7/07/2011

Kisah Juragan Kos

Jakarta, 19 November 2006

Adalah sebuah anugerah yang tak ternilai yang kudapatkan di usiaku yang ke-30 ini. Rumah yang selama ini kukontrak sebesar enam juta rupiah per tahunnya kini telah menjadi milikku. Berawal dari jumlah hutang pemilik kontrakan yang terus bertambah padaku, keinginan naik haji, hingga kebutuhan-kebutuhan lainnya, membuat pemilik kontrakkan terpaksa menjualnya padaku dengan harga yang cukup murah.

Rumah yang terdiri atas tiga kamar, ruang dapur, dan kamar mandi ini rencananya akan kurehab. Satu kamar yang paling depan kupakai sendiri. Adapun dua kamar lainnya akan aku sewakan. Lumayan buat tambahan penghasilanku. Selama ini aku tidak berani menyewakan kamar yang tersisa karena aku masih harus bertanggung jawab terhadap pemilik kontrakkan. Kini semuanya telah menjadi tanggung jawabku.

TERSEDIA DUA KAMAR KOS HUBUNGI 08881145XX

Hmm… papan sederhana buatan tanganku sendiri itu kini sudah terpampang di depan pagar rumahku. Sengaja aku cantumkan nomor HP-ku. Aku hanya ada di rumah sore dan malam hari karena aku juga bekerja sebagai pegawai di salah satu kantor milik pemda.

Jakarta, 22 November 2006

“Permisi, Mas! Masih ada kamar kosong?” Seorang pria berusia hampir 40 tahun menjadi orang pertama yang menanyakan kamar yang kusewakan.

“Masih, Pak. Silakan masuk!” ujarku ramah.

Setelah berbincang dan melihat kondisi kamar, Pak Yayat Suherman sepakat untuk menyewa kamar yang paling belakang. Ia akan menempati kamar itu bersama istrinya Neneng dan anak laki-lakinya yang baru masuk STM, Andri.

Semula aku berniat untuk menyewakan hanya pada penghuni pria tetapi demi pengembalian modal yang lebih cepat maka aku setuju untuk menyewakan salah satu kamarku pada keluarga tersebut. Apalagi Pak Yayat setuju dengan harga yang kutawarkan. Nanti kalau kondisi keuanganku kembali normal baru aku mulai mengajukan syarat-syarat khusus.

Jakarta, 2 Desember 2006

“Lagi ngapain, Om?” aku menoleh ke pintu kamarku yang terbuka. Andri.

“Eh, Andri. Lagi nonton, nih. Kamu nggak belajar?” tanyaku sambil mempersilakan masuk anak Pak Yayat tersebut.

“Nggak ada PR, Om.” ujarnya santai sambil menjatuhkan tubuhnya di dekatku.

Kami berbincang ringan. Andri anak yang cukup santai walaupun cenderung pendiam. Wajahnya sangat biasa. Ia mewarisi wajah ibunya yang menurutku sangat biasa. Padahal Pak Yayat lumayan ganteng. Namun, ada satu keistimewaan Andri. Gumpalan kenyal di selangkangannya sangat menonjol. Tidak banyak remaja seusianya yang mempunyai tonjolan seperti itu. Akh… Lumayan juga kalau aku bisa mendapatkannya…

“Om, aku boleh tidur di sini?” tiba-tiba Andri berbisik.

“Memangnya di kamar kamu kenapa?” tanyaku balas berbisik.

“Bapak di rumah.” jawabnya.

“Lho, memangnya kalau bapakmu di rumah kenapa?” tanyaku lagi.

“Yaa… Aku nggak enak aja, Om. Bapak pulang seminggu sekali. Biasanya bapak minta jatah sama ibu. Kalau ada aku, khan nggak enak…” Aku paham.

“Jadi selama ini kamu begitu, Ndri? Kalau bapakmu pulang, kamu keluar?”

“Ya gitu, deh… Mau nggak mau. Soalnya aku pernah nggak ke luar dan pura-pura tidur, eh… mereka tetap nekat main juga!” Glekk…

“Kamu pernah lihat bapak ibu kamu ML?” mataku mendelik. Ada terkejut. Ada heran. Ada nafsu.

“Sekali itu aja, Om!” jawabnya cepat.

“Kamu nggak terangsang melihatnya?” pancingku.

“Wah, sange berat, Om! Makanya aku nggak mau lagi…” kulihat Andri mengubah posisi duduknya. Dia ngaceng!

“Sekarang juga, khan?!” tembakku. Ia tersenyum. Tidak membantah berarti ya.

“Boleh ya, Om?” pintanya lagi.

“Saya takut, Ndri…” godaku.

“Takut apa, Om?” tanyanya heran.

“Kamu bayangin aja sendiri. Kamu lagi tidur terus di sebelah kamu ada cowok lagi ngaceng berat. Bisa-bisa di…”

“Ha…ha…ha… Om Toro ada-ada saja! Nggaklah, Om!”

“Sekarang bilang nggak. Nanti kalau sudah tidur?” godaku lagi.

“Ya ampun, Om! Aku sudah nggak ngaceng lagi, nih!” katanya sambil menggoyang selangkangannya. Memang, sih… tapi aku sedang punya siasat.

“Jangan bohong, Ndri! Orang ngaceng sama nggak itu bisa dibedakan! Bejendol begitu dibilang nggak ngaceng…” pancingku lagi.

“Punyaku memang besar, Om!” ujarnya polos, “Kalau Om nggak percaya, lihat saja!” tantangnya. Yupp! Pancinganku berhasil!

“Coba buka! Kalau benar lagi ngaceng, punya kamu saya genjot sampai keluar dua kali, ya!” tantangku sambil pura-pura mengancam.

“Iya! Tapi kalau saya lagi nggak ngaceng, punya Om yang saya genjot, ya?!” balasnya menantang. Sip!

Andri langsung berdiri di atas lutut. Ia pelorotkan celana pendek sekaligus CD-nya. Aku sudah tahu ia sudah tidak ngaceng. Namun, aku pura-pura terkejut. Dasar!

“Gede begitu belum ngaceng, Ndri?” kepalaku kugeleng-gelengkan. Andri tersenyum. Jelas ada kebanggaan di wajahnya. Pria ingusan yang belum tahu banyak liku-liku seks.

“Andri khan sudah bilang, Om! Punya Andri itu besar…” lagi-lagi Andri tersenyum bangga. Aku akan jalankan pancinganku berikutnya! Aku langsung kembali merebahkan tubuhku. Pura-pura kembali menonton. Andri berdehem. Aku menengok ke arahnya.

“Lupa taruhannya, Om?” senyumnya mengejek penuh kemenangan.

“Nggak! Khan nggak harus sekarang dilakukannya” tanyaku sok santai.

“Ya, sih… Tapi ingat lho, Om! Dua kali!” ia tegaskan dua kata terakhir di dekat telingaku. Aku pura-pura terkejut.

“Hahh!!! Nggak salah, Ndri?” tanyaku berlagak kalut.

“Jangan akting, Om! Om saja bilang kalau aku bohong mau genjot punyaku sampai keluar dua kali. Yang fair dong, Om!” katanya mengingatkan. Padahal aku sudah tahu.

“Nggak harus malam ini, khan?” tanyaku pura-pura mengiba.

“Taruhan sekarang masak dibayar besok!” ketusnya.

“Oke, deh… Kamu kunci dulu pintunya!” kataku pura-pura pasrah. Andri langsung bangkit dan mengunci pintu kamar. Gila! Anak satu ini benar-benar konsekuen. Tidak bisa diajak bercanda. Aku harus hati-hati…

“Celananya nggak usah dibukalah, Om!” suaranya terkejut. Ooops! Jangan sampai ia mengendus permainanku ini.

“Nanti kalau keluar, celananya sayang, Ndri…” suaraku melemah. Alasanku sepertinya bisa dia terima. Andri langsung menguak kedua kakiku. Ach…

“Umur Om berapa, sih?” Andri bertanya sambil menatapi kontolku. Ia belum memulai aksinya.

“Tiga puluh…” jawabku tercekat. Kenpa anak ini tanya-tanya umur segala?

“Punya Om kecil banget! Punya teman-teman saya rata-rata lebih dari punya Om!” cibir Andri sambil mengangkat dagunya. Hmmpph… Sialan! Menghina ini bocah!

“Ini belum ngaceng, Ndri!” dustaku. Kontolku sudah 75% ngaceng. Kalaupun bertambah tidak akan seberapa. Andri terkekeh menyadari kebohonganku. Ia julurkan kakinya yang kekar ke selangkanganku.

“Ya, deh… Aku ngacengin dulu biar gede!” hinanya. Telapak kakinya melakukan gerakan memutar di kontolku. Sumpah! Aku langsung ngaceng 100%! “Dah ngaceng belum, Om?” goda Andri lagi, “Aku kencengin genjotannya, ya? Biar tambah gede!” kurasakan kontolku ditekan-tekan dengan cepatnya. Ouch! Nikmat sekali!

“Aduh! Pelan-pelan, Ndri!” ujarku berpura-pura kesakitan. Namun, sepertinya Andri tidak mempedulikannya. Ia ingin cepat-cepat aku keluar dan kelemasan.

“Biar tambah gede, Om! Jadi bisa cepat kawin. Cewek sukanya khan yang besar, Om!” ejeknya terus-menerus. Aku menikmati sekali walau harus tetap bersandiwara.

“Sudah, Ndri! Sudah mau keluar…” aku pura-pura meminta dia untuk menghentikannya. Andri merasa tidak mau dibohongi. Ia percepat genjotannya di kontolku yang terpental-pental. Ia ingin kontolku muncrat dengan genjotannya. Hal ini membuatku semakin merem-melek.

Tiga menit sudah. Kontolku langsung menyemburkan laharnya. Andri cepat-cepat menarik kakinya. Takut terkena pejuhku.

“Ha…ha…ha… Cepat benar, Om?!” ledeknya lagi. Aku menunduk. Pura-pura malu padahal tersenyum puas.

Sesaat kemudian aku meraih celanaku. Andri menahannya.

“Eitt… Masih satu kali lagi!” tagihnya.

“Iya, saya tahu! Istirahat dulu, lah… Lemessss…” Kuhembuskan nafasku berat. Andri tersenyum penuh kemenangan.

“Pantesan Om Toro belum nikah. Punya Om kecil dan cepat keluar, sih!” kata-katanya sangat tidak sopan. Aku diam saja. Berkorban perasaan sedikit tidak apa-apa. Yang penting aku mendapat kepuasan dan kontol remaja satu ini akan aku kuasai!

“Yang keduanya nanti tengah malam saja, ya?” pintaku. Andri menggeleng. Ia lalu menguap.

“Saya kalau sudah tidur susah bangunnya, Om… Jadi, sekarang saja!” katanya sambil mengangkangkan lagi kakiku.

“Pakai tangan saja, Ndri! Biar nggak sakit…” bujukku. Andri menggeleng. Pancinganku kali ini gagal.

“Ogah!!!” tegas sekali suaranya. Jangan sampai ia menyadari kalau…

“Tetap pakai kaki tapi pelan-pelan, ya? Sudah lemas, nih…” aku alihkan pancinganku. Dia tidak boleh berhenti di sini. Harus terus!

“Bapakku kalau main lama, Om! Ibu sampai minta sudahan terus. Om belum lima menit sudah keluar…” Ia bandingkan bapaknya denganku. Nada suaranya bangga. Bolehlah… Biar kusanjung-sanjung terus kejantananmu. Setelah itu? Lihat saja!

Genjotan yang kedua Andri lakukan lebih kasar. Ia ingin membuatku malu yang ke sekian kalinya. Cepat keluar. Dan ternyata benar!

“Om Toro payah!!!” hina Andri lagi. Aku sudah keluar lagi. Belum sepuluh menit padahal. Kuhempaskan tubuhku ke kasur. Celanaku belum kupakai lagi. Sengaja kupunggungi Andri. Pancingan berikutnya!

“Om! Marah, ya?” tanyanya khawatir sambil mendekatiku. Aku hanya menggeleng. Andri merebahkan tubuhnya di depanku. Padahal aku belum memakai celana!

“Kontol Om kecil banget ya, Ndri?” tanyaku lemah. Andri menatapku kasihan.

“Maaf, Om! Sejujurnya punya Om memang kecil, cepat keluar lagi!” Andri berbisik, “Diobatin ke Mak Erot, Om!” solusinya.

“Kamu pernah?” tanyaku padanya. Ia menggeleng.

“Alami, Om! Punya bapakku juga gede!” lagi-lagi kebanggaan tersirat di nada suaranya.

“Kamu tadi belum ngaceng saja sudah segitu, ya? Gimana kalau sudah ngaceng, ya…?” sengaja kugantung kalimatku.

“Om mau lihat?” tawarnya. Mau! Mau! Sorakku dalam hati. Sejak tadi aku ingin melihat kontolmu ngaceng, Ndri!

Andri sekali lagi meloloskan celana sekaligus CD-nya. Glekk!! Sebongkah benda bulat panjang kemerahan teracung di selangkangannya. Dahsyat!

“Gede banget, Ndri!” pujiku. Kudekatkan wajahku ke kontolnya pura-pura menegaskan penglihatanku. Ia tersenyum bangga.

“Keluarnya lama lagi, Om!” promosinya.

“Saya nggak percaya! Gede bukan jaminan tahan lama! Apalagi kamu masih remaja masih belum bisa mengatur emosi!” celaku. Aku sengaja memancing keegoannya.

“Om Toro nggak percaya?” tanyanya meninggi.

“Bagaimana bisa percaya kalau belum ada bukti? Jangan-jangan kontol gede kamu lebih cepat keluarnya daripada kontol saya yang kecil!” pancingan berikutnya! Kulihat wajah Andri memerah. Terlihat sekali ia tidak terima perkataanku. Ia condongkan wajahnya ke wajahku.

“Om Toro buktikan saja! Kocok punya saya! Kalau belum sepuluh menit saya sudah keluar, Om Toro boleh genjot saya sampai pejuh saya habis!!!” taruhan yang tersulut emosi.

“Nggak usah sepuluh menit lah! Bisa melebihi tiga menit saja akan saya penuhi semua keinginan kamu yang bisa saya lakukan!” taruhanku lebih menggiurkan lagi.

“Oke! Kalau saya keluar setelah tiga menit, Om harus jadi pelayan saya. Apa saja yang saya minta harus Om turuti!” ada segurat kesenangan di senyumnya.

“Ya… tapi yang Om Toro sanggup lakukan dan permintaan kamu juga jangan berlebihan!” kataku khawatir.

“Tenang saja, Om…” hiburnya.

“Tapi kalau kamu kalah, kamu juga harus mau jadi pelayan saya, ya?” Andri mengangguk pasti.

“Sudah, mulai saja Om!” tantangya sambil merenggangkan selangkangannya yang ditumbuhi bulu-bulu muda. Kontolnya agak terkulai. Namun, tetap terlihat besar dan berisi.

“Kamu mintanya dikocok. Padahal tadi saya digenjot pakai kaki…” sengaja aku ulur waktu.

“Terserah Om! Mau dikocok, digenjot, diapain saja silakan! Disepong juga boleh…” Hahhh! Mau! Mau!

Aku tetap tidak menunjukkan hasrat homoku. Aku genjot kontolnya.

“Satu menit” Andri menyebutkan waktuku. Kuubah caraku. Kali ini aku kocok dengan cepat. Andri tersenyum mengejek. Ia pede sekali bahwa usahaku untuk mengeluarkan pejuhnya tidak akan berhasil cepat.

“Dua menit” terdengar agak tertawa. Aku tunjukkan kepanikanku dengan mengelap kontolnya. Seolah-olah tanpa pikir panjang kumasukkan kontol muda itu ke mulutku. Andri tertawa senang.

“Lima puluh lima… lima puluh enam… lima puluh tujuh…” Andri sengaja menghitung detik. Aku perganas hisapanku. Andri tertawa senang sekali. Aku teruskan lumatanku. Pura-pura tidak tahu bahwa tiga menit telah terlewati sejak tadi.

“Sudah lewat, ya?” kuangkat wajahku. Andri tertawa terus.

“Sekarang sudah empat menit, Om!” Aku berniat menjauhi kontol Andri. Pura-pura tentu saja!

“Oke… saya ngaku kalah…” ujarku sok pasrah.

“Eitt! Ke mana Om?” cegahnya.

“Om kalah, Ndri! Kamu memang tahan lebih lama” pujiku.

“Terusin, dong!” pintanya memaksa.

“Lho? Semua sudah terbukti. Saya kalah. Nggak usah diterusin lagi!” Aku menyerah pura-pura.

“Sekarang bayar taruhannya Om! Sepong lagi punya saya, Om! Sampai muncrat! Jangan nanggung. Kepala bisa pusing!” sambil bicara seperti itu tangannya menarik kembali kepalaku ke selangkangannya. Kuturuti kemauannya. Kusempurnakan kemauanku! He…he…he…

Selama dua minggu ini Andri sudah tiga kali tidur di kamarku. Selama itu selalu berulang kejadian pertama tersebut. Namun, tidak lagi diawali dengan taruhan. Andri sudah mengerti keadaanku. Setiap dia ingin menuntaskan nafsunya, tinggal datang ke kamarku. Masih sebatas oral dan berjalan satu arah. Aku yang mengoral kontolnya yang besar itu.

Jakarta, 18 Desember 2006

Kamar tengah akhirnya terisi. Lagi-lagi sepasang suami isteri. Uda Nasril yang berusia 36 tahun dan Uni Devita yang masih berusia 26 tahun. Mereka belum memiliki anak. Sepertinya memang belum lama menikah.

Jakarta, 22 Desember 2006

Tok… tok… tok…

“Nonton apa, Mas Toro?” Kulihat Uda Nasril sudah berdiri di ambang pintu kamarku. Seperti biasa dia bertelanjang dada memamerkan beberapa tato di badannya yang tidak begitu kekar.

“Ini… lagi ngecek koleksi VCD dan DVD saya. Masih bagus apa nggak, ya? Jarang disetel, sih!” jawabku dengan suara agak bergetar. Jujur saja setiap berhadapan dengan Uda Nasril aku agak grogi. Entah mengapa, setiap orang Padang yang aku jumpai selalu memiliki sex appeal yang tinggi.

“Bokep?” tanyanya menuduh.

“Bukan!” jawabku buru-buru. Malu juga kalau ketahuan sebagai kolektor bokep. Untungnya film yang sedang kuputar adalah Mengejar Matahari.

“Nggak punya bokep?” Tanya Uda Nasril santai sambil mengambil salah satu kantung VCD-ku. Ooopps…. Jangan!

“Wuuuiiiihhhh!... Banyak juga koleksi bokepnya, Mas?!” Terlambat! Kantung yang dipegang Uda Nasril memang aku khususkan untuk film-film biru. Ada yang semi, hetero, dan kebanyakan gay…

“Se… Sebagian pu… punya teman sa… saya, Da!” jawabku terbata-bata. Malu sekali. Sudah ketahuan sebagai kolektor bokep, eh… bokep gay lagi!

“Bandung Lautan Asmara, Mahasiswa Trisakti, Kamasutra, Gladiator, …” Uda Nasril membaca satu per satu judul koleksiku. Masih aman karena VCD dan DVD gay kuletakkan di tumpukkan belakang…

“Sudah pernah nonton itu semua, Da?” tanyaku mengalihkan perhatiannya dari kepingan-kepingan di tangannya. Aku berharap dia tidak meneruskan melihat semua koleksiku sampai bagian belakang. Namun, pertanyaanku tidak dijawabnya.

“Big Cock, Supergay, 12 Inch, Asian Hole, Black Banana…” Uda Nasril berhenti membaca judul-judul film di hadapannya. Ia menoleh ke arahku dengan dahi berkernyit. Aku hanya menunduk. Malu dan takut.

“Daaa…!” suara Uni Devita terdengar dari kamarnya.

“Iyoo…” Uda Nasril menjawab. Ia letakkan kantung tersebut. Tanpa berbicara apa pun ia tinggalkan aku yang seperti maling tertangkap basah.

Jakarta, 31 Desember 2006

Malam tahun baru. Seperti biasa, di saat manusia lain bersuka cita menyambutnya aku hanya teronggok di kamar. Pak Yayat sedang dinas luar. Bu Neneng, Uni Devita, dan Uda Nasril mungkin sudah bergabung dengan warga di RT-ku yang akan membakar ayam di lapangan. Andri mungkin sudah berkeliaran dengan teman-temannya.

Inginnya aku tidur saja. Acara televisi sudah membuat jenuh. Awal tahun 2007 masih satu setengah jam lagi.

“Om Toro!” terdengar suara Andri di depan pintu kamarku.

“Kamu nggak ikutan bakar ayam, Ndri?” tanyaku saat membukakan pintu.

“Om Toro sendiri nggak ikut?” ia balik bertanya.

“Malas, Ndri! Paling-paling jadi bahan becandaan doang…” keluhku. Ya, kalau berkumpul dengan warga lain aku selalu jadi bahan gurauan mereka. Laki-laki usia tiga puluh belum menikah padahal sudah mapan. Pasti dijodoh-jodohkan. Mereka tidak tahu perasaanku!

“Ya, udah! Andri temenin mau?” tawarnya padaku. Andri sekarang sudah memposisikan diri sebagai penghiburku. Meskipun aku tahu, ia juga memanfaatkanku.

“Kamu nggak gabung sama teman-teman kamu?” tanyaku kembali.

“Aku mau temenin Om Toro. Boleh, khan?” Andri merebahkan tubuhnya dengan tangan terlipat di belakang kepala. Refleks kuperhatikan tonjolan di selangkangannya.

“Kamu ngaceng, Ndri?” pancingku. Andri tersenyum. Ia langsung mengelus-elus selangkangannya. Menggoda.

Tanpa ragu segera kuraih pengait celananya. Kubuka sekaligus dengan CD-nya. Menyembullah batangan kekar yang sudah beberapa kali kumuluti. Kutusuk-tusukkan ujung lidahku di kedua bijinya. Ia menggelinjang kegelian. Sesekali kusapukan lidahku ke bibir anusnya. Ia langsung melonjak. Begitu seterusnya sampai ia tak sabar lagi.

“Langsung, Om! Dah nggak tahan, nih!” tangannya meraih kepalaku. Tangan lainnya mengarahkan kemaluannya ke mulutku. Dia benar-benar sudah tak tahan.

Tok… Tok… Tok…

“Siapa?” aku bertanya terkejut. Tak ada jawaban. Segera kumasukkan kontol Andri dan kurapikan celananya. Andri juga terlihat panik. Ia bersembunyi di balik pintu. Aku segera membukakan pintu. Uda Nasril!

“Koq ngedekem aja di kamar? Gabung di lapangan, yuk!” Uda Nasril tersenyum. Mudah-mudahan dia tidak tahu kalau aku bersama Andri di kamar.

“Saya ngantuk banget, Da!” dustaku.

“Mas Toro sendirian aja?” Degh! Jangan-jangan Uda Nasril tahu.

“Ee… i…iya…” Brengsek! Jelas sekali kalau aku gugup.

“Ini seperti sandal Andri!” Mati aku!

Uda Nasril mendorong pintu yang hanya kubuka separo. Aku tak tahu harus bagaimana. Uda Nasril langsung masuk. Saat hendak duduk di karpet ia berbalik dan…

“Andri?!”

Andri tertunduk. Aku juga merasakan wajahku tak teraliri darah. Gemetar.

“Kamu ngapain di sini?” Tanya Uda Nasril. Kami hanya diam.

“Mas Toro apakan Si Andri?” kali ini pandangan Uda Nasril tertuju ke arahku.

“Sss… sa… ya ti… dak… apa-apakan…” jawabku ketakutan.

“Jangan bohong!” bentaknya. Hatiku semakin berkerut.

“Kamu diapain sama homo ini, Ndri?” kali ini Uda Nasril bertanya pada Andri.

“Nggak diapa-apain, Da! Aku memang mau begadang di kamar Om Toro…” Ah, Andri pun terlihat jelas tergeragap.

“Sudah! Nggak usah bohong! Kontol kamu diisep dia, khan?” jari Uda Nasril tepat berada di hidungku. Andri mengangguk. Mampuslah aku!

“Sekarang kamu keluar! Kalau tidak, saya laporkan ke orang tua kamu nanti!” ancam Uda Nasril seraya mengusir Andri. Andri pun keluar.

“Da! Tolong hal ini dirahasiakan, ya…”pintaku pada Uda Nasril.

“Mas Toro mau kasih apa ke saya sebagai penutup mulut?” ucapannya terdengar menghina.

“Saya nggak tahu. Terserah Uda Nasril…” ujarku pasrah.

“Oke! Terserah saya, ya!?” wajahnya mendekati wajahku, “Jadikan saya sebagai pengganti Andri!” Gila! Ternyata Uda Nasril mau juga!

“Khan sudah ada Uni Devita, Da?!” ingatku.

“Belakangan ini dia sering kecapekan!” Uda Nasril lekas membuka seluruh pakaiannya. Kulihat kontolnya tak sebesar Andri meskipun lebih besar dari kontolku. Ia pun duduk sembari mengangkangkan selangkangannya.

Tit… tit… tit…

Ada SMS. Segera kuraih HP-ku. Dari andri?

OM, AQ MO GRBEK KMR OM BRG TMN2. GA SAH TKT. QTA MO NGRJAIN DA NASRIL.

Segera kuhapus pesan tersebut.

“Dari siapa?” Tanya Uda Nasril.

“Teman ngucapin selamat tahun baru” dustaku lancar.

“Buruan, yo! Nanti yang lain keburu pulang!” Tangan Uda Nasril sudah menarik kepalaku ke selangkangannya. Aku menarik kembali kepalaku.

“Saya cek dulu di luar, Da! Jangan-jangan ada orang…” Aku melongokkan kepala ke luar kamar. Pintu kututup kembali sambil pura-pura menguncinya. Ya, pura-pura!

“Bagaimana rasa kontol saya?” Tanya Uda Nasril padaku. Aku masih memaju-mundurkan bibirku.

“Kontol Uda nggak setegang Andri, ya? Kalau Andri ngacengnya kayak besi. Gede lagi!” sengaja kulontarkan perasaanku yang sebenarnya.

“Tapi Mas Toro doyan, khan?” ejeknya sambil menekan lebih keras kepalaku. Aku hampir tersedak hingga …

BRAKKK!

Daun pintu kamarku terbanting. Andri dan empat orang temannya merangsek masuk.

“Mau apa kalian?!” Uda Nasril membentak. Mereka justru memeganginya. “Heh! Apa-apaan ini?” Ia berusaha berontak. Namun, tenaga lima orang remaja badung tersebut melebihi kekuatannya. Satu orang berhasil memegangi tangan dan kaki kanannya. Adapun seorang lagi memegangi dari sebelah kiri. Satu orang memiting lehernya. Andri membuka celana dan mengeluarkan kontolnya yang besar sambil meremas-remasnya hingga tegang.

“Ndri! Kamu mau ngapain? Jangan, Ndri!” aroma ketakutan tercium dari suara serak Uda Nasril. Gila! Aku tidak menyangka Andri merencanakan balas dendamnya seperti ini.

“Uda Nasril diam saja! Nikmatin kontol saya yang gede ini! Uni Devita masih perawan, khan? Soalnya Kontol Uda Nasril nggak bisa tegang. Sekarang biar bisa tegang, saya setrum dulu pakai kontol saya. Biar ngacengnya sekeras kontol saya! Rekam, Din!” Andri mulai mengarahkan kontolnya yang sudah mengeras ke dubur Uda Nasril. Udin yang semula hanya menonton kini mengarahkan HP berkameranya ke selangkangan Uda Nasril.

“Din, jangan direkam! Tolong, Din! Jangan!!!” suara Uda Nasril terdengar mengiba. Namun, remaja-remaja itu sepertinya sudah punya skenario sendiri. Ratapan Uda Nasril tak mereka hiraukan.

“Fyuh! Sempit juga bool Uda Nasril, nih?!” Andri terus menghujamkan kontolnya. Baru bagian kepala kontolnya yang seperti jamur yang tenggelam.

“Sakit, Ndri! Sakit! Sakiiittttt!!!” Uda Nasril mulai menjerit. Udin terus merekam proses pemerkosaan Andri terhadap Uda Nasril. Aku hanya menyudut dengan campuran perasaan kasihan, nafsu, penasaran, terangsang, dan sebagainya.

“Ssst! Jangan berisik! Mau Uni Devita tahu kalau bool Uda Nasril saya entot? Hah!?” ancaman Andri membungkam mulut Uda Nasril. Namun, erangan-erangan tertahan masih terdengar samar. Yah, kontol Andri sangat besar. Apalagi buat anus Uda Nasril yang mungkin memang bukan homo.

“Arrrgghhh…. Ndri, sakit! Ssssakkiitttt…. Arrrgh!!!” erangan Uda Nasril terdengar mengencang. Andri justru mempercepat genjotan kontolnya di dubur pria bertato itu. Ditambah lagi temannya yang semula memiting leher Uda Nasril justru menjejalkan kontolnya yang hitam ke mulut Uda Nasril. Udin mengclose-up adegan tersebut. Aku merasakan kontolku ikut tegang. Seandainya aku yang terbaring di situ dan bukan Uda Nasril…

DAR! DOR!

Jakarta, 1 Januari 2007

Suara petasan dan kembang api terdengar bersahutan di luar. Suaranya yang bising beriringan dengan jeritan Uda Nasril yang diperkosa Andri dan temannya dengan kecepatan luar biasa. Aku yakin Andri melakukannya bukan karena terangsang terhadap Uda Nasril. Namun, dendam. Ya, ia tersinggung diusir dari kamarku. Padahal saat itu ia sedang sangat ingin menyalurkan libidonya.

“Oooouuuccchhh….” Andri mengerang nikmat. Ia sudah muncrat. Kontolnya tetap terhujam di anus Uda Nasril. Uda Nasril sendiri terlihat kepayahan. Ada cairan darah mengalir dari dubur perawannya. Ia pasti hancur. Tak lama kemudian teman Andri mencabut kontolnya dari mulut Uda Nasril yang tak mampu menampung lelehan pejuh remaja berkulit hitam itu.

“Sekarang pergi!” seorang teman Andri menariknya berdiri untuk kemudian menendangnya ke arah pintu. Uda Nasril terhuyung. Dengan langkah mengangkang perih tanpa pakaian ia keluar. Udin mengikutinya dengan tetap mengarahkan HP-nya ke aurat Uda Nasril. Andri dan teman-temannya yang lain tertawa puas. Aku hanya bisa menghela nafas.

Tak lama terdengar Uda Nasril muntah-muntah. Kami sendiri di kamar tertawa-tawa menyaksikan hasil rekaman Udin. Kali ini aku benar-benar terangsang!

No comments:

Post a Comment

Paling Populer Selama Ini