5/31/2011

Pertama Kali Jadi Gigolo Cowok

Karena perusahaan orang tuanya pailit. Akhirnya Andro yang sedang kuliah di salah satu PTS di Malang harus memutar otak untuk mendapatkan uang. Selain untuk biaya hidup dan biaya kuliah, juga kebutuhan sehari hari. Apalagi kuliahnya di kampus yang mengedepankan tekhnologi komputer itu membutuhkan biaya yang besar.

Apalagi saat ini memasuki masa daftar ulang mahasisawa lama ke semester genap. Segala cara telah dia tempuh untuk mendapatkan uang dengan cepat agar dapat membayar biaaya kuliahnya. Akhirnya Andr berkenalan dengan Akbar yang berjanji akan membantunya mendapatkan uang dengan cara mudah dan cepat. Akbar memberitahunya jika Andro harus melayani pria gay yang mau mebayarnya mahal. Awalnya Andro menolak dan terus berusaha dengan cara yang lain. Melamar sana sini dan berusaha mencari pinjaman ke teman. Akan tetapi usahanya buntu sehingga akhirnya dia menerima tawaran Akbar untuk dikenalkan dengan Rahman, pengusaha butik yang gay. Konon enurut Akbar, Rahman ini menyukai cowok yang masih polos dan terutama yang belum pernah disodomi.

Dari perkenalan awal, Andro begitu takut saat Rahman menjabat tangannya. Namun karena perlakuan dan sikap Rahman yang wajar dan seperti kebanyakan pria yang lainnya. Akhirnya Andro menjadi tidak takut lagi, dan tidak lagi menjaga jarak. Karena merasa belum siap, akhirnya Andro bilang ke Akbar jika ditunda lain hari saja. Akbar dan Rahman menyetujui.
Begitulah nasib Andro. Dia jelas-jelas bukan homo. Apalagi gigolo. Akan tetapi karena butuh uang untuk hidup dan kuliah, akhirnya dia nekat dan harus siap.
Hari ini Andro menemui Akbar dan minta dihubungi Rahman. Setelah Akbar membooking kamar hotel di kawasan Tugu Malang. Akhirnya Andro diantar Akbar masuk ke kamar hotel mewah bintang empat tersebut. Setelah mandi dan mengisi perut dengan pesanan makanan hotel, Andor menunggu kedatangan Rahman sambil menonton TV.

Waktu terus berlalu, akhirnya bel kamar hotel itu pun berdentang. Akbar mencoba mengintip di lubang pintu dan memberikan isyarat jika yang datang Rahman.
Dada Andro berdegup kencang, dan dia berdiri selanjutnya duduk di kursi kembali.

Setelah masuk kamar, Rahman menjabat tangan Andro dengan hangat. Setelah berbasa-basi sebentar, Rahman langsung mencopot pakaiannya, terus ia beranjak ke kamar mandi untuk mandi. Sementara itu hati Andro terus berdebar-debar. Sambil menunggu Rahman mandi, Akbar menyetel film biru. Hal ini membuat Andro terangsang melihat adegan-adegan pada film tersebut. Ia merasakan kontolnya mulai berdenyut-denyut. Melihat perubahan wajah dari cowok tersebut, Akbar yang sangat berpengalaman langsung saja melumat bibir cowok itu untuk menjadi pembuka Rahman.

Perlahan-lahan Akbar mulai melepaskan pakaian Andro. Cowok itu malah ikut membantu mengangkat pantatnya ketika Akbar melepaskan pakaiannya. Lalu setelah ia melepaskan pakaian cowok itu, ia-pun segera melepaskan pakaiannya. Akhirnya mereka berdua telanjang diatas ranjang tanpa mengenakan sehelai benang-pun. Bibir mereka saling melumat, tangan mereka saling meraba bagian-bagian sensitif, sehingga membuat mereka lebih terangsang.
Pada saat rangsangan mereka mencapai puncaknya, tiba-tiba Rahman keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk yang menutupi kontolnya dan menyaksika dua cowok itu telah telanjang bulat. Segera saja Akbar menyambut Rahman, mereka melepaskan handuk yang melilit di pinggangnya, lalu Akbar dengan rakus langsung mengemut kontol laki-laki tersebut. Sementara itu Andro hanya terbengong menunggu apa yang akan dilakukan pada dirinya. Lalu Akbar mengajak mereka semua pindah ke ranjang. Kemudian Rahman mencium belakang telinga Andro dan lidahnya bermain-main di dalam kupingnya. Hal ini menimbulkan perasaan yang sangat geli, yang menyebabkan badan Andro mengeliat-geliat. Mulut Rahman berpindah dan melumat bibir Andro dengan ganas, lidahnya bergerak-gerak menerobos ke dalam mulut cowok itu dan menggelitik-gelitik lidahnya.

"Aaahh.., hmm.., hhmm", terdengar suara menggumam dari mulut Andro yang tersumbat oleh mulut Rahman.
Mulut Rahman sekarang berpindah dan mulai menjilat-jilat dari dagu Andro turun ke leher, kepala cowok belia itu tertengadah ke atas dan badan bagian atasnya yang terlanjang melengkung ke depan, ke arah Rahman, batang kontolnya yang kencang itu, seakan-akan menantang ke arah lelaki setengah baya tersebut.
Laki-laki itu langsung bereaksi, tangan kanannya memegangi kontol cowok tersebut, mulutnya menciumi dan mengisap-isap kedua puting dada cowok itu secara bergantian. Mulanya dada Andro yang sebelah kanan menjadi sasaran mulutnya. Dada Andro yang cukup berotot itu digigiti hingga putingnya diisap dengan lahap. Lidahnya bermain-main pada puting dada Andro yang segera bereaksi menjadi keras. Terasa sesak napas Andro menerima permainan Rahman yang lihai itu. Badan Andro terasa makin lemas dan dari mulutnya terus terdengar erangan,
"Ssshh.., sshh.., aahh.., aahh.., sshh.., sshh.., aduh ahhhh, sshh....", mulut Rahman terus berpindah-pindah dari dada yang kiri, ke yang kanan, mengisap-isap dan menjilat-jilat kedua puting dadanya secara bergantian. Badan Andro benar-benar telah lemas menerima perlakuan ini. Matanya terpejam pasrah dan kedua putingnya telah benar-benar mengeras. Sementara itu Akbar terus bermain-main di paha Andro yang putih itu dan secara perlahan-lahan merambat ke atas dan, tiba-tiba jarinya menyentuh batang kontol Andro.

Segera badan Andro tersentak dan, "Aaahh.., oohh.., Mass....!".
Mula-mula hanya ujung jari telunjuk Akbar yang mengelus-elus batang kontolnya. Muka Andro yang tampan terlihat merah merona dengan matanya yang terpejam sayu, sedangkan giginya terlihat menggigit bibir bawahnya yang bergetar. Kedua tangan Akbar memegang kedua kaki cowok itu, bahkan dengan gemas ia mementangkan kedua belah pahanya lebar-lebar. Matanya benar-benar nanar memandang daerah di sekitar selangkangan Andro yang telah terbuka itu.
Nafas cowok itu terdengar mendengus-dengus memburu. Andro merasakan badannya amat lemas serta panas dan perasaannya sendiri mulai diliputi oleh suatu sensasi yang mengila, apalagi melihat tubuh Rahman yang besar berbulu dengan kontolnya yang hitam, besar yang pada ujung kepalanya membulat mengkilat dengan pangkalnya yang ditumbuhi rambut yang hitam lebat terletak diantara kedua paha yang hitam gempal itu. Sambil memegang kedua paha Andro dan merentangkannya lebar-lebar, Akbar membenamkan kepalanya di antara kedua paha Andro. Mulut dan lidahnya menjilat-jilat penuh nafsu di sekitar kontol cowok belia yang berurat dengan rambut lebat di pangkal batang kontolnya.

Andro hanya bisa memejamkan mata, "Ooohh.., nikmatnya.., oohh!", Andro menguman dalam hati, sampai-sampai tubuhnya bergerak menggelinjang-gelinjang kegelian.
"Ooohh.., hhmm!", terdengar rintihan halus, memelas keluar dari mulutnya.
"Mass...., aku tak tahan lagi..!", Andro memelas sambil menggigit bibir.
Sungguh Andro tidak bisa menahan lagi, dia telah diliputi nafsu birahi, perasaan nikmat yang melanda di sekujur tubuhnya akibat serangan-serangan mematikan yang dilancarkan Akbar dan Rahman yang telah bepengalaman itu. Namun rupanya mereka berdua itu tidak peduli dengan keadaan Andro yang telah orgasme beberapa kali itu, bahkan mereka terlihat amat senang melihat Andro mengalami hal itu. Tangannya yang melingkari kedua pantat Andro, kini dijulurkan ke atas, menjalar melalui perut ke arah dada dan mengelus-elus serta meremas-remas kedua dada Andro dengan sangat bernafsu. Menghadapi serangan bertubi-tubi yang dilancarkan Rahman dan Akbar ini, Andro benar-benar sangat kewalahan dan kamaluannya semakin menencang dan mulut kecil lubang kencing kontolnya telah sangat basah kuyup oleh cairan precum.

"Mass...., aakkhh.., aakkhh!", Andro mengerang halus, kedua pahanya yang putih dan berbulu halus itu menjepit kepala Akbar untuk melampiaskan derita birahi yang menyerangnya, dijambaknya rambut Akbar keras-keras.
Cowok imut yang lemah lembut ini benar-benar telah ditaklukan oleh permainan Akbar dan laki-laki setengah baya yang dapat sangat membangkitkan gairahnya. Tiba-tiba Akbar melepaskan diri, kemudian bangkit di depan Andro yang masih tertidur di tepi ranjang, ditariknya Andro dari atas ranjang dan kemudian Rahman disuruhnya duduk ditepi ranjang. Kemudian kedua tangan Akbar menekan bahu Andro ke bawah, sehingga sekarang posisi Andro berjongkok di antara kedua kaki berbulu lelaki tersebut dan kepalanya tepat sejajar dengan bagian bawah perutnya.
Andro sudah tahu apa yang diinginkan kedua orang tersebut, namun tanpa sempat berpikir lagi, tangan Rahman telah meraih belakang kepalanya dan dibawa mendekati kontol laki-laki tersebut. Tanpa melawan sedikitpun Andro memasukkan kepala kontol Rahman ke dalam mulutnya sehingga kontol tersebut terjepit di antara kedua bibir mungil Andro, yang dengan terpaksa dicobanya membuka mulut selebar-lebarnya, Lalu Andro mulai mengulum alat vital Rahman dalam mulutnya, hingga membuat lelaki itu merem melek keenakan.

Benda itu hanya masuk bagian kepala dan sedikit batangnya saja ke dalam mulut Andro yang kecil, itupun sudah terasa penuh benar. Andro hampir sesak nafas dibuatnya. Kelihatan ia bekerja keras, menghisap, mengulum serta mempermainkan batang peler itu keluar masuk ke dalam mulutnya. Terasa benar kepala itu bergetar hebat setiap kali lidah Andro menyapu kepalanya. Sementara itu Akbar sibuk menjilati buah peler laki-laki tersebut. Kadang lidahnya menyapu anus suaminya itu.
Beberapa saat kemudian Rahman melepaskan diri, ia mengangkat badan Andro yang terasa sangat ringan itu dan membaringkan di atas ranjang dengan pantat Andro terletak di tepi ranjang, kaki kiri Andro diangkatnya agak melebar ke samping, di pinggir pinggang lelaki tersebut. Kemudian batang kontol Rahman mulai berusaha memasuki beahan pantat Andro. Tangan kanan Rahman menggenggam batang kontolnya yang besar itu dan kepala kontolnya yang membulat itu digesek-gesekkannya pada belahan pantat dan menyentuh lubang dubur Andro, hingga Andro merintih-rintih kenikmatan dan badannya tersentak-sentak. Rahman terus berusaha menekan kontolnya ke dalam lubang dubur Andro, akan tetapi sangat sempit untuk ukuran kontol Rahman yang besar itu.

Tidak sampai di situ, beberapa menit kemudian Rahman membalik tubuh Andro yang telah lemas itu hingga sekarang Andro setengah berdiri tertelungkup di pinggir ranjang dengan kaki terjurai ke lantai, sehingga posisi pantatnya menungging ke arah lelaki tersebut. Kemudian Andro merasakan Rahman menjilati liang anusnya dari atas dan lidahnya menusuk-nusuk lubang itu dengan ganas. Andro mengerang, merintih, menjerit histeris karena gelombang birahi kembali melandanya tanpa ampun membuat perutnya mulas. Batang kontol Andro yang menggantung itu tidak didiamkan. Segera saja Akbar tidur dibawah Andro kemudian menyusu pada batang kontol cowok itu. Cowok itu semakin merasakan nikmat yang tak terbayangkan.
Rahman melanjutkan kegiatannya itu dan sekarang dia melihat pantat cowok itu dan bagian anus Andro sudah basah dengan ludahnya, sementara dengan ibu jarinya yang telah basah dengan ludah, mulai ditekan masuk ke dalam lobang anus Andro dan diputar-putar di sana. Andro terus mengeliat-geliat dan mendesah.

"Aaadduuhh.. Aadduuhh..pelannnn..!".
Selang sesaat setelah merasa cukup membasahinya, Rahman sambil memegang dengan tangan kiri kontolnya yang telah tegang itu, menempatkan kepala kontolnya tepat di tengah liang masuk anus Andro yang telah basah dan licin itu. Kemudian Rahman membuka belahan pantat Andro lebar-lebar.
"Aaaduhh, Aagkkh...." erang Andro. Rahman mulai mendorong masuk, kemudian ia berhenti dan membiarkan kontol itu terjepit dalam anus Andro.
"Tahan Andro, nanti kamu pasti akan merasakan keenakan" bisik Akbar.
"Memang pertama-tama agak sesak, tapi nanti akan sangat enak, tahan yaa....!"
Sementara itu Andro menjerit-jerit dan menggelepar-gelepar menahan gempuran batang kontol besar itu. Segera saja Akbar beralih ke batang kontol cowok itu, lalu diemutnya batang kontol cowok itu, sementara tangannya ia gunakan untuk meremas dua bongkah pantat Andro agar lebih rileks.

"Aduuh.... Oomm…penuh rasanya…gede banget kontolnya" ketika kontol itu mulai masuk lagi anusnya.
"Tenang sayang nanti juga pasti enak" jawab Rahman sambil terus melesakkan bagian kontolnya kepalanya sudah seluruhnya masuk ke pantat Andro.
"Ackhhhhhh.." jerit Andro.
Bersamaan dengan itu kontol Rahman amblas dalam lobang anusnya yang sempit.
"Tenang Andro, nanti enak deh.. Aku aja jadi ketagihan sekarang" kata Akbar sambil mengelus rambut kontolnya dan menggosok nya sambil terus menghisap dan menjilati batang kontolnya.
"Tuuh.. Kan sudah masuk tuh.. Enak kan nanti pantatmu juga terbiasa kok kayak pantatku ini" kata Akbar.
Andro diam saja. Ternyata tidak terasa sakit kalo otot di anusnya dibuat rileks, pikirnya. Rahman mulai mengocok kontolnya di pantat Andro.

"Pelan-pelan, yaaa" kata Andro pada Rahman.
"Iya sayang enaakk.. Niihh.. Seempiitt.." kata Rahman.
Akbar yang berada di bawah sibuk menyedot kontol Andro dengan mulutnya dan mengocok batang kontol Andro dengan tangannya, sehingga membuat Andro semakin menggelinjang nikmat. Andro meronta-ronta, sehingga semakin menambah gairah Rahman untuk terus mengocok di anusnya. Andro terus menjerit, ketika perlahan seluruh kontol hitam besar Rahman masuk ke anusnya.
"Aaauugghh..!!!..!" jerit Andro ketika Rahman mulai bergerak pelan-pelan keluar masuk anus Andro.

Akhirnya dengan tubuh berkeringat menahan rasa nikmat dan rasa penuh di lubang anusnya, Andro terkulai lemas tertelungkup di atas badan Akbar kelelahan. Secara berirama Rahman menekan dan menarik kontolnya dari lobang anus Andro, dimana setiap kali Rahman menekan ke bawah, kontolnya semakin terbenam ke dalam lobang anus cowok itu. Benar-benar sangat menyesakkan melihat kontol besar hitam itu keluar masuk di anus Andro. Terlihat kedua kaki Andro yang terkangkang itu bergetar-getar lemah setiap kali Rahman menekan masuk kontolnya ke dalam lobang anusnya. Dalam kenikmatan bercampur dengan rasa yang lain itu, Andro telah pasrah menerima perlakuan lelaki tersebut.

Tak lama kemudian, Rahman merubah posisi lagi dengan membalikkan tubuh Andro.
Kini mereka berhadap-hadapan. Kaki Andro diangkat hingga disandarkan pada pundak Rahman. Sementara Rahman mengambil posisi jongkok dan mulai mengarahkan kepala kontolnya ke lubang dubur Andro.
Pelahan-lahan kepala kontol Rahman itu menerobos masuk membelah lubang dubur Andro. Ketika kepala kontol lelaki setengah baya itu menempel pada bibir lubang duburnya, Andro merasa kaget ketika menyadari saluran duburnya ternyata panas dan terasa penuh oleh batang peler Rahman. Kemudian Rahman memainkan kepala kontolnya pada bibir lubang dubur Andro, yang menimbulkan suatu perasaan geli yang segera menjalar ke seluruh tubuhnya.
Dalam keadaan seperti itu, dengan perlahan Rahman menekan pantatnya kuat-kuat ke depan sehingga pinggulnya menempel ketat pada pinggul Andro, rambut lebat kontol pada pangkal kontol lelaki tersebut mengesek pada kedua paha bagian atas Andro yang makin membuatnya kegelian, sedangkan seluruh batang kontolnya amblas ke dalam liang dubur Andro.

Dengan tak kuasa menahan diri, dari mulut Andro terdengar jeritan halus tertahan, "Aduuh!, oohh.., aahh", disertai badannya yang tertekuk ke atas dan kedua tangan Andro mencengkeram dengan kuat pinggang Rahman. Perasaan sensasi luar biasa bercampur sedikit pedih menguasai diri Andro, hingga badannya mengejang beberapa detik.
Melihat keadaan itu, dengan sigap Akbar langsung menuju ke dada cowok itu. Dikulumnya puting Andro yang sebelah kiri dengan mulutnya, lidahnya sibuk menyentik-yentik putingnya yang telah keras dan runcing itu. Sementara tangannya yang kanan sibuk memilin-milin puting susu yang sebelah kiri. Andro semakin menggeliat. Kemudian Akbar pun berpindah ke puting sebelahnya. Perasaannya campur aduk, antara pedih dan nikmat.
Rahman cukup mengerti keadaan Andro, ketika dia selesai memasukkan seluruh batang kontolnya, dia memberi kesempatan lubang dubur Andro untuk bisa menyesuaikan dengan kontolnya yang besar itu. Andro mulai bisa menguasai dirinya. Beberapa saat kemudian Rahman mulai menggoyangkan pinggulnya, mula-mula perlahan, kemudian makin lama semakin cepat.

Seterusnya pinggul lelaki setengah baya itu bergerak dengan kecepatan tinggi diantara kedua paha halus cowok manis tersebut. Sambil menyentakkan pantatnya agar batang pelernya membenam ke lubang dubur Andro, tangan Rahman membantu meremas remas dan mengocok batang peler Andro.
Andro berusaha memegang lengan pria itu, sementara tubuhnya bergetar dan terlonjak dengan hebat akibat dorongan dan tarikan kontol lelaki tersebut pada lubang duburnya, giginya bergemeletuk dan kepalanya menggeleng-geleng ke kiri kanan di atas ranjang. Andro mencoba memaksa kelopak matanya yang terasa berat untuk membukanya sebentar dan melihat wajah lelaki itu yang sedang menatapnya, dengan takjub. Andro berusaha bernafas dan..
"Ooomm.., aahh.., oohh.., sshh", erangnya sementara pria tersebut terus menyodomi duburnya dengan ganas.

Andro sungguh tak kuasa untuk tidak merintih setiap kali Rahman menggerakkan tubuhnya, gesekan demi gesekan di dinding liang duburnya, sungguh membuatnya melayang-layang dalam sensasi kenikmatan yang belum pernah dia alami. Setiap kali Rahman menarik kontolnya keluar, Andro merasa seakan-akan sebagian dari badannya turut terbawa keluar dari tubuhnya dan pada gilirannya Rahman menekan masuk kontolnya ke dalam lubang duburnya, maka dinding usus Andro terjepit pada batang kontol lelaki itu dan terdorong masuk kemudian tergesek-gesek dengan batang kontol lelaki tersebut yang berurat itu.

Hal ini menimbulkan suatu perasaan geli yang dahsyat, yang mengakibatkan seluruh badan Andro menggeliat dan terlonjak, sampai badannya tertekuk ke atas menahan sensasi kenikmatan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.
Lelaki tersebut terus menyodomi Andro dengan cara itu. Sementara tangannya yang lain tidak dibiarkan menganggur, dengan terus bermain-main pada batang peler Akbar dan menarik-narik ujung kontolnya, sehingga membuatnya menggeliat-geliat menahan nikmat. Andro bisa melihat bagaimana batang kontol yang hitam besar dari lelaki itu keluar masuk ke dalam liang duburnya yang sempit. Andro selalu menahan nafas ketika benda itu menusuk ke dalamnya.

Duburnya hampir tidak dapat menampung ukuran kontol Rahman yang super besar itu. Andro menghitung-hitung detik-detik yang berlalu, ia berharap lelaki itu segera mencapai klimaksnya, namun harapannya itu tak kunjung terjadi. Ia berusaha menggerakkan pinggulnya, akan tetapi paha, bokong dan kakinya mati rasa.
Sementara batang pelernya tidak lagi dikocok kocok oleh tangan Akbar. Tetapi lidah dan mulut Akbar kini menjilati dan mengulum batang pelernya.
Andro merasakan kenikmatan yang tiada tara, karena perpaduan sodokan kontol Rahman pada duburnya diimbangi dengan kuluman mulut Akbar pada batang pelernya. Ada rasa ngilu pada batang pelernya tiap kali sodokan kontol Rahman menghunjam ke duburnya yang terasa tembus ke perutnya. Tapi ia mencoba berusaha membuat lelaki itu segera mencapai klimaks dengan memutar bokongnya, menjepitkan pahanya, akan tetapi Rahman terus menyodominua dan tidak juga mencapai klimaks.

Lalu tiba-tiba Andro merasakan sesuatu yang aneh di dalam tubuhnya, rasanya seperti ada kekuatan dahsyat pelan-pelan bangkit di dalamnya, perasaan yang tidak diingininya, tidak dikenalnya, keinginan untuk membuat dirinya meledak dalam kenikmatan. Andro merasa dirinya seperti mulai tenggelam dalam genangan air, dengan gleiser di dalam aliran kencingnya yang siap untuk membuncah dan menyemprot keluar. Saat itu dia tahu dengan pasti, ia akan kehilangan kontrol, ia akan mengalami orgasme yang luar biasa dahsyatnya. Batang kontol Andro bergetar dan berkedut kedut saat ia akan menyemburkan cairan magma spermanya.
Jari-jarinya dengan keras mencengkeram sprei ranjang, ia menggigit bibirnya, dan kemudian terdengar erangan panjang keluar dari mulutnya yang mungil, "Oooh.., ooh.., aahhmm.., sstthh!".
Cowok manis itu melengkungkan punggungnya, kedua pahanya mengejang serta menjepit dengan kencang, menekuk ibu jari kakinya, membiarkan bokongnya naik-turun berkali-kali, keseluruhan badannya berkelonjotan, menjerit serak dan.. akhirnya cairan hangat itupun menyembur.

Semprotan demi semprotan meledak membasahi mulut Akbar yang sibuk terus mengulum batang pelernya. Andro akhirnya larut dalam orgasme total yang dengan dahsyat melandanya, diikuti dengan suatu kekosongan melanda dirinya dan keseluruhan tubuhnya merasakan lemas seakan-akan seluruh tulangnya copot berantakan. Andro terkulai lemas tak berdaya di atas ranjang dengan kedua tangannya terentang dan pahanya terkangkang lebar-lebar dimana kontol hitam besar Rahman tetap terjepit di dalam liang duburnya.

Selama proses orgasme yang dialami Andro ini berlangsung, memberikan suatu kenikmatan yang hebat yang dirasakan oleh Rahman, dimana kontolnya yang masih terbenam dan terjepit di dalam liang dubur Andro dan merasakan suatu sensasi luar biasa. Rahman merasakan batang kontolnya serasa terbungkus dengan keras oleh sesuatu yang lembut licin yang terasa mengurut-urut keseluruhan kontolnya, terlebih-lebih pada bagian kepala kontolnya setiap terjadi kontraksi pada dinding usus Andro. Perasaan Rahman seakan-akan menggila melihat Andro yang begitu tampan dan manis itu tergelatak pasrah tak berdaya di hadapannya dengan kedua paha yang halus mulus terkangkang dan kontol yang terkulai lemas dengan lelehan sperma, serta lubang dubur Andro yang menjepit dengan ketat batang kontolnya yang hitam besar itu.

Tak lama kemudian mereka bertukar posisi, sekarang Rahman duduk melonjor di ranjang dengan kontolnya tetap berada dalam lobang anus Andro, sehingga badan Andro tertidur terlentang di atas badan Rahman dengan kedua kakinya terpentang lebar ditarik melebar oleh kedua kaki Rahman dari bawah dan Akbar mengambil posisi di atas Andro untuk menjilati batang kontolnya..
Akbar mulai mengocok tangannya sambil mulutnya terus mengulum batang kontol Andro. Kontol warna merah kecoklatan itu sekarang semakin basah saja, cairan ludah yang keluar dari mulut Akbar saat menoral kontol Andro mengalir ke bawah, sehingga membasahi dan melicinkan lobang anusnya, hal ini membuat kontol Rahman yang sedang bekerja pada lobang anusnya menjadi licin dan lancar, sehingga dengan perlahan-lahan perasaan sesak yang dirasakan Andro berangsur-angsur hilang diganti dengan perasaan nikmat yang merambat ke seluruh badannya.

Andro mulai dapat menikmati kontol besar laki-laki tersebut yang sedang menggarap lobang anusnya. Perlahan-lahan perasaan nikmat yang dirasakannya melingkupi segenap kesadarannya, menjalar dengan deras tak terbendung seperti air terjun yang tumpah deras ke dalam danau penampungan, menimbulkan getaran hebat pada seluruh bagian tubuhnya, tak terkendali dan meletup menjadi suatu rangsangan dan birahi yang spektakuler melandanya. Kontolnya semakin tambah tegang dan terasa ngilu dalam kuluman mulut Akbar. Setelah itu badan Andro menjadi lemas, Andro terlentang pasrah dengan kedua matanya terkatup.

Melihat keadaan Andro itu semakin membangkitkan nafsu Rahman, lelaki tersebut menjadi sangat kasar dan kedua tangan Rahman memegang pinggul Andro dan lelaki tersebut menarik pinggulnya keras-keras ke belakang dan "Aduuh.. Aaauugghh..!" keluh Andro merasakan seakan-akan anusnya terbelah dua diterobos kontol laki-laki itu yang besar itu. Kedua mata Andro terbelalak, kakinya menggelepar-gelepar dengan kuatnya diikuti badannya yang meliuk-liuk menahan gempuran kontol Rahman pada anusnya.

Dengan buasnya Rahman menggerakkan kontolnya keatas bawah dengan cepat dan keras, sehingga kontolnya keluar masuk pada anus Andro yang sempit itu. Rahman merasa kontolnya seperti dijepit dan dipijit-pijit sedangkan Andro merasakan kontol lelaki tersebut seakan-akan sampai pada dadanya, mengaduk-aduk di dalamnya, di samping itu suatu perasaan yang sangat aneh mulai terasa menjalar dari bagian bawah tubuhnya bersumber dari anusnya, terus ke seluruh badannya terasa sampai pada ujung-ujung jari-jarinya. Andro tidak bisa menggambarkan perasaan yang sedang menyelimutinya, akan tetapi badannya kembali serasa mulai melayang-layang dan suatu perasaan nikmat yang tidak dapat dilukiskan terasa menyelimuti seluruh badannya.

Hal yang dapat dilakukannya pada saat itu hanya mengerang-erang, "Aaahh.. Ssshh oouusshh!" sampai suatu saat perasaan nikmatnya itu tidak dapat dikendalikan lagi serasa menjalar dan menguasai seluruh tubuhnya dan tiba-tiba meledak membajiri keluar berupa suatu orgasme yang dasyat yang mengakibatkan seluruh tubuhnya bergetar tak terkendali disertai tangannya yang menggapai-gapai seakan-akan orang yang mau tenggelam mencari pegangan. Kedua kakinya berkelejotan.
Dari mulut Andro keluar suatu erangan, "Aaaduhh.. Laagii.. Laagii.. Oohh.. Ooohh.." Hal ini berlangsung kurang lebih 20 detik terus menerus.

Sementara itu lelaki itu terus melakukan aktivitasnya, dengan memompa kontolnya keluar masuk anus. Akbar yang sedari tadi mengocok dan mengulum serta menjilati batang kontol cowok itu menjadi sangat terangsang melihat ekspresi muka Andro dan tiba-tiba Akbar merasakan kontol Andro mulai bergerak-gerak berkedut kedut dan dirasakan pada jari-jari dan mulutnya.
Gerakan kaki Andro disertai goyangan pinggulnya mendatangkan suatu kenikmatan pada kontol lelaki tersebut, terasa seperti diurut-urut dan diputar-putar.

Tiba-tiba Rahman merasakan sesuatu gelombang yang melanda dari di dalam tubuhnya, mencari jalan keluar melalui kontolnya yang besar itu, dan terasa suatu ledakan yang tiba-tiba mendorong keluar, sehingga kontolnya terasa membengkak seakan-akan mau pecah dan..
"Aaaduuh..!" secara tidak sadar tangannya mencengkram erat badan Andro dan pinggul Rahman terangkat ke atas, pinggulnya mendorong masuk kontol terbenam habis ke dalam lobang anus Andro, sambil menyemburkan cairan kental panas ke dalam lobang anus cowok itu.
Menerima semburan cairan kental panas pada lobang anusnya, Andro merasakan suatu sensasi yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata, hanya reaksi badannya yang bergetar-getar dan ekspresi mukanya yang seakan-akan merasakan suatu kenikmatan yang tak terbayangkan.

Sungguh dirinya tidak menyesal telah menerima tawaran untuk melayani Rahman ini. Rasa nikmat yang begitu dahsyat didapatnya, dan sebentar lagi akan dapat membayar uang kuliahnya. Andro merasakan seumur hidupnya, rasa nikmat ini baru kali ini dirasakannya.

No comments:

Post a Comment

Paling Populer Selama Ini