6/23/2011

Dokter Yang Cantik

Friska adalah seorang dokter yang biasa dipanggil dengan dokter Riska. Riska baru saja menikah dengan seorang insinyur muda yang bermasa depan cerah dan bekerja di sebuah instansi pemerintah. Sosok Riska amat menawan dan tidak heran banyak pasiennya yang kagum dan simpati kepadanya. Selain cantik, Riska juga tinggi dan memiliki kulit sawo matang, ditunjang dada yang sangat menarik jika dipandang.

Saat ini Riska baru saja berumur 27 tahun dan ia telah menikah dengan Iwan kurang lebih 1 tahun. Mereka memutuskan untuk menunda dulu punya bayi demi karier Friska dan Iwan. Kehidupan pasangan ini amat mesra dan harmonis. Pasangan ini sama-sama berasal dari lingkungan yang berada dan terpandang di propinsi itu.

Suatu saat Friska mendapat tugas dari kantornya untuk mengabdi di sebuah pulau yang baru saja menjadi kabupaten di propinsi itu. Sebagai dokter yang telah terikat sumpah bakti, maka dengan berat hati ia terima tugas itu, meskipun ia akan berpisah beberapa saat dengan suaminya Iwan. Jarak pulau itu dengan kota propinsi memang agak jauh ditempuh dengan kapal laut perintis sekali seminggu.

Saat pertama Riska menempuh pulau itu, ia diantar Iwan, suaminya. Bagaimanapun Iwan ingin melihat lingkungan tempat kerja istrinya itu. Dokter Friska menempati rumah dinas yang memang agak jauh dari rumah penduduk lain dan dekat dengan puskesmas.

Selama di pulau itu, Iwan selalu menasehati istrinya agar berhati-hati dengan penduduk pulau itu, yang memang masih terbelakang peradabannya. Ia percaya bahwa Friska bisa menjaga diri. Dalam hatinya memang ada sedikit kekuatiran. Selain cantik, hanya Friska wanita yang bertugas di puskesmas itu.

Hampir setiap malam Iwan menyirami batin Friska dengan kemesraan. Ia berharap Friska akan puas sebab tidak setiap saat mereka bersama. Hampir semua cara telah dipraktekkan Iwan untuk melaksanakan kewajibannya kepada Friska dan selalu diakhiri dengan kepuasan bagi keduanya.

Setelah itu tinggallah Friska seorang diri dengan dibantu oleh seorang laki-laki yang bertugas sebagai pengantar ke desa-desa pinggir pulau itu untuk memberikan pelayanan kesehatan. Lelaki itu bernama Salube. Ia penduduk asli pulau itu. Umurnya 58 tahun tapi masih kuat mengayuh biduk perahu, yang selalu membawa Friska ke desa-desa itu. Sosoknya amat tinggi, hitam dan amat ditakuti di pulau itu.

Salube juga memiliki istri 3 orang dan ia amat disegani di pulau itu. Setiap hari Salube selalu menemani Friska ke desa dengan perahunya. Kadang-kadang jika larut malam, Salube tidak pulang ke rumah istrinya karena jauh dan ia menginap di rumah dinas Friska. Ia juga mengetahui sesekali Iwan, suami Friska datang dan bermalam di rumah itu.

Suatu hari Salube tanpa sengaja melihat Friska dan Iwan sedang melakukan hubungan badan. Ia tidak tahu saat itu Iwan ada di rumah. sempat ia melihat kepolosan Friska saat disenggamai Iwan. Sejak saat itu, ia selalu terbayang akan sosok tubuh Friska.

Akhir-akhir ini, setelah kejadian itu, suami Friska jarang datang ke pulau itu dan dan kebetulan pak Salube menanyakannya kepada Friska.

“Buuuk, Bapak Iwan, kok nggak sering lagi ke sini?” tanyanya.

“Oooo… Pak Iwan sekolah lagi ke Jawa… Yahhh kira-kira 4-5 bulan, Pak..” jawab Friska.

“Pantas Bapak nggak kelihatan,” kata Salube.

Sebulan kemudian, suatu malam sepulang dari desa, hari hujan dengan derasnya dan disertai angin topan, untunglah saat itu, Friska dan pak Salube telah sampai dipinggir sungai, lalu dengan basah kuyup mereka berlari kerumah Friska. Sesampai di rumah Friska mempersilakan Pak Salube masuk.

“Masuk aja pak… Ntar saya ambilkan handuk,” kata Friska sambil berlalu ke belakang.

Lalu ia memberikan handuk dan Pak Salube pun membuka pakaiannya yang basah. Sedang Friska ke kamar mandi dan membersihkan badan dan mengganti pakaiannya yang basah dengan pakaian tidur dari sutra. Lalu ia ke depan dan memberikan baju bekas suaminya kepada Pak Salube.

“Dipakai saja baju Bang Iwan ini, Pak,” kata Friska ke Pak Salube.

“Makasih, Bu,” kata Salube.

Lalu Friska ke dapur dan membuatkan kopi panas buat pak Salube. lalu ia keluar dan menghidangkan kopi panas kepada Salube sambil jongkok. saat itu sempat terlihat belahan dada yang tertutup bh oleh Salube.

“Alangkah mulusnya,” gumam Salube dalam hati. Riska saat itu tidak sadar bahwa dadanya sempat diintip Salube. Lalu ia duduk di sofa itu sambil berkata, “Diminum kopinya, Pak?”

“Baik, Buk,” kata Salube.

Lalu Friska berbincang dengan Salube.

“Pak, kalau hujan dan dingin ini apa bisa Pak Salube tidur di sofa ruang tamu saya?” tanya Friska.

“Soalnya kamar hanya satu,” katanya lagi.

“Ooo… gak apa-apa, Bu,” jawabnya.

“Ooo ya, Pak? Saya tidur dulu, ya?” kata Friska.

Sambil bergurau, Salube bilang, “Hati-hati, Bu… Kalau takut.. biar saya temani di kamar..” katanya.

“Ooooo.. jangan, Pak… nanti saya kilaf pak..” kata Friska tak kurang guraunya.

“Sekali-sekali nggak apa, Bu,” kata Salube. “Kan Ibu kesepian?”

“Wahhh… kurang ajar juga orang ini,” kata Friska dalam hati.

“Tidak, Pak..” kata Friska lagi.

Lalu Salube berdiri dan mengikuti Friska ke kamarnya.

“Lho… ada apa, kok Bapak mengikuti saya?” kata Friska.

“Saya tahu Ibu pasti kedinginan dan butuh belaian, sebab Ibu sudah agak lama tidak berhubungan dengan suami Ibu…jadi saya bersedia menggantikan suami Ibu,” kata Salube lagi.

“Keluar!!!!” kata Friska keras.

“Jangan galak, Bu. Nanti kecantikan Ibu habis,” jawabnya lagi.

“Cuma sebentar kok, Bu. Nggak ada orang yang tahu,” kata Salube.

Sedang Friska saat itu dalam hatinya bergolak ingin marah dan menampar muka pak Salube, namun ia tahu, ia hanya seorang diri di malam yang disertai hujan deras itu.

“Buk, saya sudah lama juga ingin campur bersama Ibu..” kata Salube. “Sejak saya melihat ibu dan bapak berdua saat itu.”

“Kalau Ibu tidak mau… saya akan berusaha membuat Ibu mau,” kata Salube.

Saat itu tiada pilihan lain bagi Friska. Memang saat itu, nafsu sexnya sedang kepingin namun ia tidak ingin dengan Salube yang hanya sebagai nelayan, dan dekil. Namun ia tidak ada pilihan lain.

Friska diam saja dan duduk di pinggir ranjangnya. Sementara itu Salube terus masuk ke kamar dan duduk di samping Friska. Lalu ia belai rambut sebahu Friska, sambil menciumi bibir Friska. Riska diam dan menanti apa yang akan diperbuat lelaki nelayan itu.

Salube lalu berdiri, menutup pintu kamar, dan menguncinya. Ia lalu membelai dada Friska. Ia turunkan baju tidur Friska sambil menciumi leher jenjangnya. Setelah baju tidur itu terbuka, ia buka pengait BH yang bernomer 34b itu. Tampak dua gunung kembar yang mulus dan terawat.

Mulut Salube tidak henti-hentinya menggigiti puting susu Friska. Sebelah tangannya lagi turun ke bawah dan mebuka kain penutup goa vagina Friska. Lalu Friska ia baringkan, sedang CD wanita itu ia tarik ke bawah sehingga terbukalah goa kenikmatan yang tertutup bulu halus itu.

Lalu jari Salube memasuki goa itu. Setelah puas memainkan nafsu Friska sehingga Friska sempat orgasme dengan mengeluarkan cairannya, maka Salube pun membuka pakaiannya sehingga mereka sama-sama telanjang bulat. Penis Salube tampak tegak mengacung ingin cepat-cepat masuk ke dalam vagina dokter Friska.

Friska yang telah terbuai nafsu, hanya pasrah dan menanti. Tangannya hanya terbuka… dan dadanya penuh keringat. Lalu Salube membuka paha Friska dan memasukan penisnya yang besar kedalam lobang vagina Friska. Lebih kurang 30 menit Salube memajumundurkan penisnya, barulah ia muntahkan spermanya dalam vagina Friska. Sedang Friska sejak pertama tadi telah klimaks berulang-ulang.

Setelah permainan itu, hampir setiap ada kesempatan Salube dan Friska mengadakan hubungan sex, tanpa ada yang mengganggu. Salube pun dengan senang hati selalu menemani Friska kemana saja. Sampai saat ini Friska dan Salube masih selalu berhubungan.

TAMAT

No comments:

Post a Comment

Paling Populer Selama Ini