selang beberapa saat Pak Ak pun datang menghampiri aku dan kamipun
mengambil posisi yaitu Pak Ak duduk di hadapanku ke arah depan dan
akupun sambil duduk di sofa sedangkan Pak Ak duduk lantai yang memang
di alasi karpet berwarna merah. Terus tanganpun memulainya, di awali
dengan sentuhan sentuhan di punggungnya. Padahal sebenarnya aku itu
enggak ada ilmu untuk memijit orang tetapi itu demi sebuah misi untuk
mendapatkan hati Pak Ak sepenuhnya. Terserah apakah Pak Ak tahu atau
enggak apakah aku cukup professional atau tidak di bidang pijat
memijat, yang jelas malahan Pak Ak tetap memujiku dengan kata kata..
Enak sekali Dian.. Enak sekali.. Betapa lembutnya tanganmu.. Dan terus
menerus..

Akhirnya akupun sudah tak tahan dengan kondisi tubuhku saat itu
yang sudah mulai horny.. Di tandai dengan kontolku yang dari tadi sudah
naik turun menempel di punggungnya Pak Ak, bahkan secara tak sengaja
kontolku kugesek gesekkan di punggungnya Pak Ak. Tiba tiba Pak Ak
menyuruhku membuka bajunya, katanya panas dan memang tubuh Pak Akpun
sudah mulai keringatan, akupun membuka baju Pak Ak. Astaga..!! ya
ampun..!! ternyata tubuh Pak Ak sangat bagus dan kekar di dadanya ada
bulu bulu halus yang membuatku semakin terangsang. Matakupun tak bosan
bosannya memandang tubuhnya yang sexy itu, tangannya yang berotot dan
berbulu halus menambah ke sexy annya.

Kontolkupun naik turun dan bergerak gerak ke sana ke mari seolah
olah ingin meronta ronta. Sesekali kutahan nafas birahi itu, agar
suasana tetap hangat. Sekarang jari jarikupun sudah tak beraturan lagi
malahan semakin liar menggerayangi tubuh Pak Ak, belom lagi aroma
tubuhnya yang maskulin menambah darahku semakin berdesir kencang.

"Dian rasanya ada sesuatu yang mengganjal di punggung bapak, apa itu?" Tanya Pak Ak seketika!

Akupun tersentak seketika dari kebisuanku dan menjawabnya, "Ular, pak!" candaku.

"Wah ternyata selama ini kamu pintar juga yah bercanda Dian?" kata Pak Ak lagi!

"Memang kenapa pak?"

"Enggak soalnya selama bapak lihat kamu itu orangnya sangat lugu dan pendiam," kata Pak Ak dengan nakalnya.

"Jadi ularmu kok begerak gerak terus?" kata Pak Ak lagi.

"Enggak tahu.." Jawabku dengan manja.

"Memangnya kenapa pak?" aku balik bertanya.

Pak Ak pun tersenyum dan memandangiku begitu juga aku, memandangnya dengan hati yang bergetar geter. Pak Ak pun menjawabnya.

"Ingin lihat aja Dian".

"Ehmm.. Ternyata bapak suka nengok ular yah?" candaku lagi.

"Ii.. Iiya.. Dian, Dian sendiri bagaimana? Suka enggak!"

"Tentu donk" jawabku.

Ternyata rahasia di antara kami berdua pun sudah terungkap jelas,
yaitu kami sama sama sakit, sama sama suka ular alias kontol. Pak Ak
pun tiba tiba meraba raba kontolku dan memandangiku dengan tajam.

"Ya sudahlah Dian itu rahasia kita berdua aja ya? dan Bapak akan sayang sama kamu."

"Benar, pak!!"

"Yupp," kata Pak Ak, "Bahkan rasa sayangku lebih dari segala
galanya kalau kamu enggak menyakiti aku, karena aku sudah lama
menginginkanmu Dian, dan bapak selama ini merasa kesepian, dan bapak
kepingin bersama kamu terus untuk menenemaniku, boleh kan?"

"Dengan senang hati sayang..!" seketika kupanggil dia kata kata
sayang dan bukan bapak lagi. Dan dia pun tersenyum tetapi tangannya
terus menerus meraba raba kontolku.

Tiba tiba Pak Ak membuka celananya termasuk CD nya yang berwajah putih itu, jadilah Pak Ak telanjang bulat di hadapanku.

"Lihatlah ular bapak ini Dian, dia juga sangat ke sepenian dan rindu di sayang sayang, apakah kamu suka Dian?"

Kupandangi kontolnya dengan perlahan lahan, dan sesekali kudekatkan
bibirku di telinganya dan menghembuskan nafas-nafas asmara yang semakin
membara. Seketika kamipun hanyut dalam kebisuan, dan entah apa yang ada
di dalam hati Pak Ak, dan begitu juga dengan aku, apalagi ini adalah
pengalamanku yang pertama membuatku kehilangan akal tak karuan,
jantungnya berdetak detak kencang nafasku semakin memburu, begitu juga
dengan Pak Ak, bibirnya menempererat di perutku dan wajahnya bersandar
pahaku, begitu juga dengan keadaan kontolku yang sudah keras tadi
sementara mataku masih tetap asyik memandangi kontol Pak Ak yang lagi
berdiri, tegang dan begitu gagah, besar, panjang, dan di batangnya
terdapat urat-urat yang menonjol menambah kegagahan kontolnya Pak Ak,
benar benar indah kontol ini, pujiku dalam hati. Benar benar indah
kurasakan saat itu, pertama kali memandang kontol dan bentuknya sangat
sempurna persis seperti yang kuidam-idamkan selama ini, betapa
beruntungnya aku, pikirku saat itu. Rasanya aku ingin menikmati yang
lain lainnya.. Yang lebih nikmat dan..

"Masa dari tadi cuman bapak yang telanjang Dian?" tanya Pak lagi, "Dian juga donk?"

"Iya.. Pak," sahutku.

Akupun berdiri dan membuka satu persatu pakaianku hingga akupun
sudah telanjang bulat, sekilas kupandang Pak Ak memandangku dengan
tatapan mata yang tak berkedip. Sekarang posisi benar benar sudah
telanjang bulat tetapi kami masih kami dalam keadaan posisi yang tadi.
Begitu juga dengan Pak Ak, tangannya menggenggam kontolku dengan
mesranya.

"Gede juga kontolmu yah Dian?," tanya Pak Ak lagi. Akupun tersenyum.

"Dian.. kontol bapak di pegang juga donk?"

Tangankupun menjulur perlahan lahan ke bawah..

"Kenapa, takut yah"

"Enggak sayang, enggak apa apa kok," kata Pak Ak lagi.

Akupun segera meraih kontol itu dan menggenggamnya penuh perasaan.
Perasaanku saat itu adalah beginilah rasanya kontol betapa enaknya
memegangnya dan terasa olehku kontol itu berdenyut denyut dan di
kepalanya ada cairan cairan putih seperti lender, begitu juga dengan
kontolku, menandakan kalau kami sudah sama sama terangsang tinggi saat
itu. Saat itu kami sudah sama sama meraba, telanjang dan horny berat.
Hingga terdengar suara ohh.. ahh.. uhh nikmat nikmat.. nafas nafas kami
pun semakin memburu, berdesah ke nikmatan yang tiada tara, pikiranku
seolah melayang layang sampai ke langit yang ke tujuh, begitu juga
dengan pahaku terus menerus di ciumnya dan di jilatinnya sesekali
kutempelkan kontolku di wajahnya dan kugesek gesekkan ke sana kemari.
Matanya Pak Ak terpejam dan kadang kadang memandangiku dengan sangat
mesranya dan kubalas dengan senyuman.

Sekilas kulihat jam sudah menunjukkan jam 19.30 malam, sungguh waktu rasanya tak terasa apalagi saat saat seperti ini.

"Dian.. Gimana kalau kita ke kamar saja sayang, soalnya bapak takut nanti ada orang masuk sayang.."pinta Pak Ak lagi.

Dan akupun menggangguk menandakan aku setuju, dan pintu kunci dan
mematikan lampu dan Pak Ak pun mengangkatku, mengendongku ke dalam
kamar tidurnya. Tubuh yang sedikit kurus, maklum saja aku baru SMP saat
itu, memudahkan Pak Ak melakukannya apalagi tubuh Pak Ak sangak strong
dan jangkung. Kurangkul pundaknya dengan kedua tanganku dan kugigit
gigit kecil lehernya, Pak Akpun berdesah lirih dengan nafas yang tak
beraturan, kurasakan detakan jantungya begitu kencang, kontolnya
berdiri kedepan tepat berada di bawah pantatku dan kugenggam mesra.
Begitu juga dengan kontolku di genggamnya.

Sampailah kami di dalam kamar dan tubuhkupun di rebahkannya di
ranjangnya yang empuk secara perlahan lahan. Kutatap wajahnya yang
ganteng. Dan Pak Ak pun menindihku begitu mesranya dan begitu rapatnya,
spontan kontol kamipun saling bergesekan, begitu juga dengan tubuh kami
dengan goyangan erotis perlahan lahan tapi asyik, kupeluk tubuhnya yang
menindihku dan kaki kami saling melilit seakan tak ingin lepas. Ohh..
Begitu nikmat.. Nikmat sekali.. Kupandangi dadanya yang kekar menempel
erat di tubuhku dan kurasakan aroma tubuhnya dan sesekali bibirnya
dekat di telingaku, kurasakan nafasmya mendesah desah membuatku semakin
mabuk kepayang. Sesekali kujepit kontolnya di antara kedua pahaku.. Dan
kontolku menempel di perutnya, bulu bulunya yang lebat kurasakan sangat
nikmat, kudengar Akhh.. Ohh.. Enak kali sayang.. Enak sayang.. Betapa
nikmatnya ini.. Baru kali bapak merasakan nikmat yang tiada tara,
pahaku yang putih dan berkeringat menambah kelegitan kontol yang
sekarang berada di antara ke dua pahaku.

Pantasan saja, guruku ini mengerang nikmat dan mendesah nikmat,
kami tidak perduli lagi dengan suasana di situ yang jelas cuman kami
berdua saja. Dibalik desahan guruku itu.. Terasa ada air yang menetes
di dadaku, ternyata Pak Ak menangis, memangis karena bahagia. Dan
feelingku mengatakan kalau namaku sudah tertancap di dalam lubuk
hatinya yang paling dalam. Hore.. Aku tersenyum puas ternyata aku
berhasil pikirku sejenak. Memang aku ingin menyerpis habis dirinya,
terbukti baru di tahap starting saja, sudah kudapatkan banyak point
kemenangan.

Tiba tiba saja kami terdiam sejenak dan mata kamipun saling memandang.

"Percayalah Dian bapak sangat menyukai kamu sayang"

"Dian juga pak!" jawabku.

Kemudian bibir kamipun bertemu, saling melumat dan lidah kamipun
saling bertemu saling melilit, seolah olah di antara kami tak ada yang
mau kalah, sesekali lidah kumasukkan ke dalam mulutnya dan Pak Akpun
mengulumnya dan menariknya seolah olah ingin menelannya sedalam
dalamnya, begitu juga dengan aku memberikan balasan yang sama. Bibirku
yang merah dan sexy itu di lumatnya terus menerus berpindah ke leherku
sampai kedua buah putingku di jilatnya dengan rakusnya, tak ketinggalan
tubuhku yang putih bersih di jilatinya sampai sampai aku ohh.. ahh..
uhh.. oohh.. uhh.. nikmat Pak nikmat.. Teruskan pak.

Sampai akhirnya tiba di daerah yang paling sensitiv ku yaitu
kontolku sendiripun sudah mulai di hisapnya. Kurasakan hawa panas dari
dalam mulutnya yang mana kontolku waktu sudah bersarang di dalam
mulutnya.. Ohh.. Begitu enaknya sayang.. Hisap terus kontol Dian pak,
aku seperti merengek rengek di buatnya. Tiba tiba saja Pak Ak pun sudah
mendekatkan kontolnya di hadapanku, kulihat lagi kontol itu kupegang
kubelai menandakan..

"Enggak pa pa Dian, hisap saja kontol bapak sayang.. Seperti yang
bapak lakukan sayang.." kembali kudengar suara Pak Ak yang sudah
kesetanan.

"Sayang hisap sayang.. Bapak sudah tak tahan lagi sayang.. Hisap sayang," pintanya lagi.

Kupandangi lagi kontol itu yang sudah berdiri tegak di hadapanku,
dan akupun memulainya meskipun aku belum merasakan bagaimana rasanya
kontol selama ini, tetapi apa yang dilakukan Pak Ak terhadapku sudah
cukup memberikan pelajaran kepadaku. Akupun memulainya dengan mengisap
kepala kontolnya Pak Ak, seketika kudengar desahannya Pak Ak semakin
keras.. Ternyata kami pun sudah mengambil posisi 69, akupun semakin
bergairah dan memasukkan kontolnya ke mulutku. Dan terus kuhisap kontol
itu, kurasakan aroma kontol pertama kali.. Dan aku enggak tahu gimana
lagi melukiskan itu semua.. Sungguh nikmat dan enak sekali.. Mengisap
kontol.

Kujilati batang kontolnya, kuemut dan kusedot ada rasa asin di
dalam mulutku, sesekali kulepas kontol itu dari mulutku.. Dan
menghembuskan nafas ohh.. ahh.. uhh enaknya.. Nikmat kurasakan saat itu
dan kembali kuhisap.. Begitu juga dengan Pak Ak terus mengisap kontolku
sampai aku merasakan sesuatu yaitu teryata spermaku suda mau muncrat,
seiring dengan itu kupercepat goyangan kontol ku ke dalam mulutnya
sampai sampai..

"Pak.. Dian tak tahan lagi pak.. Dian mau keluarr.. Dian mau keluar"

"Oh ya.. Dian, bapak juga sayang.. Hisap terus sayang.. Kita keluar sama sama yah.."

Kontol Pak Ak terus menerus menghujam mulutku begitu kencangnya
sampai sampai ke kerongkanganku. Dan secara bersamaan tubuh kami sama
sama kaku dan tegang.. Aku sudah tak tahan lagi.. Dan akhirnya..

Crett.. Crott.. Crott.. Crott..

Kamipun sama sama mencapai klimax kenikmatan itu yang tiada
taranya. Spermanya Pak Ak muncrat di mulutku begitu banyaknya, begitu
juga dengan diriku. Kurasakan sperma itu, bagaimana baunya dan
sebagainya.. Ohh nikmatnya. Kamipun saling berpelukan, saling
berciuman, meskipun sperma kami masih belum kering.. Hingga kulihat jam
menunjukkan jam 21.45 malam., dan kulihat Pak Ak sudah tertidur pulas
di sampingku. Dan akupun melamun sejenak sebelum mataku terpejam.

Ini belum akhir dari segalanya karena hari esok masih ada. Apakah hari esok itu? Akupun tertidur..

E N D

No comments:

Post a Comment

Paling Populer Selama Ini